[ 4 ] - Peralihan Kesempatan (Part 2)

2127 Words
Rhea menjabat tangan lelaki yang masih duduk di hadapannya tersebut. Ia menguraikan senyum di wajahnya. Senyum yang biasa ia tampakkan pada hampir setiap orang yang di temunya. Pallas merasakan kehangatan mengalir di antara jemarinya. Hangat yang berasal dari tangan halus wanita aneh itu. "Mau coba keluar? Atau kamu lebih memilih menghabiskan hari di ruangan gelap nun pengap ini." tanya Rhea setelah melepas salam tangan mereka. Pallas menggeleng prihatin. "Kalau setiap berbicara kamu selalu saja merendahkan orang lain, bisa-bisa tak akan ada orang yang mau berteman denganmu." Ia mencoba membenarkan tingkah sembrono gadis tersebut. Gadis bermanik hitam tersebut mangut-mangut mendengar kalimat yang keluar dari mulut Pallas. Lelaki berambut gelap itu sepertinya memang tahu betul soal sopan santun. "Begitu, ya?" Rhea mencoba meyakinkan. Pallas mengernyitkan dahi. "Memangnya kamu tidak tahu?" Ia tampak terkejut dengan reaksi gadis itu. Seolah wanita menawan itu tak tahu apa-apa selain tentang dirinya sendiri. "Tidak," jawabnya. Ia kembali menampakkan senyum manisnya. "Bahkan, aku tidak tahu apa itu teman." Rhea terlihat seperti gadis polos yang sama sekali tak mengerti akan keadaan dunia, juga keterkaitan antar manusia. Entah mengapa, gadis itu benar-benar telah menarik perhatiannya. "Kau tidak bercanda, `kan?" tekan Pallas agar tidak terlalu termakan ucapan wanita tersebut. "Memangnya kau tidak pernah bersosialisasi hingga tak tahu istilah dasar dalam kamus kehidupan?" lanjutnya. "Hahaha … seseorang yang selalu hidup sendiri tanpa bergantung pada orang lain secara terus-menerus memangnya tahu apa?" Rhea mengubah senyum manisnya menjadi senyum kecut. "Dengar, sebenarnya aku tidak terlalu mengerti semua maksud dari apa yang kamu katakan," ujar gadis itu setengah berbisik lirih. Pria itu mendelik. "Apakah perkataanku melukai perasaanmu?" Ia bertanya dengan hati-hati. "Aku hanya tidak suka jika disebut lacur. Karena … itu menjijikkan. Itu sangat tidak cocok denganku." "Bukan, bukan itu. Maksudku, mungkin saja kamu memiliki seorang teman yang mana suatu saat dia menyakitimu. Sehingga kamu anti dengan istilah apapun yang menyangkut dengan kata teman. Pura-pura tidak mengerti tentang itu, padahal sebenarnya kamu hanya tak ingin mendengarnya." Gadis itu makin tersenyum lebar. "Astaga, Pallas. Aku semakin tidak mengerti apa yang kau ucapkan, ataupun tujuan pembicaraanmu." Ia seakan menyindir. Namun, dengan menggunakan kata-kata yang begitu dalam. Jika saja lelaki yang menjadi lawan bicaranya tidak kritis dalam menanggapinya, maka ia tak akan tahu maksud kalimatnya. "Maafkan aku. Aku hanya merasa aneh dengan semua sikapmu … dan juga perkataanmu yang terasa tak masuk akal," ungkap Pallas menyudahi. Meskipun sebenarnya rasa penasaran masih terselip di dalam benaknya. "Hahaha … tidak masalah. Lagipula, hampir setiap orang yang kutemui juga mengatakan bahwa aku aneh." Rhea membuang muka. "Mungkin karena aku berbeda …," gumamnya lirih. Pallas cepat-cepat membuang pikiran untuk balik bertanya. Jelas sudah, kalimat terakhir yang diucapkan gadis tersebut membuatnya sangat penasaran. Namun, ia merasa bahwa melontarkan pertanyaan saat ini bukanlah hal yang tepat. Ia lebih memilih agar pita suaranya tetap diam, sembari bergerak memungut jaketnya yang tergeletak di lantai. "Oh ya, tangan kananmu masih bisa memegang benda `kan? Harusnya yang kiri juga bisa … toh hanya luka kecil." Rhea kembali membuka pembicaraan. Pallas mengerling dengan sinis, melihat gadis itu dengan ekor matanya. "Hinaanmu itu benar-benar keterlaluan, ya. Aku benci mendengarnya." Ia berusaha mengenakan jaket itu di tubuhnya. Rhea dengan tanggap langsung bergerak untuk membantu Pallas. Semua yang terlintas di benaknya tentang pria itu hanyalah ungkapan untuk merendahkan. Dia adalah anak manja yang selalu dimanja oleh induknya. Dia adalah anjing manja yang tak pernah menjelajah dunia luar. Dia begitu pengecut dan sebagainya. Namun, di akhir semua cacian serta hinaan tersebut, hati kecilnya mengetuk dengan keras. Maka dari itu, aku ingin membantunya. Lagipula, dia tidak terlihat jahat. Malahan, dia mengajakku bicara … seolah peduli padaku.  "Terima kasih," ucap Pallas setelah jaket itu telah sempurna melingkupi dirinya. Rhea membiarkan lelaki itu untuk berdiri sendiri. "Baiklah, kamu bawa candlestick yang ada di situ. Sepertinya di luar akan sama gelapnya seperti di sini. Aku tak ingin kehilangan arah ketika penerangan ini tak bisa diandalkan."  Tanpa banyak bicara, pemuda itu langsung menurutinya. Ia mengambil candlestick yang berdiri tak jauh darinya, kemudian bangkit mengikuti Rhea yang sudah berdiri di depan pintu. Dengan hati-hati, Rhea terlebih dahulu membuka pintu. Suara berdecit yang mengerikan terdengar di telinga mereka. Tak lama kemudian, gadis itu mulai berjalan mengendap melewati ambang yang terbuka. Benar saja seperti yang di duganya tadi. Seluruh area luar situ gelap gulita. Cahaya dari candlestick tak bisa menyorot lebih jauh dari jarak sekitar lima meter. Namun, dilihat dari gema yang ditimbulkan, Rhea menyimpulkan bahwa tempat itu adalah lorong panjang. Rhea kembali menengok ke belakang, melihat pria itu yang masih bergeming di belakang ambang pintu. Ia berjalan mendekatinya.  "Wah, ternyata kamu lebih tinggi dariku ya," ucapnya ketika mengetahui bahwa dirinya hanya sejajar dengan rahang bawah milik pemuda tersebut.  "Memangnya kau kira aku masih anak kecil?" balasnya dingin. Gadis itu kembali terkekeh. "Hehe … bukan begitu, habisnya dari tadi kamu hanya duduk di lantai. Jadi, aku kira kamu lebih pendek. Sekarang kan sudah jelas," akunya. Pria itu menghela napas, kemudian berjalan melaluinya. Ia mengarahkan candlesticknya ke segala arah, menentukan arah mana yang harus diambilnya.  "Ternyata banyak pintu lain juga di sepanjang lorong ini." Pallas memperhatikan sekelilingnya dengan seksama. "Lalu? Mau coba masuk?" tanya gadis itu. "Bodoh! Aku tak akan mengambil keputusan seperti itu," tukas Pallas segera. "Hahaha … pengecut. Kalau aku jadi kamu, sudah tentu aku akan membukanya."  "Kau gila? Kita tidak tahu apa yang berada di dalam situ." "Makannya cari tahu. Ingat ya, dalam hal seperti ini, jalan keluar bisa berada di mana saja. Belum tentu di ujung lorong ini kita bisa menemukan pintu keluar. Bisa saja jalan buntu? Tidak ada yang tahu." Rhea mendekati pintu yang terpasang tak jauh dari ruangan yang baru saja mereka keluari. Seolah pintu tersebut adalah jalan untuk masuk ke dalam ruangan yang ada di sebelah dinding sekat kamar tersebut. Tangan Rhea menggapai gagang pintu tersebut. Namun, sebelum bergerak membukanya, ia kembali menoleh ke arah Pallas. Terlihat kalau pria itu sedang begitu waspada. "Tenang saja, aku tidak mungkin ceroboh untuk berbuat hal bodoh," ucapnya menenangkan. Pallas menenggak dengan paksa salivanya. "Buka saja," ucapnya tampak tak acuh. Gadis itu tersenyum senang. Tanpa ragu, ia langsung membuka pintu ruangan tersebut. Rhea hanya membuka sedikit ruang untuk mengintip. Ia kemudian menjulurkan cahaya dari lilin yang ada di candlesticknya ke dalam ruangan temaram tersebut.  Namun, ternyata tanpa sinar dari lilin yang ada di tangannya pun, ia sudah bisa melihat apa yang ada di dalam situ. Ada dua buah candlestick di dalam sana, berdiri di atas meja dan juga yang satunya lagi tertempel di dinding. Semua sama persis seperti ruangan tempatnya terbangun. Di dalam situ juga ada ranjang, lengkap dengan dua manusia yang terlihat dari tempatnya berdiri, sedang tertidur pulas di kasur keras tersebut. Rhea segera kembali menutup pintu, dan tidak masuk lebih dalam ke ruangan itu. "Ada apa?" tanya Pallas spontan setelah melihat Rhea menutup pintu tersebut. Rhea menggelengkan kepalanya. "Sama. Semua sama seperti yang ada di ruangan yang kita tempati tadi. Bahkan ada orangnya juga," jawabnya. "Dan aku jadi menduga, kalau semua pintu di sepanjang lorong ini memiliki isi yang sama," tambah Rhea. "Kenapa?" Pallas menggumam. "Hah, maksudmu?" tanya Rhea yang tak mengerti. "Jika semua kamar sama-sama ada orangnya, dan juga mereka sedang tertidur, bukankah berarti ada seseorang yang memindahkan kita semua ke sini? Tidakkah kau juga berpikir seperti itu, Rhea?" jelas Pallas. Gadis itu menarik ujung bibirnya. "Kesimpulanmu tepat seperti yang ada di kepalaku, Pallas. Ini menarik. Padahal selama ini aku mengira kalau tak seorang pun yang bisa mengelabuhiku. Namun, ada saja orang yang jelas-jelas memindahkanku ke sini. Aku jadi penasaran, siapakah dia gerangan?" "Kau pikir aku juga tidak penasaran?" ungkap Pallas tak mau kalah. "Yah, setidaknya untuk saat ini kita harus menemukan jalan keluar dari sini." "Ya, kau benar. Kita perlu menemukan jalan keluar dulu untuk saat ini." Rhea segera menyetujuinya. Tiba-tiba, mereka merasakan adanya hembusan angin. Tentu saja itu membuat insting mereka terasah. "Arah kiri!" ujar mereka bersamaan. "Di sini pengap, kalau menemukan ada hembusan angin, berarti di situ ada tempat terbuka." Pallas menjelaskan. Tanpa menunggu apapun, ia segera mengambil langkah ke kiri.  Mereka menyusuri lorong tersebut, mengabaikan apapun yang ada di situ. Angin masih terasa menggelitik kulit mereka, terasa dingin di balut dengan kelembaban. Namun, secara serempak langkah mereka berhenti ketika sebuah tangga berdiri di badan lorong tersebut. Tangga yang terbuat dari bongkahan batu, berdiri kokoh hingga menembus langit-langit. "Kau yakin di atas sana, Pallas?" tanya Rhea. "Tentu saja. Apa salahnya mencoba dulu?" jawab Pallas ringan. Gadis itu sedikit menyingkap gaunnya. Memperlihatkan sepatu bot yang dikenakannya. Memang, sangat tidak masuk akal paduan pakaiannya tersebut. Namun, entah mengapa, Pallas dapat memakluminya. "Aku senang kau mengatakan itu. Ketahuilah, aku kesulitan jika harus menyingkap pakaian ini sambil membawa candlestick. Jadi, bisakah kau membawakannya untukku." Rhea tersenyum miring. "Ah, aku yakin kau bisa. Kau harus bisa!" tegasnya, tanpa menunggu jawaban. Ia langsung menarik lengan kiri Pallas yang masih tampak tidak baik-baik saja, kemudian memberikan candlestick yang awalnya berada di genggamannya ke dalam telapak tangan pria itu, tanpa mau tahu. Mau tak mau, Pallas terpaksa menerima candlestick tersebut. Ia memicingkan pandangan, menatap sinis dengan tajam ke arah gadis tersebut. Sorot tatapannya yang mengerikan bisa membuat siapapun bergidik ngeri. Namun, tidak dengan gadis aneh yang bernama Rhea tersebut. "Tuh kan, bisa. Hahaha …." Ia kembali tergelak melihat pria itu membawa dua buah candlestick. "Aku naik duluan, ya," lanjutnya. Ia segera bergerak menaiki anak tangga satu persatu. Di belakangnya, Pallas mengikuti dengan perlahan. Rhea tidak mau peduli pada pria yang tengah kesulitan untuk menjaga keseimbangan tersebut. Hingga akhirnya, Rhea yang tiba lebih dulu di puncak. Ia merasa angin berhembus dengan cukup kuat. Kini, tanpa candlestick, ia sudah bisa melihat keadaan sekitar. Cahaya bulan purnama di malam itu bersinar begitu cerah, membuat pupil matanya ikut membulat sempurna memandangi keindahannya. "Land of dreams," gumamnya. Ia benar-benar tak menyangka bisa bertemu tempat seindah ini. Sebuah kastil berdiri dengan tegap di