Desas-desus akan pemilik perusahaan yang baru terus berdengung layaknya suara lebah. Hal ini sedikit membuat Freya sedikit tidak nyaman. Sebenarnya siapapun pemilik perusahaan dimana tempatnya berkerja saat ini tidak akan jauh berbeda dengan pemilik lama. Intinya tetap saja mereka harus bekerja dengan baik dan sebaik apapun mereka bekerja pada akhirnya hanya akan menguntungkan pihak mereka. Mulai dari pembicaraan sang direktur yang memiliki wajah tampan bak aktor hollywood atau tentang statusnya. Ada yang bilang masih single dan ada juga yang sudah menikah. Meski begitu Freya tidak mau bergabung dengan mereka. Dia bukan perempuan yang suka bergosip seperti itu. Baginya di kantor adalah tempat untuk bekerja. Bukan bergosip. Jika ingin bergosip akan dilakukannya setelah jam kantor selesai. Itulah prinsipnya.
“Katanya CEO baru kita masih muda dan tampan,” kata Nea sambil memunculkan sebagian kepalanya dari kubikel miliknya.
“Terus apa hubungannya sama kita?” jawab Freya malas.
“Ya, siapa tahu kita masih ada kesempatan,” balas Nea seraya mengibaskan rambut sebahunya.
Melihat sikap temannya itu membuat Freya tertawa geli. “Jangan berharap terlalu banyak. Katanya CEO baru kita itu sudah menikah.”
Sontak gerakan Nea terhenti. “Beneran? Lo nggak bohong, kan?”
“Iya. Kalau lo nggak percaya tanya aja Pak Dahlan. Gue juga tahu dari beliau kok,” sahut Freya diiringi anggukkan kepala.
Nea menarik napas panjang. Pupus sudah harapan untuk menjadi istri dari pria kaya raya. Padahal itu adalah cita-cita yang terus dikejarnya hingga saat ini. Tapi berapa kali dia mencoba berhubungan dengan pria, akhirnya selalu menjadi korban kebohongan para pria yang berlagak kaya. Entah memang tidak beruntung atau Nea yang terlalu bodoh untuk percaya para penipu itu.
Melihat kekecewaan yang tersirat di raut wajah Nea, dengan iba Freya menepuk lembut bahu temannya itu. “Semangat!” ucapnya lalu memutuskan untuk kembali bekerja.
“Semangat sih semangat. Tapi gue ngerasa nggak ada stok pria kaya raya buat gue,” keluhnya.
“Belum waktunya aja. Sekarang mendingan lo balik kerja sebelum acara penyambutan CEO baru mulai,” tegur Freya yang akhirnya dituruti oleh Nea.
Malamnya seluruh para staff diminta datang ke ruang event. Di mana acara penyambutan CEO baru akan diadakan di situ. Ketika dua daun pintu yang besar itu terbuka, Freya langsung disambut dengan beberapa kursi yang sudah ditata rapi sedemikian mungkin. Di depannya terdapat panggung yang tidak terlalu tinggi. Di sisi sayap kiri dan kanan terdapat meja panjang yang tertutupi taplak meja berwarna putih. Para staff mulai dipersilahkan duduk di kursi yang telah disediakan. Freya memilih kursi yang berada di belakang karena dia memang tipe perempuan yang tidak suka mencari perhatian. Di sisinya Nea ikut duduk bersamaan dengannya. Karena bisa dibilang Nea-lah teman terdekatnya di kantor ini.
Setelah kursi terisi penuh, pintu besar di dekat mereka pun ditutup. Di depan sana, dari balik bulu matanya Freya dapat melihat atasannya mulai memasuki ruangan satu persatu. Saat itulah Freya bisa menebak siapa CEO baru mereka ketika sosok itu masuk ke dalam ruangan, dengungan mulai kembali berdengung. Freya dapat menerka apa yang sedang mereka dengungkan saat ini.
“Ganteng banget,” celetuk Nea yang dengan pandangan mata tak lepas dari sosok tampan di depan sana.
“Inget, he's taken,” kata Freya mengingatkan.
