Mataku semakin tidak bisa melihat dengan jelas. Selain, karena pencahayaan ruangan ini yang sangat redup. Namun juga karena perlakukan kasar yang dilakukan lelaki di depanku ini. Aku tidak paham, apa yang sebenarnya sedang merasuki dirinya itu. Dia masih saja terus mencekik leherku tanpa mau menghentikannya.
“We... sadar, We. Ini aku... Ajeng....” Aku berusaha memanggil lelaki itu.
Siapa tahu, dia memang sedang tidak sadar dengan yang dia lakukan itu. Sehingga, dia masih terus mengalungkan cengkramannya itu di leherku. Tetapi, ada sesuatu yang aneh aku rasakan saat ini. Namun, aku tidak bisa berpikiran dengan jernih. Aku hanya bisa merasakan sesaknya napas ini.
Aku merasa tidak bebas dalam bernapas. Dadaku ini terasa sangat sesak dan berat. Tanganku ini berusaha keras untuk melepaskan tangan Andrew yang tidak juga menghentikan apa yang sedang dia lakukan itu. Aku pun kini, hanya bisa pasrah dengan semua yang sedang terjadi. Aku tidak bisa melawan tenaga orang yang dihadapanku ini. Padahal, sebelumnya aku selalu bisa mengalahkan setiap gerakan lelaki yang satu ini. Namun, entah ada apa saat ini. Aku seperti sudah kehilangan separuh tenagaku.
“We... sadar, We....” kataku lagi.
“Aku sadar,” jawabnya dengan santai.
“We... ini, aku.” Aku mengulangi untuk mengingatkan lelaki ini lagi.
“Aku juga tahu. Kamu itu Ajeng,” jawabnya dengan tatapan mata yang sangat dingin.
“Ta... tapi, We. Ke... kenapa?” Aku semakin terkejut dengan apa yang sedang terjadi saat ini.
“Aku enggak suka ngeliat kamu ada di sini. Kamu tahu itu?!” Andrew terlihat sangat kasar.
Aku juga merasa tangannya ini semakin kencang mencengkram diriku. Aku semakin kesulitan untuk bernapas. Aku juga seperti semakin lemah dan tidak bisa bergerak.
“We... lepas.... Tolong Andrew.... a... aku.” Aku semakin sulit untuk berbicara. Suaraku semakin tertahan karena apa yang sedang laki-laki ini lakukan.
Bahkan, sekarang tangan satunya lagi sudah melakukan sesuatu yang lain. Dia mulai membuka kunci jendela yang berada di belakangku. Anginnya ini sudah mulai bertiup di sekitar leherku ini. Rambutku sudah bergerak mengikuti aliran angin yang terus bertiup.
“Kamu tahu... aku sangat tidak suka melihat kamu di sini,” bentak Andrew.
Dia juga dengan kasar mendorong tubuhku ini. Sebagian tubuhku sudah keluar dari jendela ini. Aku tidak paham, apa yang sebenarnya diinginkan oleh lelaki ini. Orang yang tadinya tidak memiliki kekuatan seperti ini. Sekarang, sepertinya kekuatannya ini tidak dapat terkendali lagi. Bahkan aku merasa, orang ini bukan laki-laki yang biasa aku kenal.
“I... iya, We. Aku akan pergi dari sini. Jadi, tolong... tolong lepaskan aku,” kataku terus memohon untuk dilepaskan olehnya.
“Lepaskan?! Hahahaha....” Dia malah tertawa dengan terbahak-bahak.
“Iya, We. Tolong lepaskan aku,” kataku lagi.
“Itu... enggak... mungkin....” Dia kembali melontarkan semua ucapannya dengan nada yang kasar.
“We... tolong... jangan seperti ini.” Aku masih berusaha untuk menghentikannya.
“Dan satu lagi. Aku sangat benci saat kamu memanggil aku We....”
“Tapi....”
Tanpa, dia mau mendengarkan penjelasanku lagi. Laki-laki ini langsung mendorong tubuhku dengan sekuat tenaga. Aku pun tidak lagi bisa menahan diri untuk tetap tersangkut di jendela. Aku hanya bisa pasrah, tubuh ini terhempas begitu saja dari luar jendela.
“Aaaaaa....”Aku hanya bisa berteriak sambil menutup mata ini.
Aku tidak percaya, bahwa ini adalah hari terakhirku. Bahkan, aku harus mati di tangan orang yang sudah mulai mengisi hatiku ini. Dan yang lebih sedihnya lagi, aku harus menghembuskan nyawa di negeri orang. Di mana, di tempat ini, tidak ada satu pun saudara yang aku miliki.
“Aaaaaa....” teriakanku masih terus bergema dengan melawan angin yang ikut kenyapu diriku ini.
“Brukkk...” suara itu pun muncul, setelah tubuhku terjatuh di bidang yang datar.
“Aduh... sakit,” kataku sambil mengusap-usap kepala yang tidak sengaja terbentur keras di lantai.
Aku masih setengah sadar, saat merasakan sakit di sekujur tubuhku. Namun, aku berusaha untuk terus membuka mata ini dengan sepenuhnya. Bagaimana pun, tidak mungkin hanya rasa sakit yang seperti ini saja yang aku rasakan, di saat aku harus terjatuh dari ketinggian empat lantai ke tanah yang keras ini.
Dalam setengah sadar, aku melihat ke sekelilingku. Namun, bukan jalan raya yang penuh dengan orang yang mengitari diriku. Atau pun bukan tempat umum yang ada di luar hotel ini lainnya. Mungkin tempat parkiran atau pun taman. Tetapi, tempat yang aku lihat ini sangat di luar dugaanku.
“I... ini... kenapa bisa?” Aku masih mencoba melihat dengan jelas tempat ini.
Berkali-kali, aku mengucek mataku. Agar, aku bisa melihat dengan lebih jelas lagi, di manakah aku berada saat ini. Namun setelah beberapa saat aku yakin dengan tempat ini, barulah aku bisa mengambil kesimpulan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada diriku.
“Jadi... aku... cuma mimpi?” kataku sambil berusaha bangun dari tempatku berada saat ini.
Aku yang berpikir bahwa terjatuh dari tingkat empat dan terjun bebas. Ternyata, aku hanya terjatuh dari tempat tidur. Aku tidak percaya, bahwa aku sampai memimpikan hal itu. Apa rasa takutku pada Andrew sebegitu besarnya. Hingga, mimpi seperti ini harus muncul di dalam benakku.
“Tapi, kenapa mimpinya berasa sangat nyata ya?” kataku sambil memegang leherku yang juga terasa sakit.
Aku rasa, sakit yang ada di leherku ini bukan karena jatuh dari tempat tidur. Entah kenapa, aku merasa sakit ini memang karena sebuah cekikan yang dilakukan seseorang. Sama seperti yang Andrew lakukan di dalam mimpi.
“Apa itu bukan hanya mimpi?”
“Byurrr....”
Belum saja, aku selesai memikirkan kemungkinan yang ada. Tiba-tiba, terdengar suara air yang mengalir dari dalam kamar mandi.
“Si... siapa?” Tentu saja, aku langsung terkejut karenanya.
Mataku pun juga langsung terfokus kepada pintu kamar mandi yang masih tertutup. Dan sepertinya, orang yang ada di dalam tidak mendengar suaraku tadi. Karena, aku masih tidak mendengar suara apa pun dari sana.
“Siapa di sana?” tanyaku lagi sambil berteriak.
Namun tetap saja sunyi. Belum juga ada tanda-tanda akan ada yang menjawab diriku.
Tetapi tidak lama kemudian, pintu kamar mandi pun terbuka. Suara langkah kaki pelan pun mulai terdengar. Jantungku ini pun mulai berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Sampai wajah seseorang pun mulai muncul dari balik sana.
“A... Andrew?” Aku masih tidak percaya dengan yang aku lihat ini.
Orang yang tadi muncul di dalam mimpiku, kini tiba-tiba ada di hadapanku. Jantung ini pun semakin tidak karuan karenanya. Bayangan tentang mimpi yang barusan masih sangat berbekas di benakku. Bahkan tanpa sadar pun, tangan ini langsung memegang rapat leherku.
Rasa takut dan khawatir akan kejadian tadi masih sangat menghantui. Padahal, belum tentu juga kejadian itu terulang lagi. Apalagi suasananya agak sedikit berbeda.
Kali ini, lampu kamar tidak padam seperti tadi. Kegelapan dan kedinginan yang tadi sempat mencengkam, tidak terlihat kali ini. Bahkan, ada pemandangan lain yang sedikit berbeda saat ini.
“Apa... ini... mimpi juga?” gumamku.
Entah kenapa, hal itu yang tiba-tiba muncul di pikiranku. Padahal, aku sudah jelas-jelas terbangun karena jatuh tadi. Rasa sakitnya juga masih terasa sedikit nyeri. Bagaimana mungkin, di dalam alam bawah sadar kita bisa merasakan sakit seperti itu.
“Kalau bukan mimpi... berarti...” pikiranku mulai terkumpul dengan penuhnya.
“Glek....” air ludahku terasa sangat sulit untuk masuk ke tenggorokan.
Aku yang baru saja tersadar dengan situasi yang ada, semakin tidak karuan karenanya. Walau, sebenarnya ini bukanlah pemandangan yang pertama kali aku lihat. Pemandangan yang masih saja membuat aku berdebar-debar.
Tubuh seksi yang bisa terlihat dari balik jubah mandinya itu. Air yang belum kering masih sedikit mengalir dari rambutnya, membuat laki-laki ini benar-benar membuat aku semakin gila. Padahal, laki-laki yang ada di depanku ini jugalah, orang yang ingin membunuhku. Bahkan, sampai sekarang pun aku masih belum mendengar apa pun dari mulutnya itu.
“Apa yang kamu lihat?” Tiba-tiba, boneka indah yang ada di depanku ini berbicara.
“Mmmm... enggak ada.” Aku yang jadi salah tingkah karena reaksinya ini, langsung membuang muka ke arah yang tidak menentu.
Padahal, sebelumnya reaksi laki-laki ini seperti ingin selalu menggoda diriku. Dia seperti selalu memancing diriku untuk melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan sebelum menikah.
Tetapi, kali ini dia terlihat berbeda. Andrew sepertinya terlihat dingin padaku. Bahkan, sikapnya itu hampir sama dengan Andrew yang tadi di dalam mimpiku. Dan bayangan itu pun, kembali melintas di benakku. Seperti sebuah rekaman kejadian yang sangat cepat. Muncul begitu saja. Itu pula yang membuat diriku tiba-tiba menegang.
“Kamu kenapa?” tanya Andrew yang bingung melihat tingkah anehku.
“Ti... tidak... aku tidak apa apa,” jawabku dengan mencoba menggeser posisiku sekarang.
Namun, aku semakin salah tingkah karenanya. Jika aku bangun dari tempat tidur, maka mau tidak mau aku malah semakin mendekati tubuh laki-laki itu. Dia yang masih terus berjalan sambil mengeringkan rambutnya itu, tanpa sadar sudah membuat diriku semakin ketakutan.
Aku pun akhirnya memutuskan untuk bergeser sedikit demi sedikit. Dengan menaiki tempat tidur berharap pergi ke sisi lain, dan mulai menjauh dari laki-laki yang aku yakin belum mengenakan pakaian dalam itu.
“Kamu sebenarnya kenapa sih?” tanya Andrew yang langsung terdiam melihat diriku seperti ini.
Aku memilih untuk diam, dan terus bergerak menjauhi laki-laki itu. Situasi saat ini bisa saja menjadi sangat berbahaya dari pada di dalam mimpi. Bahkan otakku ini sudah mulai membayangkan hal-hal yang buruk lainya. Meski, aku berusaha membuang hal itu jauh-jauh.
“Kamu mau pergi?” Tiba-tiba, Andrew sudah berada di pinggir tempat tidur di sisi yang sedang aku tuju.
Aku tidak menyangka, gerakannya lebih cepat. Padahal aku pikir, aku sudah bisa kabur dari tempat ini. Namun, ternyata perhitunganku ini salah.
“Mmmm... aku... aku mau mencari Farale,” jawabku sambil menatap wajahnya yang sedang berdiri tepat di depanku.
“Buat apa?” tanyanya balik.
“Mmmm... aku... aku mau menanyakan, kenapa kamu ada di sini.” Aku mencoba mencari alasan untuk bisa pergi dari sini.
“Aku? Ada di sini?” Dia sepertinya sedikit mengerutkan dahi, setelah mendengar ucapanku itu.
Aku hanya menjawabnya dengan anggukan.
“Kenapa kamu enggak tanya langsung aja sama aku? Kenapa harus mencari Farale?” Dia bertanya sambil mulai bergerak lebih dekat dengan diriku.
“Mmmm... soalnya... mmm... dia....” Aku semakin gugup.
“Bukannya kamu sengaja datang ke tempat ini untuk mencari aku? Lalu, kenapa di saat kita sedang berdua saja, kamu malah ingin pergi dari sini?” Laki-laki itu ternyata menyadari akan hal itu.
“Aku... aku memang ingin bertemu dengan kamu. Tapi....” kataku sambil berusaha untuk mencari celah agar menjauh dari laki-laki ini.
“Tapi apa?”
“Mmmm... kita... tidak bisa berbicara di sini,” jawabku.
“Kenapa?”
“Soalnya... mmmm....” Aku masih belum bisa menemukan alasan yang tepat.
“Bukannya di sini adalah tempat yang bagus. Hanya ada kita berdua. Kita bisa berbicara banyak hal. Bahkan, kita bisa melakukan apa saja. Itu juga... kalau kamu mau,” katanya dengan nada menggoda.
Sikap dingin yang tadi sempat aku rasakan tiba-tiba saja seperti menghilang. Aku juga mulai merasakan kembali Andrew yang dulu pernah aku kenal. Godaannya, ucapannya, senyum nakalnya, semua itu seperti muncul lagi di depanku.
Apa ini memang Andrew yang aku kenal?
“Kenapa? Kok, kamu diam saja?” Aku pun tersadar karena ucapannya itu.
“Mmmmm....”
“Apa... kamu mau melakukan hal yang belum pernah kita lakukan sebelumnya?”
“Deg.”
Aku tidak percaya apa yang aku dengar ini?
Di sini?
Apa aku dan dia akan....