sisi yang tak jauh darinya. Sedangkan di depannya, terhampar permadani elok berupa rerumputan hijau yang terbentang sejauh mata memandang. Namun, jika saja tak ada tembok pembatas, jelas saja jangkauan penglihatannya bisa jadi lebih jauh. Tak lama, pria dingin itu muncul di belakangnya, masih dengan dua candlestick di tangannya. Ia memandangi gadis yang tengah diliputi atmosfer kegembiraan tersebut. Namun, matanya langsung membelalak lebar ketika pandangannya menangkap sosok yang bergerak dengan cepat ke arah gadis tersebut. "Rhea, ular!" Spontan, ia memperingatkan gadis tersebut sambil berlari kemudian memukulkan candlestick ke kepala ular tersebut. Makhluk melata tersebut mendesis, pukulannya meleset dan hanya mengenai tanah. Binatang itu mulai bergerak, bersiap menyerangnya. Namun, Rhea tiba-tiba melompat, dan menusuk kepala ular itu dengan belati miliknya. Tubuh makhluk itu seketika lemas, tak lagi meliuk-liuk lincah seperti tadi. "Dia sejenis ular besar, jadi tidak berbisa. Apakah kamu tadi ragu untuk memukulnya?" tanya Rhea mengkoreksi. "Tidak, itu hanya kurangnya keberuntungan." Pallas menjawab. "Oh ya? Dibandingkan reflekmu, pukulanmu jauh lebih buruk." Gadis itu mengambil napas. "Katakan saja, aku ini tidak bodoh lho." Ia mengulangi. Hal itu membuat Pallas menggigit lidahnya sendiri. Ia jelas ragu untuk memukul kepala ular tersebut tadi. Namun, tidak mungkin juga ia mau mengakuinya. "Berbicara denganmu membuatku muak!" geram Pallas. Ia segera bangkit dari rerumputan yang menjadi alasnya, kemudian berbalik hendak meninggalkan gadis yang masih berdiam dengan bangkai ular tersebut. "Pallas!" panggil wanita aneh itu. Namun, ia sama sekali enggan untuk menoleh. Tiba-tiba, gadis itu memeluknya dari belakang. Membuatnya langsung menghentikan langkah sekaligus terkejut. Ia dapat merasakan degup jantung wanita menawan tersebut. Itu membuatnya bertanya-tanya, apakah Rhea juga bisa merasakan degup jantung miliknya. Jika saja Rhea mampu merasakannya, pasti gadis itu akan mengetahui kalau ia sedang gugup luar biasa. Jantungnya berdegup berkali-kali lebih cepat, dan itu membuatnya hampir tak bisa bernapas. "Pallas, terima kasih ya," bisik Rhea tanpa membiarkan lelaki itu membalikkan tubuh untuk menatapnya. "Terima kasih untuk apa?" Ia sebisa mungkin mengendalikan diri, tak membiarkan dirinya jatuh dalam kuasa gadis itu. Membiarkan kata-kata yang keluar dari mulutnya tetap dingin seperti biasa. Ia bisa merasakan gadis itu membenamkan kepala di punggungnya. Rhea menggelengkan kepala dengan keras. "Maksudku, seseorang akan lebih merasa dihargai dengan kata terima kasih daripada kata maaf. Aku merasakan ini, karena aku selalu merasa tersanjung ketika mendengar kata terima kasih dari orang lain. Maka dari itu, aku mengatakannya padamu." Rhea melepas dekapannya. Membiarkan pria itu membalikkan tubuh. Mereka kembali beradu pandang. "Selain itu, aku merasa tidak punya salah padamu. Hahaha …." Rhea kembali terkekeh. "Jadi aku tidak perlu minta maaf," lanjutnya. Entah mengapa, kalimat kejutan itu membuat Pallas menjadi emosi. Bogem mentahnya mengepal erat, hingga membuat urat-urat tangannya menonjol ke luar. "b*****t!" umpat Pallas. Namun, justru kata umpatan dari Pallas sukses membuat Rhea jatuh terpingkal-pingkal. Seolah memang membuat pria itu naik pitam adalah tujuannya. Hal itu membuat Pallas seketika berdiri takjub. Kemarahannya berangsur-angsur menghilang. Ia hanya menatap gadis yang tengah tertawa lepas di bawah sinar rembulan tersebut. Rhea, kau sangat cantik. Bagai purnama di malam berawan, walaupun kehadirannya hanya sendirian tanpa bintang yang menemani, tetapi tetap mampu memikat semua orang yang melihat pesonanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD