Bab 3

910 Words
Malam itu terlalu larut dan mereka semua sudah kehilangan akal sehat. Musik berdentum terlalu kencang seakan hendak memecahkan gendang telinga. Sambil menahan rasa sakit kepala, Freya berjalan keluar dari ruangan itu. Memang tidak mudah berjalan dalam keadaan mabuk. Alhasil Freya menabrak tubuh seseorang tanpa sempat melihat. “Maaf… aku tidak melihat,” kata Freya tanpa melihat siapa korban yang baru saja ditabraknya. “Freya,” seru pemilik tubuh tegap itu. Freya mengangkat wajahnya lalu detik selanjutnya dia menemukan wajah David di sana. “David? Kenapa kamu ada di sini?” “Kamu mabuk?” Bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan Freya, pria itu malahan bertanya balik. “Mabuk? Tidak mungkin aku mabuk. Aku hanya minum sedikit,” kilahnya. David meraih sebelah tangan Freya dan merangkulnya. “Ayo kita pulang,” ajaknya. “Pulang? Aku tidak mau pulang. Acaranya belum selesai,” tolak Freya. “Kamu sudah mabuk Freya. Tak ada yang bisa kamu lakukan lagi di sini,”ucap David. “Apa maksudmu? Aku masih bisa menari dan minum beberapa sloki lagi,” ralat Freya tidak terima setelah mendengar pernyataan David. “Kita pulang,” putus David tanpa memedulikan ucapan Freya dan terus membawanya jalan bersama menuju halaman parkir gedung itu. “Tidak! Aku tidak mau pulang!”pekik Freya. “Kenapa kamu memaksaku? Kamu bukan kakakku!” Langkah David berhenti. Perlahan ia melepaskan rangkulannya dan memandang Freya. “Kamu tidak berhak melarang ataupun mengaturku hanya karena kamu lebih tua dariku. Kamu bukan siapa-siapa aku!” “Apa maksudmu?”Rahang David mengeras. Amarah terpancar dari balik iris cokelatnya. “Asal kamu tahu, sejak pertama bertemu denganmu aku tidak pernah menganggapmu sebagai saudaraku.” David terdiam. Sengaja memberikan kesempatan bagi Freya mengutarakan isi hatinya. Karena hati kecilnya pun ingin tahu. “Kamu tahu kenapa? Karena sejak aku melihat dan mengenalmu, semua kebaikanmu membuatku jatuh cinta. Aku jatuh cinta padamu dan perasaan inilah yang membuatku sadar jika aku berada di dekatmu terlalu lama, aku merasa sesak.” “Freya…” “Tapi aku cukup tahu diri. Dimatamu aku hanyalah anak kecil yang suka merengek dan selalu membutuhkan bantuanmu,” ucap Freya pahit. “Sekarang aku sudah dewasa dan tidak membutuhkan bantuanmu lagi. Jadi, pergilah dan tinggalkan aku sendiri.” Freya memutar tubuhnya hendak kembali masuk ke dalam gedung pub itu, tapi sebuah tangan lebih dulu menahannya. Amarah mulai memenuhi dadanya. Ia memutar tubuhnya untuk melakukan aksi protes, tapi siapa sangka ketika ia memutar tubuhnya dan hendak meminta David melepaskan tangannya, pria itu malahan menarik tangannya dan detik berikutnya tubuh Freya menempel dengan d**a bidang milik pria itu disusul bibir mereka ikut menempel. Tubuh Freya menegang. Terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Freya mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan jika ciuman ini adalah nyata. Saat dia sadar jika semua ini adalah nyata, bukan khayalan dia semata maka Freya membalas ciuman David. Ciuman yang selama ini hanya ada di dalam khayalannya. ***     Setelah meeting yang berjalan sangat lambat dan bikin sakit kepala selama seharian ini, akhirnya Freya bisa bernapas sedikit. Ia menjatuhkan kepalanya di atas mejanya dan menarik napas panjang. Kepalanya berdenyut nyeri. Pak Dahlan benar-benar keterlaluan, sehebat apapun orang itu mana mungkin bisa mencapai target penjualan sebesar itu? Freya sendiri tidak yakin jika atasannya itu mampu menghasilkan penjualan dengan target sebesar itu. Bukannya meremehkan, tapi uang sebesar itu harus ke mana mencarinya? Memikirkan target penjualan bulan ini benar-benar membuat kepalanya sakit. “Pak Dahlan membuat kesulitan lagi?” seru suara dari balik punggungnya. Cepat-cepat Freya menegakkan tubuh dan memutar tubuhnya untuk melihat sang pemilik suara. Di belakangnya Robby berdiri tegak dengan senyum tipis di bibirnya. Dua buah kaleng minuman soda berada di dalam tangannya. “Untuk mendinginkan kepalamu,” lanjutnya sambil menyodorkan salah satu kaleng ke arah Freya. Senyum mengembang di bibir Freya lalu menerima minumannya. “Thank’s Mas.” Robby meraih kursi milik kubikel terdekat dan duduk tak jauh dari Freya. Kebetulan saat itu jam makan siang jadi sebagian penghuni lantai dari divisi penjualan sedang makan siang. Kecuali Freya yang merasa kepalanya sakit sehingga menolak ajakan Nea ketika perempuan bertubuh mungil itu mengajaknya untuk makan siang bersama. “Apa Pak Dahlan menyulitkan divisi penjualan lagi?” tanya Robby sambil menyeruput minuman miliknya. Freya mengangguk sekali. “Kali ini target penjualan yang dia berikan benar-benar tidak masuk akal.” “Pelan-pelan saja. Aku yakin kamu bisa melakukannya. Masih ingat’kan siapa marketing terbaik tahun lalu,” goda Robby. “Ah…itu sudah masa lalu. Tahun ini tidak mungkin aku lagi. Banyak anak-anak baru yang lebih berpotensi dari pada aku,” kilah Freya yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai The Best Marketing tahun lalu. “Kamu terlalu merendahkan dirimu sendiri. Padahal aku tahu kalau kamu bisa lebih baik dari itu,” ujar Robby memberi semangat. “Thank’s Mas karena sudah mempercayaiku. Aku pasti akan berusaha yang terbaik.” “Good girl.” Robby bangkit berdiri. “Kalau begitu aku pergi dulu. Kalau kamu lembur, kamu bisa menghubungiku.” “Aku akan baik-baik saja,” kata Freya meyakinkan Robby. “I know. Tapi bagaimanapun tidak baik seorang wanita pulang seorang diri terlalu larut. So, make sure to call me when you need a ride. Okay?” Kedua alis Robby terangkat sebagai tanda meminta jawaban positif dari Freya. “Baiklah. Aku mengerti.” “Good.” Setelah itu Robby pergi dari situ, meninggalkan Freya seorang diri. Mencoba mencari jalan keluar atas masalahnya perihal target penjualan yang tidak masuk akal. Sungguh, Freya tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran Pak Dahlan. Bagaimana bisa beliau melakukan hal kejam seperti ini kepadanya? Freya menenggak soda miliknya dalam satu tegukan dengan harapan dapat menenangkan pikirannya sejenak saja. Namun, sayangnya seberapa besar harapannya, hasilnya nihil. Minuman itu tidak membantunya sama sekali. . Minuman itu tidak membantunya sama sekali. Tiga menit kemudian ponselnya berbunyi. Tanda satu pesan masuk. Dibukanya pesan singkat itu dan bertambahlah masalahnya. Ibu ada kenalan seorang pria, anaknya Tante Mira. Usianya memang sudah tidak muda lagi. Tapi dari fotonya kelihatan baik. Jadi, Ibu minta temuilah dia malam ini. Perihal alamat restorannya nanti Ibu lagi. Freya menarik napas panjang. Hari ini benar-benar melelahkan. Sepertinya dia membutuhkan cuti panjang untuk melarikan diri dari semua ini.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD