Mobil Ferarri merah yang dikendarai Dewa meluncur meninggalkan pelataran kampus Universitas Atma Jaya melintasi jalan protokol kota Yogyakarta. Kendaraan roda empat itu akan membawa lima mahasiswa ke sebuah danau di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta yang terkenal akan keindahannya.
Sultan duduk di samping kemudi, sedangkan Ana, Candy dan Sherly duduk di jok belakang. Berulang kali ekor mata Dewa mencuri pandang ke arah Ana di jok belakang yang penampilannya sangat berbeda. Entah kenapa Dewa begitu tertarik pada Ana justru saat gadis itu merubah penampilannya menjadi syari.
"Mata lo itu dijaga, Wa. Fokus nyetir," sindir Sultan yang sejak tadi memergoki Dewa melirik ke arah Ana.
"f**k, you," balas Dewa sembari mendengkus kesal.
"Sejak kapan lo pakai jilbab gitu, Ana?" tanya Dewa sembari fokus menyetir membuat Sultan terkikik.
"Semenjak gue tinggal di pesantren," balas Ana santai.
"What? Lo tinggal di pesantren? Gue gak salah dengar?" tanya Dewa sembari menoleh ke belakang, tetapi kembali fokus ke jalanan.
"Biasa aja kali, Bro. Gitu amat reaksinya," kekeh Sultan membuat Ana memutar bola matanya dengan malas.
"Sumpah, An. Lo sekarang beneran udah kayak ustazah," ujar Sultan masih dengan tertawa.
"Ngeledek, lo," balas Ana sewot. Sementara Candy dan Sherly ikutan tertawa.
"Eh, tapi gimana ceritanya lo bisa tinggal di pesantren? Kesambet demit, lo?" tanya Dewa lagi.
"Bukan kesambet demit, Wa. Tapi kesambet malaikat tampan," sahut Candy dengan mata berbinar membayangkan wajah tampan Furqon tadi pagi saat mengantar Ana.
"Wah, rupanya ada yang terkagum-kagum sama ustaz lo, An," sahut Sherly sembari menyikut lengan Ana. Entah kenapa Ana kurang suka melihat sahabatnya mengagumi Furqon.
"Stop, gak usah bahas itu. Gue males dengernya. Kita ke sini buat seneng-seneng, kan? Jadi, lupakan soal pesantren. Ceritanya panjang dan gak akan habis sehari jika diuraikan," pungkas Ana.
"Oke, oke. Gue gak akan bahas itu lagi. Badeway elo gak mau ganti baju? Barangkali elo gerah, kita bisa mampir mall bentar buat beli baju," tawar Dewa.
"Gak perlu. Buang-buang waktu aja. Waktu gue gak banyak," balas Ana.
"Ya sudah. Mau pakai apapun, lo tetep cantik, An," ucap Dewa menggombal.
"Ciee yang tiba-tiba bucin sama Bu Ustazah," goda Sherly sembari menyenggol lengan Ana. Gadis berjilbab itu hanya memutar bola matanya dengan malas tanpa menanggapi serius ucapan Dewa. Semua cowok sama saja, begitu pikir Ana.
Mobil Ferrari merah milik Dewa tiba di kawasan Nglipar Kabupaten Gunung Kidul saat matahari mulai meninggi. Sebelum jalan-jalan menikmati ndahnya danau Embung Batara Sritten, mereka menyempatkan diri untuk makan di sebuah kedai di pintu masuk danau. Ana, Candy dan Sherly turun dari mobil dan berhambur masuk ke kedai sedangkan Dewa masih mencari tempat parkir yang nyaman.
"Nih, lo ajak dua cewek itu jalan-jalan dan beli apa aja yang kalian suka," ucap Dewa sembari menyerahkan kartu kredit kepada Sultan.
"Maksud, lo?" Sultan menatap sahabatnya penuh tanya.
"Gue pingin makan berdua saja dengan Ana. Lo bisa kan singkirkan dua kurcaci itu dari samping Ana? Mereka sangat suka belanja, jadi ajak saja mereka dan beli apapun yang mereka mau," jelas Dewa membuat Sultan memutar bola matanya dengan malas.
"Harus gitu?"
"Plis, Tan. Gue pingin berdua saja dengan Ana. Tolongin gue."
Sultan menghembuskan napas berat, tetapi akhirnya mengabulkan permohonan sahabatnya. Lelaki bertubuh tinggi besar dan bercambang tipis itu pun memberikan kode pada Candy dan Sherly untuk meninggalkan Ana hanya berdua dengan Dewa.
***
Mobil Toyota Alpard putih yang dikendarai Furqon berhenti tepat di depan kantor sekretariat pesantren setelah mengantarkan Ana ke kampus. Kedua mata ustaz tampan itu melebar saat melihat sosok gadis berbalut dress syari warna hijau army berjalan ke luar kantor sembari menarik koper berukuran sedang.
"Nabila," gumamnya lirih, kemudian segera keluar dari mobil dan mendekati gadis itu.
"Nabila, kamu mau ke mana?" tanya Furqon setelah mengikis jarak dari gadis itu.
"Saya mengajukan cuti, Ustaz."
"Kamu mau pulang ke Magelang?"
"Tidak, Ustaz. S-saya mau ke rumah Bu Lik Yuli," jawab Nabila sembari menundukkan kepala.
"Bu Lik kenapa? Sakit?" tanya Furqon cemas. Bu Lik Yuli yang dimaksud Nabila adalah adik perempuan ibunya yang tinggal di kawasan Nglipar, Gunung Kidul. Furqon sangat mengenal keluarga Bu Lik Yuli, karena pernah menjadi bagian keluarga itu. Tentu saja saat Furqon menjadi suami Zahira, kakaknya Nabila.
"Bu Lik sehat, kok, Ustaz. Hanya saja saya yang butuh refresing dan menenangkan diri," balas Nabila sembari melirik ke arah Furqon membuat ustaz tampan itu dihantui rasa bersalah.
"Maafkan aku, Nabila." Suara Furqon seperti tercekat di tenggorokan. Lelaki ini tahu betul, hati Nabila sedang tidak baik-baik saja. Gadis itu telah menunggunya selama bertahun-tahun. Namun, kini dia malah menikah dengan Ana.
"Maafkan aku, Bil," ucap Furqon lirih.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Ustaz. Ustaz tidak salah. Saya yang tidak tahu diri."
"Nabila, aku--"
"Ustaz tidak usah khawatir. Saya baik-baik saja, kok. Hanya saja saya butuh waktu untuk menenangkan diri dan maaf mungkin saya tidak bisa hadir di pesta pernikahan Ustaz," potong Nabila dengan suara serak. Gadis itu berusaha menahan kristal bening yang hampir luruh ke kedua pipinya.
"Berapa lama kamu mengambil cuti? Kamu akan kembali, kan?" Entah kenapa Furqon seperti kehilangan sesuatu jika Nabila tidak kembali mengajar di pesantren.
"Insya Allah dua mingguan. Ustaz tidak perlu khawatir, insya Allah saya akan kembali," balas Nabila berusaha mengukir senyum, meski sebenarnya beberapa hari ini dia sudah mulai lupa bagaimana caranya tersenyum. Hatinya begitu terluka mendapatkan kenyataan Furqon menikah dangan wanita lain. Bahkan wanita itu hanyalah wanita biasa yang bukan dari kalangan pesantren. Apalagi mereka terlibat skandal yang meskipun Nabila sendiri tidak yakin Furqon berbuat seperti itu.
"Oh begitu. Kamu naik apa ke tempat Bu LIk?"
"Naik Bus, Ustaz."
"Naik Bus? Sendirian?" Nabila menganggukkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaan Furqon.
"Jangan, Bil. Biarkan aku mengantarmu," ucap Furqon.
"Tapi, Ustaz--"
"Aku akan mengajak Syifa sekalian silaturahim dengan Bu Lik Yuli," potong Furqon.
"Apa tidak merepotkan Ustaz? Ustaz ada jam mengajar pagi, kan?"
"Aku bisa bertukar jadwal dengan Ustaz Zaky ataupun Ustaz Farhan. Sudahlah, kamu tunggu di sini. Aku cari Syifa dulu, ya."
"Iya, Ustaz. Terima kasih."
Furqon bergegas menuju kediaman Kiai Iskandar untuk mencari Syifa. Ustaz tampan itu ingin sang adik menemaninya mengantar Nabila ke Gunung Kidul. Meskipun tidak punya perasaan apa-apa terhadap Nabila, tetapi Furqon mana tega membiarkan gadis itu naik Bus seorang diri ke Gunung Kidul.
Penampilan Furqon memang terlihat cool. Sifatnya cuek dan dingin. Namun sebenarnya dia sangat baik dan perhatian. Dan satu lagi, dia tidak tegaan. Meskipun terkadang galak dan menyebalkan.
Nabila memandang tubuh Furqon hingga menghilang di balik lorong pesantren. Tanpa terasa, kristal bening yang tadi mati-matian dia tahan akhirnya lolos juga membasahi kedua pipinya.
"Mencintai tidak harus memiliki, Nabila. Definisi cinta itu adalah kita akan bahagia jika orang yang kita cintai bahagia. Meskipun kebahagiaan itu didapat tidak bersama kita," ucap Nabila bermonolog.
Mulai saat ini dia harus bisa menerima kenyataan kalau Furqon bukanlah jodohnya. Semoga waktu dua minggu untuk menenangkan diri di Gunung Kidul bisa menyembuhkan luka hatinya dan berlapang d**a menerima pernikahan Furqon. Meskipun sebenarnya Nabila tidak yakin gadis itu bisa menjadi istri yang baik untuk Furqon.
Terkadang jodoh itu memang aneh. Orang yang berada di dekat kita selama bertahun-tahun belum tentu menjadi jodoh kita. Nabila segera mengusap air mata saat melihat Furqon dan Syifa berjalan ke arahnya.