Apa ini?
Mengapa ini bisa....
Pikiranku semakin terasa berat melihat penampakan yang ada di depanku. Tubuhku ini juga tiba-tiba terasa sangat lemas. Tanpa sadar, aku pun berpegangan pada pintu lift yang tertutup. Aku berharap agar tidak terjatuh di depan kedua pasangan yang baru keluar dari kamar itu.
Ternyata benar kata orang. Jika kita memikirkan sesuatu yang buruk, maka sering kali hal itu terjadi. Dan sekarang, semua itu terbukti langsung. Aku melihat orang yang sangat aku khawatirkan semalam, kini muncul di depanku.
Jika dilihat dari penampilannya yang sangat kusut, aku bisa menyimpulkan bahwa laki-laki ini sedang mabuk semalam. Wajahnya yang lusuh karena bekas minuman keras yang dia minum itu pun masih terlihat jelas. Lalu, siapakah wanita yang ada di belakangnya?
Mengapa mereka harus keluar dari kamar yang sama?
Apakah kejadian saat aku dan dia bertemu di malam itu terulang kembali?
Apakah kali ini dia sudah benar-benar....
“Ah, tidak tidak. Itu tidak mungkin.” Aku langsung buru-buru menepis semua pemikiran itu.
Dengan melihat pemandangan ini saja sudah membuat aku sangat lemas. Jika sampai Andrew sampai melakukan hal itu dengan wanita lain, maka buat apa aku ada di sini. Kesempatan aku untuk mendapatkan penjelasan akan semuanya, itu tidak akan pernah terjadi. Bahkan kemungkinan terburuk pun, aku tidak akan mungkin bersama dengan Andrew lagi.
“Ting....”
Di saat aku masih belum kuat berdiri dengan tegak. Tiba-tiba saja, pintu lift ini terbuka. Aku yang berpegangan pada pintunya pun kehilangan keseimbangan dalam seketika. Aku sudah sangat pasrah untuk diriku jatuh begitu saja. Baik hatiku dan juga diriku, semuanya berasa sakit dan lemas. Kepalaku cukup pusing untuk membuat keadaanku kembali normal seperti biasa.
Aku pun memejamkan mata, dan membiarkan diriku merasakan kerasnya lantai batu. Tidak akan mungkin ada seseorang yang akan menolongku. Sama halnya dengan diriku, Andrew pun sejak sadar aku memergokinya keluar dari kamar dengan seorang perempuan. Dia hanya bisa mematung di depan kamar tersebut. Bahkan, tidak ada sekali pun niat buat dia lari ke sisiku. Hanya untuk sekedar memberitahukan, jika memang tidak ada apa-apa antara dia dengan perempuan itu.
“Seperti inilah diriku. Hanya bisa pasrah dan terjatuh,” kata hati kecilku.
“Ups, senora. Estas bien?” kata seseorang dari arah belakangku.
Ternyata, dari dalam lift ada seseorang yang menahan tubuhku yang akan terjatuh. Aku yang masih belum kuat mengangkat tubuh ini, masih terus bersandar pada tubuh lelaki tinggi yang kekar ini. Meski begitu, aku berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dalam keadaan yang terpuruk ini.
“Ma... maaf, tuan,” kataku sambil terus mencoba untuk bangun dengan menggunakan bantuan lelaki itu.
“Ajeng....” Andrew yang datang terlambat, sempat meneriakkan namaku.
Dalam pandangan yang sedikit kabur, aku melihat laki-laki itu berdiri di depan lift. Tangannya pun berusaha menahan pintu lift yang tidak akan terbuka lama. Bagaimana pun, kakiku masih berada di antara pintu tersebut.
“Bos... ada apa?” tanya Farale yang tidak lama muncul dari arah yang berlain dengan kamar Andrew tadi.
Andrew hanya diam. Matanya masih tetap melihat lurus ke arahku. Aku melihat masih ada kekhawatiran di sana. Namun entah mengapa, tangannya itu tidak juga diulurkan untuk membantu diriku ini. Walau kini aku sudah dapat berdiri dengan tegak. Tetapi, aku masih sangat lemas untuk melangkahkan kaki ini.
“Nona Ajeng? Anda tidak papa?” Andrew yang langsung sadar dengan keadaanku yang kurang baik, langsung menanyakannya kepadaku.
“Aku enggak papa. Aku hanya sedikit lemas,” jawabku dengan sangat jujur dengan kondisiku ini.
“Tolong kamu bawa Ajeng ke kamar.” Andrew malah menyuruh asistennya itu yang menolong diriku.
Mengapa dia sama sekali itu mau menunjukkan perasaan khawatirnya itu langsung kepadaku?
Mengapa dia juga tidak mau sekedar mengulurkan tangannya kepadaku?
Mengapa?
Pikiranku semakin kacau dan berat. Tubuh ini juga terasa sangat berat sekaligus lemah. Aku tidak sanggup melihat kenyataan yang ada di hadapanku ini. Namun, mulutku juga terasa sulit untuk bertanya tentang semua yang sedang terjadi. Aku merasa diriku ini sudah tidak ada artinya lagi bagi laki-laki yang ada di depanku.
“Ayo, Nona.” Farale dengan cekatan membantu diriku yang masih berdiri bagaikan patung itu.
Dalam diam, aku pun membiarkannya membawa diriku pergi dari kotak besi bergerak ini. Andrew hanya melihat aku yang pergi dari hadapannya. Dia tidak ikut mengantar diriku ini ke kamar. Laki-laki itu memilih untuk tetap di tempatnya. Bahkan, aku masih bisa mendengar suaranya yang berbicara dengan laki-laki yang menolongku tadi.
Tidak lama setelah dia mengucapkan terimakasih kepada laki-laki itu. Pintu lift pun kembali tertutup. Meski begitu, Andrew tetap tidak menyusulku. Sesekali, aku masih melihatnya yang berdiri melihat diriku dari kejauhan. Aku masih bisa melihat wajah ke dua orang itu.
“Siapa dia?” tanya perempuan yang ada di sampingnya.
“Dia bukan siapa siapa,” jawab Andrew dengan dingin.
Apa?
Dia tidak mengatakan pada perempuan itu, kalau aku ini adalah istrinya?
Mengapa?
***
Aku masih terbaring lemas di atas ranjang. Kasur hotel yang sangat empuk ini terasa penuh dengan duri. Namun di lain sisi, aku juga merasa kaki dan tanganku ini seperti terikat di atas tempat tidur ini. Itu pula yang membuatku tidak dapat bergerak dan juga merasa sangat tidak nyaman.
Bayangan tentang kejadian tadi masih berputar di dalam benakku. Sikap Andrew yang dingin, dengan tatapan yang membuatku bingung masih sering melintas di pikiranku. Bahkan ucapannya itu, berkali-kali berputar di telingaku.
‘Dia bukan siapa siapa’. Kata-kata itu seperti menusuk gendang telingaku.
Bukan itu saja, hati ini pun terasa sangat sakit. Ingin rasanya aku menangis, namun mataku terasa kering. Aku tidak mengerti dengan diriku ini. Jika aku harus bersedih, maka harusnya aku menangis sekencang-kencangnya. Tetapi, aku tetap tidak bisa melakukannya. Aku yang bukan siapa siapa bagi laki-laki itu, merasa tidak punya hak untuk menangis. Aku hanya bisa mencoba belajar menerima keadaan ini. Meski ini sangat sulit.
“Nona Ajeng, ayo di makan nasinya?” Farale kembali mengingatkan diriku untuk memakan hidangan yang sudah dia siapkan.
Jangankan untuk memakannya, untuk menyentuhnya saja aku sangat enggan. Bahkan untuk melangkahkan diri untuk pergi ke meja tempat makanan itu berada, sangat berat aku lakukan.
“Aku enggak lapar,” jawabku singkat.
Dan tentu saja jawaban itu tidaklah mungkin. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Namun, setiap makanan yang Farale bawakan ke kamar, tidak ada satu pun yang aku sentuh. Bukan karena aku mencari perhatiannya, atau pun mencari perhatian Andrew. Tetapi perutku ini memang tidak terasa lapar. Aku benar-benar merasa hampa. Tidak seperti diriku yang dulu.
Padahal, jika aku yang dulu. Di saat aku sedang marah, aku pasti akan menghabiskan makanan dalam jumlah yang tidak terkira. Namun kali ini, aku sangat bingung dengan diriku sendiri. Aku merasa sangat sedih, namun tidak ingin menangis. Aku merasa sangat marah, namun tidak ada tenaga untuk mengutarakan emosiku. Aku merasa diriku ini bagaikan boneka yang tidak mempunyai perasaan.
“Sebenarnya... ada apa sama Non Ajeng?” Akhirnya pertanyaan itu pun keluar dari mulut Farale. Satu-satunya orang yang khawatir dengan diriku yang jauh di negeri asing ini.
“Mmmm....” Mulut ini ingin sekali bertanya tentang hubungan Andrew dengan perempuan tadi. Tapi, rasanya sangat berat.
Aku takut, Farale akan berpikir bahwa aku cemburu saat melihat Andrew dengan perempuan lain. Dan dia akan melaporkannya kepada bosnya itu. Tetapi, bukan itu saja yang membuat aku berat. Bagaimana jika yang aku pikirkan itu salah. Bagaimana jika ternyata, Andrew dan perempuan itu memang tidak ada apa-apa. Lalu, apa yang harus aku lakukan jika itu terjadi.
Tetapi sebaliknya. Jika Farale mengatakan dia tidak tahu apa-apa. Maka, aku akan semakin berpikir yang tidak-tidak. Aku semakin yakin, bahwa memang ada sesuatu di antara mereka. Apalagi dari sikap Andrew tadi, itu bukan kali pertamanya mereka bertemu. Atau mungkin, ini bukan pertama kalinya mereka keluar dari kamar yang sama seperti sekarang?
Bagaimana ini?
Pikiranku semakin kacau.
“Aku... aku ingin jalan-jalan keluar dari sini?” Akhirnya itu yang bisa aku katakan pada laki-laki yang terus menunggu penjelasanku.
“Keluar kemana?” Farale bertanya lagi.
“Kemana aja. Aku... hufff... aku sangat ingin sendirian dan mencari ketenangan,” kataku sambil menarik napas panjang.
“Tapi... ini bukan di Indonesia. Ini bukan di Jakarta, Non?” Farale sepertinya tidak menyanggupi keinginanku itu.
“Aku tahu.”
“Tapi....”
“Kalau kamu enggak bisa nemanin juga enggak papa. Aku akan pergi sendiri.” Aku tetap memaksa untuk bisa keluar dari tempat yang menyesakan ini.
Aku ingin segera pergi kemana pun itu. Aku perlu udara segar. Sebelum, aku harus mendengar semua kenyataan yang ada. Aku harus mengumpulkan semua keberanianku yang hilang ini.