Bab 9

959 Words
“Mengapa semua ini terjadi kepada kita? Apa salah kita?” rengek Freya ketika hari itu mereka harus berpisah. Keputusan orang tua mereka untuk berpisah memaksa keduanya untuk berpisah juga. “Bukan salahmu. Salahku,” ralat David yang berhasil menghentikan tangisan Freya. “Apa maksudmu?” tanyanya heran. “Karena aku tidak dapat menahan perasaanku kepadamu. Seandainya aku bisa menahan perasaan ini dan tetap menjadi seorang kakak bagimu mungkin saat ini kita masih bisa bersama…” kata David dipenuhi rasa sesal. Namun, sebelum ia menyelesaikan kalimatnya Freya sudah lebih dulu memeluk tubuhnya. “Tidak. Akulah yang seharusnya disalahkan karena telah mencintaimu,” bisik Freya. Dengan hati-hati David mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Freya. “Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Semua telah terjadi. Yang terpenting perasaan ini tulus untukmu dan aku tidak menyesal karena mencintaimu.” “Aku juga.” Suara ketukan pintu kamar membuat keduanya terpaksa melepaskan pelukan mereka dan saat itulah wajah Maria muncul. Beliau sedikit terkejut ketika menemukan David berada di kamar putrinya. Tapi cepat-cepat ia memasang wajah tenang seakan David tak kasat mata. “Cepat berkemas Freya. Bis kita berangkat jam setengah dua.” “Baik, Bu.” Setelah pintu tertutup Freya menarik napas panjang. Kesedihan tercetak jelas di wajahnya. Sungguh, ia tidak ingin berpisah dengan David. Ia ingin bersama-sama dengan laki-laki itu selama-lamanya. Mengapa orang tuanya setega ini? Tidakkah mereka juga merasakan yang namanya mencintai? “Jangan bersedih. Aku berjanji kita akan bertemu lagi. Yang terpenting segera kabari aku ke mana kalian akan pergi,” kata David mengingatkan. Freya mengangguk bersamaan dengan matanya yang mulai memanas dan tidak butuh waktu lama sebulir cairan kristal mengalir di atas pipinya. “Aku tidak ingin berpisah darimu.” Dengan lembut David mengusap lembut air mata itu dengan ibu jarinya dan memandang perempuan yang dicintainya dengan raut sama sedihnya seperti yang dirasakan Freya. “Aku juga,” jawabnya lalu mengecup kening Freya cukup lama sebelum akhirnya mereka melanjutkan berkemas. Namun, sayangnya perpisahan itu tetap menjadi pertemuan terakhir mereka. Hari demi hari David menunggu tapi Freya tak pernah memberinya kabar. Hal ini membuat David tersiksa. Ke mana kamu pergi Freya? Mengapa kamu tidak pernah mengabariku? *** Tentu saja Freya belum melupakan Benu Subono. Terutama ketika untuk pertama kalinya sejak pertemuan pertama mereka pria itu menghubunginya untuk makan malam bersama. Sebagai seorang teman tentu saja hal ini tidak menjadi masalah bagi Freya sehingga dia pun menyutujui ajakan pria itu. Setelah memilih restoran khas Sunda sebagai makan malam, mereka pun duduk di atas lantai kayu dengan sebuah bantalan sofa sebagai alasnya. Alunan musik khas suku Sunda mengalun merdu di telinga mereka. Setelah memesan nasi timbel dan sayur asam sebagai menu pilihan, mereka pun duduk sambil menunggu makan malam mereka tiba. “Terima kasih sudah menerima ajakanku,” ucap Benu membuka percakapan. “Bukan apa-apa. Tidak perlu berterima kasih,” balas Freya. Benu tersenyum kecil. “Jadi, bagaimana kabarmu?” “Baik. Seperti yang kamu lihat.” “Begitu? Apakah aku mengganggumu dengan ajakan makan malam yang tiba-tiba seperti ini?” tanya Benu lagi. “Tidak. Santai saja,” jawab Freya diiringi senyum untuk meyakinkan pria itu. “Syukurlah,” ujar Benu yang harus terhenti karena seorang pelayan wanita datang dengan sebuah nampan di tangannya untuk menyajikan makanan yang telah mereka pesan. Selanjutnya mereka pun mengobrol perihal pekerjaan ataupun hal umum yang membuat Freya merasa nyaman dengan pria itu sebagai seorang teman. Faktanya Benu adalah pria yang hangat dan lucu meski perawakannya sebagai seorang tentara tidak menggambarkan sifatnya itu. Hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. Awalnya Freya menolak untuk diantar pulang, tapi Benu bersikeras sehingga akhirnya ia mengalah dan membiarkan pria itu mengantarnya. “Terima kasih atas tumpangannya.” “Sama-sama. Beristirahatlah.” Freya mengangguk dan ketika ia hendak membuka pintu gerakan tangannya terhenti karena Benu memanggil namanya. “Iya?” “Aku menyukaimu. Apakah kamu mau melanjutkan hubungan ini denganku?” Freya terdiam. Pernyataan yang tiba-tiba ini cukup mengejutkannya. “Um… kamu tidak perlu menjawab sekarang jika belum siap. Hanya saja aku mau kamu tahu perasaanku kalau aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu,” jelas Benu seakan mengerti makna dalam diamnya Freya. Sejujurnya memang cukup mengejutkan bagi Freya. Baru saja ia merasa nyaman berteman dengan Benu. Tetapi pernyataan ini berhasil membuat suasana yang nyaman itu hilang. Akhirnya Freya menggelengkan kepalanya. “Aku akan menjawabnya sekarang. Sejujurnya aku merasa nyaman berteman denganmu. Tapi, maaf. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan yang lebih serius denganmu.” “Mengapa?” tanya Benu heran. “Aku belum siap,” sahut Freya dengan harapan jika Benu dapat menerima alasannya. Butuh satu menit bagi Benu untuk menenangkan dirinya sebelum akhirnya menarik napas dan tersenyum. “Baiklah kalau begitu. Aku mengerti.” “Terima kasih.” Setelah mengucapkannya Freya melangkah keluar dari mobil milik Benu dan berjalan masuk ke dalam rumahnya tanpa sedikitpun menoleh ke belakang. Tak ada satu orang pun yang tahu kebenaran di balik alasan Freya menolak setiap pria yang dikenalkan oleh ibunya. Kecuali dirinya sendiri dan ibunya. Hanya saja ia tidak tahu siapa pria yang selalu tersenyum dan memeluknya dengan hangat di setiap mimpi tidurnya. Wajahnya yang tidak pernah terlihat jelas selalu membuat Freya bertanya-tanya siapakah pria itu. Pernah sekali ia bertanya kepada ibunya. Tapi, dengan dingin ibunya meminta untuk melupakan semua itu karena hanyalah mimpi belaka. Namun, jika pria itu tidak nyata. Mengapa ia selalu muncul di dalam setiap mimpinya hingga detik ini? Pernah beberapa kali Freya mencari tahu. Tapi hasilnya nihil. Tak ada foto maupun ingatan akan pria itu. Yang ada hanyalah rasa sakit di kepalanya karena terus berusaha mengingatnya. Akhirnya ia pun menyerah dan menganggap jika pria itu hanyalah bagian dari mimpinya. Mimpi yang selalu membuat Freya merasa hangat dan nyaman di sisinya. Sampai rasanya ia tak ingin bangun dari mimpinya dan selalu ingin bersama dengan pria itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD