“Andrew... apa yang mau kamu lakukan?” Ajeng melangkah mundur dan menjauh dari sisi Andrew. Namun, laki-laki itu tidak mau mendengarkan apa yang Ajeng katakan. Matanya sangat kosong. Tangannya dengan pelan dan pasti, membuka satu persatu kancing kemejanya. Apa yang sebenarnya ada di dalam otak laki-laki ini? *** POV Ajeng Aku cukup terkejut, saat menyadari ada seseorang yang menangkap tanganku ini. Dan yang lebih membuatku kaget adalah wajah laki-laki ini. Aku tidak tahu, bagaimana bisa dia tahu jika aku berada di sini. Sedangkan, Rendi tadi sempat mematikan panggilan telepon yang dia lakukan. “Andrew?” Aku pun menyebut nama laki-laki itu dalam keterkejutan yang sangat. Namun, dia tidak mengatakan apa pun juga. Tatapan matanya itu sangat dingin. Aku tidak tahu, apa yang sebenarnya

