Chapter 1 - Perpisahan

1267 Words
CHAPTER 1 - Perpisahan Pernikahan Haura dan Syaril sudah memasuki usia 5 tahun, namun keduanya masih belum di karuniai anak. Tak jarang ibu mertuanya terus mencecar Haura sebagai wanita mandul. Padahal tidak ada yng terjadi dengan Haura, tubuhnya sehat dan Haura tidak pernah lupa untuk rutin kontrol ke rumah sakit. "Mas, Mama menanyakan kapan kita punya momongan. Apa kita kerumah sakit saja ya mas? Kita konsultasi pada dokter." ujar Haura di pelukan sang suami. "Apa maksudmu?" tanya Syaril dengan nada tidak suka. "Kita cek kesehatan mas dan bertanya oada dokter apa saja yang harus kita lakukan," usul Haura. "Untuk apa? Aku sehat! Kalau memang ada yang bermasalah itu sudah pasti dirimu!" sentak Syaril. Pria itu langsung melepas rengkuhannya dan pergi sambil membanting pintu. Keduanya tadi sedang berada di kamar mereka dan menikmatiwakru berdua setelah Syaril pulang dari luar kota. Haura mengatakan itu juga bukan bermaksud buruk. Wanita itu hanya ingin suaminya tahu, jika dia tidak ada masalah. Bahkan dokter mengatakan jika rahimnya siap untuk dibuahi. "Sampai kapan kamu akan menumpahkan semua masalah padaku mas?" lirih Haura. Tak biasa Haura pungkiri jika hatinya sakit melihat perlakuan Syaril dan ibu mertuanya. Dia juga ingin memiliki momongan. Tapi suaminya sudah tidak pernah menyentuk Jaura lagi, sudah hampir 3 bulan lamanya. Sebelum itu pun, suaminya memang hampir tidak pernah menyentuhnya, tapi kenapa dia yang disalahkan? *** Sudah dua bulan berlalu sejak pertengkaran kecil mereka dan suaminya sama sekali tidak pulang. Haura sudah mencoba mencari tahu kemana suaminya pergi, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Haura sendiri sering di todong oleh sang mertua. Beliau selalu bertanya kemana suaminya dan kenapa dia masih belum hamil. Rasanya kepala Haura mau pecah karena pertanyaan sama yang terus berulang. Wanita itu kini pergi ke mall untu menyegarkan otaknya, dia pergi ke salon dan beberapa store untuk memanjakan dirinya. Saat sedang asik makan di salah satu restoran jepang, Haura mendengar suara suaminya dengan wanita. Karena takut apa yang di otaknya benar, Haura tidak berani menoleh. "Kamu mau sampai kapan dengan wanita itu?" suara wanita terdengar. "Aku tidak bisa berpisah dengannya sekarang. Kamu tenang saja, meskipun dia istriku tapi yang aku cinta kan kamu," ucap suaminya. Air mata Haura jatuh tanpa permisi. Sakit! Sungguh sakit. Haura rela keluar dari kemewahan dan hidup dengan Syaril. Syaril memang tidak bisa di bilang miskin, tapi daripada hidupnya dulu, tentu saja ini tidak ada apa-apanya. Haura yang awalnya lapar seketika kenyang, wanita itu hanya memesan minuman saja. Bahkan rasanya saat menelan air itu membuat tenggorokannya sakit. Dia juga sudah tidak tahu rasa air yang di minumnua itu masih murni air minumnya atau sudah tercampur dengan air mata. Haura juga bisa mendengar canda tawa mereka dan kata-kata romantis yang keluar dari mulut Syaril. Pria itu bahkan sudah tidak pernah mengeluarkan kata-kata manis padanya hampir 3 tahun. Wanita itu sudah tidak kuat mendengar semua ucapan dua manusia biadab yang memunggunginya. Haura segera berdiri dan berjalan cepat dengan kepala menunduk. Setelah keluar dari mall, Haura melihat ada mobil keluarga dari suaminya. Terlihat sang sopir yang memasukkan berbagai macam belanjaan kedalamnya. Haura sempat melirik saat melewati sopir itu. Untungnya sang sopir tidak tahu karena sibuk dengan belanjaan yang begitu banyak. Di dalam tas tas belanjaan itu terdapat banyak gaun serta heels yang cocok untuk wanita seusianya. Haura jadi yakin jika semua belanjaan itu bukanlah milik mertuanya. Air mata yang hampir mengering kembali luruh. *** Begitu pulang, Haura sudah di hadang oleh ibu mertuanya yang menunggunya tepat di pintu masuk. Mata ibu mertuanya melotot melihat tas belanjaan Haura. Terlihat ada beberapa tas belanjaan dari butik bermerk. "Dasar tidak tahu diri! Sudah tidak bisa memiliki momongan, sekarang kau malah menguras uang putraku!" teriak ibu mertuanya marah. "Tapi aku tidak memakai uang dari anakmu, mah," jawab Haura. "Jika bukan uang daru putraku, darimana kau mendapatkan uang untuk membeli semua barang itu, hah!" cecar wanita baya itu. "Aku tidak pernah belanja apapun dari uang putramu selain makanan yang aku dan dia telan. Semua pakaian dan barang-barang ku, aku beli dengan uang tabunganku sebelum bertemu dengan putramu. Putramu yang kau banggakan itu sedang selingkuh sekarang. Dia menghabiskan uangnya untuk selingkuhan nya bukan untuk istrinya." ucap Haura panjang. Bahkan wanita itu sudah lupa dengan siapa dia berbicara. Emosinya yang tidak stabil dan kemarahan ibu mertuanya membuatnya meledak seketika. "Beraninya kau berkata seperti itu padaku!" hardik ibu mertuanya. "Selingkuh? Putraku berselingkuh?" ulang ibu mertuanya, "tentu saja dia berselingkuh. Apa yang bisa di banggakan dari istri sepertimu. Tidak ada! Sudah mandul, penghambur uang!" murka wanita itu. Disaat Haura dan ibu mertuanya sedang berdebat, Syaril datang dengan wajah bingung. Pria itu melihat ibunya yang sedang emosi dan istrinya dengan wajah memerah, dan mata serta hidung yang merah dan sembab. "Ada apa ini?" tanya Syaril. "Syaril, katakan sejujurnya pada mama. Apa kamu berselingkuh?" todong wanita baya itu. "Apa-apaan mama ini? Mana mungkin aku melakukan seperti itu!" elak Syaril. "Sudahlah mas, katakan saja. Aku tadi duduk di belakangmu dan sudah mendengar semuanya. Kamu juga membelikan banyak barang mewah untuk selingkuhan mu. Aku tadi melihat sopir rumah mama membawa banyak barang bermerek dengan model yang berbeda dengan mama." tuntut Haura. "Jadi kau sudah tahu semua? Baguslah. Iya aku selingkuh! Untuk apa aku bertahan dengan wanita mandul sepertimu," hina Syaril. Lagi-lagi kata seperti itu yang keluar dari kedua manusia di hadapannya. Apa jika wanita mandul adalah dosa dan kesalahannya? Bukankah kita tidak bisa menentukan nasib dan takdir kita sendiri? Haura benar-benar sudah muak. Mungkin dulu, dia akan diam saja dengan semua perlakuan Syaril. Katakan dia bodoh, tapi apa yang bisa dia lakukan saat dirinya begitu jatuh pada suaminya. Keluarganya saja dia tinggal hanya demi Syaril. Tapi sebuah penghianatan dalam hubungan sudah tidak bisa Hauri toleransi. Apapun kelakuan Syaril, Hauri maklumi tapi perselingkuhan. Tidak! Tidak ada kata maaf atas tindakan itu. *** "Putraku sudah pasti mendapatkan wanita yang lebih baik darimu. Lebih baik kau pergi dari rumah ini. Dasar wanita tidak berguna!" usir mertuanya. Mata Haura membulat sempurna. Bukannya mendapatkan pembelaan, dirinya malah diusir oleh mertuanya. Haura sudah tidak tahu lagi harus berkata apa, mertuanya ini memang sesuatu. "Baik. Saya akan pergi dari rumah ini," Hauri menatap kedua manusia yang tidak punya hati itu. "Untukmu mas. Aku harap kamu tidak menyesali semua yang kamu lakukan," peringat Haura. "Tidak akan. Putraku tidak akan menyesal berpisah denganmu." Syaril mengangguk setuju. Setelah itu, Haura segera masuk dan mengambil semua barang-barangnya. Semua barang yang dia beli dengan uangnya, segera dia masukkan ke dalam koper. Semua barang yang Syaril berikan dia tinggal di dalam rumah. Toh, tanpa barang itu Haura juga bisa hidup. Setelah yakin semua barangnya tidak ada yang tertinggal, Haura menarik dua koper besar keluar. Para pelayan yang melihat segera membantu Haura. Pelayan di rumah itu begitu segan dan menyayangi Haura. Bagaimana tidak sayang? Haura memperlakukan mereka layaknya manusia, berbeda dengan nyonya besar yang memperlakukan mereka layaknya alat. "Saya harap nyonya bahagia setelah keluar dari sini," ucap salah satu pelayan. "Tentu saja. Hubungi aku jika kalian ingin keluar dari rumah ini. Aku akan memperkejakan kalian atau mencarikan kalian tuan yang baik." ucap Haura pada para pelayan. Mereka semua mengangguk dengan semangat. Alasan mereka berada disini juga karena nyonya mudanya, setelah Haura pergi alasan apalagi yang membuat mereka bertahan. Saat sudah berada di hadapan kedua manusia biadab itu Haura berhenti sebentar. Calon mantan ibu mertuanya itu melihat Haura dengan sinis. "Jangan sampai kau bawa barang yang di beli dengan uang putraku," hardiknya. "Tenang saja, nyonya. Saya tidak membawa seperpun barang dari putramu." Haura langsung menyeret kopernya keluar tanpa menoleh kearah Syaril. Syaril yang diperlakukan seperti itu hatinya mencelos. Rasanya ada yang hilang, tapi pria itu berusaha tidak perduli dan masuk ke dalam rumah. "Aku bebas!" teriak Haura dengan air mata yang meleleh. *** Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD