BAB 13

1788 Words
Lagi-lagi, pemandangan yang aku lihat adalah perairan yang luas. Hanya saja, kali ini aku tidak lagi berada di hotel. Aku sekarang berada di atas sebuah jembatan yang besar di kota ini. Jembatan yang melintas di atas sebuah sungai yang seakan membelah kota besar yang padat dengan bangunan. Padahal, baru pagi tadi aku melihat pemandangan seperti ini. Sore ini pun, aku kembali melihat sebuah pemandangan yang membuat hatiku semakin kosong.  Sebenarnya, tempat ini tidaklah sesepi di hotel. Banyak sekali orang yang ikut menikmati pemandangan sore di sini. Belum lagi, orang-orang yang sibuk dengan rutinitas mereka di sekitar sini. Kendaraan pun sangat banyak aku lihat di sini. Namun, hatiku masih tetap merasa hampa dan tidak berisi. Seakan, semuanya memang hilang entah kemana. Aku tidak bisa melihat dan merasakan hiruk pikuk yang ada di sekitarku. Mataku hanya tertuju pada air yang sedikit beriak, karena sesuatu yang ada di sekitarnya. Aku jadi merasa seperti air itu sendiri. Di mana, dia akan bergerak jika di sekitar mereka ada yang bergerak. Namun, dia akan tetap diam jika tidak ada yang bergerak di sekitarnya. Seperti itulah yang aku rasakan saat ini. “Kita mau ke mana lagi, Non?” tanya seorang perempuan yang sejak tadi pagi menemani diriku. “Entahlah,” jawabku singkat. “Kata Pak Farale, anda mau keliling kota London. Tapi yang saya lihat, anda tidak semangat saat berkeliling tadi.” Perempuan ini langsung bisa mengambil kesimpulan dengan apa yang sedang terjadi padaku. Memang, kami baru saja berkenalan beberapa jam yang lalu. Itu pun, karena Farale kabur dari dariku. Dia yang menjanjikan untuk mengajak aku ke tempat yang tenang. Namun, dia malah melimpahkan tugas itu kepada orang lain. Aku masih sangat ingat kejadian pagi tadi. Setelah kembali melihat penampakan yang ingin aku hindari. Aku pun kembali ke kamar dengan langkah yang lemah. Aku sungguh tidak punya semangat untuk melakukan apa pun juga. Aku bagaikan sebuah patung yang bergerak. Namun, tidak memiliki hati dan pikiran. Semua terasa sangat kosong. “Non Ajeng....” sampai tiba-tiba, suara keras dari seorang laki-laki menyadarkan diriku dari lamunan panjang itu. “Oooo... kamu,” jawabku santai. Tentu saja, tidak ada semangat sama sekali. “Apanya yang kamu... kamu. Aku mencari Non kemana-mana. Aku sudah tiga kali bolak balik dari lantai paling atas ke paling bawah. Tapi, enggak ketemu-ketemu juga.” Laki-laki itu meluapkan emosinya dengan napas yang terputus-putus. “Mmmm... gitu.” Aku tanpa rasa bersalah, tidak menanggapi rasa kekesalannya itu. Malah, langkah kakiku ini tetap bergerak menuju kamar yang masih jauh di depan sana. “Apanya yang gitu?! Aku lagi khawatir ini. Aku pikir kamu hilang. Aku pikir... kamu tersesat.” Dia masih melanjutkan kemarahannya itu. “Emangnya aku anak kecil.” Aku masih menjawabnya. Meski, aku tidak mau melihat ke arah wajahnya sama sekali. “Kamu kenapa sih, Jeng. Kamu baik-baik saja?” Dia pun akhirnya menghalangi jalanku ini. Bahkan, kedua tangannya sudah mencengkram kencang kedua bahuku. “Baik-baik saja kata kamu? Kamu enggak tahu betapa hancurnya hatiku setelah melihat kejadian kemarin dan hari ini. Kamu tahu enggak?!” Ingin rasanya, aku berteriak seperti itu. Namun, tidak aku lakukan. Aku hanya melihat datar ke mata Farale yang masih menunggu penjelasan dariku. Namun, mulut ini masih terkunci. Mataku yang sudah sembab karena air mata tadi, masih sangat terlihat jelas. Mungkin, bengkak yang ada di sana sudah mulai terlihat. “Kamu... habis nangis?” Dengan polosnya, dia menanyakan sesuatu yang sudah sangat jelas itu. “Aku hanya kangen sama rumah,” jawabku sambil menghindari tatapan matanya. “Kangen rumah?” Farale terdengar terkejut saat aku mengatakan hal itu. “Iya. Aku... mau balik aja ke Jakarta,” lanjutku. “Balik?!” Sepertinya, Farale tidak menyangka kalau aku akan meminta hal ini sekarang. Tetapi, aku memberikan jawaban berupa anggukan kepala. Secara tidak langsung, aku sudah mengatakan bahwa aku sangat ingin pergi dari tempat ini. “Kamu... beneran tidak ingin mencari tahu kebenarannya dari Bos Andrew?” Farale menanyakan sesuatu yang sebenarnya aku cari di sini. “Mmmm... aku lelah. Dia selalu menghindari diriku. Dan sepertinya, sudah tidak ada lagi yang dijelaskan,” jawabku dengan nada kecewa. “Sabar, Non. Aku sedang berusaha membujuk Bos Andrew. Kamu jangan pergi dulu dari sini.” Farale seperti memberikan angin segar kepada diriku. Tetapi, dengan duri-duri yang telah tertancap di hati ini. Ucapan Farale itu seperti tidak ada gunanya lagi. Apalah artinya aku mengetahui alasan dia melakukan hal itu kepada diriku. Jika dua malam ini saja dia selalu bersama wanita lain. Bahkan dengan dua wanita yang berbeda. “Mmmm... tapi....” Aku ingin sekali menolaknya. Ingin aku katakan semua yang ada di pikiranku ini. Semua bayangan yang aku khayalkan saat melihat bosnya itu dengan perempuan lain. Bahkan, semua beban yang sangat menekan batinku ini. Ingin sekali, aku mengatakannya. Namun, lagi-lagi aku memilih untuk diam. Aku pun kehilangan kata untuk menolak dirinya itu. Bagaimana pun, dia sudah berusaha untuk memberikan aku sebuah jawaban. Mungkin, aku memang harus lebih bersabar dan mendengarkan langsung dari mulut laki-laki itu. Daripada, aku pulang begitu saja tanpa hasil. Ada baiknya memang, aku mengetahui kenyataannya. Walau itu pahit sekali pun. “Ya sudah, terserah kamu.” Aku pun pasrah dengan keadaan. “Kalau begitu, tunggu beberapa hari lagi. Aku yakin, setelah semua urusan bos selesai. Dia pasti akan bicara dengan kamu,” kata Farale percaya diri. “Kenapa harus menunggu lagi?” Aku yang sudah sangat tertekan, tentu tidak akan sabar walau disuruh menunggu beberapa detik sekali pun. “Tunggu beberapa hari doang. Untuk saat ini, ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan oleh Bos. Jadi, kamu sabar dulu ya,” lanjutnya. “Harus menunggu berapa hari lagi. Satu hari? Dua hari? Tiga hari? Atau satu minggu? Jangan-jangan satu bulan?” Diriku yang tidak diberikan kepastian ini, semakin kesal dengan janji-janji yang selalu diberikan. “Tenang. Kalau urusan Bos Andrew lancar, sepertinya satu atau dua hari selesai. Aku enggak bisa memastikan. Karena rekanan Bos kali ini, agak sedikit sulit diajak kerjasama,” jelas laki-laki yang berbalut jas rapih yang berdiri di depanku. “Huufff... terserah.” Aku hanya bisa mengatakan satu kata itu saja. Kesal memang. Namun, apa yang bisa aku perbuat. Kalau pun aku kabur dan balik sendiri ke Indonesia, aku memiliki kesulitan. Bagaimana pun, semua surat-surat dan juga paspor ada di tangan Farale semua. Dia sengaja menahannya, karena dia khawatir aku kenapa-kenapa. Bagaimana pun, aku ada di sini karena dirinya. “Supaya kamu tidak terlalu bosan di sini. Aku sudah carikan orang untuk menemani kamu jalan-jalan mengelilingi kota ini,” kata Farale sambil menunjukkan seseorang yang sejak tadi tidak aku sadari keberadaannya. “Hah? Maksudnya, aku keliling kota bukan sama kamu?” Aku malah balik bertanya. “Mmmm... maaf, Non. Aku harus ada di samping Bos. Apalagi, ada yang ingin aku paksa dari dirinya. Tentu saja, aku harus bekerja ekstra.” Aku tahu, kemana arah tujuan bicaranya itu. Orang yang satu ini memang sangat sulit ditebak. Bahkan, dari cara dia memanggil aku saja, suka-suka dirinya. Kadang dia memanggil aku dengan nama begitu saja. Terkadang, dia juga memanggil aku dengan kata sapa ‘Non’. Apalagi, jika ada sebuah alasan di baliknya. Bahkan, yang paling tidak aku suka. Saat dia memanggil aku dengan panggilan ‘Nyonya’. Aku tidak mau dengan julukan itu. Di mana, aku memang belum menjadi Nyonya-nya siapa-siapa. “Jadi, aku harus pergi sama siapa?” Aku pun menanyakan nama orang yang Farale kenalkan itu. “Dia namanya, Viona.” Farale pun menyebutkan gadis manis dengan pakaian yang sangat sopan itu. “Selamat pagi, Non Ajeng.” Dia pun memberikan salam dengan senyumannya itu. Aku jadi bisa melihat lesung pipinya yang ada di sebelah kanan. “Hai, salam kenal,” kataku sambil meraih tangan yang dia ulurkan kepadaku. Aku memperhatikan gadis manis yang memiliki wajah khas Indonesia. Tanpa aku tanyakan langsung, aku tahu dia juga salah satu orang yang sama dengan Rendi. Keturunan Indonesia yang harus menetap lama di sini. Tentu, itu tidak akan mudah.  Aku terus memperhatikan gadis mungil yang berada di depanku ini. Cara dia berpakaian, hampir sama dengan diriku. Dia tidak terlalu suka berpakaian dengan bahan minim dan tipis. Apalagi dengan cuaca kota ini. Tentu, pakaian mereka rapat dan menutup seluruh tubuh. Bahkan, bisa dikatakan sangat tebal. “Sepertinya, kamu anaknya pendiam ya?” kataku mencoba menebak watak perempuan yang bernama Viona ini. “Hah?!” Farale hanya tersenyum saat mendengar ucapanku itu. Dan aku pun akhirnya mengerti dengan senyuman Farale tersebut. Selama perjalanan aku bersama dengan gadis berambut hitam ikal ini, tidak ada waktu sedikit pun tanpa aku tidak mendengar suaranya. Dia terus mengoceh tentang setiap tempat yang kami lalui. Dari namanya sampai sejarahnya. Padahal, aku pun tidak mendengarkan dengan seksama penjelasannya itu. Pikiranku masih sangat kusut untuk sekedar melihat-lihat pemandangan yang ada. Bahkan, setiap Viona mengajak aku untuk berhenti dulu di setiap tempat yang dia sebutkan. Aku selalu menjawab, ‘Tidak usah. kita di mobil saja.’ Sampai, dia pun mengambil inisiatif tanpa bertanya lagi kepadaku. Sehingga, kami pun berdiri di atas jembatan ini. “Mmmm... kalau aku boleh tahu, hubungan Non Ajeng sama Bos Andrew apa?”  “Deg.” Ternyata pertanyaan itu pun, akhirnya keluar dari mulutnya. Aku tidak menyangka, Viona akhirnya berani menanyakan itu. Padahal, dia hanya mengenalku dari Farale. Tapi mungkin, dia juga mendengar sedikit percakapan aku dan Farale tadi pagi. Tidak heran, rasa penasaran yang sejak tadi dia pendam pun, dia tanyakan sekarang. “Mmmm... entahlah. Apa hubungan aku dengan orang itu.” Aku menjawabnya dengan tatapan tetap melihat air yang bergerak sedikit demi sedikit. “Kalau Non Ajeng enggak punya hubungan, kenapa anda harus menunggu penjelasan dari Bos?” tanyanya lagi. Setelah dipikir-pikir, Viona dan Farale sepertinya sebelas dua belas. Sikap mereka hampir sama. Apalagi, dengan sikap penasarannya. Mereka benar-benar sangat mirip. “Mmmm... entahlah. Mungkin, bisa dikatakan aku ini adalah... istrinya,” jawabku ragu. Jika aku perkenalkan diri sebagai pacar, maka dia bisa mengambil kesimpulan bahwa aku salah satu simpanan laki-laki itu. Lagi pula, statusku ini memanglah istri Andrew. Walau, itu hanya ada di atas sebuah perjanjian yang seharusnya habis dalam waktu satu tahun lagi. “Anda... istri Bos Andrew??” Viona terlihat sangat terkejut dengan pernyataanku itu. “Mmmm... harusnya sih seperti itu,” jawabku. Sebenarnya, dari sikapku itu. Orang-orang pasti tidak akan percaya dengan yang aku katakan. Lagi pula, memang statusku ini membingungkan. Di satu sisi, aku tidak boleh mengatakan bahwa aku ini bukan istrinya. Setidaknya itu yang tertulis di perjanjian itu. Namun, di luar orang yang tidak mengenal kami. Baik aku atau pun Andrew, boleh mengaku bahwa kami bukanlah sepasang suami istri. Namun, aku memutuskan untuk mengatakan hal itu kepada perempuan yang masih terkejut ini. “Tapi... bukannya Bos Andrew....” Seperti yang aku duga. Dia tahu sesuatu tentang laki-laki ini. Mungkin, yang aku lakukan memang tepat. Daripada menunggu lama, bukankah lebih baik aku mencari tahu dari perempuan ini. Apakah dia mau mengatakan yang sebenarnya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD