“Langsung pulang Al?” tanya Rayyan dengan peluh yang membanjiri punggung bernomor 7 tersebut.
Rayyan adalah rekan dosen Al di kampus, sekaligus teman SMAnya dulu.
“Yah, Tasya dalam perjalanan ke apartemen.”
“Tasya itu sepupu kamu yang bawel itu kan?” dengan segaris senyum dibibirnya Al menganggukkan kepalanya. Ia dan Tasya satu sekolah dulu, namun ketika ia kelas 3 SMA sang adik baru masuk. Saat itu Tasya sering sekali memarahi teman-temannya yang sering mengajak dirinya untuk nakal seperti anak SMA pada umumnya.
“Eh gue jadi penasaran, makin cantik pasti tuh anak sekarang, secara dari dulu uda Nampak bibit-bibit unggulnya, tapi ketutup dengan bawelnya yang nyebelin.”
Kali ini Al tidak menggubris pertanyaan Rayyan. Ia tidak terlalu suka membicakarakan sang adik dari segi fisik secara berlebih, terlebih membahasnya pada sesama laki-laki.
“Aku pulang dulu.”
“Hati-hati Al, sampaikan salam ku untuk Tasya.” Al hanya mengacuhkan jempol sebagai jawaban, karena kali ini fokusnya membalas pesan dari sang adik yang mengatakan dalam perjalanan menuju apartemennya.
Saat hendak mengemudikan mobilnya keluar area parkir, ponselnya Kembali berdering.
“Al tolong aku, perut ku sakit sekali.”
“Kau sekarang di mana? Apa tidak ada orang lain di sana?” tanya Al terdengar panik Ketika mendengar rintih kesakitan dari Reva.
“Aku di rumah sendirian. Al, tolong aku, akh perut ku sakit sekali.” Pandangan Al teralihkan pada spion yang ada di depannya memperhatikan area dibelakangnya.
“Aku dalam perjalanan ke sana, tunggu lah sebentar. Jangan tutup panggilannya,” seolah tidak memerlukan rem lagi, Al bergegas menuju kediaman orang tua Reva yang dulu kerap kali Al datangi.
Seolah sudah hapal dengan seluk beluk rumah itu, Al bergegas menuju kamar Reva dan benar saja, perempuan itu tengah meringkuk kesakitan.
“Al,” adu perempuan itu dengan wajah yang sudah terlihat pucat, bahkan perempuan itu jauh lebih kurus dari terakhir kali ia lihat.
Praktis, Al membopong perempuan ringkih itu ke atas ranjang membaringkan di sana dan melakukan pengecekan suhu seadanya.
“Kau kenapa Rev?” ditengah sakitnya Al hanya melihat mantannya menggeleng kesakitan.
“Di mana kotak obatnya?” sepertinya Al bisa menebak apa yang sedang perempuan itu alami.
Al hanya bisa menggaruk kepalanya, Ketika lagi-lagi perempuan itu menggeleng. Setelah menghela napas pelan, Al Kembali naik ke atas ranjang, dan membawa Reva kedalam dekapannya sebelum akhirnya membawa perempuan itu keluar.
“Kita mencari klinik terdekat,” pungkas Alfasya.
***
Dari balik tirai pembatas, Khai hanya bisa memandangi sosok Al yang terlihat khawatir. Wajah datar di pagi hari yang pria itu perlihatkan padanya seolah tidak pernah ada, bahkan saat ini Khai merasakan raut ketulusan yang terpancar dari laki-laki itu.
“Mbak Khai.”
“Yah Marin?” perempuan itu salah satu perawat magang yang sedang kedapatan shift malam.
“Bisa minta tolong berikan ini pada pak Regian? tiba-tiba perut saya mules sekali.”
“Baiklah, kamu ke toilet saja.”
“Terima kasih mbak, titip yah, tadi beliau meminta ini pada saya.” Setelah kepergian perempuan berusia 20 an itu, Khai merutuki mulutnya, bagaimana caranya ia ke sana? Tanpa menimbulkan kecurigaan dari Alfasya.
“Permisi, saya membawakan ini pak,” ujar Khai menatap lurus ke arah kekasihnya.
“Kok kamu yang bawa? Marin ke mana?”
“Marin sakit perut, nggak papa kan?”
“Makasih yah. Tunggu sebentar yah pak, saya resepin obatnya, nanti bisa bapak tebus setelah ibu Reva sadar dan kuat untuk berjalan, sementara itu bapak bisa menunggu di ruang tunggu saja.”
“Terima kasih dok.”
Khai mengikuti Langkah kekasihnya untuk meninggalkan Alfasya dan pasien, ia tidak tahu harus mengatakan apa bila laki-laki itu melihatnya, meski sudah 6 bulan berlalu, namun kejadian itu masih sulit Khai lupakan.
***
Kembali pada Alfasaya, laki-laki itu hanya terdiam memandangi mantan kekasihnya yang tengah terlelap dengan bekas-bekas tangis yang entah berapa lama perempuan itu menahan rasa sakit. Tak banyak perubahan dalam waktu 6 tahun berlalu, perempuan itu makin dewasa dan semakin cantik, Al tidak ragu mengakui itu. Namun hatinyalah yang mungkin sudah berubah, ia tidak lagi merasakan debaran yang dulu ia miliki setiap melihat senyum gadisnya itu.
Tak ingin bernostalgia terlalu jauh, Alfasya memilih keluar untuk sekedar mencari angin dan mengabari sepupunuya yang mungkin sudah mengamuk di apartemennya.
“Akh maaf,” Al menoleh ke sumber suara ternyata itu adalah seorang perawat yang sepertinya terburu-buru dan tidak sengaja menabrak Al yang membuat peralatan yang ada ditangan wanita itu terjatuh.
“Saya yang minta maaf karena membuat kamu terkejut dengan kehadiran saya yang tiba-tiba.”
“Tidak pak, mungkin saya yang tidak fokus, sekali lagi saya minta maaf.” Kali ini Alfasya merespon dengan menganggukkan kepalanya membiarkan perawat muda itu melanjutkan pekerjaannya.
Al memilih duduk sejenak di kursi yang terletak tida jauh dari tempat Reva dirawat. Ia ingin memberi kabar pada sepupunya kalau ia akan pulang terlambat, namun belum sempat Al menuliskan pesan apapun ponselnya berdering entah untuk kesekian kalinya.
“Kamu di mana sih? Nggak lupakan kalau aku bakalan mampir? Sekarang kamu di mana mas? Kalau masih lama mending aku pulang aja kapan-kapan aja aku ke sini lagi.”
“Maaf dek, tapi aku masih di klinik, dan belum tahu bakalan pulang jam berapa.”
“Klinik? Kamu sakit mas?”
“Bukan aku tapi Reva.”
“Reva? Kenapa pula sama perempuan itu? Lagian kenapa kamu masih repot-repot nolongin dia? Aku nggak pernah iklhas kalau kamu masih berhubungan sama dia mas.”
“Aku minta maaf tapi aku juga nggak bias mengabaikan Reva yang sekarang sebetang kara.”
“Terserah!” Al hanya mengusap kepalnya ketika panggilannya diputus sepihak.
Diantara keterdiamannya, Alfasya menangkap bayangan dua orang dewasa yang seperti sedang bermesraan, melihat hal itu Al buru-buru membuang wajahnya enggan melihat hal seperti itu. Setelah beberapa menit Al cukup dibuat kaget melihat sosok perempuan yang keluar dari ruangan itu adalah perempuan itu, perempuan yang sampai detik ini tidak ia tahu siapa namanya namun dengan kurang ajarnya perempuan itu mencuri kartu namanya.
Masih dengan wajah datarnya, Al hanya diam saja ketika perempuan itu mencuri pandang padanya. Namun lagi-lagi Al berusaha bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa, hingga perempuan itu melauinya begitu saja.
Setelah lama menunggu namun sepertinya belum ada tanda-tanda Reva akan terjaga. Sepulang dari bermain futsal, Al belum meneguk air sedikit pun, dan kini ia mulai merasakan kering pada tenggorokannya sehingga Al memutuskan untuk mencari warung yang buka untuk menyegarkan ternggorokannya, setelah menitipkan Reva pada perawat semisal mencari dirinya.
Kembalinya dari warung Al terkejut ketika tiba-tiba dirinya dihadang oleh perempuan yang tadi ia pikir sudah tidak berada di klinik ini. Dilihat dari penampilannya, perempuan itu bukanlah tenaga kesehatan yang bekerja di klinik ini.
“Anda mengganggu jalan saya nona, kalau tidak ada yang ingin anda katakana sebaiknya menyingkir dari hadapan saya!” Al mengatakan hal tersebut dengan penuh tekanan, entah apa maksud perempuan itu mencoba menghalangi jalannya.
“Apa kau lupa pada ku?” Al cukup kaget mendengar pertanyaan tersebut, meski begitu Al berusaha untuk tetap tenang.
“Saya tidak mengerti apa yang sedang kau ucapkan., tapi sepertinya anda salah orang” Tanpa menunggu lama Al melewati perempua itu begitu saja.
“Waah gue nggak ngerti kenapa harus tersinggung seolah malam itu bukan berarti apapun, sedangkan gue akh.” Alfasya mendengar gumaman perempuan itu, namun Al mencoba untuk mengabaikannya.
“Tunggu sebentar,” panggil Khai kembali menyusul laki-laki itu ia benar-benar harus mendapatkan barangnya atau ia akan terus-menerus gelisah.
“Baiklah aku tidak akan basa-basi jadi dengarkana ku sebnetar saja, aku kehilangan lipstick, sepertinya terjatuh di mobil mu, kalau kau melihatnya kabari aku aku benar-benar membutuhkannya.” Dengan mengambil tangan pria itu, Khai memberikan kartu namanya.
“Kau bisa menghubungi aku di sana, aku mohon.” Usai mengatakan hal tersebut Khai memilih pergi dari sana menuju mobilnya yang terparkir meninggalkan Alfasya yang kebingungan dengan ucapan perempuan barusan.
***
“Minum lah sedikit lagi setelah itu tidur,” titah Alfasya menyodorkan segelas air putih pada Reva tidak ingin dibantah. Setelah Reva diperbolehkan pulang, Al bergegas menebus obat yang telah diresepkan dan segera memberikan padanya.
“Kamu langsung pulang Al?” Alfasya hanya mengangguk pelan sebagai respon.
“Kalau aku minta malam ini menginap di sini bagaimana? Maksudnya kamu bisa tidur di kamar manapun, setidaknya malam ini saja, apartemen kamu jauh dari sini juga ini sudah terlalu larut.” Al diam saja menunggu perempuan itu kembali berbicara, tapi sepertinya tidak.
“Baiklah aku akan menginap di sini, kau istirahatlah. Kalau ada apa-apa panggil aku.” Setelah memastikan Reva kembali terlelap, Al keluar dari sana, dan merebahkan kepalanya di salah satu sofa yang ada di lantai satu. Dulu sofa itu tempat mereka saling bercanda ketika ia mampir ke rumah ini.
Baru satu menit Al menutup matanya, Alfasya merogoh saku celana futsalnya, mengeluarkan selembar kartu nama “Khairunnisa Pratiwi, nama yang cantik untuk perempuan bar-bar sepertinya.”
Tak hanya itu, kini Alfasya mengeluarkan ponselnya sebelum akhirnya mengirimkan pesan pada seseorang yang cukup mengganggu pikirannya beberapa bulan ini.
“Lipstick yang kau cari ada padaku, kau bisa menjemputnya besok di kampus V jam 5 sore.” Setelah mengirim pesan tersebut, Alfasya mematikan ponselnya dan melanjutkan tidurnya yang tertunda