BAB 11

1431 Words
“Non, beneran mau jalan-jalan keluar?” Farale menanyakan kembali niatku itu. Aku hanya diam. Biasanya, laki-laki tidak langsung peka dengan diamnya perempuan. Padahal, keseringan diamnya itu bertanda iya. Entah karena malu untuk mengakuinya. Atau, karena memang sudah lelah untuk menjawab kata ‘iya’. “Mmmm... tapi jangan sekarang ya? Sepertinya sudah mau gelap,” kata Farale melihat ke arah luar jendela. Walau langit belum menunjukkan warna kemerahannya. Farale sudah dapat menyimpulkan bahwa tidak ada cukup waktu untuk berjalan di malam hari. Padahal, waktu di sini lebih lama dari pada di Indonesia. Biasanya, meski jam sudah menunjukkan pukul enam sore sekali pun. Tetapi kehidupan kotanya masih cukup ramai layaknya jam tiga sore. Harusnya masih cukup banyak waktu untuk sekedar mencari angin di luar sini. “Terserah.” Aku hanya pasrah saja. Karena, saat ini tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Bahkan ingin rasanya aku kembali ke tanah air. Tetapi, aku harus mencari tahu kebenaran semuanya ini. Barulah, aku bisa kembali ke rumahku. Meski itu pasti akan menyakitkan hatiku ini. “Baiklah, kalau begitu besok anda bisa jalan jalan di sekitar sini,” kata Farale dengan sangat yakin. Tanpa menjawab apa pun, aku pun memalingkan wajahku ini ke arah yang berlawanan dari posisi Farale berada. Mataku ini kembali menatap keluar jendela. Meski aku melihat ke sana, namun sesungguhnya bukan itu yang ada di penglihatanku. Aku masih terus membayangkan setiap momen yang sungguh menyayat hati.  Tidak semudah itu, bisa membuang setiap detik kejadian yang hanya sebentar itu. Apalagi untuk menghilangkan rasa sakit ini. Itu pastilah lama, dan membutuhkan waktu. ***  Pagi ini, seperti halnya malam sebelumnya. Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku kembali berdiri di depan jendela yang tirainya tidak tertutup. Aku menunggu warna langitnya segera berubah menjadi terang. Namun, ini sangatlah lama sekali. Menunggu memang sesuatu yang tidak menyenangkan. Apalagi, menunggu sesuatu yang belum pasti. “Huffff... apa lebih baik aku keliling hotel saja dulu ya. Siapa tahu, aku bisa menemukan sebuah tempat yang nyaman,” gumamku dalam lelah. Aku ingin sekali keluar dari ruangan ini. Bukan karena tempatnya yang sempit. Namun, dengan kondisi hati seperti ini semua tempat pasti akan terasa menyesakan. Aku langkahkan kaki keluar dari ruangan yang gelap ini. Aku sengaja menghindari tempat terakhir aku melihat kedua pasangan itu. Meski belum pasti mereka berada di kamar yang sama lagi. Namun tetap saja, aku masih sangat sakit untuk mendekati tempat itu.  Jika aku ingin mengikuti emosiku saat ini, mungkin aku akan berlari ke kamar itu. Lalu, aku akan mendobraknya. Tapi setelah aku pikir lagi, siapa aku ini. Apa hakku untuk marah kepada mereka. Apalagi, belum tentu aku bisa menerobos pintu hotel yang tebal itu. Aku pasti hanya akan buang-buang tenaga saja saat melakukannya. Maka dengan terpaksa, aku pun mulai menuruni setiap anak tangga. Dan kebetulan, letak tangga dan liftnya sedikit berjauhan. Itu mengapa, aku lebih memilih untuk turun dengan cara ini. Setidaknya, itu juga yang bisa membuat aku tidak berpapasan dengan Andrew. Aku nikmati setiap langkah yang berat ini. Aku benar-benar sangat hampa. Ditambah, aku hanya seorang diri di tempat asing ini. Sebuah tempat yang tidak sama sekali aku ketahui. Bahkan, bahasa yang mereka gunakan juga tidak terlalu lancar. Meski, aku pernah sedikit mempelajarinya. Namun, sudah banyak yang terlupakan. Karena, aku memang sangat jarang menggunakannya. Aku terus melangkahkan kaki ini, sampai terhenti di sebuah tempat yang terlihat sangat ini. Aku bisa melihatnya dari celah-celah jendela yang hampir mengisi dinding di bagian kananku ini. Maka, dari pada aku kembali menyusuri anak tangga untuk turun ke bawah. Aku memilih untuk keluar dari pintu kaca yang sedikit terbuka itu. Mataku terus terpanah melihat pemandangan ini. Langit-langit yang mulai menunjukan cahaya kemerahannya, juga mulai memperlihatkan betapa indahnya suasana pagi. Setidaknya, ini bisa sedikit menghibur rasa sakit hatiku. Suara-suara alam juga mulai terdengar mengisi kesunyian pagi. Sehingga, aku merasa tidak sendiri di tempat yang dingin ini.  “Andai hatinya bisa menemukan setitik cahaya seperti pergantian malam ini,” gumamku. Orang galau seperti aku, memang sangat banyak harapan dan keinginan yang tidak pasti. “Hai, Nona Ajeng. Kamu sedang apa di sini?” Deg. Tiba-tiba, dari bagian belakangku ada seseorang dengan logat asing memanggil namaku. Suara yang pernah aku dengar, tapi lupa di mana. Karena, penasaran pun aku melihat ke arah asalnya suara.  “Si... siapa?” Tentu itu yang langsung aku tanyakan. Aku juga menggunakan bahasa yang biasa aku gunakan. Karena, laki-laki asing yang ada di dekatku ini juga menggunakan bahasa yang sama. Meski cara bicaranya itu sedikit kaku. Mungkin, karena memang tidak terbiasa menggunakannya. “Kamu tidak ingat sama aku?” Dia malah memancing diriku untuk mengingat sosok asingnya itu. Aku memang pernah mendengar suaranya itu. Tetapi wajahnya yang sangat asing ini, tidak bisa aku ingat sama sekali. Aku jadi ingat salah satu kejahatan yang suka terjadi. Orang-orang yang suka menghipnotis seseorang, sering kali memulainya dengan seperti ini. Apalagi kondisiku saat ini. Kemungkinan untuk aku dihipnotis, itu sangatlah mudah. Namun, aku berusaha sekuat mungkin untuk tetap tersadar. “Mmmm... aku enggak kenal sama kamu,” kataku berusaha bersikap dingin. Aku juga berniat langsung meninggalkan tempat ini. Padahal, sayang sekali. Tempat ini sangat indah, dan juga bisa memberikan diriku sedikit ketenangan. “Sayang sekali. Padahal, aku sudah sangat senang ada teman yang bisa menikmati pemandangan ini,” kata laki-laki itu kecewa. Aku pun langsung menghentikan langkah kakiku. Hati ini pun langsung bertanya-tanya, kenapa dia bisa tahu apa yang sedang aku pikirkan. “Sebenarnya... siapa kamu?” Aku sedikit melunak saat menanyakannya. Meski dia terlihat seusia dengan diriku. Namun tubuhnya yang terlihat gagah di dalam suiter tebalnya itu, membuat dia tidak terlihat seperti seorang penjahat. Tubuhnya juga sedikit lebih tinggi dari diriku. Dari wajah dan penampilannya, memang tidak ada tampang seorang yang sedang menghipnotis seseorang. “Sedih ya. Padahal, kita baru saja bertemu kemarin. Tapi, kamu sudah tidak ingat sama aku,” jawabnya dengan nada kecewa yang lebih lagi. “Mmmmm... tapi....” Aku yang merasa sedikit bersalah, tidak bisa berbicara apa pun juga. “Ya sudah. Perkenalkan, nama saya Rendi. Saya pernah tinggal juga di Indonesia. Tapi, sudah sekitar dua puluh tahun lebih saya tinggal di sini.” Dia memperkenalkan dirinya dengan sangat sopan dan jelas.  Bahkan, dia mengganti cara penyebutannya. Tadi dia menggunakan kata aku dan kamu. Tapi, sekarang dia menggunakan kata ganti saya. Itu menunjukkan, dia mulai menunjukkan rasa sopan santunnya. “Mmmm... saya Ajeng.” Aku pun meraih tangannya yang dia ulurkan. “Saya tahu,” jawab laki-laki jangkung ini. “Tapi, dari mana kamu tahu siapa aku?” Aku menanyakan hal yang tadi sudah dia jelaskan. Tapi tetap saja, aku belum bisa mengingat kapan aku pernah bertemu dengan laki-laki ini. Aku hanya bisa mengingat kejadian yang memilukan saat melihat kedua pasangan yang tidak diharapkan itu. Sedangkan semua yang lain, tidak ada lagi yang bisa aku ingat. “Aku... orang yang kamu tabrak saat di lift,” katanya mencoba memberikan diriku sebuah petunjuk. “Lift?” Aku masih sedikit samar tentang hal itu. “Ternyata, kamu memang tidak ingat sama sekali ya?” Dia sepertinya sedikit paham dengan situasi diriku. “Mmmm... maaf.” Aku yang sudah membuat orang asing ini kecewa, hanya bisa mengatakan satu kata itu saja. “Buat apa kamu minta maaf,” katanya lagi. Cara bicaranya sudah sedikit lancar, dari pada saat pertama kali dia menegurku tadi. “Mmmm... tapi....” “Sudahlah. Buat apa membahasnya lagi. Mending, kita melihat pemandangan ini saja.” Dia langsung mencegah diriku untuk tidak terus menyalahkan diri sendiri. Dia juga langsung melihat ke arah langit-langit yang sudah mulai menghilang warna merahnya. Warna hitam langitnya pun sudah mulai menghilang. Warna kebiruan langit yang indah, yang mulai bisa aku lihat di sana.  Apakah hatiku ini, juga bisa berubah seperti langit malam ini. Ataukah, nanti akan kembali berubah saat dia akan menghadapi malam lagi. Kekecewaan yang tadi sedikit memudar, kini mulai menggerogoti diriku lagi. Rasa membayangkan langit ini bisa kembali berwarna hitam itu pun, membuat hati ini menjadi sangat sakit. Sedih yang tidak seharusnya aku rasakan, kini malah mulai menusuk hati ini. “Kamu sedang ada masalah ya?” tanya laki-laki yang langsung menyadari kegalauan yang aku rasakan. Namun, aku tidak bisa begitu saja menceritakan semuanya kepada laki-laki yang baru aku kenal. Apalagi, status Andrew masihlah suamiku. Walau hanya suami di atas sebuah perjanjian. Namun, aku tidak bisa mengatakan semua itu.  “Kalau kamu sedih, jangan dipendam. Lebih baik keluarkan. Dan menangislah sekeras mungkin,” katanya lagi. Aku pun langsung melihat ke arahnya. Laki-laki itu juga tersenyum kepadaku. Namun, karena senyuman itu pula, air mata ini tiba-tiba saja mengalir dengan sangat derasnya.  Bagaimana ini? Meski, aku tidak menginginkannya. Namun, dia terus mengalir begitu saja. Aku tidak bisa menahannya. Tolong. Siapa saja, tolonglah aku.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD