Sesuai keinginan ibu dengan harapan ini adalah yang terakhir kalinya, Freya berjalan masuk ke dalam sebuah restoran Jepang yang cukup terkenal di Ibu Kota. Pertama kali melangkah masuk musik berbahasa Jepang langsung mengalun merdu di telinga Freya. Belum lagi dekorasi yang di design sedemikian indahnya menambah suasana negeri sakura itu. Lantai berwarna abu-abu dengan design meja kayu dan kursi kayu bergaya Jepang menghiasi seluruh ruangan. Freya mengedarkan pandangan matanya mencari sosok di foto yang tadi sempat dikirimkan ibunya. Pria berusia empat puluh dua tahun dengan rambut cepak dan bertubuh tegap.
Ketika pandangan matanya tertuju pada sudut kanan ruangan, saat itulah ia menemukan ciri-ciri fisik seperti yang dilihatnya di dalam foto. Perlahan Freya berjalan menuju meja tersebut dan saat ia berhenti di depan meja, pria itu mengangkat wajahnya dan tersenyum lembut.
“Benu Subono?” tebak Freya hati-hati.
“Benar. Saya sendiri. Kamu Freya Amelia?” jawab Benu.
Freya mengangguk dan detik selanjutnya Benu mempersilahkan Freya duduk.
Setelah memesan satu porsi sushi ditambah ocha hangat, mereka terdiam sejenak sebelum akhirnya Benu membuka suaranya. “Saya sudah dengar banyak mengenai kamu dari ibumu.”
Kedua alis Freya terangkat. Sedikit terkejut dengan kalimat yang baru saja diucapkan Benu. Memangnya sebanyak apa ibu menceritakan dirinya kepada pria ini? Pria yang memiliki mata besar yang dihiasi alis tebal, hidung sedikit besar untuk ukuran pada umumnya, dan bibir tebal. Tubuhnya tegak sesuai dengan pekerjaan yang dilakukannya, seorang perwira pertama TNI yang terlalu sibuk sampai lupa mencari jodoh.
“Begitukah? Ibu pasti lebih banyak membicarakan hal buruk mengenai saya dari pada hal baik,” canda Freya.
“Tidak. Sebaliknya beliau membicarakan hal-hal baik. Kata beliau jika ingin tahu hal buruk mengenaimu langsung tanyakan saja kepadamu,” ralat Benu yang tampak tetap tenang di tempat duduknya.
“Ah… begitu,” sahut Freya singkat. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran ibunya. Karena biasanya beliau selalu menceritakan segala macam hal mengenai dirinya kepada para pria yang akan ditemuinya sebelum Freya mengenalkan diri. Tidak heran jika pertemuan yang pernah dilakukannya dengan pria pilihan ibunya selalu berakhir dengan tidak bagus. Meski begitu Freya tidak marah, dia mengerti maksud dan tujuan ibunya melakukan semua itu. Yaitu untuk dirinya sendiri. Ibunya ingin para pria itu bisa menerima Freya apa adanya. Hanya saja ternyata cara yang selama beliau kira benar, ternyata salah.
“Ya, saya ingin mengenal dan mendengarnya lebih banyak darimu daripada ibumu.”
Terdengar dewasa, pikir Freya dalam hati. “Sebelum itu boleh saya tahu alasan anda menerima pertemuan ini?”
“Tentu saja.” Benu mengangguk setuju. “Asal kamu tahu selama ini saya terlalu sibuk mengabdi kepada negara hingga tanpa terasa usia terus bertambah dan lupa diri jika sudah waktunya berkeluarga.”
“Saya mengerti. Terkadang memang seperti itu.”
“Yah, makanya ketika ibu saya mengusulkan untuk berkenalan denganmu saya langsung setuju. Kebetulan saya sedang cuti jadi rasanya tidak masalah jika saya menyetujui pertemuan ini. Bagaimana denganmu?”
“Saya? Well, jujur saja ini bukan pertemuan saya bertemu dengan pria yang baru saya kenal. Jadi, saya tidak akan terkejut jika anda akan pergi meninggalkan saya pada akhir acara.”
“Mengapa?” tanya Benu penuh rasa ingin tahu. Tapi tak ada raut wajah terkejut yang tercetak di dalam wajahnya.
Freya mengusap tengkuknya dengan kikuk. “Karena mereka tidak mengenal saya.”
Kening Benu menyatu tapi detik berikutnya ia mengangguk mengerti akan ucapan Freya.
“Saya harap kamu tidak dendam pada mereka.”
“Tenang saja. Saya tidak akan marah ataupun dendam. Hanya saja saya berharap anda mengerti alasan dibalik saya menolak perjodohan yang dilakukan oleh orang tua kita,” kata Freya mantap.
Bukannya marah atau terluka atas ucapan yang dilakukan Freya seperti pria-pria yang pernah ditemuinya, Benu malahan merasa kagum atas sikap yang diambil oleh perempuan berambut panjang ini. Sikap tegas dan terus terang yang dilakukannya menunjukan rasa tidak takut kepadanya. Hal inilah yang memberikan kesan di dalam hati Benu. Terutama jika selama ini sikap yang selalu dia terima dari bawahannya adalah respek dan rasa takut kepadanya atas jabatan yang dimilikinya.
“Saya bisa mengerti alasan kamu selalu menolak para pria yang dijodohkan denganmu. Hanya saja bagaimana jika saya berbeda dengan para pria yang kamu temui selama ini. Jika boleh dikembalikan saya ingin mengatakan hal yang sama kepadamu. Kamu belum mengenal saya,” balas Benu diiringi senyum tipis di bibirnya.
Saat itulah Freya terdiam. Pandangan matanya menatap lurus wajah pria di seberangnya. “Kamu benar,” sahutnya.
Benu tersenyum puas. “Jadi, bagaimana jika kita saling mengenal dan mulai berteman lebih dahulu,” usulnya.
Freya tampak mempertimbangkan usulan Benu. Untuk pertama kalinya dia bertemu dengan pria seperti ini. Pria yang tampak tenang seperti permukaan air. Namun, usulan sebagai teman sepertinya terdengar tidak buruk. Maka Freya pun mengangguk setuju dan sejak itulah pertemanannya dimulai dengan Benu Subono.
Obrolan ringan yang mereka bicarakan tanpa terasa membuat waktu berjalan begitu cepat. Sebagai ucapan terima kasih Benu menawarkan diri untuk mengantarkan Freya pulang ke apartemennya dan entah mengapa kali ini dia tidak menolak. Sesampainya di apartemen, tentu saja ibu menghubunginya untuk mengetahui hasil usahanya menemukan jodoh untuk putri semata wayangnya.
“Bagaimana? Apa kamu menyukainya? Lalu apa Benu menyukaimu?” todong ibu.
Freya menarik napas panjang. “Semua berjalan baik dan kami memutuskan untuk berteman lebih dahulu.”
“Berteman? Berapa lama? Bisa-bisa keburu tua kamu Freya. Sudahlah Ibu carikan saja yang benar-benar mau berhubungan serius denganmu,” keluh Ibu tidak terima.
“Berteman bukan ide buruk, Bu. Siapa tahu dengan berteman kami kelak kami setuju melanjutkan hubungan ke arah yang lebih serius. Bukan begitu? Hanya saja kami memang membutuhkan waktu untuk mencapai tujuan itu,” jelas Freya dengan harapan ibu dapat mengerti keputusannya.
“Baiklah. Ibu harap Benu memang serius dengan kamu. Ibu hanya tidak ingin kamu terluka ataupun kecewa. Cukup sekali saja kamu terluka oleh pria itu,” sahut Ibu mengalah. Tapi bukan itu yang membuat Freya menelan salivanya dengan sulit. Melainkan pria itu.
“Sudah dulu ya, Bu. Freya mau mandi dan tidur. Freya lelah.”
Ibu menyetujui untuk mengakhiri panggilan dengan pesan untuk bersikap baik kepada Benu yang hanya diiyakan oleh Freya. Selanjutnya ketika telepon telah berakhir Freya menarik napas panjang dan menutup kedua matanya untuk beberapa menit.
Pria itu. Sudah berapa lama ia tidak bertemu dengan pria itu? Dua belas tahun. Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Bahkan Freya sudah tidak ingat wajahnya dengan baik. Karena ibu tidak membiarkan Freya menyimpan selembar foto pun dengan alasan untuk kebaikan mereka. Sayangnya meski fotonya sudah tidak ada, kenangan itu tetap melekat di dalam hati dan pikirannya.
Di mana dan sedang apa kamu sekarang? Masih ingatkah akan diriku?
Andai saja malam itu tidak terjadi, masih bersamakah kita hingga detik ini?
Menikmati setiap malam yang dipenuhi bintang-bintang dan tawa yang menghiasi malam-malam yang kita lalui?
Kalau boleh meminta kepada Tuhan, sekali lagi Freya ingin bertemu dengannya dan mengatakan jika apa yang telah terjadi bukanlah salahnya. Karena cinta tidak pernah salah memilih. Bukan juga salah takdir ataupun cupid yang salah membidikan panahnya. Melainkan ego yang mereka miliki saat itu.
***