Beberapa saat yang lalu, sebelum momen itu datang.
Gadis yang berambut hitam legam, perlahan membuka kedua pendar matanya. Ia merasa sesuatu mengganjal pada kakinya, membuatnya tidak nyaman. Jantungnya terasa sesak, kepalanya terasa pening. Namun, ia segera menyesuaikan diri dengan keadaan.
Kesadaran cepat melingkupi dirinya. Ia sudah benar-benar terjaga saat ini. Ia mulai menggerakkan tangannya yang semula berada di tempat yang sedikit lebih tinggi daripada tubuhnya yang berbaring menyamping. Di ruangan yang temaram, sulit untuk melihat jelas apa yang berada di hadapannya tersebut.
Cahaya lilin mulai masuk ke dalam netranya. Ia memfokuskan pandangan, berusaha mencerna setepat mungkin bayangan apa yang dihasilkan sinar redup tersebut. Perlahan, ia dapat melihat seorang pria tertidur di sisinya, dan tangannya itu seolah memeluk tubuh lelaki yang terbujur di atas ranjang yang sama dengannya.
“Kyaaaaaa! ….” Ia menjerit karena terkejut. Instingtif, ia langsung menendang lelaki yang nampaknya masih tidur pulas hingga terjungkal jatuh dari ranjang. Tubuh pria itu berguling sedikit di lantai yang sepertinya tidak cukup lembut untuk tempat tidur.
Ia langsung bangkit dari ranjang, kemudian menyambut candlestick yang ada di dekatnya untuk menepatkan penglihatannya. Ia mengarahkan cahaya temaram tersebut pada sosok yang baru saja ditendangnya. Reflek, ia mengambil senjata andalannya, sebuah pisau kecil yang tajam, dari balik wadah karet yang tersimpan di balik lengan panjangnya. Sebuah aksi penjagaan diri.
“Sial, bisakah kamu berhenti berbuat kasar padaku?!” Pria itu terbangun, meracau penuh pertanyaan serta emosi.
“c***l! m***m! Jorok! Menjijikan! Siapapun kamu, enyahlah! Dasar kotoran masyarakat,” cercahnya tanpa henti.
Pria yang dibuat terjaga dengan cara yang paling tidak sopan, mulai naik pitam. “Hah, siapa yang kau maksud dengan sebutan seperti itu? Justru kamu yang seharusnya enyah dari sini, lacur!” hardiknya membalas.
Gadis itu memanas mendengar dirinya disebut dengan sebutan terendah dan terhina tersebut. Ia menarik napas panjang, mempertimbangkan tentang langkah apa yang harus diambilnya setelah itu. “Kubunuh kau, b******n!” pekiknya penuh amarah.
Ia bersiap menerjang dengan senjata kecilnya, serangannya langsung mengarah ke jantung lelaki yang masih terduduk tanpa alas di lantai keras. Ia melesat cepat, tanpa mempedulikan ketujuh buah lilin yang seketika jatuh dari pegangannya.
Namun, pria itu sebisa mungkin berusaha menghindari terjangannya. Sayangnya ia tak bisa sepenuhnya menghindar. Pisau kecil itu sudah lebih dahulu merobek pakaian yang dikenakannya, mencabik kulitnya, hingga menembus gumpalan daging lengan kirinya. Bukan menggores, alih-alih benda tajam tersebut menusuknya terlalu dalam.
“Akh … sakit,” rintihnya sambil berusaha melawan gadis tersebut. Ia mencoba menyikut perut wanita yang menyerangnya. Namun, dengan gesit perempuan itu menghindari serangan baliknya. Pisau tercabut dari lengannya, membuat ia merasakan sakit serta panas yang teramat menusuk.
“Hey, hentikan! Kau benar-benar ingin membunuhku, b******k?!” Kalimat itu keluar dari mulutnya dalam satu tarikan napas, tepat sesaat sebelum gadis itu kembali melakukan penyerangan yang kedua kalinya. Yang tampaknya untuk saat ini tak bisa ia hindari lagi.
Perempuan itu menghentikan aksinya sesaat. Menyipitkan matanya pada pria yang terlihat kesakitan sambil memegangi lengan atas bagian kirinya yang tadi terkena serangan pisau. “b*****h sepertimu tak layak hidup.” Pandangannya menyimpan rasa muak pada lelaki tersebut.
“Memangnya aku melakukan apa padamu, t***l?! Aku sendiri tak ingat pernah berbuat sesuatu padamu, b*****t!” Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya, disertai umpatan kasar serta luapan emosi yang besar. Ucapannya terdengar menghardik, tetapi memiliki maksud untuk membela diri sendiri.
Gadis tersebut kini bungkam. Ia sama sekali tak tahu apa yang pria itu lakukan padanya, dan pembelaan yang dikemukakannya belum dapat ia bantah. Ia bahkan tak mengenali pemuda tersebut, hanya saja wajah tampannya terlihat tak asing baginya.
“Sejauh yang kuingat, malam ini aku pergi ke bar bersama teman-temanku. Aku minum, tetapi tidak sampai hilang akal. Kemudian aku mengantuk di depan laptopku, ketika kawanku yang lain mulai terlihat hilang kesadaran. Jika aku benar-benar tertidur malam itu, bukankah lebih masuk akal kalau kamu yang menyeretku ke tempat ini?” Pria itu menguatkan pembelaan diri.
Sorot pandang gadis itu terlihat kebingungan. Langkahnya mundur teratur menjauhi lelaki yang masih berdiam di lantai batu. “Jangan membuatku seolah menjadi orang yang salah! Aku ingat persis, malam itu aku sedang berbaring di ranjang lembut sambil memeluk anjing baruku yang berbulu tebal. Aku tidak keluar dari apartemen saat itu, aku terlalu nyaman dengan spesies binatang yang baru saja kuanggap sebagai hewan peliharaan.” Ia membela diri.
Kini, pria itu ganti terdiam. Ia menatap netra bening sang gadis yang tampaknya memang benar-benar kebingungan. “Kau tidak berbohong, `kan?” koreksinya.
“Untuk apa aku berbohong dalam situasi seperti ini? Sungguh, yang kukatakan tadi adalah fakta. Bukan kiasan belaka!” tekannya menguatkan pembelaan diri.
Mereka saling melempar pandang, mematung secara bersamaan. Sejenak kembali berpacu dalam pikiran masing-masing. Membuat keadaan menjadi hening seketika.
“Ka-kalau begitu, maafkan aku yang sudah menyangka hal tak wajar padamu.” Gadis itu memalingkan wajah, seolah tak acuh. Padahal, jelas terdengar dari nada bicaranya kalau ia sedang merasa bersalah.
Lelaki itu menatap gadis yang masih belum berkutik dengan sinis dari tempatnya terduduk. “Gitu saja? Mana tanggung jawabmu dari ini?” Ia sedikit meremas lengan kiri bagian atas yang kini berlumur cairan merah kental dengan daging yang terbuka.
Gadis itu menghela napas dengan pasrah. “Iya-iya … sabarlah sebentar, astaga,” keluhnya sembari memutar pandangan. Jangkauannya terlalu jauh untuk menggapai candlestick yang memijar pada dinding. Ia mulai meniti langkah untuk bisa mengambilnya.
Setelah sinar redup berwarna oranye berada di tangannya, ia kembali ke tempat dimana ia menjatuhkan candlestick sebelum menyerang tadi. Kemudian ia menyalakan ketujuh lilin yang semula padam akibat menghantam lantai. Semakin banyak cahaya, semakin jelas pandangan yang dapat ia lihat. Ia berjalan, mendekatkan diri pada lelaki yang masih bercokol di lantai.
“Lepaskan jaketmu,” titahnya spontan ketika sudah berada di hadapan pria tersebut.
Pria itu, dengan sebelah tangannya yang masih sehat, menarik resleting yang mengunci pakaiannya. Namun, setelah itu ia hanya terdiam, tak melanjutkan gerakannya. “Aku benci melakukan ini. Rasa sakitnya semakin menjadi kalau aku berusaha menggerakkannya.” Ia mengelus lengannya yang terluka dengan hati-hati.
Gadis itu menghembuskan napas berat. “Ah, dasar b*****h lemah!” gerutunya. Ia menarik pakaian tebal yang membungkus lengan pria itu satu persatu, hingga berhasil melepas jaketnya secara keseluruhan.
Kini, pemuda itu hanya tinggal mengenakan kaos hitam berlengan pendek. Kulit putih bersih yang dimilikinya terlihat semakin jelas, bertaut dengan rupa tampannya yang hanya menyiratkan sedikit ekspresi wajah. Luka terbukanya terlihat jelas, di bawah lengan baju hitamnya yang sedikit robek.
Gadis itu memegang tangan kirinya dengan hati-hati, mengamati cairan kental yang mengalir keluar tanpa henti. Dalam waktu yang sebentar, telapak tangan wanita itu sudah bermandikan darah yang amis.
Ia mengernyit melihat kulit pria yang terbuka lebar, daging yang basah serta segar. “Maafkan aku, ya. Padahal kalau kamu tadi tidak banyak gerak, sasaranku menjadi terarah, dan kamu tidak perlu merasakan sakit yang berlarut-larut seperti ini.”
Pria itu mengerjap. “Kau benar-benar serius ingin membunuhku?” tanyanya setengah tak percaya.
Gadis itu kembali menarik pisau kecil ke dalam genggamannya. “Jadi, untuk menghilangkan penderitaanmu, lebih baik kubunuh saja, ya?” Ia tersenyum bagai seorang malaikat. Namun, dibalik senyuman manisnya, ia meremat pisau tersebut dan hendak kembali menusukkan pada pria malang itu.
Pria itu dengan cepat menarik lengan kirinya yang semula sedang diperiksa keadaannya oleh sang gadis aneh, seolah ia sedang berusaha untuk menjaga jarak. “Aku sama sekali tak tahu jalan pikir gadis gila sepertimu,” hujatnya.
Gadis itu melemparkan pandangan ke wajahnya dengan sendu. “Eh, masih bisa bergerak? Tadi kamu bilangnya tak mau menggerakannya. Kamu tahu? Aku sangat benci pembohong, lho.”
“Tingkahmu kian menyeramkan, bodoh.” Lelaki tersebut menggerakan tubuhnya, berusaha menjauh dari jangkauan wanita itu.
Perempuan itu tak memutus pandangan darinya. “Ah, aku lupa mengatakannya, kalau membunuhmu adalah alternatif pertama yang tercepat. Kalau kamu menginginkan cara kedua yang cukup rumit, itu tidak masalah.”
“Yang kedua apa?” Pemuda itu berhenti bergerak. Ia ganti menatap serius gadis yang berada dalam lingkup kegelapan ruang.
"Hmm .…" Gadis itu melipat kedua tangannya di depan d**a. Keningnya terlihat berkerut. "Aku sendiri tak yakin menyebutnya apa. Yang jelas, cara ini lebih membuatmu menderita daripada langsung mati seketika."
"Jadi, kamu ingin membunuhku perlahan dengan melakukan penyiksaan?" Ia menerka dengan tajam.
Gadis itu bangkit. Ia menggelengkan kepalanya, membantah. "Tidak … tidak! Bukan begitu. Kamu tidak akan sampai mati jika dengan cara ini."
Secara tiba-tiba, wanita bersurai hitam panjang yang menjuntai hingga pinggul itu mengangkat gaun yang dikenakannya. Dari dalam sepatu bot yang menempel di kakinya, ia mengeluarkan sebuah perban kain dan juga sebuah botol alkohol. Layaknya ia selalu siap sedia membawa benda-benda tersebut.
"Aku akan mengobati lukamu itu," lirihnya sembari menunjukkan benda-benda yang baru saja dikeluarkannya. "Ini akan membuat sakit yang lebih berkepanjangan, jadi aku tidak menyarankan hal ini."
"Sialan, tapi itu lebih baik untukku." Lelaki itu masih bergeming di tempatnya.
Gadis tersebut perlahan mendekatinya. Ia menyentuh lengan lelaki itu yang terluka, dan kembali memeriksanya. Ia meremas lengan tersebut, membuat darah semakin mengucur deras. Kemudian ia menyekanya dengan kain miliknya, membuat sisa-sisa darah tak lagi keluar.
Tangannya menyambut botol alkohol ke dalam genggamannya. "Bersyukurlah karena aku selalu membersihkan belatiku, dan tidak membiarkannya sampai berkarat."
Pemuda itu mendengus kesal. "Aku hanya korban dari senjata pelampiasanmu. Jadi, berhentilah menceramahiku!"
Ia tertawa lepas mendengar ucapan pria tersebut. "Aku akan menuangkan alkohol untuk membersihkan lukanya. Jadi, tolong bersiaplah." Gadis itu membuka tutup botol tersebut, kemudian mulai menuangkan sedikit isinya ke dalam sayatan daging terbuka.
Lelaki itu meringis sambil mengeluarkan suara mendesis, ia sedang berusaha menahan sakit. Kedua pendarnya terpejam rapat. Ia terlihat begitu tersiksa dengan hal itu.
"Sudah kukatakan kalau rasanya sakit, sangat tidak mengenakkan bukan?" Gadis itu berbicara di sela-sela aktifitasnya.
"Tidak mengapa. Teruskan saja seperti itu," timpal pria tersebut. Ia mulai membuka kedua netranya. Kini, yang ada di dalam pandangannya hanyalah wajah menawan milik gadis itu yang tengah fokus membersihkan lukanya.
Dalam temaram pijar lilin di candlestick, ia mampu menangkap rupa gadis tersebut. Bibir kecil yang dimiliki wanita itu, bertaut dengan batang hidung mancungnya. Bulu matanya yang lentik, dengan sorot tatapan yang lembut. Dilengkapi dengan poni yang dipangkas rapi di atas alisnya.
Di balik semua sikapnya tadi, gadis ini cantik juga, batinnya.
Tiba-tiba, gadis itu mengangkat wajah. Membalas tatapannya. Mereka saling memandang selama beberapa saat. Namun, walau hanya sebentar, ia merasa bahwa waktu bergulir begitu panjang.
"Ada apa memandangku seperti itu, m***m?!" Kalimatnya yang tajam itu langsung menusuk tepat sasaran.
Lelaki itu langsung mengalihkan pandangan, menghindari tatapan sang gadis yang mulai menyadari ketertarikannya. "Tidak. Tidak ada apa-apa." Ia menutupinya dengan tetap diam.
Gadis itu mengambil napas panjang. "Baiklah, sudah selesai. Tinggal menutup lukamu dengan kain perban. Maaf, aku tidak punya jarum ataupun benang, jadi aku tidak bisa menjahit lukamu. Bagaimana?" tanyanya meminta pendapat.
"Tidak masalah. Lakukan saja dengan kain itu." Pria itu menjawab acuh.
"Okay!"
Tangan gadis itu kembali bergerak, mengambil gulungan kain perban yang sebelumnya tergeletak di lantai. Ia mulai menutupi luka tusukan tersebut dengan kain putihnya, kemudian melilitkannya hingga rapat. Terakhir, ia memotong sisa kain dengan belati kecilnya.
"Selesai! Kamu bisa mencoba untuk menggerakkannya." Gadis itu berkata dengan riang. Ia mulai mengemasi barang-barang yang tadi dikeluarkannya agar masuk kembali ke dalam tempat penyimpanan daruratnya.
Pria itu meraba perban yang melilit di lengan kirinya menggunakan tangan kanan yang sehat. "Ini jauh lebih baik. Terima kasih, ya."
"Terima kasih kembali, c***l!" balasnya sambil terkekeh ringan. Ia menyambut sebuah candlestick ke dalam genggamannya, kemudian mulai bangkit dari lantai kotor yang sebelumnya digunakan untuknya duduk mengobati lengan pria tersebut.
Lelaki itu menghela napas. Ia merasa tidak nyaman dengan sebutan yang diberikan gadis tersebut untuknya. "Daripada terus-terusan menamaiku dengan sesuatu yang absrud, lebih baik panggil saja aku Pallas."
Gadis itu menatapnya dengan pupil yang sedikit melebar akibat dipaksa untuk melihat ke arah yang kurang mendapat cahaya. "Eh, jadi namamu Pallas, ya? Kalau tidak salah, nama itu memiliki arti anak perempuan dari Triton, `kan?"
Gadis tersebut diam beberapa saat. Namun, pada detik selanjutnya, ia tertawa keras. "Sial, hahaha … nama itu tidak cocok untukmu. Hahaha …." Ia terpingkal.
Lelaki itu berusaha meredam emosinya. "Diamlah, sialan! Tidak seharusnya kamu mengejek nama seseorang yang sudah diberikan oleh orang tuanya. Lagipula, setahuku nama ini ada di dalam daftar benda angkasa."
Gadis itu memegangi perutnya akibat terlalu banyak tertawa. Ia menahan kekehannya, dan mencoba mendengarkan apa yang diucapkan pria tersebut. "Astaga … aku belum mengetahui itu. Kalau kamu tak menyukai nama pemberian orang tua, ubah saja sendiri sesuai yang kamu mau. Seperti aku," pungkasnya setelah berhasil melepas diri dari tawanya.
"Sepertimu?" Pemuda itu mengangkat sebelah alisnya.
"Iya. Sepertiku. Aku tidak menginginkan nama dari orang tuaku. Jadi, aku mengubahnya sesuai kemauanku."
Tiap kalimat demi kalimat yang dilontarkan gadis itu selalu saja terdengar tidak masuk akal di kepalanya. Namun, entah mengapa ia menganggap hal itu sangat menarik. Bukan, lebih tepatnya gadis itu yang menarik perhatiannya. Wanita yang mempunyai keunikannya sendiri, tak seperti perempuan lain pada umumnya.
"Oh ya, omong-omong panggil saja aku Rhea. Itu namaku, dan aku tidak menerima perubahan dari siapapun." Gadis itu kembali membuka mulut.
Pria itu terpana sesaat. Namun, ia segera dapat mengendalikan dirinya. "Baiklah. Nama yang bagus, Rhea."
***