Waktu berjalan tanpa terasa. Aku mulai membuka mata ini. Entah sudah berapa lama, aku sudah terbaring di atas tempat tidur ini. Padahal, aku sungguh merasa senang saat melihat wajah yang sangat aku rindukan itu.
Mata kami saling bertemu dan terus menatap dalam bisu. Di dalam ruangan ini, bukan hanya ada kami berdua. Namun, aku merasa bahwa waktu seakan berhenti dan ruangan ini menjadi sebuah ruang yang hampa udara. Hanya ada aku dan lelaki itu saja di dunia yang polos ini.
“Hai, Mrs. Lauren. Apa anda sudah lama menunggu.” Ucapannya itu malah membangun lamunan tentang kami berdua.
“Hai, Mr. Andrew. Oh tentu saja tidak. Saya belum terlalu lama di sini,” jawab perempuan bule itu.
“Maaf ya, karena saya tiba-tiba merubah tempat pertemuannya,” lanjut Andrew tanpa mempedulikan kehadiranku di tempat ini.
“Oh, it’s oke Mr. Andrew. Mr. Farale orangnya cukup menyenangkan. Sehingga, saya tidak terasa menunggu anda di tempat ini,” jawab sambil sesekali tersenyum ke arah Farale.
Aku terus menatap lurus ke arah Andrew. Namun, lelaki itu hanya melihat ke arah perempuan bule ini. Walau sesekali dia melihat ke arah Andrew. Tetapi, dia tidak sama sekali mau melihat ke tempat aku berdiri lagi.
Jika aku perhatikan memperhatikan lelaki itu. Hanya saat dia masuk ruangan ini saja, dia melihat ke arahku. Namun setelah itu, dia hanya menganggap aku ini hanyalah sebutir debu tidak dianggap di ruangan ini. Dia seolah tidak mengharapkan aku di sini.
Harusnya, aku tidak perlu sedih akan hal ini. Aku sudah bisa membayangkan, bahwa ini semua pasti akan terjadi. Aku tidak bisa mengharapkan seseorang itu akan merasakan sama seperti yang kita rasakan. Apalagi, cukup lama waktu untuk kami tidak saling bertemu.
“Mmmm... bagaimana kalau kita pindah tempat saja. Ada banyak yang mesti kita bicarakan.” Tiba-tiba, Andrew malah mengajak perempuan itu untuk pergi dari kamar ini.
“Baiklah, Mr. Andrew. Saya ikut apa kata Mr. Andrew saja,” jawab perempuan asing yang sudah sangat fasih dalam berbahasa Indonesia itu.
“Ayo, silahkan.” Baru kali ini, aku melihat Andrew begitu sopan terhadap seorang perempuan.
Aku juga memperhatikan perempuan ini juga sudah sangat akrab dengan Andrew. Sepertinya, ini bukan pertama kalinya mereka bertemu satu dengan lainnya. Pasti sudah banyak yang mereka lakukan bersama. Sehingga, keduanya terlihat sangat akrab satu dengan lainnya.
“Kenapa kamu diam aja. Ayo, ikut juga.” Andrew pun mengajak Farale juga untuk ikut dengan mereka.
Dan setelah itu, pintu kamar pun tertutup begitu saja. Tidak ada, satu kata pun yang terucap dari mulut lelaki itu saat melihat diriku yang berada di ruangan ini. Aku hanya berdiri terdiam melihat semuanya berlalu begitu saja.
“Ada apa ini?” gumamku seorang diri.
“Bisa-bisanya dia cuek begitu. Apa... dia enggak rindu sama aku apa?” Ternyata, hati kecilku ini masih mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
“Hufff... tahu kayak gini, buat apa aku datang ke sini,” keluhku sambil melempar kembali tubuh ini ke atas sebuah kursi panjang yang empuk.
Aku masih tidak percaya dengan yang terjadi siang itu. Bahkan, sampai matahari terbenam pun belum ada tanda-tanda Andrew akan kembali ke tempat ini. Aku yang sudah merasa lelah menunggu pun, akhirnya memutuskan diri untuk merebahkan badan ini di atas kasur yang empuk ini.
Setelah melihat dirinya yang dalam keadaan baik-baik saja, saat itu juga tubuh ini terasa sangat lelah. Semua penat yang tadi aku tahan, kini mulai kembali menggerogoti tubuhku. Bahkan perut yang dari tadi tidak merasakan lapar, kini mulai berontak dan minta diisi.
Namun, apalah daya. Semua orang sudah pergi dari ruangan. Aku juga yang sudah terlanjur sangat lelah, membuat diri ini sangat malas untuk sekedar menunggu makanan itu datang ke kamar. Hingga, aku pun memilih untuk terlelap dalam keadaan tubuh lapar dan lelah.
“Mmmm... kenapa sampai jam segini, dia masih belum balik ya?” Aku terus memperhatikan jam yang berada di atas nakas.
Suara detik dari jam itu terasa semakin jelas, di saat kita berada sangat sunyi di dalam kegelapan. Aku memang sengaja mematikan lampu kamar, saat akan tidur tadi. Aku yang berguling di atas tempat tidur yang nyaman ini, semakin betah saat mencium aroma Andrew yang masih tersisa di atasnya.
“Apa yang merasakan rindu ini, hanya aku seorang,” kataku sambil membenamkan wajah ini ke dalam bantal yang lembut.
Tanpa terasa air mata sudah membasahi pipi ini. Air mata yang tidak bisa keluar saat tidak melihat lelaki itu. Namun kini, dia malah mengalir begitu saja setelah wajah yang aku rindu itu muncul di depanku.
Hati ini rasanya sungguh sakit, saat diperlakukan seperti itu. Walau, dia memanglah bukan suami asliku. Namun, dia juga yang berhasil membuat diriku bisa tertarik dengan yang namanya laki-laki. Tetapi, selain lelaki itu sudah berusaha membunuhku. Kini, dia menganggap diriku ini sudah tidak ada.
Jadi, untuk apa aku sampai membuang-buang waktu pergi ke tempat ini?
Untuk apa aku harus mencari jawaban yang sudah pasti jawabannya?
Dan untuk apa juga, aku harus menangis seperti ini. Siapa yang aku tangisi. Orang yang tidak memikirkan kita sama sekali, untuk apa kita harus menangisi orang seperti itu.
“Tapi, kenapa air mata ini masih tidak bisa berhenti,” keluhku dalam sedih yang tidak beralasan.
Suara tangisanku berusaha aku redam dengan bantal putih ini. Aku tidak peduli, jika bantal ini harus basah karena air mataku. Aku sendiri masih tidak paham caranya menghentikan air mata yang tidak berujung ini.
Sakit, perih, sedih, kecewa. Semua perasaan itu benar-benar bersatu di dalam hati ini. Rasanya tertekan, saat menjadi seseorang yang terabaikan. Bahkan yang lebih membuat kita sedih, di saat orang yang ingin kita temui malah tidak menganggap kita ada.
Air mata ini sama sekali tidak mau terbendung kan. Berulang kali, aku mencoba membesarkan hati ini dengan segala kemungkinan yang ada. Namun tetap saja, sangat sulit membuat hati sendiri percaya dengan semua kejadian yang ada di depan mata.
“Klik...” tiba-tiba, suara pintu kamar itu pun mulai terdengar.
“Pasti itu Farale.” Aku masih sangat putus asa untuk menganggap Andrew yang akan kembali ke kamar ini.
Meski, aku menganggap orang yang datang itu adalah Farale. Aku tetap menghapus air mata yang ada di pipiku. Walau berat untuk menghentikan air mata ini. Namun, aku harus kuat dan tidak ingin orang lain semakin tertekan dengan keadaanku.
“Farale? Apa itu kamu?” tanyaku pada orang yang baru saja masuk itu.
Tentu saja, aku bertanya-tanya. Sudah jelas, kamar ini sangat gelap. Namun, kenapa dia tidak berusaha untuk menyalakan lampu kamar ini. Padahal, tombol lampunya sangat dekat dengan pintu masuk.
Aku terus mendengar suara langkah kaki yang terus mendekati diriku. Pelan, namun terdengar sangat berat. Sudah jelas, itu adalah langkah kaki seorang laki-laki.
Aku juga bisa melihat bayangan seseorang yang muncul dari arah pintu masuk. Dari postur tubuhnya itu, semakin yakin bahwa itu memanglah seorang laki-laki. Karena setelan jasnya yang masih nampak di balik kegelapan, membuat aku percaya itu adalah Farale.
“Farale? Kenapa kamu diam aja?” Aku masih terus memanggil laki-laki yang ada di balik bayangan itu.
Namun, lelaki itu tetap tidak menjawab. Dia masih terus berjalan mendekati diriku. Aku semakin yakin, kalau itu sebenarnya bukanlah Farale. Lalu, siapakah dia?
Apa dia itu Andrew?
Tetapi, aku tidak berani memanggil nama orang itu. Aku sudah cukup sakit hati diperlakukan seperti itu tadi. Dan kini, dia berusaha melakukan hal yang menakutkan lainnya.
“Kamu yakin, Andrew tidak akan melakukan hal itu lagi kepadamu?” tiba-tiba, ucapan Chika itu kembali terniang di telingaku.
Apakah benar, Andrew akan melukai diriku lagi?
Aku pun semakin menggeser tubuhku, saat sadar lelaki itu semakin mendekati tempatku. Namun, dia tidak ada niatan sama sekali untuk menghentikan langkah kakinya. Dia terus berjalan dalam kegelapan yang sunyi ini.
Aku yang semakin takut dengan tingkahnya, memilih untuk keluar dari balik selimut ini. Ingin rasanya, aku berjalan ke arah pintu keluar. Tetapi itu sama saja artinya, aku berlari ke dalam pelukan lelaki itu. Karena, pintu keluar itu ada persis di belakang pria yang semakin jelas memperlihatkan wajahnya.
“Apa, aku ini sangat mirip dengan Farale,” katanya dengan sorotan mata penuh amarah.
Aku kembali melihat sorotan mata yang menakutkan itu. Sama seperti mata yang dia tunjukan di malam terakhir kita bertemu. Sorotan dingin yang membuat orang di sekitarnya semakin ketakutan karenanya.
Aku terus menghindari lelaki yang seperti sedang kerasukan sesuatu itu. Namun, semakin aku berlari darinya. Semakin, aku menemukan jalan buntu. Hingga, akhirnya aku pun harus terpojok di pinggir jendela dengan kedua tangannya yang sudah menahan gerakan tubuhku ini.
“A... andrew... tolong, sadar lah. Ini bukan kamu,” kataku mencoba membuat dia kembali ke dirinya yang dulu.
“Emangnya, seperti apa Andrew yang kamu kenal?” Dia malah balik bertanya.
“Aku... aku....” dalam ketakutan ini, aku tidak bisa mengatakan semua rasa kagum yang dulu sempat masuk ke dalam hati ini.
“Bahkan, kamu sendiri tidak bisa membedakan aku dengan Farale. Lalu, seberapa jauh kamu mengenal diriku?” Dia semakin membuat diriku ini tertekan.
“Andrew... tolong. Tolong kamu jangan seperti ini. Semua ini enggak benar, We.” Akhirnya, panggilan kesayangan yang selalu aku ucapkan untuk dirinya, keluar dari mulutku.
“Diam! Aku tidak mau lagi tergoda oleh mulut manis ini.” Andrew malah menjadi semakin marah setelah mendengar semua yang aku katakan itu.
Bahkan, dia mulai melakukan kekerasan kepada diriku. Dia mulai menekan kedua pipiku dengan satu tangannya. Ternyata, dia tidak puas hanya melakukan hal itu terhadap diriku. Hingga, dia pun mengulangi kembali kejadian malam itu. Dia kembali mencekik leherku dengan kedua tangannya.
Bagaimana ini?
Akankah kali ini aku selamat lagi?
Siapa yang akan menyelamatkanku kali ini?