Abah dan Renjuna sudah pergi ke pesantren. Mereka menikmati sarapan di sana untuk pagi ini, sehingga meninggalkan Umi dan juga Maira di rumah.
Titin ikut datang membantu Maira, karena mau bagaimanapun dia akan sering datang. Maira pernah bilang, kalau Titin harus rajin mengunjunginya, karena Maira belum bisa beradaptasi dengan sempurna apalagi di lingkungan agamis seperti ini.
Paginya tanpa mengenakan hijab, hanya mengenakan kaos merah maroon kebesaran, rambut yang digerai pendek, lalu celana pendek sebetis.
Umi yang lihat sampai mengucap istighfar. Karena dia kira ada laki-laki lain menyelinap, tapi setelah dipanggil, ternyata Maira yang berbalik.
"Astagfirullah, umi kira siapa taunya Maira."
Maira menyengir lebar, "sarapan umi, Maira masakin nasi goreng."
"Bisa masak?" Tanya Umi refleks.
"Bisa, tapi emang resepnya dari Titin," balas Maira yang kembali menyengir dan setelah itu menghidangkan makanan di atas meja.
Sebar-bar Maira, setidaknya dia sedikit tau bagaimana bersikap kepada yang lebih tua. Walau Maira masih jauh dari kata baik.
Maira sebenarnya sudah was-was karena gak enak, Umi yang punya rumah aja tetep pake jilbab walaupun keluar kamar, sementara Maira dengan santainya membiarkan rambut bergaya wolfcut itu digerai.
Kalau nanti Umi mengomelinya, Maira sudah siap lahir batin. Jangankan umi, Renjuna juga pasti akan mengomel tanpa di suruh.
Sama seperti subuh tadi, saat Maira tidak membaca doa qunut. Renjuna bilang dia akan mengajari Maira sebelum tidur di malam hari.
Tapi anehnya daritadi sampe sekarang selesai makan, Umi gak ada bilang apapun ke Maira. Sekedar menegur mungkin? Gila emang kedengarannya, tapi sekarang malah Maira yang merasa aneh.
"Umi," panggil Maira.
"Iya."
"Gak ada."
Umi terkekeh pelan, "rambut kamu bagus potongannya. Kalau umi bisa gak potongannya begitu?"
"Umi mau?"
"Boleh kalau bisa."
Titin yang gak sengaja denger geleng-geleng sendiri, lah gimana rupanya rambut Umi kalau dipotong dengan gaya yang sama seperti Maira.
"Tapi Maira gak berani umi, nanti kalau Renjuna sama Abah ngamuk. Aduh Maira kabur ya umi."
Umi tertawa, "ya gak mungkin mereka marah. Cuma masalahnya, rambut umi isinya udah uban. Gimana jadinya?"
"Gak masalah kok umi, asal masih punya rambut aja."
"Iya juga sih, gak kaya Abah udah gak punya rambut."
Giliran Maira yang terkekeh mendengar ucapan Umi. Setelah membantu Umi beres-beres, Renjuna datang sendiri tanpa Abah.
Dia geleng-geleng kepala sendiri melihat tingkah Maira yang duduk dengan rambut tergerai dan celana pendek sebetis.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumussalam," jawab Umi dan Maira barengan.
Titin kebetulan lagi di belakang, mau nyari baju yang akan di cuci tadi Umi yang memberikan Titin tugas.
Renjuna sendiri langsung menatap Maira dan mendekat untuk duduk di sampingnya. Maira yang udah paham dia bakalan dengerin apa, cuma bisa pasrah.
"Umi, menantunya kenapa gak dinasehati."
"Nanti kalau tiba-tiba Abah kedatangan tamu, terus dia kebablasan nyambut tamunya begini. Renjuna yang merasa berdosa."
"Umi mau nasehatin kok tadi, cuma ya keburu kamu dateng."
Renjuna menggeleng dan sekarang tatapannya beralih ke arah Maira yang sudah kicep daritadi.
"Sekarang ganti pakaian kamu, ikut saya ke madrasah."
"Iya, iya!" Balas Maira kesal.
Umi malah terkikik geli melihat kelakuan Renjuna dan Maira. Dia kira awalnya pernikahan mereka akan berjalan dengan sangat kaku, mengingat bagaimana watak Renjuna yang tegas dan sangat serius.
"Gaya rambut istri kamu bagus jun."
"Umi, jangan dipuji dianya. Nanti malah suka lagi memerkan aurat."
"Iya juga sih, sekarang kamu suaminya. Jadi kalau dia melangkah ke arah yang buruk, kamu juga yang kena."
"Nah itu," balas Renjuna.
"Tapi kalau dipikir-pikir, Renjuna memang cocok sama Maira. Soalnya Maira langsung nyantol pas pertama kali dilamar Renjuna."
Pria itu hanya membalas dengan senyum tipis. Dan tak lama dia melihat Maira keluar dari kamar namun masih pada style yang tadi.
"Kok belum?"
"Mau nyari Titin, aku lupa kalau aku gak punya jilbab," jawab Maira kemudian menyengir.
"Piye iki? Nanti ajak istrimu ke toko besar. Di sana belikan dia jilbab yang sudah jadi supaya tidak repot di pasang."
***
"Serius? Kita naik motor ini?"
Maira tidak menyangka sama sekali kalau dia akan keluar menaiki motor yang terlihat tua. Sebenarnya dia udah pernah lihat sebelumnya motor ini. Tapi gak kepikiran kalau pada akhirnya dia yang naik.
"Iya serius, saya cuma punya motor ini."
"Jangan berpikir untuk naik mobil kamu. Yang ada kita kita akan kesusahan, apalagi masuk musim penghujan banyak jalan licin dan berlubang."
Maira hanya bisa mendengus pasrah ketika Renjuna mengatakan tidak ada jalan lain untuk mereka selain naik motor butut milik Renjuna.
Ini masih jam delapan pagi dan matahari sudah mulai naik ke permukaan yang lebih tinggi. Di sekitar jalan hawanya begitu asri. Sesekali Maira tersenyum ketika melihat pemandangan yang jarang dia lihat.
Walaupun terganggu suara motor butut milik Renjuna, tapi Maira tetap menyukai perjalanan melewati sawah ini.
"Jarak rumah di sini cukup jauh ya, dari rumah ke rumah," ujar Maira.
Dia Sebenarnya gak mikir si Renjuna mau balas ucapannya. Tapi ternyata Renjuna membalas dan malah balik bertanya pada Maira.
"Memang, karena mereka tidak terlalu ingin jika ada masalah internal orang lain sampai tau."
"Masa sih gitu alasannya?"
Renjuna menarik satu sudut bibirnya ke atas, "kamu sendiri, kenapa sampai tidak punya jilbab?"
"Ya karena gak pernah ekspektasi kalau suatu saat aku pakai jilbab. Biasanya juga pinjam jilbabnya Titin," jawab Maira jujur dan santai.
"Mulai sekarang kamu harus pakai jilbab. Kenapa saat saya memberikan mahar, saya tidak kepikiran untuk memberikan satu kuintal jilbab untuk kamu."
Maira terkekeh pelan, "cukup selusin, kalau satu kuintal kebanyakan. Di rumah juga aku gak suka pake Jilbab."
"Kalau di rumah kita berdua saya bolehkan, tapi karena kita masih tinggal dengan Abah dan Umi, kamu harus menjaga auratmu, menjaga kehormatan suami kamu juga."
Maira hanya diam, lebih tepatnya malas meladeni. Mungkin jiwa magernya untuk berbicara sedang timbul sekarang.
Benar dugaannya Renjuna pasti akan mengomelinya masalah ini. Titin juga sudah memberikan aware sebelum Renjuna memberikan teguran.
Maira kira dia dibawa pergi ke madrasah. Namun ternyata dugaanya salah besar, karena Maira saat ini diajak Renjuna pergi ke pasar.
"Mau ngapain ke sini?"
"Mencarikan kamu jilbab, supaya gak pinjam dari Titin lagi."
Maira mendengus dan mengikuti Renjuna dari belakang. Setiap berjalan, pasti ada saja yang menyapa mereka, Renjuna sih lebih tepatnya.
Renjuna selalu membalas sapaan mereka dengan ramah dan sopan. Akan sangat jauh berbeda jika dia dan Maira hanya berduaan. Hanya saja Maira sampai heran karena setiap orang pasti mengenal Renjuna.
"Kamu kenal dengan semua orang di sini?"
"Tidak semua, mungkin hanya beberapa."
"Tapi tadi kamu menyapa semua orang yang lewat."
Renjuna mengendikan bahunya, "mungkin karena pada dasarnya umat muslim itu bersaudara."
Jawaban yang langsung membuat Maira tertegun dan enggan untuk bertanya lagi pada Renjuna.
Setelah sampai di toko yang Renjuna mau. Renjuna mengajak Maira untuk memilih model jilbab seperti apa yang Maira inginkan.
"Serius kita beli di sini, kalau kamu mau aku bisa beli di toko online," bisik Maira.
"Toko online nunggunya bakalan lama, alasan kamu makin banyak, mending sekarang kamu pilih biar nanti saya yang bayar," balas Renjuna.
"Assalamu'alaikum gus, mau cari apa?" Tanya pemilik Toko yang baru keluar dengan ramah.
"Waalaikumussalam, ini mau beli jilbab."
"Astagfirullah, gus mau pakai jilbab?"
"Astagfirullahalazhim bukan saya, tapi istri saya."
Maira auto menoleh ketika Renjuna mengenalkannya sebagai istri. Masih belum terbiasa soalnya, sekalian Maira sudah mendapat beberapa jilbab yang dia inginkan.
"Aku mau yang ini, cocok gak?" Tanya Maira seraya memperlihatkan jilbab ceruty berwarna moka.
"Coba aja dulu."
"Oke," ucap Maira.
Saat hendak membuka Jilbab, Renjuna langsung panik dan menahan tangan Maira dengan cepat. Sepertinya Renjuna salah intruksi.
"Lho kan tadi suruh coba."
"Astagfirullah, untung saya tahan."
"Kalau mau coba di dalam, jangan di sini," tambah Renjuna.
Maira baru sadar setelah cekalan Renjuna pada tangannya dilepas, Maira menyengir lebar kemudian masuk ke dalam.
"Istrinya gus?"
"Iya pak," balas Renjuna.
"Lucu yah, masih SMA tah?"