keputusan damai

1536 Words
Alfasya menyudahi bimbingannya dengan beberapa mahasiswa disalah satu taman bunga yang disediakan pihak kampus untuk para mahasiswa dapat gunakan sebaik mungkin. Untuk pertama kalinya laki-laki 28 tahun itu melaksanakan bimbingan di sana. Selain karena terjadi korsleting listrik Al ingin mencoba suasana baru yang lebih fresh. “Untuk Bab 2 tinggal sedikit revisi, kamu cukup memperbaiki yang sudah saya tandai, untuk minggu depan bisa lanjut bimbingan bab 3,”pungkas Alfasya menutup bundelan bertuliskan proposal skripsi milik mahasiswinya. “Terimakasih banyak yah pak. Kebetulan saya baru datang dari kampung, ada sedikit oleh-oleh dari ibu, pak.” Dengan segaris senyum dibibirnya, Alfasya menerima oleh-oleh tersebut. “Untuk yang sekali ini akan saya terima dengan senang hati, tapi untuk bimbingan selanjutnya kamu tidak usah repot-repot memberikan apapun, sampaikan pada teman-teman mu juga.” Setelah menegaskan hal tersebut, Alfasya melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. “Ternyata benar pak Al di sini, saya pikir mahasiswa lain bercanda mengatakan bapak di sini.” Pandangan Alfasya teralihkan pada sumber suara. “Saya boleh duduk di sini pak?” “Oh, iya silahkan bu Nia.” Seolah tidak perduli dengan kehadiran bu Nia di sampingnya, Alfasya tetap melanjutkan pekerjaanya, terlebih proyek yang diberikan papanya yang sudah tenggat beberapa hari lagi. “Minggu ini hari terakhir saya mengajar di kampus ini.” Mendengar ucapan tersebut, Alfasya tidak bisa tidak menghentikan pekerjaanya dan menoleh ke sampingnya memastikan ucapan perempuan itu. “Kenapa? Maksud saya bukannya ibu sudah hampir 5 tahun bekerja di sini kenapa berhenti?” Alfasya mengabaikan senyum manis perempuan di hadapannya ini, ia benar-benar terkejut mendengar pernyataan bu Nia barusan. “Sebenarnya sejak 2 tahun yang lalu ibu saya minta pindah mengajar di kepulauan Riau saja, namun saya masih memiliki mimpi di sini, tapi akhir-akhir ini saya mulai menghapus mimpi itu dan bulan lalu setelah saya menyelesaikan tugas saya di sini saya mengajukan resign.” Alfasya sepertinya paham kemana arah tujuan perempuan itu. “Tapi bu Nia, ibu tidak perlu sejauh ini. Karier ibu di sini dibilang baik akan sangat sayang sekali kalau ibu pergi hanya karena satu dan dua hal saja, terlebih kalau hal itu masih bisa dicari solusi.” Alfasya tidak sedang kegeeran saat ini, tapi ia meyakini kalau kepergian bu Nia salah satunya karena dirinya. “Bapak benar, tapi ibu saya sudah mendesak untuk pulang, terlebih saya hanya tinggal memiliki ibu. Jadi saya tidak punya alasan lagi untuk menetap di kota ini.” Alfasya mendesah pelan menganggukkan kepalanya menerima keputusan perempuan itu. Ditengah keheningan keduanya, Alfasya membalas pesan dari Khai yang sedang berjalan ke tempatnya. “Al!” mendengar namanya di panggil Alfasya melambaikan tangannya pada sosok Khai yang sedang berjalan ke arahnya setelah memarkirkan mobilnya di sembarang tempat. “Kalau gitu saya jalan duluan yah pak, maaf kalau saya banyak merepotkan bapak dua tahun ini.” Sebelum perempuan itu benar-benar pergi, untuk pertama kalinya Alfasya mengulurkan tangannya pada perempuan yang terlihat semakin manis ketika tersenyum. “Saya tidak pernah merasa direpotkan oleh bu Nia, saya akui ibu partner kerja yang menyenangkan. Saya berharap suatu saat kita bisa bertemu lagi.” Alfasya tidak berbohong dengan ucapannya kali ini. “Saya pamit.” “Maaf banget mengganggu acra mellow bapak, tapi apa saya bisa mendapatkan lipstick saya?” suasana hati Alfasya mendadak berubah melihat raut kesal dari perempuan di sampingnya kini, pasalanya dengan seenaknya ia merubah janji mereka dengan mengatakan ia hanya ada waktu hingga jam 1 siang dan ia tidak di kampus kalau diatas jam 1. “Sayang sekali saya kelupaan membawa lipsticknya, jadi kita harus menjemputnya terlebih dahulu.” “Maksudnya? Jangan bilang kalau sebenarnya lipstick itu tidak ada dan anda hanya mengerjai saya saja?” “Jangan terlalu berspekulasi sendiri nona, untuk apa saya membohongi kamu? Terserah kalau tidak ingin kembali memiliki lipstick itu, saya masih memiliki kerjaan lainnya.” “Lho yah tidak bisa gitu, baiklah kalau gitu kita ke manapun anda bilang yang penting saya mendapatkan kembali lipstick itu.” “Baiklah kalu begitu,” ujar Alfasya berjalan ke arah mobil Khai yang sedang terparkir. “Kenapa anda berjalan ke arah mobil saya? Kenapa tidak menaiki kendaraan anda saja?” “Mobil saya masuk bengkel, karena tujuan kita sama kamu bisa sekalian mengantarkan saya pulang.” “Dasar menyusahkan saja,” sentak Khai menghentakkan kakinya. “Cepatlah!” *** “Mohon maaf pak Al yang terhormat, setidaknya anda tidak berisik dengan mengerjakan apapun di mobil saya, anda kira saya supir anda?” Bukannya berhenti Alfasya tetap melanjutkan pekerjaannya tanpa memperdulikan kejengkelan Khai di sebalahnya, hingga lima menit berlalu, barulah Alfasya menyimpan segala pekerjaannya ke dalam tas miliknya. “Di depan ada perempatan, belok kanan setelah lima ratus meter belok kiri.” Mendengar itu Khai sejenak menoleh ke samping sebelum akhirnya mengikuti apa yang diucapkan oleh Alfasya. “Itu Apartemennya.” Tunjuk Al menggunakan dagunya. Sepereti pengemudi handal, Khai sedikit menunjukkan bakatnya dalam memarkirkan mobilnya di tempat sempit yang sangat sulit dikuasai oleh perempuan kebanyakan. “Huh, lumayan juga, tunggu lah di sini biar aku ambil ke atas.” Khai semakin kesal tidak tau terima kasih, laki-laki itu keluar begitu saja dari mobilnya. “Sebaiknya saya ikut ke atas, saya baru saja di tipu dengan mengantarkan anda ke sini, siapa tahu ini hanya modus untuk mencari tumpangan gratis.” “Baik lah terserah kau saja.” “Tungguin!” dengan sedikit kesulitan, Khai mengejar langkah Alfasya yang lebih panjang darinya, belum lagi hak sepatunya yang lumayan tinggi membuat langkahnya semakin sulit menyamai laki-laki itu. Setibanya di depan lift, mereka harus menunggu cukup lama, karena terhenti di lantai tiga, sepertinya ada yang pindahan di sana, sementara itu, Alfasya tampak santai dengan memainkan ponselnya. Khai terkesekiap pelan ketika merasakan jemarinya di genggam Alfasaya dan menariknya ke dalam lift, hingga beberapa menit kemudian laki-laki itu melepaskan genggaman mereka. “Tidak sopan, pegang-pegang tangan anak gadis orang sembarangan.” Al tersenyum simpul dan enggan membalas, ia lebih memilih meladeni lawan bicaranya di telpon. “Mereka makhluk dari mana? Seperti kingkong.” Komentar Khai ketika lift mereka berhenti dan melihat segerombolan penghuni apartemen ini memasuki lift. Al yang masih bertelpon ria hanya bisa merentangkan tangannya seolah sedang melindungi Khai dari desakan pria-pria yang ada dihadapan mereka. “Kau masih bisa bernapas?” Khai mendongak, mengangguk sebentar dan kembali menatap mata lentik pria itu yang sedang melindungi dirinya dari desakan pria-pria besar yang entah datang dari mana, dan sialnya posisi mereka seperti dirinya dalam kungkungan pria itu. “Pak! Posisi anda.” “Tunggu lah sebentar, satu lantai lagi kita akan sampai.” Ditengah kebingungannya, Khai hanya mengangguk pelan. Posisi mereka benar-benar membuatnya sedikit kesulitan bergerak. Tak sampai lima menit akhirnya mereka telah sampai di lantai unit Al tinggali. “Masuk lah dulu, biar saya carikan lipsticknya.” Ditengah ketakutannya Khai melangkah pelan, ini kedua kalinya menginjakkan kakinya di kediaman pria itu, eh atau ini pertamanya? Karena pagi itu adalah sebuah rumah mewah, dan kali ini apartemen sangat sederhana, akh yah sudah Khai tidak tahu mana yang benar. “Ini lipstick milik mu bukan? Untung saja tidak jadi kubuang.” “Yah benar, ini milik ku, terima kasih kalau gitu aku permisi dulu.” “Khai.” “Yah?” “Aku harap ini adalah pertemuan terakhir kita, senang bisa mengenal mu, dan aku sarankan untuk tidak minum hingga mabuk-mabukan, juga jangan sembarangan memasuki taksi, dan … ” Khai tidak mengerti dengan senyuman pria itu. “Itu saja.” “Baiklah, sekali lagi terima kasih untuk tidak membuangnya, juga malam itu.” “Lagi-lagi kau membuat jantungku berdegub.” *** Alfasya membantu mengepak barang-barang yang mereka beli tadi sore untuk persiapan S2 Reva, selain itu Al juga membantu menyiapkan berkas yang perempuan itu butuhkan. “Ini udah semua, untuk buku-buku yang kamu butuhkan lainnya bisa aku kirimkan jadi tidak usah mengeluarkan dana lagi untuk buku.” “Iya Al terima kasih.” “Kalau gitu aku pulang dulu.” “Tidak mau makan malam sekalian Al? aku sudah masak sebelum kamu ke sini tadi, biar aku panaskan sebentar, jam makan malam sebentar lagi.” “Kau saja, aku bisa makan malam di luar.” “Tapi Al.” “Reva, untuk permintaan kamu beberapa minggu lalu, aku minta maaf kita tidak bisa kembali bersama, aku sudah memutuskan menerima perjodohan yang dilakukan oleh orang tua ku, jadi kau tidak perlu repot-repot melakukan apapun untuk diriku.” “Al?” “Tidak usah bersedih, aku sudah memikirkan ini jauh sebelum kau meminta kembali, aku juga memikirkan keinginan kamu, tapi aku tidak bisa rasa itu sudah berakhir dan kisah kita sudah usai ketika kamu meninggalkan aku.” Al menggeleng pelan ketika melihat raut kesedihan perempuan dihadapannya. “Aku mohon tidak menangis, aku sudah tidak bisa menghapus air mata mu, berjanjilah kau akan hidup bahagia tanpa diriku, dan aku akan tetap menepati janjiku untuk membantu proses S2 mu.” Alfasaya menjeda ucapannya, menarik napas sejenak, “aku tetap berdoa untuk kebahagianmu, aku pulang.” Yah itulah keputusan Alfasya ia akan menata hidup baru dengan sesuatu yang baru pula. “Al sebentar.” Alfasya terkesiap ketika perempuan yang dulu ia cintai spenuh hati dan penuh perjuangan itu memeluknya dari belakang. Namun hal itu tak berselang lama, tanpa berbalik ke belakang, Al melepaskan pelukan itu dan melangkah tanpa berbalik sedetikpun, tidak ada jaminan Alfasya dengan mudah melepas Reva bila ia berbalik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD