"Ana beruntung banget, ya. Baru beberapa hari tinggal di pesantren langsung bisa menggaet Ustaz Furqon," ucap salah satu santri putri. Beberapa orang santri putri terlihat sudah berkumpul di kelas qiroah yang waktunya memang bakda salat subuh. Mereka mengobrol sambil menunggu Ustaz Baihaqi datang.
"Bener, banget. Kita saja yang udah lama di sini, bisa ngobrol dengan Ustaz Furqon hanya kalau pas dikasih tugas," timpal santri yang lain.
"Kalian gak tahu, ya, kalau Ana itu menjebak Ustaz Furqon di kamar mandi sampai ketahuan Kiai dan akhirnya dinikahkan," ucap salah satu santri putri yang duduk di kursi paling belakang membuat santri yang lain sontak menoleh ke arahnya.
"Kamu tahu berita itu dari mana? Memangnya akurat?" tanya santri yang duduk di kursi paling depan.
"Aku dengar dari santri putra yang melihat sendiri kejadiannya saat piket di kantor. Insya Allah berita ini akurat," jawab santri yang duduk di belakang tadi.
"Iya juga. Ustaz Furqon yang sangat cuek pada wanita tiba-tiba mau menikah dengan Ana. Apalagi kalau bukan dia dijebak."
"Ih, ganjen juga ya si Ana. Munafik lagi. Dibalik sikapnya yang angkuh, sok tidak peduli dan sok membenci pada Ustaz Furqon, ternyata diam-diam juga suka. Padahal dari awal dia bilang benci banget sama Ustaz Furqon," sahut Astri, salah satu teman sekamar Ana yang memang sering mendapat perlakuan tidak baik dari gadis itu.
"Benci dan cinta itu beda tipis, As. Makanya si Ana kualat itu."
"Gak nyangka ya dia pakai cara begitu biar bisa dinikahi Ustaz Furqon."
"Eh kasihan Ustazah Nabila, lho. Dia pasti patah hati banget."
"Hooh, betul. Ana keterlaluan banget."
Para santri putri masih bergosip sambil menunggu Baihaqi yang belum kunjung datang ke kelas. Tanpa mereka sadari Ana sudah berada di luar kelas sembari mendengarkan obrolan mereka dengan hati panas dingin menahan marah.
"Lagian Ustaz Furqon kok mau sih menikah dengan gadis bar-bar seperti Ana. Baca Alqur'an saja gak lancar. Apalagi sikapnya kurang sopan. Sangat jauh dari kriteria wantia shalihah."
"Ustaz Furqon kan terpaksa. Gara-gara Ana kecentilan itu."
"Ssstt ... sudah jangan bergosip lagi. Ini masih pagi, tapi kalian sudah bikin dosa," sahut Ema yang sejak tadi diam.
"Kami tidak bergosip, memang kenyataan kok. Semua juga tahu kalau Ana yang centil itu sudah menjebak Ustaz Furqon," sangkal Feni. Suasana kelas jadi riuh. Mereka pro kontra tentang Ana.
"Kalian para santri pagi-pagi sudah bergosip. Apa gak punya kerjaan, hah?" Suara seseorang dari depan pintu kelas membuat semua santri sontak terdiam.
"Ana, sabar." Ema beranjak dari duduknya mendekati Ana. Gadis itu takut terjadi perkelahian mengingat Ana terlihat sangat emosi mendengar teman-teman satu kelas menggosipkannya.
"Aku memang gak sopan, bar-bar dan gak bisa baca Al Qur'an dan gak pantas jadi menantu Kiai, tetapi perlu kalian tahu. Aku gak kecentilan sama Ustaz kutub itu," ucap Ana dengan d**a naik turun menahan emosi.
"Tapi kenyataannya kamu menjebak Ustaz Furqon, kan?" tanya Feni membuat Ana semakin emosi. Suasana menjadi riuh. Namun, dengan sigap Ema menarik tangan Ana dan mengajak gadis itu meninggalkan kelas. Ana yang semula menolak akhirnya mengikuti Ema.
Tak lama setelah Ana dan Ema pergi, Baihaqi datang dan kelas pun dimulai.
"Ana, kamu sekarang menantu Pak Kiai. Jadi, jangan terpancing oleh ucapan mereka. Kamu harus bisa menjaga marwahmu sebagai istri Ustaz Furqon," tutur Ema setelah keduanya menjauh dari kelas.
"Gak usah sok ceramah. Kamu sama saja dengan mereka. Tukang gosip," balas Ana kesal sembari meninggalkan Ema yang hanya bisa menggelengkan kepala. Ema kemudian kembali ke kelas sedangkan Ana kembali ke rumah Kiai Iskandar.
Sementara itu, di kantor sekretariat, Furqon tampak sedang berbincang serius dengan Kiai Iskandar.
"Jadi, kamu ingin memberikan konfirmasi kejadian kemarin pada semua penghuni pesantren?" tanya Kiai Iskandar setelah Furqon mengutarakan maksudnya untuk mengkonfirmasi tragedi di kamar mandi bersama Ana agar tidak menjadi gosip yang simpang siur.
"Iya, Bah. Kalau Abah mengijinkan, nanti malam saya akan kumpulkan semua penghuni pesantren di Aula."
"Apa kira-kira itu tidak akan mempermalukan Ana, Fur?"
"Insya Allah tidak, Bah. Justru ini akan menghindarksn Ana dari gosip miring. Saya tahu mana yang harus saya ceritakan pada umum dan mana yang harus dibithonahkan. Yang penting saya jujur, tidak mengarang cerita dan tentu saja tidak membuka aib Ana."
"Baiklah, Abah ijinkan. Abah juga takut kalau hal ini nanti menyebar ke luar pesantren. Abah percaya padamu, Fur. Maafkan Abah kalau semua ini membuatmu tidak nyaman. Abah telah membuatmu terjebak dalam situasi ini. Terus terang Abah tidak tega menolak permintaan Pak Prabu. Tolong bimbing Ana, ya. Abah yakin kamu bisa."
"Njih, Bah. Insya Allah.
"Assalamualaikum, Abah, Kak Furqon," sapa Syifa yang baru saja memasuki kantor sekretariat. Gadis itu menjabat dan mencium punggung tangan dua lelaki beda generasi yang sedang mengobrol itu.
"Waalaikumsalam," jawab Kiai Iskandar dan Furqon hampir bersamaan.
"Kak, Ana baik-baik saja, kan? Dia sehat?" tanya Syifa sembari duduk di hadapan Furqon.
"Ana baik, kok. Tadi malam dia tahajud dan pagi tadi juga jamaah subuh."
"Aku tidak melihatnya di kelas Ustaz Bahaqi, Kak. Tadi aku baru saja mengabsen para santri putri yang ikut kelas subuh dan Ana tidak ada," tutur Syifa.
"Jangan-jangan Ana tidur lagi, Astaghfirulloh," batin Furqon kesal.
"Biar aku cari dia di rumah," ucap Furqon sembari beranjak dari duduk.
"Fur, jangan terlalu keras terhadap Ana, Abah takut dia malah akan semakin membangkang," pesan Kiai Iskandar.
"Njih, Bah. Terima kasih sudah mengingatkan." Furqon beranjak meninggalkan kantor menuju kediaman abahnya. Dia ingin memberikan hukuman pada istri piyiknya itu karena berani bolos dari kelas bakda subuh. Namun, langkah Furqon terhenti saat melihat Ana meringkuk di ranjang dan terisak.
"Ana, kamu kenapa? Kamu menangis?" tanya Furqon sembari duduk di tepi ranjang tepat disamping Ana.
Mendengar pertanyaan Furqon, Ana langsung duduk dan mengusap air matanya.
"Ustaz, ceraikan saya,"ucapnya membuat Furqon melebarkan kedua matanya.
"Cerai? Aku sudah bilang sama kamu, Ana. Seorang wanita tidak akan mencium baunya surga kalau sampai meminta cerai pada suaminya tanpa sebab yang diperbolehkan oleh agama."
"Aku tidak butuh ceramah, Ustaz. Aku minta Ustaz ceraikan aku."
"Ana, aku tahu kamu terpaksa menikah denganku. Kamu tidak mencintaiku. Yang perlu kamu tahu, aku juga sama denganmu. Aku juga tidak menginginkan kondisi ini, tetapi semua ini sudah menjadi takdir kita. Mau gak mau, siap gak siap kita harus jalani semua ini. Pernikahan itu bukan hal yang bisa dibuat mainan. Ijab kabul yang aku ucapkan kemarin itu sebuah janji suci yang mengikat kita berdua. Perlu kamu ketahui, kalau perceraian adalah sesuatu yang sangat dibenci oleh Allah, meskipun halal."
"Tapi aku gak tahan mendengar gosip mereka. Iya aku tahu, aku sadar, aku yang menjebak ustaz, aku yang membuat kita jadi begini, tapi sungguh aku gak pernah mengharapkan menikah dengan ustaz ataupun kecentilan pada ustaz seperti yang mereka bilang. Aku melakukan semua karena ingin dikeluarkan dari pesantren. Jadi sekarang, tolong ceraikan aku dan biarkan aku pergi dari pesantren. Aku tidak peduli jika Papi akan marah sekalipun."
"Gak, aku gak akan ceraikan kamu, Ana." Furqon mencengkram kedua lengan Ana dan menatapnya dalam.
"Ceraikan aku. Ceraikan aku. Aku benci sama Ustaz. Aku ingin pergi dari sini." Ana berusaha melepaskan lengannya dari cengkraman Furqon.
"Kamu bisa diam, gak?"
"Aku gak akan diam sebelum Ustaz menjatuhkan talak. Ceraikan aku," balas Ana sembari terus meronta.
"Diam, Ana."
"Gak."
"Diam."
"Gak, ceraikan aku."
"Kalau kamu gak bisa diam, jangan salahkan kalau aku--" Furqon menarik tengkuk Ana dengan kuat menggunakan tangan kirinya, sehingga gadis itu tidak bisa mengelak lagi. Sementara tangan kanan ustaz tampan itu merapatkan pinggang gadis itu ke tubuhnya. Putra Kiai Iskandar itu lalu mendekatkan bibirnya hingga kedua benda kenyal itu kembali bersatu. Mendapat perlakuan itu, Ana langsung terdiam dengan kedua mata melotot.