Hemat Bukan Pelit

1410 Words
"Pagi yang sama, perlakuan yang sama. Tapi luka di hati Ratna semakin dalam dari hari ke hari." Tidak semua pagi dimulai dengan harapan. Bagi Ratna, pagi adalah pertanda bahwa dia harus kembali menelan pil pahit bernama ketidakadilan. Bahwa tempat yang disebut "rumah" itu bukan surga, melainkan ladang ujian yang tak pernah usai. Keesokan harinya, segala sesuatu tampak berjalan seperti biasa. Tapi untuk Ratna, “biasa” itu bukan berarti baik. “Biasa” itu artinya... dia kembali dipaksa menahan semuanya sendirian. Pagi ini semua terasa berjalan seperti biasa. Farah yang selalu teriak memanggil ibunya dan tidak bisa berbicara dengan suara pelan. Ratna yang sepagi ini sudah di perintah untuk mengerjakan ini dan itu hanya bisa terdiam menurut tanpa banyak bicara. Ningsih yang sibuk mengurus keperluan suami dan anak-anaknya, atau lebih tepatnya keperluan suami dan anak bungsunya. Dan juga, Mahfud yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dan bersiap untuk berangkat ke toko tempatnya mencari nafkah halal bagi keluarga kecilnya. "Bu... Ntar tambahin uang jajan aku ya. Aku mau beli es Boba sama kakak." Ucap Farah kepada ibunya tanpa ada perasaan sungkan sedikitpun. Dia yang sudah berada di dapur untuk menghampiri Ningsih pun segera mengutarakan tujuannya datang. Melihat sang ibu yang sedang menyiapkan bekal untuk di bawanya ke sekolah pun tidak berinisiatif untuk membantu. "Iya, nanti ibu tambahin ya sayang ya. Udah sekarang cepetan siap-siap, bentar lagi ayah turun terus langsung berangkat deh kalian." Ucap Ningsih sambil tangannya cekatan memasukkan bahan makanan yang sudah dia persiapkan ke kotak bekal untuk suami dan anak bungsunya. Dia sedikit kerepotan dengan kedatangan anak bungsunya tersebut, dan menganggapnya sebagai gangguan. Sehingga, dia pun berusaha untuk mengusir anak bungsunya tersebut secara halus. "Oke ibu, ntar aku ajak kakak beli es boba juga ya." Balas Farah dengan sangat sumringah dan seolah tanpa beban.. Dia berkata demikian sambil melirik sang kakak yang sedang memasukkan bahan makanan ke kotak bekalnya sendiri. Farah yakin jika sang kakak tidak akan menolak keinginannya tersebut. Sedangkan Ratna pun hanya melirik sekilas ke arah Farah dan tidak menanggapi apa-apa. "Ntar kakak kamu suruh beli sendiri aja, gak usah lah pakai di traktir segala. Dia kan udah ada uang jajan sendiri. Biar gak boros." Jawab Ningsih lagi kepada anak bungsunya. Ratna yang sedari tadi mendengarkan percakapan ibu dan adiknya pun seketika menanggapi dengan tak acuh. "Iya lihat nanti aja ya Farah. Kamu kan tau uang jajan kakak gak banyak. Mana bisa jajan sembarangan gitu." Balas Ratna akhirnya dengan suara yang sedikit tertahan. Dia ingin mencoba untuk melawan ketidakadilan yang dia alami selama berada di rumah orangtuanya. Walaupun Ratna tau setelah ini dia akan menjadi sasaran amarah ayah dan ibunya, tapi dia akan tetap bertahan untuk melawan. Ratna yang sudah selesai dengan ritual di pagi harinya pun, bergegas meninggalkan dapur menuju ruang pribadinya yang berada di lantai atas. Kini, dia sudah tidak peduli dengan ancaman yang sering kali di lontarkan sang ibu. "Elu kalo gak nurut sama omongan gue, pergi dah lu dari rumah ini. Hiduplah sono di jalanan, biar jadi gembel sekalian, gak peduli gue juga sama elu." Begitu kira-kira ucapan Ningsih yang selalu terngiang di telinga Ratna. Saking takutnya Ratna dengan ancaman tersebut, membuatnya pun tumbuh menjadi gadis yang mudah terserang panik dan selalu hidup di bawah bayang-bayang ancaman dari sang ibu. Namun dia sadar, bahwa semua ini haruslah segera ia akhiri. "Yaahhh ibu, kakak kok gitu sih sama aku, kok gak mau nemenin aku beli es Boba." Ucap Farah yang mulai memainkan drama di pagi hari tersebut. Dia amat tidak senang jika sang kakak menolak keinginannya. Apapun itu harus selalu terpenuhi. Maka, kini dia pun menjadikan sang ibu sebagai tameng untuk membuat sang kakak berbalik menuruti keinginannya. "Tau tuh dia kurang ajar banget dah." Ucap Ningsih yang sudah mulai terpancing dengan drama yang di lakukan Farah. "Udah sekarang kamu samperin kakak kamu ke kamar, terus bilang kalo dia gak mau nurutin kemauan Farah ntar ibu yang turun tangan. Oke?" Sambung Ningsih lagi berusaha membujuk anak bungsunya agar tidak merajuk di pagi hari yang cerah tersebut. "Oh yaudah kalo gitu, oke ibu. Aku mau bilang kakak dulu ya ke atas, bye bye ibu." Balas Farah sambil berlalu meninggalkan sang ibu dan Naik ke lantai atas untuk menyusul kakaknya. Senyumnya pun sumringah seolah tidak terjadi apa-apa, tercetak begitu jelas di wajah Farah yang manis. Sesampainya di depan kamar kakaknya, Farah langsung membuka pintu dan menyampaikan maksud kedatangannya. "Kak, nanti pulang sekolah pokoknya anterin aku beli es Boba yang ada di ujung gang sekolah kita ya kak. Enak banget kayanya ntar siang siang minum es Boba." Ucap Farah sesaat setelah membuka pintu kamar Ratna, tanpa embel-embel salam lebih dulu. Farah mengulangi ucapannya yang sama seperti saat masih berada di dapur tadi. Karena, seorang Farah memang tidak menerima penolakan. Dia harus mendapatkan apa yang dia inginkan walaupun harus mengorbankan perasaan orang lain dia sama sekali tidak peduli. "Hm, kamu aja ya dek, kakak uangnya mau buat fotokopi tugas dari Bu Arum. Di kumpulin siang ini sehabis pulang sekolah. Jatah mingguan kakak udah menipis dek." ucap Ratna mencoba memberi pengertian untuk adiknya. Sebetulnya Ratna tidak tega menolak keinginan adiknya tersebut, tapi keadaan dirinya yang hampir kehabisan uang memang tidak mungkin untuk memenuhi keinginan adiknya tersebut. Sayangnya, sang adik sama sekali tidak mau mengerti keadaannya. "Aku gak mau tahu, pokoknya nanti kakak ikut aku beli es Boba. Kalo kakak gak mau nanti aku bilangin ibu biar kakak kena marah lagi, gimana?" Ancam Farah seraya menaik-turunkan alis menatap Ratna yang kebingungan. Pertahanan Ratna pun mulai goyah. Bayangan mengerikan ketika pukulan demi pukulan mendarat di tubuhnya pun muncul bagaikan film yang sedang diputar. "Kakak nemenin aja ya, gak usah ikut beli." Ratna mencoba untuk membujuk adiknya sekali lagi. Namun, usahanya pun kembali gagal. Sang adik tetap pada pendiriannya untuk memaksakan kehendaknya sendiri. "No way! Aku bilang kan kakak ikut aku beli. Ya berati kakak harus beli juga. Oke kak?" Farah tetap kekeuh mempertahankan keinginannya. Dia sama sekali tidak memperdulikan kondisi kakaknya yang hampir kehabisan jatah jajan mingguannya. "Yaudah oke. Kakak ikut aja mau kamu." Ucap Ratna akhirnya pasrah dengan keinginan adiknya. Akhirnya, pertahanan Ratna pun goyah. Ternyata, dia belum setangguh itu untuk melawan ketidakadilan yang dia alami selama ini. Baik dari orangtuanya, maupun dari adiknya sendiri. 'Nah gitu dong kak. Aku kan jadi makin sayang sama kakak." Balas Farah dengan sangat antusias. Dia pun mendekat dan memeluk kakaknya dengan sangat erat. Mendapat perlakuan seperti itu dari sang adik membuat hati Ratna sedikit menghangat. Dinding kokoh yang semula dia pertahankan untuk menjadi benteng waspada terhadap adiknya pun seolah rubuh seketika. Meskipun dia tau, sang adik memperlakukan dia seperti itu karena suatu keinginan yang ingin di capai. Tetapi, hal itu tidaklah menjadi masalah besar untuk Ratna. Ya, sebaik itu memang hati kecil Ratna. *** Setelahnya mereka pun turun ke lantai bawah menuju dapur untuk mengambil bekal makannya masing-masing. "Ini punya lu ya Ratna. Berhubung tanggal tua dan gua belum belanja ke pasar. Lu kagak kebagian daging, dagingnya gua kasih ke bapak lu sama ke adek lu. Lu gak usah iri. semisal gak makan daging juga gak bakal bikin lu mati kan?" Ucap Ningsih dengan raut muka sinis dan menyebalkan khas dirinya. Tanpa Ningsih memperjelas apa yang ada di dalam kotak bekal makannya pun, sebetulnya Ratna sudah mengetahuinya. Sebab, tadi dia sendiri yang mengisi kotak makannya dengan jatah makanan yang sudah di atur oleh Ningsih. Ratna pun memilih tidak menggubris ucapan Ningsih yang terdengar seperti biasa saja di telinganya. Diapun langsung mengambil jatah bekal miliknya. Setelahnya, dia langsung berlalu meninggalkan dapur setelah mengucapkan terimakasih. "Ini buat anak ibu yang cantik, sekolah yang pintar biar bisa nyenengin ibu sama ayah." Ucap Ningsih sambil mengelus rambut Farah dengan sayang. Dalam keluarga ini memang tidak membiasakan ritual sarapan pagi. Ibu mereka hanya akan menyiapkan bekal. Selain efisiensi waktu dan tenaga, juga untuk menghemat bahan makanan. Begitulah Ningsih, dia akan menghemat anggaran bulanan untuk nantinya uang yang tersisa akan dia simpan untuk jaga-jaga semisal ada kebutuhan yang mendesak. Menurut prinsipnya, hal tersebut adalah hemat. Dia akan sangat tersinggung andai ada yang menganggap prinsip tersebut adalah karena pelit. Padahal dia hanyalah berusaha untuk hemat, dan bukan pelit. *** Dan begitulah—hari itu berlalu tanpa pelukan, tanpa pengakuan, tanpa siapa pun yang benar-benar peduli apakah Ratna bahagia atau tidak. Tidak ada yang tahu bahwa diam-diam, gadis kecil itu sedang belajar menjadi kuat. Bukan karena dia ingin… tapi karena dia tak punya pilihan lain. Di balik senyumnya yang sunyi, Ratna hanya bisa bertanya pada semesta, "Kalau rumah bukan tempat untuk pulang, lalu ke mana aku harus kembali?" ... Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD