Setelah berbicara dengan konsumen yang bersangkutan Freya dapat menebak mengapa hal seperti ini bisa terjadi. Bagas telah melakukan penipuan kepada konsumennya ini dengan mengambil keuntungan dari jumlah nominal uang yang seharusnya. Bagas telah memanipulasi faktur yang diberikan kepada konsumen. Benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa dia melakukan semua ini? Sungguh Freya tidak mengerti. Padahal sejak tadi dia berusaha semaksimal mungkin membuat perempuan paruh baya itu tetap tenang. Sayangnya ia gagal.
“Jadi, bagaimana kamu akan menangani masalah ini? Jelas-jelas saya telah mendapatkan kerugian besar. Uang dua puluh juta bukan jumlah yang kecil! Apa kamu menggantinya?” tanya perempuan paruh baya itu dengan mata melotot. Suaranya yang terdengar cukup keras berhasil membuat beberapa pengunjung kafe menoleh ke arah mereka.
“Beri saya waktu untuk mengecek kebenaran dan mencari jalan keluarnya. Karena saya tidak bisa mengambil keputusan ini seorang diri. Saya harus membicarakannya dengan atasan saya,” bujuk Freya.
“Saya tidak peduli. Itu urusan kamu. Saya mau uang saya kembali!” Perempuan gemuk itu mengangkat dagunya. Emosi mulai memenuhi seluruh nadinya. Sepasang matanya yang bulat membesar dan alisnya yang tebal akibat riasan makeup terangkat tinggi.
“Mohon tenang dulu, Bu. Beri saya waktu untuk membicarakan masalah ini dengan atasan sa-…”
Sebelum Freya menyelesaikan kalimatnya. Perempuan bernama Ibu Ningrum itu sudah lebih dulu mengayunkan Lemon Tea miliknya ke wajah Freya. Sekarang seluruh pasang mata di kafe itu tertuju ke arahnya. Ikut terkejut sekaligus iba dengan pemandangan yang baru saja mereka lihat.
“Tenang-tenang… Seenaknya saja kamu ngomong seperti itu! Kamu tidak tahu bagaimana rasanya ditipu oleh penipu seperti kalian!” teriak Ibu Ningrum yang memperlihatkan guratan urat di lehernya akibat emosi yang sudah memenuhi seluruh pembuluh nadinya.
Freya memilih diam. Tahu jika percuma membuka suara untuk membela dirinya sendiri. Saat itulah dia dapat merasakan hatinya campur aduk. Ada rasa malu karena sudah menjadi pusat perhatian pengunjung di kafe ini dan belum lagi setelah kejadian ini ia akan menjadi topik pembicaraan para staff di kantor. Selain itu rasa marah sekaligus sedih pun mulai merayapi hatinya. Mengapa harus dia yang menerima semua perlakuan ini padahal bukan dia-lah pelaku yang sebenarnya?
Dalam diam Freya menerima makian dan omelan Ibu Ningrum yang terus berkumandang di telinganya. Ingin sekali rasanya ia menutup telinganya kuat-kuat atau pergi keluar meninggalkan perempuan itu. Sayangnya Freya masih memiliki tanggung jawab sebagai seorang staff di kantornya. Apalagi dia-lah yang ditugasi Pak Dahlan untuk menghadapi masalah Ibu Ningrum. Bukankah itu artinya Pak Dahlan percaya jika dia mampu menyelesaikan masalah ini. Oleh karena itu, ia tidak boleh kalah! Maka ketika Freya hendak mengangkat wajahnya suara gebrakan meja berhasil menghentikan gerakannya. Di tengah-tengah kebingungan sekaligus keterkejutannya Freya lanjut mengangkat wajahnya. Saat itulah dia menemukan pemandangan yang membuat kedua matanya mengerjap beberapa kali.
Di hadapannya ada sosok yang berdiri tegak memunggungi dirinya. “Apakah cek ini bisa mampu menggantikan uang ibu yang telah diambil oleh salah satu staff kami?” ujar suara bariton itu.
Ibu Ningrum meraih selembar cek yang terletak di atas meja dengan rasa takut yang baru pertama kali dilihat oleh Freya dan setelah melihat kertas tersebut bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala membentuk sebuah lengkungan yang sangat lebar. “Cukup. Coba dari tadi begini cara anda mengatasi masalah saya. Pasti saya tidak akan semarah ini,” ucapnya tersipu malu.
“Saya senang mendengarnya. Kalau begitu saya punya satu permintaan pada Ibu,” balas pria itu. Dari balik punggungnya Freya mulai menebak-nebak siapakah malaikat penolongnya. Dan ketika ia mendengar suara pria itu lagi, bayangan wajah direktur barunya melintas di dalam benaknya. Sejujurnya Freya sedikit ragu dengan tebakannya. Tapi ketika mendengar suara pria itu lagi, ia yakin jika pemilik punggung ini adalah David Kertarajasa!
“Boleh. Kalau saya bisa lakukan akan saya bantu. Sebutkan saja!”
“Permohonan minta maaf kepada staff saya ini.”
Mendengar permintaan David senyum di bibir Ibu Ningrum perlahan memudar. Tapi dengan cepat dipertahankan oleh wanita itu. “Me-mengapa saya harus minta maaf?” Ada nada tidak terima di dalam suaranya.
“Karena anda sudah menyiram salah satu staff saya dengan minuman anda.” David terdiam beberapa detik sebelum melanjutkan, “Jika anda tidak mau, saya akan melaporkan anda atas tindakan ini dan pada akhirnya anda tidak akan mendapatkan uang anda kembali. Bagaimana?”
Ibu Ningrum menelan salivanya yang mendadak terasa sulit untuk dilakukan. “Ba-baiklah.” Ia memandang lurus Freya yang masih duduk di seberang meja. “Ibu Freya, tolong maafkan saya atas tindakan saya tadi.”
Freya terdiam di tempatnya. Tak tahu harus berkata apa. David memutar tubuhnya dan memandang Freya dengan sebelah alis terangkat. “Kamu mau memaafkan dia atau tidak?” tanyanya enteng.
“Saya…” Di tempatnya Ibu Ningrum menahan napas. Jantungnya berdebar-debar. Hatinya merasa takut. Pikiran akan berurusan dengan yang berwajib dan berujung dibui mulai memenuhi kepalanya. “Saya memaafkan Ibu Ningrum.”
Dari bulu matanya Freya dapat melihat jika Ibu Ningrum menarik napas lega sambil mengelus dadanya. Tanpa sadar Freya menarik sebelah sudut bibirnya. Ikut merasakan kelegaan karena masalah ini sudah terselesaikan dengan baik. Hanya saja ada satu hal yang sejak tadi memenuhi pikirannya, siapa yang akan mengganti kerugian sebesar dua puluh juta itu? Bagi David Kertarajasa mungkin uang dua puluh juta itu bukanlah jumlah uang yang besar. Tapi, bagi Freya uang sebesar itu sangatlah besar! Setara dengan beberapa bulan jumlah gajinya!
“Terima kasih sudah menolong saya,” ujar Freya ketika Ibu Ningrum sudah pergi dan tinggal dirinya dan David di dalam lift. Pria itu memerintahkan Freya untuk mengikutinya menuju ruangannya untuk membicarakan masalah ini. Alhasil Freya yang tidak memiliki pilihan lain hanya bisa mengikuti perintah atasannya denga posisi David yang berdiri di tengah lift dan Freya yang berdiri di sudut lift sehingga ia hanya dapat melihat punggung pria itu.
“Sudah jadi tugas saya sebagai seorang atasan untuk melindungi setiap karyawannya,” jawab David datar tanpa menoleh sedikitpun dari tempatnya berdiri.
Di belakangnya Freya memandang punggung yang lebar itu. Apakah punggung lebar seperti ini memang diciptakan untuk melindungi? Hal ini membuat Freya bertanya-tanya dalam hati atau dugaan itu hanyalah persepsinya sendiri? Layaknya kalimat yang baru saja dilontarkan oleh pria itu?
***