“Iya, iya. Lo nggak usah bilang berkali-kali gitu. Merusak suasana aja,” omel Nea.
Selanjutnya suara seseorang berdeham berhasil membuat suasana menjadi tenang. Ratusan pasang mata mulai terkunci pada sosok di depan sana. Termasuk Freya dan Nea. “Selamat malam! Sebelumnya kami mau berterima kasih kepada seluruh staff yang sudah bersedia memberikan waktunya untuk kami. Tanpa basa-basi, seperti yang sudah kalian ketahui tujuan acara ini diadakan adalah untuk menyambut CEO baru kita. Tapi sebelum memperkenalkan beliau kepada kalian mari kita persilahkan CEO kita untuk memberikan beberapa kata penyambutan,” sambut Pak Dahlan selaku manager yang ditunjuk untuk melakukan pembukaan acara.
Pria paruh baya yang masih terlihat tampan di balik garis-garis kerutan wajah dan rambut putihnya berdiri tegak dan berjalan ke tengah panggung untuk memberikan beberapa kata ucapan terima kasih dan perihal alasan mengapa beliau memutuskan untuk pensiun dan memberikan jabatannya kepada CEO baru yang ternyata adalah putra kandungnya.
Pantas saja jika dilihat dengan baik ada kemiripan di antara keduanya. Hanya saja yang satu muda dan yang satunya sudah berusia lanjut, pikir Freya dalam hati. Setelah Rudi Kertarajasa selesai memberikan beberapa kata yang sebenarnya menghabiskan waktu lima belas menit, acara pun dilanjutkan dengan memperkenalkan CEO baru.
“Terima kasih Pak Rudi atas kata-kata anda. Kami sebagai karyawan yang mendedikasikan diri untuk bekerja di perusahaan Kerta Jasa akan selalu bekerja semaksimal mungkin.” Tepuk tangan memenuhi ruangan. “Sekarang mari kita minta CEO baru kita untuk memberikan kata penyambutan!”
Tepuk tangan kembali terdengar memenuhi ruangan. Pria bertubuh tinggi tegap itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tengah panggung. Rambut tersisir rapi ke sisi kanannya, alis tebal, mata cokelat yang teduh, hidung tegak lurus dan bibir yang tipis memperlihatkan kesempurnaan akan karya Tuhan pada dirinya. Dalam balutan jas abu-abu dipadu dasi hitam menambah nilai plus di dalam penampilannya malam ini. Tidak heran jika ratusan pasang mata terarah kepadanya saat ini. Termasuk Freya.
“Selamat malam,” adalah dua kata pertama yang dikeluarkan oleh pemilik suara bariton itu. Para staff langsung membalasnya. “Terima kasih karena sudah memberikan saya kesempatan untuk berdiri di sini sebagai CEO baru kalian. Perkenalkan, nama saya David Kertarajasa. Meski saya yakin tidak semua dari kalian akan langsung menyukai saya. Tapi saya akan berusaha sebaik mungkin menjadi pemimpin yang baik dan adil untuk kalian semua. Mohon kerja samanya,” katanya mengakhiri.
Tepuk tangan kembali terdengar. Tentu saja seperti yang diucapkan David Kertarajasa, ada sebagian dari mereka yang langsung menyukainya-terutama para wanita-tapi hal itu tidak sama dengan para pria. Karena sebagian dari mereka memandang iri akan kesuksesannya maupun ketampanannya. Untuk mencairkan suasana, acara pun dilanjutkan dengan makan malam bersama. Beberapa orang dengan pakaian ala chef masuk ke dalam ruangan dan mulai meletakan beberapa menu makanan, mulai dari pembuka hingga penutup di atas meja panjang bertaplak putih.
Tanpa ragu mereka pun mulai melakukan tugas mereka untuk memenuhi kebutuhan cacing-cacing di dalam perut mereka yang sudah berteriak minta diberi makan.
“Gue nggak nyangka kalau Pak David akan sesingkat itu kasih pidato. Gue kira bakalan lama kayak Pak Rudi,” kata Nea membuka percakapan disela-sela kegiatannya menyantap sate kambing kesukaannya.
“Bukannya bagus? Lo kan suka ketiduran kalau dengerin ceramah.” Nea menyeringai lebar.
“By the way, lo kok nggak kasih komen buat CEO baru kita?” tanya Nea heran setelah menyadari jika sejak tadi hanya Freya yang tidak memberi komentar apapun perihal CEO baru mereka. Padahal di luar sana banyak dari staff yang tidak berhenti memuji bos baru mereka.
“Nggak ada untungnya. Lo puji atau lo maki nggak ada hubungannya sama gaji, kan? Jadi mendingan diem,” jawab Freya.
“Bener juga lo,” kata Nea menyetujui.
“Katanya yang perempuan di sebelahnya itu istrinya. Cantik ya,” puji Dian yang bekerja di divisi produksi yang duduk di kursi depan Freya.
“Tapi masih cantik gue, kan?” balas Merry yang duduk bersebelahan dengan Dian. Mereka berdua memang terkenal sebagai staff tercantik sekaligus tercentil di kantor ini. Jadi, Freya tidak akan kaget dan tidak peduli dengan pendapat mereka.
“Tentu saja! Cuma sayang istrinya Pak David lebih beruntung dari lo,” sembur Dian yang selanjutnya mendapatkan injakan di kakinya.
Di belakang mereka Freya dan Nea hanya diam sambil menahan tawa melihat ulah mereka. Setidaknya mereka merasa terhibur dengan kekonyolan sepasang sahabat di depannya ini. Setelah puas menikmati makan malam yang lezat. Acara pun berakhir. Ada yang memaksa ingin bersalaman dengan CEO baru mereka dan ada juga yang langsung pulang karena hari sudah sangat larut. Tak ada minuman ataupun bir karena pihak perusahaan menginginkan mereka dapat bekerja kembali esok hari.
Sambil menunggu taksi online, Freya memutuskan untuk menunggu di depan pintu lobby. Nea sudah pamit lebih dulu karena sudah dijemput oleh Bambang, kekasihnya. Jadilah Freya berakhir menunggu seorang diri. Beberapa orang yang dikenalnya menyapanya yang dibalas oleh Freya. Sepuluh menit berlalu tapi taksi onlinenya tak kunjung datang. Freya sempat mengirim pesan dan supir taksi itu berkata akan tiba dalam sepuluh menit.
Ketika sedang menunggu, tiba-tiba saja sebuah mobil sedan putih berhenti di depannya. Jendela kaca mobil perlahan turun. “Freya!”
Freya membungkukkan sedikit tubuhnya dan menemukan wajah Robby. Seorang pria tampan bertubuh tinggi tegap bak seorang atlet dengan kulit cokelat akibat hobinya yang suka mendaki gunung yang dikenal Freya sebagai manager personalia di kantornya. “Mas Robby?”
“Sedang apa kamu? Ayo masuk! Aku antar pulang,” serunya dari dalam mobil.
“Tidak usah, mas. Aku sudah memesan taksi online. Bentar lagi juga sampai,” tolak Freya halus.
“Berapa lama lagi? Kalau lama aku antar pulang saja,” ajak Robby lagi.
“Sebentar lagi kok. Mas duluan aja,” jawab Freya mantap.
Robby menarik napas panjang. “Baiklah. Tapi kabari aku jika taksimu sudah datang. Kalau belum aku akan putar balik untuk antar kamu pulang.”
Freya mengangguk setuju. Robby memang terkenal baik pada semua orang di kantor. Tidak heran jika beberapa perempuan mencoba untuk mendekatinya setiap ada kesempatan.
Ketika mobil Robby telah berlalu sebuah mobil sedan hitam keluaran tahun ini berjalan pelan melewati Freya yang masih menunggu taksinya.
“Loh, perempuan itu bukannya perempuan yang di restoran hotel itu ya? Ternyata dia salah satu karyawanmu,” celetuk Sophie yang sukses membuat David mengangkat wajahnya. Detik berikutnya dari balik jendela kaca pandangan matanya bertemu dengan milik Freya, saat itulah darah David berdesir.
Akhirnya, aku menemukanmu…
***