Keputusan Khai

1209 Words
“Bisa nggak sih kalian berdua nggak usah pamer-pamer kemesraan? Heran gue sama kalian dua tiap ketemu selalu aja langsung nempel kaya prangko, jijik tahu nggak!” dumel Kartika menenggak minuman beralkohol rendah. “Sirik aja lu jomblo, mending lu cari aja om-om di bawah sana, kali aja ada yang nyangkut satu, lumayan jadi istri kedua modal ngangkang.” “Dih doa lu untuk sahabat segitunya, lu tega gue jadi istri kedua? Ogah gue mah, lu aja sono kalau mau,” sentak Kartika membanting sloki miliknya dengan nada ketus. “Gue bercanda kali Kar, tumben banget masuk hati. Emang muat?” Khai menoleh sekilas ke arah Regian yang seolah tidak ingin mengambil pusing dengan pertengkaran dua sahabat tersebut. “Kar Seriously lu tersinggung? Gue minta maaf, gue nggak maksud apa-apa jangan marah dong, gue maksud sumpah.” “Nggak salah lu juga Khai, gue aja yang lebay nanggapin bercandaan lu, mungkin ini karena periode gue yang nggak teratur.” “Yah udah kalau gitu kita lanjut minum aja, biar balikin mood baik mood lu sebagai permintaan maaf gue,” tukas Khai menuangkan kembali minumannya untuk Kartika. Khai mengangkat tinggi gelas sampanyenya yang diikuti Kartika juga Regian. Ketiganya kembali melanjtkan kegembiraan mereka dengan saling melempaar candaan, namun kali ini Khai lebih mempertimbangkan mood Kartika yang sedang buruk. “Lagi bahas apaan kayanya seru banget? Gue gabung di sini yah.” Itu suara Agas. Pria belasteran timur tengah Indonesia itu mengambil posisi di sebelah Kartika dan menarik cepat gelas yang hendak mendarat dibibir merah perempuan itu. “Apaan sih Gas? Ganggu aja tahu nggak.” “Pelit banget sih lu, udah berapa sloki malam ini? Tepar kaya waktu itu gue buang ke rawa-rawa.” Kartika menoleh cepat ke arah sahabatnya satu itu seolah minta penjelasan, selain itu ingatan Khai kembali berputar pada sosok Alfasya entah mengapa. “Kalian sedekat itu?” Tanya Regian menuangkan sampanye ke dalam sloki milik Agas. “Tidak juga, tapi setiap perempuan itu mabuk selalu menyusahkan ku.” “Dih mana ada? Sekali itu doang.” Sela Kartika tak terima. Kali ini Khai lah yang dibuat bingung dengan hubungan Agas dan Kartika dibelakangnya. “Maaf mbak, mas ini pesanannya.” Baik Khai, Regian maupun Kartika menyadari perubahan raut wajah Agas yang tiba-tiba terdiam melihat waitress yang yang mengantarkan pesanan mereka. “Iya mbak, terima kasih yah.” Dengan cepat Khai menerima pesanan tersebut dan membiarkan pelayan wanita itu pergi begitu saja. “Lu kenal sama tuh perempuan Gas? Gas woi kenapa bengong?” “Hah? Kalian nanya apa?” “Tuh cewe lu kenal?” ulang Kartika. “Owh yah, hanya kenalan itu saja. Kalian lanjut minum gue mau ke toilet bentar.” “Lama juga nggak masalah.” Kartika menyahut. Baik Kartika maupun Khai sama-sama tidak mengerti dengan sikap Agas, tak biasnaya Agas mendiamkan ocehan mereka berdua, biasanya Agas akan selalu menimpali ucapan-ucapan mereka berdua. “Kesambet apa sih tu cowo?” Tanya Kartika yang hanya dibalas gelengan dari Khai. “Owh iya gue sampai lupa, jadi gimana tadi? Papi nggak mempertahanin untuk lu tetap menerima perjodohan itu?” setelah berdehem pelan, Khai menoleh sejenak ke arah Regian. “Nggak, papi cuma bilang akan segera memproses pembatalan warisan itu.” “Terus lu okay?” “Yah mau nggak mau, gue nggak semisikin itu hanya demi warisan gue harus kehilangan Regian.” Lagi-lagi Khai memeluk kekasihnya yang lagi-lagi dihadiahi kecupan yang sedikit basah dari kekasihnya. “Udah kali woii mata suci gue ternista dengan tingkah kalian dua.” “hehe sori.” “Apa gue melamar jadi anak papi aja yah biar hak waris lu bisa pindah tangan ke gue? Dari pada untuk lu, gue yakin banget rekening lu udah nggak berseri lagi, mending buat gue aja lumayan rezeki anak yatim.” “Dengan senang hati, tapi lu juga harus siap dengan segala aturan papi.” Kekeh Khai mengingat tabiaat papinya. “Nggak jadi deh, gue nggak sanggup jadi anak baik-baik.” Baik Khai maupun Regian sama-sama tertawa melihat tingkah Kartika barusan. Ditempat berbeda, Agas tenga berdiri di samping bar memperhatikan seseorang wanita yang tenga melayani para tamu. Dan entah keberapa kalinya, Agas mengingatakn dirinya untuk gegabah mematahkan tangan pria-pria botak yang berani-beraninya menyolek tubuh perempuan mungil yang memiliki tempat khusus di hatinya, meski bukan perasaan cinta, namun ia sangat menyayangi perempuan itu layaknya adik sendiri. “Apaan Gas lu nelpon gue jam segini?” dari suara seraknya, Agas tahu kalau ia tenga mengganggu jam tidur sahabat lamanya. “Perempuan itu udah balik ke Indonesia, lu udah tahu?” “Maksudnya? Lu bicarain apaan sih? Siapa yang balik ke Indonesia?” “Reva, gue lihat dia bekerja di sebuah bar.” *** Entah kemana perginya rasa kantuk Alfasya yang sedari tadi ia rasakan. Informasi yang diberikan Agas barusan padanya membuat seluru nyawanya terkumpul, dan buru-buru ia melajukan mobilnya menuju kediaman orang tua Reva, karena Agas mengatakan ia akan mengiringi perempuan itu dari belakang. “Al? kamu ngapain berdiri di situ? Sejak kapan kamu di sini?” belum sempat menjawab keterkejutan Reva akan kehadiran dirinya, mata mereka dibuat silau oleh pencahayaan yang datang dari mobil milik Agas, yang membuat Reva hanya bisa menghela napas dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Masuk lah dulu aku harus bersih-bersih,” ujar Reva tanpa menoleh pada kedua sahabatnya. Yah setelah perkenalan singkatnya dengan Alfasya secara tidak langsung membuat ia juga dekat dengan Agas, meski pada akhirnya ia memilih bersama Alfasya, namun hal itu tidak merubah kedekatana ketiganya. Dengan mengenakan sweter abu kedodoran, celana kain selutut serta rambut yang masih dilit handuk, Reva menyuguhkan secangkir kopi untuk Alfasya, segelas the untuk Agas serta air putih hangat untuk dirinya. “Sejak kapan? Sejak kapan kamu bekerja di sana Va?” Al bertanya dengan tidak sabaran, berbeda dengan Agas yang menyugar rambut hitam legamnya. “Itu hanya kerjaan sampingan,” balas Reva melepas handuknya menyisir rambutnya menggunakan jemarinya, ia tidak bertenaga untuk menyisir rambutnya. “Tapi kenapa harus di situ? Terus kenapa kamu tidak memberi tahu aku kalau kamu di sini?” Tanya Agas menahan murka, iangatannya pada tangan sialan yang dengan kurang ajarnya sudah menyentuh tubuh perempuan yang ia anggap adik kandungnya sendiri. “Aku minta maaf. Aku tidak mau merepotkan kalian berdua.” “Reva!” keduanya serentak meneriaki pemikiran konyolnya. “Aku hanya mantan anak konglomerat, yang kaya itu papa bukan aku, bagaimana pun semua ini bakal habis, aku berpikir mencari pekerjaan lainnya.” Reva berucap seloah semuanya baik-baik saja. “Masih ada kita Va, kau tahu aku hampir mematahkan laki-laki kurang ajar yang berani-bernainya menyentuh kau!” Reva hanya menundukkan kepalanya ia malu sekaligus sedih dan bercampur lega, masih ada yang peduli padanya. “Di sini aku yang udah berdosa meninggalkan kalian dan menyombongkan diriku yang akan sukses merantau ke Negara rang, tapi lihat lah saat ini, aku bahkan harus merendahkan diri di depan pria, pria itu.” Baik Agas maupun Alfasya sama-sama terdiam, saat ini bukan saatnya memberi bantuan finansial karena yang diperlukan Reva adalah dukungan moril. “Aku minta maaf.” Baik Agas maupun Alfasaya sama-sama memeluk Reva dengan perasaan berbeda, Alfasya menyesali ucapannya saat itu, tidak seharusnya ia meninggalkan Reva dalam keadaan seperti itu. “Setidaknya biarkan aku dan Al yang membiayai kebutuhan kamu sampai kamu bisa mandiri secara finansial,” pungkas Agas tak ingin dibantah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD