"Lo gak punya kerjaan lain ya selain ngikuti gue?" tanya Ana sewot saat menyadari lelaki yang tidak lain adalah Dewa itu sudah berdiri menghadang di depan mereka. "Lo jangan suka negative thinking, Ana. Gue ada di sini karena memang kebetulan saja." "Kayaknya terlalu sering kebetulan yang terjadi, ya, Wa. Elo gak bosan apa?" "Berarti kita jodoh Ana." "Heh, gue udah punya suami. Elo pikun?" "Gue rela kok kalau musti nungguin janda lo, Ana." "Dasar gila," ucap Ana sembari mendengkus kesal. "Gue bukan gila, Ana. Tetapi tergila-gila sama elo." "Sayang, ayo masuk. Gak usah diladeni orang gila ini," ucap Ana sembari mengajak Abel masuk. Gadis kecil itu mengangguk patuh. Namun, bukan Dewa namanya kalau menyerah begitu saja. Lelaki itu mengekor di belakang Ana dan Abel meskipun sudah dic

