"Ehm ... maaf Mas Sultan, saya--" "Tidak perlu terburu-buru dijawab sekarang, Ustazah. Saya akan sabar menanti sambil memantaskan diri untuk Ustazah. Saya sudah lega karena bisa mengungkapkan perasaan saya. Memang saya tidak tahu diri, tetapi saya benar-benar berharap jika perasaan saya ini tidak bertepuk sebelah tangan." Ucapan Sultan membuat d**a Syifa berdenyut nyeri. Gadis itu melihat ketulusan di setiap ucapan Sultan. Namun, bagaimana mungkin Syifa bisa membalas perasaan lelaki ini, kalau sebenarnya dirinya sudah menerima pinangan Baihaqi. Untuk mengatakan kejujuran itu, Syifa tidak sampai hati. "Ya sudah, Ustazah. Saya permisi pulang. Maaf kalau saya mengganggu Ustazah. Assalamualaikum." Sultan melempar senyuman sembari berbalik meninggalkan Syifa dan berjalan menuju tempatnya mema

