peringatan papi

1546 Words
“Khai ada yang nyariin lu.” Pandangan Khai teralihkan pada sosok Kartika yang berjalan ke arah meja kerjanya dengan sedikit ngos-ngosan. “Ternyata seperti ini ruangan seorang GM yang menjadi perbincangan hangat, tidak terlalu buruk.” Khai menatap lurus pada sahabatnya sebelum akhirnya sama-sama menoleh pada sosok pria dewasa yang sedang berjalan ke arah mereka. “Maksud gue itu papi lo yang datang tadi gue lihat beliau di bawah, kalau gitu gue keluar dulu mari pi, eh mari pak,” pamit Kartika sedikit kikuk. Setelah memastikan sahabatnya keluar, dengan berusaha tetap tenang Khai memilih duduk di salah satu sudut sofa yang ada di ruangannya. “Ada apa dengan wajah kamu menatap papi seperti itu? Tidak senang papi datang berkunjung?” Khairunnisa menarik napas panjang sebelum menampakkan gigi gerahammnya, tersenyum penuh paksaan. “Apa yang membuat bapak Pram terhormat, repot-repot mengunjungi saya? Seingat saya, saya tidak memiliki janji dengan anda, saya minta maaf sekali pada anda, tapi saat ini saya sedang memiliki pekerjaan yang sedang saya kerjakan, jadi kalau tidak ada yang ingin anda sampaikan saya izin kembali bekerja.” Khai mengabaikan raut cemooh dari papinya, karena bagaimana pun kesibukan yang ia sombongkan masih tidak akan bisa disandingkan dengan sepak terjang pria yang dari dulu sangat ia cintai itu. Tapi untuk kali ini ia tidak memperdulikan hal itu. Berbeda dengan Pramantyo, laki-laki dewasa itu tidak tahu cara mendsekripsikan perasaannya seperti apa, putrinya yang dulu merengek manja ketika dirinya lupa membawakan mainan ketika pulang kerja, atau ketika ia dengan terpaksa meninggalkan keluarga kecilnya untuk bekerja di hari libur. Tapi sekarang, perempuan cerewet yang menggemaskan berubah sedewasa ini. Pram benar-benar tidak menyangka manusia mininya kini sudah bertumbuh secantik dan secerdas ini. Tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bernostalgia masa lalu, dengan mempertahankan raut menjengjkelkan andalanya, Pram menyerahkan bundelan berkas ke arah putrinya. “Ini apa?” Tanya khai penasaran menerima berkas tersebut. “Itu surat persetujuan kamu akan melepas hak waris atas perusahaan.” Khai terdiam sejenak tidak percaya dengan apa yang ia barusan dengar. “Maksud papi apa? Kenapa tiba-tiba?” Khai tidak terima, itu adalah haknya. “Kamu bisa baca seluruhnya terlebih dahulu dan segera kirim ke kantor agar di urus oleh notaris papi.” Lagi-lagi Khai hanya menghenla napas dan mulai membaca surat tersebut. Kalau tidak karena gengsinya Khai ingin menangis saat ini juga. Papinya benar-benar keterlaluan, bagaimana bisa papinya menukar kebahagiaan putrinya dengan saham-saham sialan ini. “Jadi papi mau aku memilih antara perjodohan sialan itu atau saham yang udah menjadi milik aku gitu?” Khai sudah mengabaikan rasa sopan santunnya. “Papi rasa tidak perlu menjawab apa yang sudah tertera dengan jelas dalam kontrak, kau pasti sudah sangat paham dengan otak cerdas mu itu.” Bukan hal yang mudah untuk Khai bisa menentukan jawabannya, bagaimana bisa papinya setega ini padanya, meski Khai sudah memperkirakan hal ini seperti yang papinya lakukan dulu ketika masnya memilih menjadi abdi Negara, meski kini hak waris itu dipindah tangan kan atas nama cucunya, tapi bagaimanapun Khai tidak benar-benar siap akan hari ini. “Bagaimana? Kamu sudah memiliki jawabannya? Papi berharap kamu bisa memilih dengan kepala dingin.” Khai tidak menjawab apapun, ia tidak tahu harus merespon apa pada papinya. “Papi beri waktu satu minggu untuk memutuskan apakah kamu akan menerima perjodohan itu atau melepas hak kamu di perusahaan.” Setelah kepergian papinya. Khai melampiaskan kekesalannya pada berkas yang baru saja ia pelajari naasnya berkas itu sudah tidak berbentuk. Papinya benar-benar egois yang hanya mementingkan keinginannya sendiri. “Ri, aku akan keluar sebentar, tolong setelah aku kembali berkas dari PT Niaga group sudah ada di meja ku kembali. *** “Gila! Serius papi bakalan ngeluarin lu dari KK?” refleks Kartika menutup mulutnya, setelah mendengar cerita dari Khai barusan. “Terus keputusan lu apa?” “Nggak tahu.” Khai menjeda ucapannya menenggak habis minumannya. “Kalau jadi lu gue, lu bakalan memilih apa?” Khai benar-benar ditahap frustasi, ia tidak bisa melepas haknya tapi, di satu sisi ia juga tidak bisa meninggalkan Regian. “Jujur ini pilihan yang sulit sih, papi kok tega banget sama lu?” “Mana gue tahu? Kalau tahu gini mending gue ikut mami aja mati.” “Jangan ngaco, kita cari jalan keluar nya dulu, minimal lu coba bicara baik-baik dulu sama papi.” “Papi nggak sebaik lu pikir Kar, dulu waktu mas Raja mutusin untuk masuk dunia militer papi ngajuin pemutusan surat hak waris, dan itu benar-benar papi lakuin, meskipun setelah menikah papi mengembalikan penuh atas nama cucunya.” “Yah udah kalau gitu lu buat anak aja, siapa tahu papi bakalan luluh dan batalin perjodohan lu.” “Gila lu? Bisa jadi perkedel gue, bukannya dinikahin yang ada Regian mati di tangan papi berani-berani hamilin gue duluan.” “Iya sih, kadang gue mikir papi tuh nyeremin kalau udah marah. Atau lu coba aja kenalan dulu sama tuh cowo.” “Kar, mending lu diam deh dari pada ngasih saran yang nggak mungkin mau gue lakukan.” Merasa serba salah Kartika memilih diam dan menenggak minuman yang ada dihadapannya. *** Alfasya menganggukkan kepalanya ketika melihat Tasya mengode untuk dirinya menunggu sebentar karena saat ini sepupunya itu tampak berbicara dengan beberapa SPG yang sedang bertugas. Alfasya memilih duduk di salah satu sofa yang disediakan pihak mall untuk para pengunjung. “Mas? Tumben mampir? Ada apa? Kita bicara di ruangan ruangan staf saja tidak masalah kan?” “Hmm tidak masalah, di manapun asal tidak di kamar mandi saja.” “Yah enggak lah, bentar aku pesan minuman dulu yah dari tadi ngomong mulu kering tenggorokan aku.” “Aku udah bawa dek, nih buat kamu.” “Tumben banget mas, ada apa sih?” Al tidak merespon apapun ia akan membicarakan di dalam saja. “Jadinya mau bicara apa?” Dengan ketekunannya Tasya kembali menanyakan alasan sepupunya itu datang ke tempat kerjanya. “Mau minta tolong temani cari barang yang cocok sebagai hadiah perpisahan.” Tasya mengerutkan dahinya sejenak. “Hadiah untuk cewe atau cowo mas?” “Cewe, beliau rekan sesama dosen, kebetulan beliau akan pindah mengajar di kampung halamannya, kira-kira aku kasih apa de?” “Tas? Jam tangan? Tergantung budget kamu mas.” “Bebas, yang penting menurut kamu bagus.” “Oke aku bantu cari, untuk kapan mas?” “Hari ini, bagaimana? bisa?” “Hari ini? Bisa sih, tapi apa sepenting itu?” “Yah dek, beliau berangkat lusa, hari ini perpisahan kecil-kecilan jadinya mau aku kasih hari ini juga.” “Yah udah kalau gitu, kita ceri sekarang saja.” Alfasya mengangguk pelan mengikuti kemanapun sang adik berjalan. “Jadinya mau berapa budget mas? Biar bisa aku perkirakan.” “Tas ini bagus, harganya 10 juta bagaimana?” “Boleh.” “Kamu serius mas? Mana ada hadiah perpisahan ngasih kado semahal itu.” “Kenapa tidak?” “Mas, kamu jujur deh sama aku, perempuan itu tidak hanya rekan dosen kan? Pasti lebih dari sekedar rekan.” “Kenapa kamu nanya gitu? Lagi pula apa salahnya memberikan barang yang bagus sesama rekan kerja? Lagi pula 10 juta tidak terlalu besar buat ku.” “Aku perempuan mas, jadi tahu betul apa yang dibayangan rekan kamu itu bila diberikan barang mewah seperti ini, jadi mending kamu jujur sama aku, dia pacar kamu mas?” Terlihat Alfasya menghela napas pelan. “Enggak dek, duh gimana aku jelasinnya.” “Yang singkat aja, dia siapa buat kamu, biar aku bisa bantuin kasih kado dengan tepat.” “Hanya rekan dek, oke, aku cerita tapi dengarin sampai selesai. Jadi awalnya aku benar-benar tidak pernah memperdulikan perempuan manapun yang ada dilingkungan kampus, aku tahu dia suka sama aku, tapi sayangnya aku tidak. Hanya sekedar melihat cara dia menatap aku, aku sudah tahu kalau dia menyukai ku selain itu dia selalu membantu dan memberikan perhatian kecil mulai dari makanan hingga printilan kecil sekali pun, tapi aku benar-benar mengabaikannya.” Alfasya menjeda ucapannya melihat sekilas respon Tasya yang menuruti dirinya untuk tidak menyela ucapannya. “Sampai akhirnya dia pamit pindah ke kampus lain, selain karena alasn orang tuanya aku merasa dia kurang nyaman berada di sekitar aku, aku sedikit merasa bersalah. Karena itu aku berniat memberikan dia sekedar hadiah perpisahan, dan rasa bersalahku itu saja.” Setelah menyudahi penjelasannya tidak ada tanda-tanda kalau sang adik akan menimpali ucapannya. “Dek, kok kamu diam? Mau apa enggak bantuin aku? Aku nggak punya banyak waktu, satu jam lagi masih ada kelas.” “Oke oke aku bantu carikan, meskipun aku tidak percaya seratus persen kalau mas tidak tertarik dengannya, tidak usah dibantah karena aku hanya melihat tatapan kamu ketika membicarakan perempuan itu. Kalau gitu lebih baik kamu kasih jam tangan ini, selain harganya tidak terlalu mahal masih terbilang cocok untuk hadiah.” Setelah melihat jam tangan tersebut, Alfasya mengangguk pelan ia tidak meragukan selera adiknya satu itu dalam menilai suatu barang. “Bayar gih, aku mau lanjut kerja bisa sendiri kan?” “Iya bisa, udah sana lanjut kerja setelah ini aku mau langsung ke kampus terimakasih yah dek.” Sembari menunggu proses pembayaran, Alfasya mendengar percakapan layaknya pasangan kekasih yang ada di sebelahnya, ketika tanpa sengaja matanya melihat wajah si pria, Al seperti pernah melihat pria itu beberapa kali, namun ia tidak memiliki referensi nama apapun, hingga lamunannya terintrupsi ketika namanya dipanggil untuk melanjutkan transaksi pembayaran jam tangannya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD