Bab 1: Adikku (Bukan) Sainganku
“Ketika keadilan hanya milik mereka yang bersuara lebih nyaring, maka diam ku adalah luka yang tak pernah disembuhkan.”
Semua anak pasti punya keinginan sederhana saat liburan sekolah tiba. Pulang ke tempat yang mereka rindukan. Berbagi cerita dengan orang yang mereka kasihi dengan sepenuh hati. Tak terkecuali bagi Ratna, tempat itu adalah rumah kakek dan nenek di kampung halaman ibunya. Rumah kayu sederhana di tengah sawah yang sejuk, tempat di mana ia merasa dicintai tanpa syarat.
Ratna sudah merencanakan hal tersebut jauh-jauh hari. Dia menabung diam-diam, menyisihkan sebagian uang jajannya selama berbulan-bulan demi bisa mengunjungi kedua orang yang teramat dia rindukan. Tapi, seperti biasa… rencananya tak pernah jadi kenyataan.
Farah, adik yang selalu dimenangkan, tiba-tiba merengek ingin menghabiskan liburan di villa keluarga mereka di daerah pegunungan. Dan seperti biasa pula, ayah dan ibu mereka langsung menyetujuinya.
Dan seperti biasa, Ratna hanya bisa menelan kecewa. Sudah berapa kali ini terjadi? Entahlah, dia sendiri pun tak tahu pasti.
“Kenapa keinginan Farah selalu jadi prioritas, sementara keinginanku selalu dianggap angin lalu?” pertanyaan itu tak pernah terjawab, bahkan oleh waktu.
Kesal? Ya, tentu Saja.
Ratna merasa ini adalah ketidakadilan yang sudah berulang kali dia alami. Ketidakadilan atas keinginannya sendiri yang tidak pernah terpenuhi. Berbeda dengan Farah yang hanya dengan sekali ucap saja keinginannya akan langsung terwujud.
Ratna sendiri pun tidak mengerti, mengapa kedua orang tuanya selalu mendahulukan keinginan Farah. Apakah karena dirinya adalah anak pertama yang memang harus selalu mengalah? Apakah menjadi anak pertama akan semenyebalkan ini? Ratna pun belum menemukan jawabannya hingga kini.
Padahal jika menelisik kehidupan teman-temannya di sekolah, tidak ada yang bernasib seperti Ratna meskipun mereka sudah memiliki adik. Bahkan, ada diantara mereka yang memiliki adik lebih dari satu.
Pernah terfikir dalam benaknya apakah dia adalah anak pungut? Atau anak yang di adopsi dari panti asuhan seperti di film-film yang suka dia tonton? Ah sepertinya tidak seperti itu konsepnya.
Lantas, mengapa?
Ratna berkali-kali mencoba mencari jawaban. Mungkin memang beginilah nasib seorang kakak, pikirnya. Harus mengalah, harus memahami, dan harus selalu menjadi yang pertama diminta berkorban. Namun semakin ia tumbuh, semakin ia menyadari bahwa yang ia alami bukan sekadar diminta mengalah.
Mengalah seharusnya dilakukan sesekali, bukan setiap saat. Dan kasih sayang orang tua seharusnya tidak terasa seperti perlombaan yang selalu ia kalah sebelum sempat memulai.
***
Suatu ketika, Ratna bertanya kepada Ningsih ibunya.
"Bu, Kenapa ibunya Hanin ngomongnya gak sopan sih sama ibu?" Tanya Ratna kecil kala itu.
Sebuah pertanyaan sederhana yang mengubah kehidupan Ratna di masa depan. Sebab, tidak di temukannya lagi Ratna yang ceria dan berganti dengan Ratna yang murung dan tidak pandai bergaul.
"Iya, soalnya ibu tadi nasehatin si Hanin. Siapa suruh dia tadi isengin Farah, sampai adik kamu nangis kaya tadi." Jelas Ningsih, sang Ibu.
"Tapi kan Farah emang yang nakal duluan Bu, tadi dia lempar-lemparin b4tu ke Hanin, sampai tangannya Hanin luka. Makanya ibunya Hanin jadi marah balik ke ibu." Ucap Ratna kepada Sang ibu dengan polosnya.
Namun, kesalahan fatal yang di lakukan Ratna kecil adalah berusaha menjadi sosok pahlawan kesiangan untuk teman main adiknya tersebut.
"Heh elu tuh gak usah deh belain orang lain. Lu tau apa hah? Adik sendiri di salah salahin, orang lain di bela-belain. Lu mau gua pukul hah? Biar lu tau rasanya di pukul ya sini lu b4ngs4t." Ucap Ningsih sambil beranjak bangkit dari posisinya.
Kepala yang penat sehabis berperang mulut dengan ibu dari Hanin teman main anak bungsunya, membuat Ningsih tidak dapat menahan emosinya yang seketika meledak.
Mendengar ucapan sang anak sulung yang terkesan lebih membela orang lain dari pada adiknya sendiri, otomatis bagaikan bom atom yang siap meledak saat itu juga.
Ningsih mengambil seutas ikat pinggang yang ada di dekatnya, dan bergegas mendekat ke arah Ratna.
Bugh
Sreeet
Cetaaas
Ningsih pun kalap. Dia memukuli anak sulungnya dengan membabi buta. Dalam pandangan Ningsih saat ini, seolah Ningsih mendapatkan sasaran empuk untuk melampiaskan amarahnya yang belum tuntas habis terkuras.
"Ampun Bu, Ratna cuma ngasih tau yang sebenernya doang Bu. Maafin Ratna, Bu." Bela Ratna kepada Ningsih, dia pun meminta belas kasihan dari sang ibu dengan air mata yang telah membanjiri kedua pipinya.
Namun, ia sungguh tidak menyangka bahwa reaksi dari sang ibu akan seekstrim ini.
"Halah b4cot lu setan. Mulut lu gak bisa di jaga, kurang ajar emang lu. Gak ada ampun-ampun, lu rasain akibatnya berani ngelawan guee." Balas Ningsih lagi dengan sengit, dan kembali melayangkan pecutan ikat pinggang ke tubuh anaknya sendiri.
Sreeet
Cetaaas
Ningsih sama sekali tidak mengindahkan jerit kesakitan dari sang anak sulung. Dia sama sekali tidak peduli dengan raungan Ratna yang begitu menyayat hati siapapun yang mendengarnya, karena memang Ratna bukanlah anak yang dilahirkan Ningsih dari rahimnya sendiri.
"Ampun Bu. Ratna minta ampun. Maaf bu, maafin Ratna." Ucap Ratna dengan sesenggukan sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya akibat serangan mendadak dari sang ibu.
Air mata Ratna pun menetes dengan derasnya. Dia teramat sedih dan tak menyangka ibu kandungnya sendiri akan tega berlaku demikian kepadanya, hanya karena dia tidak membela adiknya yang memang bersalah.
Ningsih pun terus memukuli Ratna tanpa ampun. Dia tidak membiarkan sedetikpun tubuh kecil Ratna lolos dari pukulan tangannya sendiri.
Dia benar-benar tidak terima ketika ada yang dengan sengaja menyalah-nyalahkan anak bungsunya. Meskipun yang melakukan itu adalah anak sulungnya, Ningsih tidak gentar. Dia terus saja melampiaskan amarahnya yang kembali memuncak akibat perkataan Ratna. Ningsih betul-betul definisi ibu yang tak punya hati.
Rasa sakit yang menjalar di tubuh Ratna membuatnya tidak mampu berkata apapun. Apalagi sekedar memohon ampunan kepada ibunya pun dia sudah tak kuasa. Hanya lelehan air mata yang mengalir deras ke pipi sebagai pertanda betapa hancur hatinya saat ini akibat dari perbuatan sang ibu kandung.
Bugh
Sreeet
Cetaaas
Ningsih belum merasa puas melampiaskan amarahnya yang sedang berada di puncaknya saat ini, hingga dia merasa lelah mengayunkan senjata ke tubuh kecil Ratna, barulah dia berhenti dengan nafasnya yang terengah.
"Ampun bu. Ampun. Maafin Ratna, bu." Tangis Ratna dengan suaranya yang semakin melemah dan bergetar.
Ia hanya bisa pasrah andaikan detik ini juga Dia akan menemui malaikat maut.
"Makanya elu tuh kalo mau ngomong di pikir dulu. Jangan sembarangan ngomong. Anak gak tau diri dasar lu. Masih untung ya gua mau ngurusin elu. Dari orok lu gua urusin, gede malahan gak tau diri. Sial bener lu anak." Ucap Ningsih, masih dengan emosi yang menggebu meskipun nafasnya sudah tidak beraturan.
Tidak hanya tangannya yang bergerak lincah di tubuh putri sulungnya. Tapi, bibirnya pun mahir untuk mengeluarkan segala sumpah serapah dan caci maki. Seakan Ningsih lupa jika ucapan seorang ibu akan sangat mudah di aamiin kan malaikat dan menembus langit.
"Masuk kamar lu Sono, jangan lu berani keluar kamar kalo kagak gua suruh. Jaga itu mulut, jangan sampe gua m4ki-m4ki lu anak si4l. M0nyet emang lu." Tambah Ningsih kepada Ratna.
Setelah berkata demikian, Ningsih segera berpaling muka tak ingin menatap anak sulung yang baru saja menjadi samsak hidupnya tersebut.
Ratna tidak menjawab perkataan sang ibu lagi. Dia langsung beringsut menjauh dari Ningsih. Tidak seperti anak-anak lainnya, saat ini dia tidak ingin berlama-lama berada di dekat Ningsih. Sekarang, tidak hanya fisiknya yang sakit. Hatinya pun telah teramat sakit. Luka psikis yang di alami Ratna tidak akan terlihat dari luar, dan hanya dapat di rasakan oleh Ratna sendiri.
Dia tidak menyangka bahwa ibunya akan bertindak se-anarkis ini. Memang ini bukanlah kali pertama Ratna merasakan bogem mentah dari sang ibu. Tetapi, sebelumnya pun sang ibu tidak pernah memukulinya sebrutal itu.
Tubuh kecil Ratna gemetar hebat. Bukan hanya karena rasa sakit yang membakar kulitnya, tetapi juga karena untuk pertama kalinya ia benar-benar merasa takut pada sosok yang selama ini ia panggil ibu.
Sejak hari itu, setiap kali mendengar langkah kaki Ningsih mendekat, jantung Ratna selalu berdegup lebih cepat. Ia mulai belajar menahan pendapatnya sendiri. Baginya, diam jauh lebih aman daripada berkata jujur.
Usia Ratna kala itu baru memasuki usia 7 tahun dan saat itu adalah saat-saat tersuram yang dia alami. Tidak ada yang menghiburnya untuk mengobati luka hatinya. Tidak ada pula yang membantu mengompres luka pukulan dari ibunya yang membabi buta. Tidak ada teman yang dapat membantunya mengeluarkan unek-unek dalam hatinya. Semua dia lakukan sendiri, dan hal tersebut yang membentuk Ratna menjadi pribadi yang penakut dan tidak pandai bergaul. Bahkan, dia pun menjadi korban perundungan dari teman-temannya di sekolah.
Sungguh miris sekali bukan kisah Ratna ini?
***
Bertahun-tahun telah berlalu sejak kejadian itu. Luka di tubuh Ratna memang telah lama menghilang, tetapi bekasnya tetap tinggal di dalam hati.
Ia tumbuh menjadi gadis yang lebih banyak memendam daripada bercerita. Ia belajar bahwa berharap terlalu tinggi hanya akan berakhir dengan kekecewaan. Namun di sudut kecil hatinya, masih ada satu tempat yang selalu ia rindukan. Rumah kakek dan nenek.
Hari ini, Ratna kembali menatap koper kecilnya. Ia sudah menabung, merencanakan, bahkan menyiapkan hadiah kecil untuk kakek dan neneknya. Tapi koper itu tetap kosong. Rencana tinggal rencana. Karena seperti biasa, keinginan Ratna tak pernah jadi prioritas.
Farah lagi-lagi menang.
Ratna tersenyum tipis, senyum yang bahkan tak mampu menyembunyikan rasa kecewa di matanya. Ia memandangi koper kecil di sudut kamar, koper yang sejak beberapa hari lalu sudah ia bersihkan dengan penuh semangat. Di dalam lemarinya, sebuah bungkusan sederhana berisi kain batik untuk nenek dan peci untuk kakek masih tersimpan rapi. Semua itu ia beli dari hasil menyisihkan uang jajannya sedikit demi sedikit.
Kini, hadiah itu kembali gagal diberikan. Ratna mengembuskan napas panjang. Untuk kesekian kalinya, ia belajar bahwa berharap terlalu besar hanya akan membuat hatinya semakin sakit. Mungkin memang benar, di rumah ini keinginannya tak pernah memiliki tempat.
Dan Ratna, hanya bisa kembali belajar untuk diam. Sebab ia tahu, sekeras apa pun ia menyuarakan isi hatinya, tak akan ada yang benar-benar mendengarkan. Di rumah ini, suara yang paling nyaring selalu menjadi pemenang. Sementara dirinya... hanya anak yang perlahan terbiasa mengalah, meski tak pernah benar-benar rela.
Tapi jauh di lubuk hatinya, ada tekad kecil yang tumbuh perlahan: "Suatu hari, aku akan pergi dari sini. Mencari tempat yang benar-benar menerimaku."
...
Bersambung...