Chapter 2 - Persidangan dan kebebasan

1133 Words
Selama masa perceraiannya, Haura tinggal bersama manager lamanya. Awalnya sang manager terkejut dengan kedatangan Haura. Setelah menghilang bak di telan bumi, wanita itu datang dengan koper besar di sampingnya, juga wajah yang sembab. "Kamu yakin tidak ingin pulang?" Haura menggeleng. "Aku tidak akan pulang sebelum semua ini selesai. Aku menganggap ini karma ku karena menentang papa dan mama." jawab Haura. Managernya tidak bisa melakukan apapun. Karena wanita itu tahu seberapa gilanya keluarga Haura mencari keberadaan nya. "Aku yakin, Naren akan bahagia saat kamu kembali." ucap sang manager antusias. Haura tersenyum sendu mendengarnya. Wanita itu tidak yakin jika keluarganya akan membuka pintu selebarnya. "Aku tidak yakin kak. Aku telah kabur hanya demi pria b******n itu." Haura tertunduk lesu. "Jangan pesimis dulu. Aku yakin mereka akan menerimamu kembali. Mereka berpikir kaburnya dirimu, karena mereka terlalu mengekang pergerakanmu." beritahu sang manager. "Semoga saja," harap Haura. *** Persidangan itu selesai setelah satu bulan. Karena banyaknya pengajuan persidangan dan prosesnya, membuat perceraian Haura dan Syaril molor. Haura sendiri yang keluar dari tempat persidangan tersenyum cerah. Bebannya terasa terangkat semua. Mantan ibu mertuanya melitat Haura dengan tatapan sinis. "Jangan senang dulu. Ingat, kamu tidak mendapatkan harta dari anakku. Bagaimana kau bisa menghidupi dirimu sekarang? Orang tua saja tidak punya." cemooh mantan ibu mertuanya. Senyuman Haura langsung hilang mendengar cemooh dari mantan ibu mertuanya. Mereka hanya tidak tahu siapa kekuatan di balik Haura. "Tidak masalah nyonya. Saya pasti akan hidup dengan bahagia setelah ini," setelah berucap seperti itu Haura segera pergi dari hadapan wanita baya itu. Wanita yang baru saja menyandang status janda itu pergi dengan langkah ringan, bahkan tidak repot menoleh ke belakang. Haura segera masuk ke dalam mobil yang di kendarai managernya. "Bagaimana?" tanya Sintia, manager Haura. "Lancar. Lihat .." Haura menunjukkan sertifikat perceraiannya. Sintia yang melihat betapa bahagianya Haura hanya bisa tersenyum. Kini aktris yang sudah dia anggap sebagai adik telah kembali. "Kita rayakan?" tanya Sintia. "Tentu saja!" jawab Haura antusias. Sintia segera melajukan mobilnya menuju apartemen miliknya. Mereka akan bersiap-siap untuk merayakan status baru Haura nanti malam. "Kak, aku belum membeli gaun yang cocok," berutahu Haura. "Kalau begitu kita belanja sepuasnya!" seru Sintia. *** Malamnya mereka bersiap dengan dress diatas lutut dengan gaya off shoulder. Haura menggunakan dress berwarna maroon dan Sintia menggunakan warna hitam. Mereka pergi dengan mengendari Aston Martin. Mereka berhenti di salah satu club malam yang cukup fancy, High Class. High Class hanya menerima para tamu yang sudah memiliki member card dari club itu. Untuk mendapatkan member carp pun tidak mudah. Para calon member harus berasal dari kalangan atas yang memiliki gaji di atas rata-rata atau para sugar baby yang sudah di buatkan akses masuk. Kerahasian di dalamnya pun tidak perlu diragukan. Semua yang terjadi di dalam club tidak akan oernah bocor keluar. Para pegawai di dalamnya pun memiliki gaji yang tidak masuk akal. Banyak orang yang ingin bekerja di dalam sana, tapi sayang. Club malam itu cukup pemilih dalam mencari pekerja. Kedua wanita itu menunjukkan kartu keanggotaan pada petugas dan langsung bisa masuk setelah barcord dalam kartu itu di nyatakan lolos. Suasanya dalam club cukup ramai, dj juga sudah mulai menunjukkan aksinya. Musik berdentum cukup keras, di lantai bawah sudah banyak yang mabuk dan saling mencumbu. Sedangakn di lantai atas banyak para pengusaha yang menyewa para wanita yang sudah di sediakan oleh pihak club. Di lantai 3 terlihat cukup sunyi, karena lantai 3 adalah tempat para VVIP+, mereka tentu saja mengutamakan privasi di atas segalanya. Semua ruangan sudah di lengkapi fasilitas kedap suara, jadi tidak akan ada orang yang tahu apa yang terjadi di dalam. *** Haura dan Sintia lebih memilih di lantai bawah karena mereka ingin menghilangkan penat dan untuk Haura dia ingin menghilangkan beban yang sudah dia pikul selama 5 tahun. "Kau ingin apa malam ini?" tanya Sintia. "Henri Jayer," sebut Haura pada salah satu merk wine. Sintia membentuk tanda 'oke' dengan jarinya. Wanita itu pergi untuk memesan beberapa minuman untuk mereka. Setelah memesan, Sintia segera kembali ke tempat mereka. Mereka menikmati musik sambil duduk. Keduanya melihat orang-orang yang sudah mulai hilang kesadaran. Semakin malam musik dj itu semkain intens dan bukannya pulang semua orang semakin menetap di dalamnya. Red Wine dan White Wine pesanan Haura dan Sintia datang. Setelah menaruh gelas, pelayan di hadapanyya segera membuka tutup botol dan menuangkan pada gelas masing-masing. "Untuk kebebasan Haura," ujar Sintia sambil mengangkat gelasnya. Mereka larut dalam musik dan wine. Bahkan kini Haura sudah mulai tertawa tidak jelas sambil terus menuang wine dalam gelasnya. "Kamu akan kembali menjalani dunia keartisan?" tanya Sintia, Haura mengangguk. Untuk apa lagi dia bersembunyi, sekarang dirinya sudah bebas dan bisa menjadi dirinya sendiri. Sintia yang mabuk sudah hilang dari pandangan Haura. Managernya itu sudah bergabung dengan lautan manusia yang sibuk menggoyangkan diri mereka. Haura sendiri masih asik duduk di mejanya sambil melihat gelas yang berisi wine. Matanya sudah tidak fokus, bahkan beberapa kali dia menggelengkan kepala agar kesadarannya tidak hilang. Setelah menegak alkohol terakhirnya, Haura bangkit dan berjalan tidak tentu arah. Langkah kakinya terseok-seok, wanita itu menyingkirkan semua orang yang menghalangi jalannya. "Minggir! Aku mau pulang!" sentak Haura pada setiap orang. Pria yang sedari tadi melihat Haura kini berdiri dari duduknya, meninggalkan temannya yang berteriak memanggil dirinya. Saat melihat ada pria kurang ajar menghampiri Haura, langkah kakinya semakin cepat bergerak. "Jauhkan tanganmu darinya!" desis pria itu. Tangannya mencengkram lengan pria lainnya dengan kuat. Pria yang ingin melecehkan Haura berteriak tertahan, merasakan lengannya yang sakit. Dengan kesadaran yang minim, Haura melihat pria yang menolongnya. "Wajahmu cukup familiar," ucap Haura sambil melangkah mendekat. Haura dengan berani menaruh lengannya pada leher pria itu, wanita terkikik lucu sambil menatap tepat di matanya. "Kita pergi!" geram pria itu. Dia langsung melepas cekalannya dan menggendong Haura layaknya karung beras. Langkahnya begitu cepat dan terburu-buru. Bahkan dia lupa jika kemari dengan temannya. "Dasar nakal. Bisa-bisanya mabuk sampai seperti ini," geramnya. "Semuanya berputar! Wah! Keren!" Haura terus meracay tidak jelas. Pria yang menggendongnya itu hanya menggelengkan kepala. Pria itu terkejut saat melihat Haura berada di club malam yang biasa dia datangi. Mengambil kunci mobil yang ada di kantong celananya dan segera membuka mobil tersebut. Dengan sedikit kasar pria itu menaruh Haura pada kursi samping kemudi. "Ah, kepalaku!" rintih Haura. "Rasakan itu," balasnya. Dengan segera mobil itu melaju menjauhi club malam, teman pria itu yang tadi mengikutinya terbengong melihat mobil yang menjauh dengan kecepatan penuh itu "Aku di tinggal begitu saja?" bingungnya. *** Tidak sampai 30 menit kini mobil itu masuk ke dalam pelataran mansion yang cukup besar. Pria itu kini menggendong Haura secara bridal. Saat pintu terbuka, semua mata langsung terkejut melihat wanita yang berada di gendongannya. Seakan melihat seseorang yang baru saja bangkit dari kematian. "Sudah pulang, sayang. Siapa yang kamu...." ucapan wanita baya dari lantai dua seketika terhenti. "Bawa ke kamar," ucapnya Langkah yang awalnya akan turun kini kembali naik ke atas. Haura yang terusik karena mendengar suara membuka matanya, "kakak?," *** Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD