Bab 11

1110 Words
Hari pertama setelah Maira dan Renjuna menikah. Tentu saja banyak sekali pembiasaan yang harus Maira lakukan, rambut dengan gaya wolfcut miliknya harus ditutup. Maira dan Renjuna tidur sekamar, namun Maira enggan untuk tidur seranjang. Dia bukannya gak mau karena Renjuna bau atau gimana, tapi karena Maira itu tidurnya gak bisa diem. Malam pertama mereka diisi dengan kecanggungan. Maira yang melepaskan segala macam pernak-pernik yang dia gunakan, lalu pergi mandi sebentar dan dia belum melihat Renjuna kembali ke kamar. Maira mengeringkan rambutnya yang berantakan. Bau Hairspray masih tercium jelas dan Maira benci itu, dengan cepat dia mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer. "Kamu mengganti potongan rambutmu lagi?" Maira terperanjat ketika mengetahui Renjuna ternyata sudah masuk ke dalam kamar. Dengan tampang sok cool, Maira mau menunjukkan kepada Renjuna kalau dia ini wanita maskulin. "Iya, memangnya kenapa?" Tanya Maira. "Jauh lebih indah," balas Renjuna datar, kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Seperti menahan nafas begitu lama, Maira mengeluarkan nafasnya dengan begitu rakus. Seakan dia sudah menahan nafas selama berbicara dengan Renjuna. "Gila, lama-lama aku bisa gila kehilangan nafas. Ini juga kenapa pake tahan nafas segala?" Maira mendengus pelan kemudian melangkah untuk duduk di karpet lembut berwarna abu yang ada di kamar Renjuna. Maira berusaha membuka koper miliknya. Menyesal setelah membuka koper untuk mengambil beberapa potong pakaian piyama, dia malah menutup koper itu lagi. "Ini kenapa lagi sih! Susah kali dibukanya," keluh Maira. Bertepatan dengan itu Renjuna keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Tampaknya mendengar apa yang menjadi keluhan Maira. Dengan segera pria itu mendekat, "bisa minggir sebentar?" Maira melirik pria yang sudah menjadi suaminya itu dengan sinis. Kenapa malah sekarang Maira kena usir? "Bisa, mau segimana jauhnya?" Tanya Maira sarkas. Renjuna menggeleng, "minggir sedikit saja, saya cuma mau menjaga wudhu saya." Maira berdecak kemudian mundur tiga langkah, membiarkan Renjuna membantunya untuk membuka koper. Setelah koper itu terbuka, barulah Renjuna menjauh tanpa mengucapkan satu atau dua patah kata. Ketika Maira sudah berhasil menyusun pakaiannya, alias mengeluarkan pakaiannya dari koper, sekarang dia kebingungan dimana dia meletakkan semua bajunya. Hendak bertanya pada Renjuna, namun pria itu sedang melaksanakan salat isya. Terpaksa Maira menanti sampai salam terakhir Renjuna. "Kamu bisa letakkan di lemari samping, di sana tidak ada pakaian dan sudah kosong dari lama." Awalnya Maira tidak percaya, namun ketika Maira membukanya. Maira terkejut bukan main, dia melihat stelan pakaian Renjuna tidak begitu banyak. "Baju kamu hanya segini?" Renjuna menganggukkan kepalanya tanpa memutus dzikir yang sedang dia lantunkan. Maira menggeser beberapa pakaian Renjuna, menjadikannya satu dan ternyata pakaian Renjuna hanya membutuhkan tiga ruang. "Lemari ini besar, tapi pakaian kamu hanya segini, tidak sayang ketika membelinya?" Gumam Maira. Maira mengira Renjuna tidak mendengar gumamannya, tapi ternyata Maira kembali salah. "Saya baru membeli lemari itu kemarin. Sengaja saya beli, karena tau lemari itu akan digunakan setelah menikah." "Eh, sudah selesai?" "Sudah, kamu sudah salat kan?" Maira menganggukkan kepalanya walau sebenarnya, dia tengah berbohong. Namun dia merasa sangat malas dan ingin segera tidur. Apalagi setelah acara tadi, dia tidak dapat istirahat dari kemarin menyiapkan pernikahan sampai sekarang. "Benar?" Tanya Renjuna memastikan. "Iya, kenapa sih, kok gak percaya." "Ya sudah, kalaupun kamu berbohong. Kamu sudah dapat tiga dosa, yang pertama kamu melalaikan kewajiban, yang kedua kamu berbohong pada Allah, yang ketiga kamu berbohong pada saya." Mendengar hal itu Maira mendengus sebal, kenapa dia merasa saat ini sedang mendengar beberapa ancaman dari Renjuna. Karena menyerah tidak bisa mempertahankan kebohongannya, Maira pergi mengambil air wudhu dengan cepat lalu kembali mengambil mukenah. Renjuna yang saat ini tengah membaca sebuah buku dan duduk di atas ranjang, memperhatikan gerak-gerik Maira. Satu sudut bibirnya terangkat ke atas, dia menggeleng pelan. Membiarkan Maira melaksanakan kewajibannya, walaupun baru membaca tiga halaman, Maira sudah selesai salat. "Sudah selesai?" Tanya Renjuna heran. "Sudah, kenapa? Mau aku salat dua kali?" Renjuna menggeleng heran, "memang sepertinya kamu butuh diajarkan." Perkataan ini lagi, perkataan yang sudah dia dengar dari Renjuna sebelum mereka menikah. "Minggir dong, aku mau tidur." "Tidak bisa, ini kan kasur saya." "Oh kamu tega ya membiarkanku tidur di bawah?" "Saya tidak pernah menyuruh kamu tidur di bawah." Maira menggaruk kepalanya frustasi kemudian menarik selimut dan tidur membelakangi Renjuna. Ini malam pertama saja sudah dibuat kesal, apalagi sisa-sisa hidup Maira yang akan tidak tenang ke depannya. "Jangan berpikir untuk pisah kamar maupun pisah ranjang, karena saya tidak akan mengizinkan hal itu terjadi." Maira menahan wajahnya yang malu ketika mendengar ucapan Renjuna sebelum dia tidur. Maira juga tidak paham kenapa dia mendadak aneh begini. *** Keesokan paginya Maira yang asik terlelap dan sudah berpindah hadap, selimut juga sudah turun ke bawah. Di atas kasur sudah tidak ada selimut, Maira merasakan ada seseorang yang tengah menggoncang tubuhnya. "Maira!" "Bangun, ini sudah Subuh." Renjuna menghela nafas melihat Maira yang masih tidur, bahkan setelah dia turun masjid. Memang dari awal firasat Renjuna gak enak, makanya dia pamit segera pulang dan benar saja dugaannya. Maira masih terlelap padahal fajar sudah mau naik. Posisinya juga aneh, piyamanya tersingkap ke atas, memperlihatkan betis dan pahanya. "Astagfirullah, eh kenapa saya bilang astagfirullah?" Ujar Renjuna yang tidak sengaja melihat aurat istrinya. Karena Maira kebo tidak bisa bangun, terpaksa Renjuna mengambil segelas air keran kemudian memercikkannya di wajah Maira. Sensasi dingin yang mendadak itu membuat tidur Maira terusik. Hal itu sontak membuatnya bangun dengan paksa. Bukannya apa, ini pertama kali Maira merasa tidur dengan nyenyak setelah sekian lama. Lalu seseorang dengan lancang membangunkannya. "Titin kenapa sih!" Kesal Maira. "Saya Renjuna, bukan Titin. Ingat saya sudah menikahi kamu." Maira yang masih menutup matanya hanya diam, beberapa menit dia mencerna apa yang pria dihadapannya ini katakan, baru terlonjak dan membuka kedua kelopak matanya. "Astaga! Aku lupa, aku kira masih di rumah!" Ujarnya yang terkejut. Tapi setelah itu Maira malah hendak tidur lagi, namun dengan cepat Renjuna menahan dan tidak sengaja menarik lengan piyama Maira. Memperlihatkan tulang selangka Maira dengan tidak sengaja. "Astagfirullah!" Ucap Renjuna refleks dan melepaskan pegangannya pada piyama Maira. Maira kembali ke pelukan bantal dan kasur yang hangat. Renjuna menggeleng pelan, kemudian terpaksa menarik kedua tangan Maira agar wanita itu bangun. "Ayo bangun, kamu belum salat subuh. Sebentar lagi terbit, nanti telat." "Hum?" "Subuh, salat subuh." Maira dengan cepat menggeleng lalu bangkit walaupun dia masih sangat mengantuk. Ditambah lagi ini pertama kalinya seseorang membangunkan Maira dengan tidak santainya. Saat Maira sudah memakai mukenanya, hendak salat. Namun seketika aktivitasnya terhenti sejenak. "Ada apa?" Tanya Renjuna yang masih setia mengamati gerak-gerik Maira. "Aku lupa, niat salat subuh apa ya?" Renjuna menggeleng pelan, "Usholli fardlo-subhi rak'ataini mustaqbilal qiblati adaa'an lillahi ta'ala." "Oh iya." Setelah membaca niat setelahnya Maira melaksanakan salat subuh. Mungkin disaat pria lain melihat betapa lemahnya iman Maira, maka Renjuna terbalik. Dia justru merasa senang akan menjadi seseorang yang membantu Maira kembali ke jalanNya, dan menjadi imam yang baik untuk Maira. "Masya Allah, tabarokallah."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD