Di dalam ruang kerjanya yang hanya menggunakan lampu meja David memandang foto usang yang selalu tersimpan baik di dalam dompetnya. Foto dirinya dan seorang remaja perempuan. Wajah mereka tampak bahagia. Seakan mereka tak pernah tahu jika suatu hari nanti mereka harus berpisah. Dengan sangat hati-hati David mengusap wajah gadis remaja itu.
“Sedang apa kamu sekarang, Freya Amelia?” gumamnya pada diri sendiri.
Tiba-tiba suara sebuah ketukan terdengar dari luar. David segera memasukan foto tersebut ke dalam dompetnya. “Masuk,” perintahnya.
Satu detik selanjutnya wajah cantik istrinya muncul dari balik pintu kayu jati ruang kerjanya. “Mau bekerja sampai kapan? Ini sudah larut.”
“Sebentar lagi. Kamu duluan saja. Aku akan menyusul,” jawab David diiringi senyum tipis di bibirnya.
“Tidak. Aku akan menunggumu di sini,” sahut Sophie seraya melangkah masuk dan mendaratkan bokongnya di sofa hitam panjang yang berada di dalam ruangan.
“Baiklah,” katanya menyerah. “Aku akan melanjutkan pekerjaanku besok. Sekarang ayo kita tidur.”
Bibir Sophie membentuk senyum kemenangan. Suaminya ini sangat pengertian. Apapun yang diinginkannya selalu dituruti oleh David. Jadi, bagaimana dia tidak jatuh cinta kepada pria ini? Bukan hanya fisiknya yang hampir sempurna. Sifatnya pun mampu membuat Sophie bertekuk lutut di hadapannya. Belum lagi ketika berjalan beriringan dengan suaminya di luar sana. Banyak perempuan yang memandang iri ke arahnya. Rasanya Sophie selalu merasa jika dia adalah perempuan paling beruntung di dunia ini. Layaknya cinderella yang telah menemukan pangerannya.
Pokoknya Sophie rela melakukan apapun asalkan suaminya tetap berada di sisinya. Karena dia sangat mencintai suaminya itu dan tidak boleh ada perempuan lain yang memilikinya selain dirinya sendiri. Baginya David adalah pria yang diciptakan Tuhan untuk dirinya. Bukan wanita lain. Dan jika ada wanita lain yang hendak mengambil suaminya, Sophie rela melakukan apapun untuk melindungi keutuhan rumah tangganya. Itulah prinsip yang ia pegang selama ini.
Paginya dengan raut wajah penuh kebahagiaan setelah malam indah yang ia lewati bersama dengan David yang selalu berhasil memuaskannya, Sophie sengaja bangun pagi untuk membuatkan sarapan bagi suaminya. Segelas kopi panas dipadu selembar roti panggang dan telur mata sapi. Dengan senyum yang mereka di bibirnya Sophie membangunkan suaminya dan menyiapkan segala kebutuhan yang dibutuhkan oleh David. Mulai dari pakaian yang akan dikenakannya hingga memakaikan dasi. Intinya Sophie selalu ingin suaminya terlihat sempurna. Padahal David suka mengeluh jika Sophie melakukan semua itu.
“Aku belum jompo. Masih bisa melakukan semua ini seorang diri.”
Tapi Sophie tidak peduli. Sudah tugas seorang istri melayani suaminya bukan?
“Aku akan pulang larut malam ini. Kalau kamu sudah mengantuk tidak perlu menungguku,” kata David disela-sela sarapannya.
Sophie menghentikan kegiatannya meminum s**u putih kesukaannya dan memandang suaminya dengan pandangan bertanya. “Jika jam sebelas malam aku masih bisa menunggumu.”
“Tidak perlu. Aku bahkan tidak tahu akan pulang jam berapa. Banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan dan pelajari karena sekarang aku adalah CEO. Aku harap kamu bisa mengerti.” Bibir David membentuk sebuah senyum menawan. “Aku tidak mau kamu sakit.”
“Baiklah kalau begitu,” jawab Sophie akhirnya. Dia mengerti jika David begitu menyayanginya. Maka dari itu dia akan melakukan apapun supaya David tetap mencintai dan tetap berada di sisinya.
Selesai sarapan seperti biasa David akan mencium kening Sophie. Ritual yang selalu mereka lakukan sejak mereka menjadi sepasang kekasih yang terbawa hingga hari ini. Membuat Sophie bersyukur karena memiliki suami sebaik dan sepengertian David. Hati kecilnya berharap jika pernikahannya ini akan selalu bahagia selama-lamanya. Sampai akhir hayat mereka. Seperti dongeng yang selalu dibacakan ibunya ketika dia masih kecil. Happily ever after.
***
Siang ini Freya harus menemui salah satu kliennya yang mengeluh dengan produk yang dibelinya dari perusahaan. Menurut info yang diterima dari konsumen, pihak mereka tidak mendapatkan potongan harga sesuai yang ditawarkan. Hal ini membuat Freya harus bersikap cerdas dan bijak. Pihak manakah yang benar dan salah. Dengan beberapa dokumen yang dipegangnya, Freya hendak melangkah turun ke lantai dasar. Dimana konsumen tersebut menunggunya di salah satu kafe di lantai dasar.
Ting! Pintu lift terbuka, ketika Freya hendak masuk pandangan matanya bertemu dengan CEO barunya, David Kertarajasa yang ditemani oleh sekretarisnya. Benar-benar kebetulan yang buruk, pikir Freya. Ia memberi hormat yang dibalas David dengan anggukan kecil dan berdiri memunggungi atasannya itu. “Lantai berapa?” tanya Naomi sang sekretaris.
“Ground, terima kasih,” jawab Freya kaku.
Berada dalam satu lift dengan direktur utama benar-benar membuat sengsara. Rasanya oksigen di dalam lift mulai menipis hingga akhirnya membuat Freya merasa sesak. Belum lagi kesunyian yang menyelimuti ruangan itu membuat lift seakan bergerak sangat lambat. Mimpi apa dia semalam sampai harus merasakan suasana seperti ini? Mengapa perjalanan dari lantai dua puluh empat ke lantai dasar menjadi terasa jauh?
“Divisi marketing?” tebak David dilihat dari lantai dimana Freya naik lift.
“I-iya Pak,” jawabnya terbata sambil menoleh ke arah David sekali. Bagaimanapun Freya tidak mau sampai dipecat akibat tidak sopan pada atasannya.
David memandang Freya dengan seksama. Baru kali ini dia bisa melihat Freya dalam jarak sedekat ini. Padahal sudah berapa kali dia melihat Freya beberapa minggu terakhir ini. “Mengapa kamu membawa dokumen sebanyak itu di jam makan siang seperti ini?” tanyanya lagi.
Freya memandang dokumen yang dibawanya dan wajah David bergantian. “Saya hendak bertemu dengan salah satu konsumen di lantai dasar.”
“Kamu sudah makan siang?” Pertanyaan ini sukses membuat Freya memandang atasannya dengan mata membesar. Sedangkan Naomi memandang atasannya dengan pandangan kebingungan. Bagaimana bisa Pak David melemparkan pertanyaan seperti itu kepada staff divisi marketing yang baru saja ditemuinya? Sedangkan selama ia membimbing direktur barunya itu, tak pernah sekalipun beliau menanyakan pertanyaan itu kepadanya.
“Be-belum Pak,” sahut Freya singkat.
“Seharusnya kamu makan siang dulu sebelum bertemu dengan klien kita. Karena bagaimanapun saya tidak mau kamu menyalahkan pihak perusahaan karena sakit ataupun hal lain,” tegur David tegas.
Freya terdiam. Tidak menyangka akan mendapatkan teguran seperti ini. Tiba-tiba hatinya menciut sekaligus tersinggung hingga akhirnya dia memilih untuk menjawab, “Anda tidak perlu khawatir. Saya bisa menjaga diri saya sendiri.”
Ting! Pintu lift terbuka. Freya memberi hormat kepada CEO barunya lalu melangkah keluar tanpa memedulikan di lantai berapa lift tersebut berhenti. Ia terus melangkah dan ketika dirasanya sudah cukup jauh ia menoleh ke arah lift yang telah tertutup. Ditariknya napas dalam-dalam sebelum akhirnya dibuang. Berharap dengan melakukan tindakan seperti itu amarah yang tadi sempat tersulut mereda. Sungguh Freya tidak mengerti di mana letak kesalahannya hingga mendapat teguran seperti itu?
Tidak mau ambil pusing akhirnya Freya memutuskan untuk melangkah pergi dan berjalan menuju kafe di mana ia harus bertemu dengan konsumennya sebelum terlambat. Karena Freya bukan tipe perempuan yang tidak menepati janjinya.
Sedangkan di dalam lift David memandang kepergian Freya dalam diam. Hati kecilnya menebak-nebak apakah Freya mengenalnya atau tidak sejak pertama kali dia melangkah masuk ke dalam lift? Tapi setelah melihat sikap perempuan itu, sepertinya Freya telah melupakannya.
Apakah itu artinya ia sudah tak memiliki tempat di hati perempuan itu?
***