Seindah apa pun, pemandangan yang kita lihat. Jika hati sedang seperti ini, maka semua akan terlihat hampa. Bahkan, air mata yang terus mengalir di wajahku ini, juga ikut membuat pemandangan ini semakin menjadi buram.
“Emangnya, kamu enggak kedinginan?” tiba-tiba, laki-laki yang ada di sampingku ini bertanya.
“Hah?!” Aku cukup terkejut dengan pertanyaannya.
Aku yang keluar dengan menggunakan kain panjang yang cukup untuk menyelimuti diriku ini, pastilah tidak akan merasakan itu. Apalagi, baju yang aku kenakan pun berlapis-lapis. Cuacanya pun tidak terlalu dingin juga. Ya, meski di bandingkan pagi di Indonesia. Di sini, memang terasa lebih dingin.
“Itu... kalau kamu terus basahi wajah kamu, kamu pasti akan tambah kedinginan,” lanjut laki-laki itu sambil menunjuk ke arah mataku ini.
Sepertinya, lelaki jangkung yang ada di sampingku, berniat untuk menghibur diriku. Tetapi, apa semua lelaki itu tidak pandai caranya menghibur seorang perempuan yang sedang menangis. Walau begitu, aku sedikit paham dengan maksudnya. Dia pasti menginginkan agar diriku tidak lagi menangis.
“Ya, mau bagaimana lagi. Dia mengalir begitu saja,” balasku sembari menghapus air mata dengan sapu tangan yang sudah sangat basah ini.
Entahlah, air mataku benar-benar tidak bisa dibendung. Padahal, aku sudah berusaha untuk tidak menangis kan sesuatu yang tidak perlu aku tangisi. Tetapi, setelah laki-laki ini menyuruh aku meluapkan semua perasaanku, air mata ini malah mengalir begitu saja.
Aku sungguh tidak bisa mengerti dengan diriku. Mengapa aku harus menangis orang yang tidak menganggap kita sama sekali. Bukankah, seharusnya kita tidak usah memikirkan orang itu juga. Atau, lebih baik aku akhiri saja perjanjian pernikahan pura-pura ini.
“Jadi, kamu jauh-jauh datang ke sini, hanya buat menangis saja?” Lagi-lagi, caranya menghibur sangat aneh dan dingin.
“Kan tadi, kamu yang suruh. Ya, aku kayak gini,” keluhku. Aku pun menarik napas panjang, agar merasa lebih lega.
“Ya, aku pikir kamu tetap enggak akan menangis seperti ini. Kalau ada orang yang liat, mereka pasti akan salah paham.” Rendi melihat ke kanan dan ke kiri.
Aku pun juga ikut melihat ke sekeliling kami. Untungnya, ini memang tidak ada siapa-siapa di sini. Mungkin, karena memang masih terlalu pagi untuk berkeliaran di luar. Bagaimana pun, bukan hanya Rendi yang akan jadi bahan pembicaraan orang yang melihat kami. Aku pun akan mencari sosok yang ikut disorot oleh mereka.
Tanpa pikir panjang pun, aku langsung mengeringkan sisa air mataku ini. Sebisa mungkin, aku harus menahan perasaan ini kembali. Bagaimana pun juga, benar kata Rendi. Aku ke sini, bukan untuk menangis. Aku harus mencari tahu tentang semua yang sedang terjadi. Dan kalau pun, sesuatu yang pahit yang akan terjadi. Aku pun harus siap menjalaninya.
“Mmmm... aku memang tidak tahu masalah kamu apa? Tapi, aku bisa menemani kamu mencari tempat untuk menghibur diri.” Laki-laki yang menaruh rasa simpatinya kepadaku, menawarkan diri untuk menemani diriku untuk menghilangkan rasa ini.
“Aku rasa tidak perlu. Kamu pasti sibuk.” Aku pun menolak niat baiknya itu.
Bagaimana pun, Farale juga sudah berjanji untuk mengajak diriku untuk keliling kota. Aku lebih memilih jalan dengan orang yang aku kenal. Daripada, dengan laki-laki yang baru beberapa menit aku kenal ini.
“Beneran, kamu enggak mau aku temanin?” Dia menanyakannya lagi.
“Emangnya, kamu enggak sibuk?” Aku ikut bertanya balik. Caraku bertanya mengikuti dengan gaya bicaranya.
“Mmmm... ya enggak hari ini juga sih. Hari ini ada sedikit urusan,” jelasnya.
“Ya sudah, aku sekarang juga sudah tidak papa kok.” Aku berusaha terlihat kuat. Padahal, hatiku ini masih sangat rapuh.
“Kamu yakin?” Dia masih saja mengkhawatirkan diriku.
“Iya. Kamu tenang saja, Setelah menangis, aku merasa lebih lega.” Aku mengatakan sesuatu yang membuat dia sedikit percaya.
Dia tidak lagi bertanya apa pun juga. Tetapi, tatapan matanya itu masih tetap tidak percaya dengan yang aku katakan.
Siapa sebenarnya laki-laki ini?
Kenapa dia begitu peduli dengan diriku?
Padahal, kami baru saja berkenalan. Orang yang sudah kenal lama pun, belum tentu menaruh simpati sebesar itu. Apalagi dengan gaya hidup orang perkotaan seperti ini. Kesibukan dengan dunia bisnis, seakan memisahkan diri dengan seseorang yang belum saling kenal seperti ini.
Siapa sebenarnya dia?
“Greeetttt... grett....” tiba-tiba, terdengar suara getaran dari sakunya itu.
Rendi pun langsung mengambil sebuah benda kecil tetapi sedikit panjang. Setelah dia melihat sesuatu yang tertulis di sana, dia kembali memasukkannya ke dalam kantong celananya.
“Sorry ya, Non Ajeng. Saya sepertinya tidak bisa menemani kamu lama di sini.” Laki-laki ini pun sepertinya berniat pamit dari sini.
“Ooooo... ya, sudah.” Aku pun tidak punya niat untuk tetap menahannya.
“Kamu enggak papa sendirian di sini?” Padahal, dia tadi terlihat buru-buru. Namun, masih sempat mengkhawatirkan diriku yang sendirian di sini.
“Enggak papa,” jawabku singkat.
“Okelah. Semoga kita bertemu lagi ya,” katanya sebelum pergi meninggalkanku.
“Mmmm... ya.” Aku sebenarnya ragu untuk mengatakannya.
Bagaimana pun, tidak ada alasan lagi untuk aku bertemu dengan laki-laki ini.
Setelah dia melemparkan sebuah senyuman, lelaki itu pun pergi meninggalkan diriku. Aku cukup lama menatap punggungnya yang lebar. Namun, laki-laki itu tetap berjalan dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa. Sampai, bayangan tubuhnya pun menghilang dari hadapanku.
“Setidaknya, aku tidak sendirian di kota yang asing ini.” Aku bergumam dengan nada sedikit lega.
***
Beberapa menit tidak terasa, saat aku sedang menikmati keindahan pemandangan di sekitar sungai yang melintas di samping hotel ini. Aku pun memutuskan untuk kembali ke kamar. Tubuhku sudah mulai merasakan dinginnya angin yang mulai tembus ke dalam bajuku. Mendengar suara aliran air di dalam kesendirian, tidak lagi dapat menghipnotis diriku, karena rasa dingin ini.
Dengan merapatkan kain yang ada di sekitar lenganku ini, aku pun melangkahkan kaki untuk mulai menaiki anak tangga. Namun, betapa kecewanya diriku saat melihat sebuah pemandangan yang ingin aku hindari. Belum saja, aku menaiki salah satu anak tangga ini. Mataku melihat sosok yang tidak asing, keluar dari dalam eskalator.
Aku sudah sengaja tidak menggunakan benda itu untuk naik turun. Dengan harapkan, aku tidak akan melihat orang itu lagi. Namun, tidak diduga. Aku pun kembali melihat Andrew keluar dari besi bergerak itu dan turun di lantai yang sama dengan diriku berasa.
Tempat aku berdiri memang cukup jauh dari tempat Andrew berada. Namun, karena posisinya yang masih sejajar. Aku masih bisa melihatnya dengan jelas. Aku bisa melihat sosok laki-laki yang berada di dalam balutan jas hitam itu, keluar dari dalam sana dan terus berjalan lurus ke depan. Sepertinya, dia tidak melihat diriku yang sedang mematung melihat dirinya.
Tetapi, bukan hanya itu yang membuat aku kembali tercengang. Di saat yang sama, ada seorang perempuan cantik mengikuti di belakangnya. Dan, perempuan itu bukanlah orang yang kemarin aku lihat. Dia wanita lain lagi yang menemui Andrew di pagi hari seperti ini. Di waktu seperti ini, di mana orang baru saja bangun dari tidurnya. Bukanlah, waktu yang tepat untuk berbisnis.
“Apa... dia....” pikiranku tentang sesuatu yang sempat aku bayangkan kemarin, kini mulai melintas kembali.
“Jadi, selama dia tinggal di sini... dia....” Aku tidak bisa membayangkan apa yang sudah Andrew lakukan.
Aku tidak bisa berpikir dengan jernih lagi. Aku sudah cukup kecewa dengan keadaan ini. Sampai, aku pun berpikir, ‘sudah berapa banyak perempuan yang dia jamah selama dia berada jauh dariku’. ‘Apakah Andrew yang aku kenal memang sudah berubah?’ Entah, pikiran jelek apa lagi yang ada di benakku ini.
“Sepertinya, memang sudah tidak ada harapan buat kami bersatu lagi,” gumamku kecewa.
Dengan menarik napas panjang, aku putuskan untuk melangkah ke tempat Andrew keluar tadi. Kondisiku cukup lemah untuk menaiki banyak anak tangga itu. Lagi pula, orang yang berusaha aku hindari sudah tidak ada lagi di kamarnya. Pemandangan menyakitkan yang berusaha aku hindari pun, tetap tidak luput dari mataku ini.
Langkah kaki berat ini pun, aku seret sedikit demi sedikit menuju kamarku yang berada di lantai paling atas. Sakit hati ini sudah tidak bisa aku tahan lagi. Bahkan, sudah tidak ada lagi alasan untuk aku mendengar semua kenyataan yang terjadi pada malam itu. Aku sudah memutuskan untuk melepas Andrew sepenuhnya. Aku tidak mau lagi mendengar apa pun tentang dirinya.
Itu keputusan yang sudah aku ambil, saat dua malam berturut-turut aku melihat dia dengan dua orang perempuan yang berbeda. Tidak ada lagi, peluang buat kami bersatu kembali.
Andrew hanyalah masa lalu buatku.
Walau berat, aku harus bisa melupakan dia seutuhnya.