“Klik....” dengan jantung yang berdetak tidak karuan. Aku pun akhirnya memasuki kamar ini.
Sepi dan gelap. Saat, aku memasukan kartu pada tempatnya. Barulah, lampu mulai menyinari semua ruangan ini.
Ruang ini memang sangat luas dan tertata rapih. Aku tidak merasa heran. Dari bagian luar hotel ini saja, sudah terlihat jelas betapa mewahnya tempat ini.
Aku pun memandangi setiap sudut tempat ini. Di mana, di sinilah Andrew menghabiskan sisa waktu di bulan terakhir kemarin. Farale juga sempat mengatakan, bahwa Andrew tidak pernah sekali pun pergi dari daerah ini. Itu artinya, Andrew pasti selalu menghabiskan sisa waktunya di sini.
Aku terus memperhatikan ruangan ini dengan sangat teliti. Aku juga bisa mencium aroma wangi yang biasa Andrew kenakan. Wangi parfum ini membuat aku tiba-tiba merasakan sebuah kehangatan yang sempat hilang. Perasaan rindu dan gelisah akan lelaki itu, tiba-tiba saja muncul mengganggu diriku.
Padahal sudah lama, aku tidak pernah merasakan perasaan aneh itu. Perasaan yang selalu menggelitik hati ini. Rasa nyaman dan hangat pelukan Andrew pun mulai menghantui jiwaku. Mulai ada yang mengisi ke kosongan dan kehampaan yang aku alami belakangan ini.
“Ternyata, dia memang tidak ada di kamar,” gumamku.
“Sepertinya memang begitu,” sahut Farale yang ikut mengamati seluruh ruangan ini.
“Lebih baik, nyonya istirahat saja dulu di tempat ini. Sambil menunggu Pak Bos, ada baiknya Nyonya tetap di sini,” lanjut Farale.
“Mmmm... baiklah.” Aku hanya bisa mengikuti apa yang disarankan Farale itu.
“Mmmm... nyonya, saya tinggal dulu ya? Saya mau cari tahu Bos ada di mana.” Farale yang sejak tadi terus berdiri di sekitar pintu masuk itu pun, sepertinya ingin segera menghilang dari sini.
Rasa bersalah kepada bosnya itu pasti sangat besar. Aku dapat melihat dari sikap tidak tenangnya itu. Aku baru menyadarinya saat di dalam lift. Kotak bergerak yang membawa diriku dan Farale ke lantai ini. Meski, aku sendiri juga mengalami hal yang sama. Namun, perasaan yang dirasakan Farale pasti jauh lebih pelik, daripada yang aku rasakan.
“Mmmm...” gumamku. Aku sebenarnya sangat ragu di tempat asing ini seorang diri. Namun, aku tidak mau membuat Farale lebih terbebankan lagi.
Bahkan awalnya, dia tidak ingin menemani diriku untuk masuk ke kamar CEO yang menghilang ini. Dia sudah siap untuk kabur setelah memberikan kunci ini tadi. Namun, aku langsung menghentikan asisten Andrew itu. Aku tidak mau masuk ke dalam kandang macan sendirian. Tetapi setelah aku yakin, bahwa dia memang tidak ada di ruangan. Aku sedikit tenang, dan setuju membiarkan Farale untuk pergi melakukan apa yang ingin dia kerjakan.
“Kalau, nyonya mau makan. Saya akan siapkan menu terbaik dari hotel ini. Nyonya tinggal duduk manis aja di sini,” kata Farale sebelum meninggalkan tempat ini.
“Mmmm... bisa tidak kamu bersikap biasa saja. Aku sangat risih dengan panggilan Nyonya itu. Lebih baik, kamu memanggil aku Ajeng saja,” suruhku.
“Baiklah... Nyonya Ajeng,” jawab Farale yang masih sangat tegang menghadapi situasi ini.
“Ya sudah. Terserah deh.” Aku pun tidak terlalu mengambil pusing, dan langsung memalingkan diri ke tempat lain.
“Baiklah, saya tinggalnya.”
***
Waktu menunggu memanglah sebuah yang sangat membosankan. Apalagi, di ruangan ini sengaja tidak di sediakan apa pun. Memang ruangan ini sangat nyaman dan mewah. Namun, semua alat elektronik sengaja di singkirkan dari sini. Sepertinya, Andrew memang sengaja membuat ruangan ini sangat sepi.
Apa di malam hari, dia juga sengaja membuat ruangan ini gelap tanpa sinar?
Apa suasana hatinya juga sama dengan hatiku yang hampa?
Jika memang benar begitu, maka kenapa dia harus melakukan hal kejam itu terhadap diriku?
Dan mengapa dia juga tidak datang menjelaskan tentang dirinya?
Mengapa dia memilih untuk menjauh dari diriku?
“Sebenarnya kamu di mana Andrew?” Aku bertanya pada pemandangan indah yang terbentang di luar jendela ini.
“Klik....” tiba-tiba saja, aku mendengar suara seseorang sedang membuka pintu kamar ini.
“Andrew?” takut, tegang dan juga senang. Semua perasaan itu bercampur jadi satu di hati ini.
“Maaf, Nyonya. Tadi, Nyonya mau makan berat atau makanan ringan aja?” tanya orang yang masuk dengan tergesa-gesa.
“Kamu lagi,” kataku kecewa saat melihat sosok Farale yang muncul di sini.
“Maaf....” Dia sangat pandai membaca kekecewaan yang nampak di wajahku.
“Mmmm... lalu....”
“Terserah aja. Aku lagi enggak terlalu lapar.” Aku langsung memotong pertanyaan Farale itu.
“Tapi, dari semalam Nyonya tidak makan apa pun juga,” katanya mengkhawatirkan diriku.
“Enggak papa. Kalau, aku lapar pasti aku akan menghubungi dirimu,” janjiku kepada satu satunya orang yang bisa aku andalkan di sini.
“Baiklah. Kalau begitu, saya akan urus keperluan Nyonya dulu,” lanjut Farale.
“Mmmm... kalau... dia bagaimana?” Aku ragu untuk menanyakan keberadaan Andrew dengan sangat jelas.
“Saya sedikit kehilangan kontak setelah sampai di negera ini. Sepertinya, Bos tahu kalau saya ada di sini. Sehingga, telepon saya ini langsung tidak bisa digunakan,” jelas Farale sambil melihat alat komunikasi yang ada di tangannya.
“Jadi... dia juga tahu, kalau aku ada di sini?” tanyaku lagi.
“Kalau itu, sepertinya tidak. Bos tidak akan mau memasangkan alat semacam itu di benda-benda milik Nyonya. Apalagi saat Zaki....” Tiba-tiba, Farale menghentikan apa yang sebenarnya dia ketahui.
“Ada apa sama Zaki?” tanyaku penasaran.
“Mmmm... kita sudah sampai sejauh ini. Mungkin, Nyonya lebih baik bertanya langsung kepada Bos Andrew.” Farale bukannya menjawab. Dia malah berusaha menghindari diriku.
“Tapi....”
“Saya pergi lagi ya, Nyonya Ajeng....” tanpa mendengarkan diriku lagi. Dia sudah lari dengan sangat cepat meninggalkan diriku.
Sepertinya, dia sudah tidak ingin membicarakan masalah bosnya itu dengan diriku. Dan bisa saja, dia sudah mendapat banyak masalah karena diriku. Sekarang pun, dia sudah sangat kebingungan mencari keberadaan Andrew. Mungkin lebih baik, aku tidak mengganggu Farale lagi.
“Kasian sebenarnya, tapi....” gumamku sambil melihat pintu yang baru saja tertutup.
Aku pun kembali memandangi pemandangan luar negara orang ini. Apa gunanya pemandangan indah, tetapi hati gundah. Apalah artinya hidup mewah, tetapi hanya seorang diri. Begitulah yang aku rasakan saat ini.
Karena, aku sudah mulai bosan dengan lamanya menunggu, akhirnya aku putuskan untuk berkeliling seluruh kamar ini. Siapa tahu, aku bisa menemukan sesuatu di sini. Itu bisa membuat aku sedikit ada kerjaan atau pun sedikit menemukan pencerahan dari semua masalah ini.
“Huufff... kita mulai dari mananya?” tanyaku sambil melihat setiap sudut yang sangat asing ini.
Aku melihat ke sekeliling tempat ini. Aku mencari sebuah tempat yang memungkinkan untuk Andrew menyimpan sesuatu. Aku juga tetap mencari tempat-tempat yang mungkin juga bersifat tersembunyi.
Namun, sejauh mata ini memandang. Aku tidak juga menemukan sesuatu yang aneh yang disimpan oleh Andrew. Tempat ini terlalu rapih dan biasa saja. Tidak ada tanda-tanda, dia sedang menyimpan sebuah rahasia. Meski begitu, aku tidak putus asa dengan pencarian yang sedang aku lakukan.
“Klik....” lagi-lagi, aku mendengar suara pintu yang terbuka.
Karena takut dikira pencuri, aku pun langsung berlari ke kursi panjang yang menghadap keluar jendela itu. Aku juga pura-pura membaca majalah yang memang tergeletak di atas meja. Meski, aku sendiri tidak paham dengan isi majalah ini. Aku tetap membalik setiap lembarnya itu.
“Mmmm... Nyonya. Makanannya sudah datang belum?” Mendengar suara itu lagi yang datang, membuat aku langsung menutup semua kepura-puraan ku ini.
“Kamu lagi... kamu lagi....” gumamku kesal.
“Iya, maaf. Emang saya masih belum bisa ketemu sama Bos atuh. Jadi ya, saya balik lagi. Siapa tahu, Bos sudah balik ke kamar,” jawab Farale dengan rasa sangat bersalah.
Aku hanya bisa menatap laki-laki yang sedang tertunduk lemas itu. Wajahnya terlihat begitu lelah. Entah, sudah berapa jauh jarak yang dia tempuh untuk mencari orang yang sampai sekarang masih tidak kunjung memunculkan batang hidungnya.
Ingin rasanya, aku meluapkan kekesalan ini. Namun, aku juga tidak tega kepada orang yang sudah aku buat tidak berdaya ini. Karenanya, aku pun hanya bisa membiarkan laki-laki ini yang masih tidak berani mengangkat kepalanya itu.
“Permisi. Apakah ini kamar Mr. Andrew?” tiba-tiba, seorang perempuan berparaskan bule yang cantik masuk ke ruangan ini.
Kebenaran, pintu kamar ini memang tidak ditutup kembali oleh Farale. Mungkin karena panik dan kelelahan, dia membiarkan begitu saja kamar ini terbuka. Sehingga, orang asing ini pun dengan mudah masuk ke ruangan ini.
“I... iya,” jawabku gugup.
Bagaimana tidak. Saat pertama kali aku berkunjung ke tempat suamiku ini, aku malah mendapati seorang perempuan menghampiri kamarnya. Aku terus memperhatikan perempuan cantik ini. Dengan kulit putihnya dan hidung mancungnya membuat dia semakin tidak bosan untuk dilihat. Belum lagi dengan tinggi badannya yang setinggi rata-rata orang asing, membuat dia terlihat lebih menawan.
“Maaf. Apakah Mr. Andrew nya ada?” tanya perempuan itu dengan bahasa Indonesia, namun menggunakan sedikit logat asing.
“Mr. Andrew nya sedang tidak ada di tempat, Mis. Ada yang bisa saya bantu?” jawab Farale.
“Saya sebenarnya sudah ada janji dengan Mr. Andrew hari ini. Namun, saat saya sedang menuju kantornya. Tiba-tiba, ada kabar kalau Mr. Andrew sedang ada di hotel. Karena, posisi saya lebih dekat dengan hotel ini, maka saya langsung ke sini saja,” jelas bule cantik itu.
“Oooo... berarti, Mr. Andrew masih di jalan, Mis.” Andrew mencoba menanggapi ucapan perempuan itu.
Saat, perempuan ini dan Andrew saling bercengkerama. Aku hanya bisa berdiri dalam diam. Aku terus memperhatikan perempuan cantik ini. Pikiranku mulai berpikir yang tidak-tidak.
Apakah selama dia jauh dariku, perempuan seperti inikah yang ada di sampingnya?
Apakah ini juga yang membuat dia tidak ingin kembali ke Indonesia?
Terlalu banyak pertanyaan yang ingin aku cari kebenarannya itu. Aku harap orang itu bisa segera muncul di tempat ini.