Farah menunggu Ratna di dekat pos satpam sekolah SMP Nusa Indah. Sesuai janji yang telah mereka sepakati bersama, sepulang sekolah mereka akan bersama-sama membeli es Boba di gang ujung sekolah mereka. Farah menunggu dengan cemas, namun sang kakak tak kunjung datang.
"Sayang, ayo pulang duluan. Biarin aja kakak kamu biar pulang naik ojek atau jalan kaki saja biarlah urusan dia." Ucap Mahfud tenang sambil berdiri di dekat mobil yang terparkir di parkiran.
Dia sudah menunggu kedua anaknya selama hampir 15 menit. Resah dia rasakan karena waktunya tak banyak. Setelah jam istirahat berakhir, dia harus segera memimpin rapat dadakan di kantornya berkaitan dengan barang-barang cacat yang akan di jual oleh perusahaannya. Hal itu sangat mengganggu integritas toko meubel yang sudah dibangun kedua orang tuanya dengan susah payah.
"Iya sebentar ayah, siapa tau kakak belum keluar kelas, kita tunggu sebentar lagi ya ayah." Balas Farah cepat sambil menatap kearah kedua mata sang ayah.
Dia dengan setia masih menunggu sang kakak. Dia masih berharap sang kakak akan segera muncul. Tanpa dia ketahui, sang kakak sedang mengalami penyiksaan psikis yang di lakukan Bella dan Alicia, teman sekelasnya.
***
Di belakang sekolah
"awwhhh" Pekik Ratna ketika tubuhnya menabrak tembok gudang sekolah yang biasa digunakan untuk menyimpan peralatan olahraga.
Seketika saja, sensasi nyeri menjalar di sekujur tubuh sisi kanan Ratna.
"Gue udah bilang kan?, kalo elu budeg, bakal kita kerjain di sini." Alicia berucap dengan wajah yang merah padam karena kesal Ratna tidak menggubris panggilannya saat sedang ulangan tadi.
Peringatan yang tidak di indahkan oleh Ratna, membuat Bella dan Alicia seketika naik pitam. Mereka berdua tidak dapat mengerjakan soal ulangan dengan baik. Padahal sang guru sudah memberitahu akan adanya ulangan harian, tetapi memang mereka yang terlalu meremehkan.
"Kalian mau apa?" Balas Ratna pelan dengan sisa tenaga yang masih ada.
Tubuhnya Di tarik sedari masih di dalam kelas hingga menuju ke gudang sekolah tersebut. Setelah sampai tujuan pun, tubuhnya malah di hantam kan ke tembok yang menimbulkan nyeri tak tertahan.
Dengan sisa tenaganya, Ratna akan berusaha untuk melawan mereka berdua. Dia melepaskan tas ransel yang ada di pundaknya, dan mulai mengambil ancang-ancang untuk melawan Bella dan Alicia.
"Dua lawan satu? Siapa takut?" Batin Ratna menggema dengan tatapan meremehkan menatap kedua musuh di hadapannya.
"Heh, gaya banget dia Bell. Dia kira dia siapa mau nantang kita." Ucap Alicia dengan senyum yang meremehkan sembari memandang ke arah Ratna.
Dia merasa dapat menaklukkan Ratna seperti yang sudah-sudah, karena memang Ratna yang tidak pernah melawan dan selalu cenderung untuk mengalah.
"Gak usah banyak cakap, ayo maju satu lawan satu jangan keroyokan. Norak kalian." Balas Ratna cepat dengan tatapan mata yang tiba-tiba berubah tajam.
Ia tetap tak gentar melawan kedua musuhnya tersebut. Sebab ia merasa, memberikan contekan kepada mereka berdua bukanlah kewajibannya. Kenapa juga harus di bebankan kepada dirinya?
Sehingga ia memutuskan akan melawan. Apalagi kedua orang di hadapannya ini hanyalah spek ciwi-ciwi biang ribut tanpa memiliki skill apapun. Jelas tidak sebanding dengan Ratna sang bintang kelas dan memiliki sedikit kemampuan bela diri.
Ya, walaupun kemampuan bela dirinya hanya sedikit tetapi itu lebih baik daripada kedua musuh di hadapannya yang tidak memiliki kemampuan tersebut sama sekali.
"Hahahaha" tawa pun keluar dari bibir Bella dan Alicia. Mereka menganggap ucapan Ratna hanyalah angin lalu saja.
Ratna yang mereka kenal hanyalah seseorang gadis pintar yang penurut. Dia tidak akan berani untuk melawan. Namun, anggapan mereka kini salah besar. Ratna yang sekarang sudah berubah. Dia akan melawan ketidakadilan yang terjadi dalam hidupnya.
Tak menunggu lama, Alicia mengeluarkan gunting dari dalam tasnya. Ia menatap Bella sesaat dan memberikan isyarat untuk mendekat ke arah Ratna.
Akan tetapi, Ratna yang telah dalam mode waspada sejak tadi pun, segera menendang tangan Alicia dan membuat guntingnya pun terjatuh.
Seketika Ratna langsung menendang jauh Gunting yang sudah terjauh agar Alicia dan Bella tidak dapat menjangkaunya lagi.
"Aaahhhh" Teriak Bella dan Alicia bersamaan. Mereka berdua sangat terkejut karena mendapatkan serangan mendadak dari Bella.
"Segitu aja kemampuan kalian?" Ucap Ratna dengan senyumnya yang terkesan meremehkan dua orang di hadapannya.
Akibat dari tendangan Ratna yang mendarat tepat di pergelangan tangan dan juga efek dari syok yang di rasakan Alicia, membuat tangannya kini menjadi Tremor. Tangannya bergetar dan seluruh tubuhnya pun seolah menggigil kedinginan. Ini pertama kalinya Alicia mengalami serangan seperti itu.
"Are you oke, alis?" Tanya Bella yang tak kalah panik mendapati tubuh sahabatnya bergetar dengan hebat.
Bella cukup bingung harus melakukan apa untuk menolong Sahabatnya tersebut. Dia panik dan tidak sempat memikirkan bantuan apa yang akan dia berikan kepada Alicia.
"Alicia, are you oke?" Tanya Bella lagi. Dia sangat merasa khawatir saat ini, terlebih Alicia yang tidak merespon ucapannya.
Tetapi, alicia tidak mampu menjawab pertanyaan Bella. Dia merasa tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.
"Na, ayo kita bawa Alis ke uks." Ucap Bella kepada Ratna akhirnya.
Dalam situasi mendesak seperti ini, Bella tidak tau harus meminta tolong kepada siapa selain Ratna, karena memang hanya ada mereka bertiga di lokasi tersebut.
"Hah? Kita? Kau aja lah yang bawa." Ucap Ratna tak acuh sembari mengambil tas ranselnya dan berlalu meninggalkan mereka berdua begitu saja.
Kejam? Biarlah pikir Ratna.
Tak semua orang harus di tolong, apalagi orang yang sudah berniat mencelakakan kita sedari awal. Anggap saja itu adalah hukuman untuk mereka karena memiliki niat buruk terhadap orang lain. Sangat adil, bukan?
Meninggalkan Bella dan Alicia di gudang belakang dengan kondisi Tremor yang di alami Alicia, sejujurnya membuat Ratna sedikit kepikiran. Tapi, dia berusaha untuk mencoba bodo Amat. Toh, hal itu tidak murni kesalahannya. Dia hanya mencoba untuk melindungi dirinya sendiri.
***
Sampai di dekat pos satpam, dia melihat Farah tengah duduk di temani ayah mereka.
"Farah... Ayah..." Ucap Ratna sembari mencium punggung tangan Mahfud dengan takzim.
"Lama banget sih kak, abis ngapain?" Balas Farah.
Dia memperhatikan sekeliling yang tampak sepi, itu artinya sang kakak baru saja berjalan seorang diri, dan entah dari mana.
"Aku tadi piket dulu, maaf ya bikin nunggu lama." Ucap Ratna lagi yang sengaja berbohong.
Dia tidak akan mungkin berkata yang sebenarnya, bahwa dia baru saja di bully temen sekelasnya. Selain takut akan memancing amarah sang ayah, dia juga takut tidak ada yang mempercayai ucapannya.
"Yaudah yuk, kita langsung pulang aja." Ajak Mahfud sambil berdiri dari kursi yang di duduki nya tadi.
Setelah sekian lama menunggu di dekat pos satpam, kini Mahfud tidak sabar untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Waktu seakan berjalan lebih cepat dari biasanya, karena memang dia harus segera kembali ke toko tempatnya mencari nafkah.
"Sayang kita gak usah mampir beli es Boba ya, ayah harus langsung balik lagi ke toko." Sambung Mahfud lagi sambil menatap dalam kearah kedua manik mata Farah.
"Iyaa ayah, tapi nanti ayah pulang dari toko jadi kan kita ke alun-alun? Aku ingin makan ayam Lamongan. Sepertinya lezat." Balas Farah lagi dengan senyumnya yang tampak ceria seperti biasa.
"Iya lihat nanti ya sayang ya." Ucap Mahfud cepat sembari mengelus rambut panjang sang anak.
Ketiganya pun segera bangkit dan berjalan menuju ke mobil yang terparkir di parkiran dekat gerbang sekolah SMP Nusa Indah.
Ratna hanya diam dan tidak menimpali ucapan ayah dan adiknya. Ratna hanya ingin pulang ke rumah dan menenangkan pikirannya. Jujur saja dia tidak bisa tenang setelah meninggalkan Bella dan Alicia di gudang belakang tadi dengan kondisi yang ia sendiri pun yakin mereka tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Semoga setelah ini kalian berhenti mengganggu aku ya. Bagaimanapun aku hanya membela diriku sendiri. Kalau bukan aku yang melakukannya, terus siapa lagi?" Gumam Ratna pelan sambil memandangi jalanan yang lengang, di sepanjang laju mobil yang berjalan dengan kecepatan sedang.
Bersambung...