Renjuna bukannya mau memaksakan Maira untuk berhijab, tapi sengaja dibiasakan. Karena dari Maira sendiri belum ada keinginan, jadi biarkan saja dia terbiasa dengan jilbab yang digunakan.
Karena pada dasarnya bagi seorang wanita, menutup aurat itu adalah wajib. Ketika Maira resmi menjadi istrinya, maka Maira adalah tanggung jawab Renjuna.
Awalnya memang Maira protes, namun sepertinya dia akan terbiasa dan nyaman menggunakan jilbab. Tak tanggung-tanggung Renjuna membelikan Maira dua lusin.
"Ini jilbabnya apa gak kebanyakan?" Tanya Maira keheranan.
"Gak kebanyakan, kamu aja yang belum punya. Umi punya jilbab hampir satu lemari."
"Wah, umi rajin juga pake jilbab," balas Maira.
"Kamu juga harus."
"Ih kok maksa?"
"Bukan saya yang paksa, tapi Allah langsung. Kalau kamu gak nurut kamu punya dua dosa," balas Renjuna.
Maira berdecak sebal kemudian memalingkan wajahnya, "ya sudah aku pakai, jangan bawa-bawa itu lagi."
Renjuna menganggukkan kepalanya kemudian terkekeh pelan melihat jilbab Maira yang masih kusut karena baru di beli.
Tangan Renjuna secara otomatis terarah untuk membantu Maira merapikan jilbabnya. Hal itu membuat Maira mendadak mematung seraya menahan nafas.
"Nanti suruh Titin yang cuci jilbab-jilbab ini. Sekarang kamu istirahat saja di dalam, saya mau pergi mengajar ke madrasah," ucap Renjuna lebih lembut dari yang tadi.
"Bukannya aku ikut sama kamu ke madrasah?" Tanya Maira.
Dia mendadak ingat kalau Renjuna tadi hendak mengajak Maira pergi ke madrasah. Renjuna menggeleng dengan cepat sebagai jawaban, dia tadi lihat kalau Maira itu menguap sepanjang jalan, mungkin memang Maira belum puas tidurnya.
"Besok atau nanti kalau ada, kamu istirahat saja di dalam."
"Bener ni ya?" Tanya Maira memastikan.
"Iya."
Maira tersenyum lebar setelah itu masuk ke dalam rumah tanpa salaman dulu pada Renjuna. Pria itu hanya menggeleng melihat Maira yang masuk ke rumah dengan ekspresi riang.
Renjuna yang sadar sebentar lagi waktunya untuk mengajar tiba, dia segera membawa motor kesayangannya pergi menjauh dari pekarangan rumah.
Begitu Maira masuk dia melihat Umi sedang berbincang dengan seorang wanita. Kemudian Titin datang menghampirinya dan memberikan pujian.
"Masya Allah, cantik banget non."
"Oh iya dong, siapa dulu---"
"Kerudungnya."
"Titin ...."
Titin menyengir lebar, kemudian Maira menarik tangan Titin untuk menjauh dari Umi dan juga wanita tadi. Belum juga Maira bertanya, si Titin udah langsung nebak.
"Itu Ning ambar, anak dari Pak Kiyai Ahmad."
"Gak kenal sih," balas Maira dengan gumaman.
"Ck, non ini."
"Eh tapi ya non, Ning Ambar ini temannya Gus Renjuna. Teman waktu madrasah kalau gak salah."
Maira mengernyit tidak paham, "lho bukannya si Renjuna sekolah di Mesir?"
"Lha iya, sekolahnya masih di sini, kuliahnya yang di Mesir."
"Oh."
Maira tidak lanjut bertanya, dia hanya meminta Titin untuk mencuci kerudung yang baru dibelikan Renjuna tadi di pasar.
Sebelum masuk, Maira bisa melihat kalau wanita yang kalau tidak salah bernama Ambar itu, menatapnya dengan sedih.
"Kenapa dia?" Gumam Maira kemudian mengendikan bahu acuh dan masuk ke dalam kamar.
Maira tidur dari jam sepuluh pagi sampai dengan jam dua belas siang. Dimana Renjuna pulang dan membangunkan Maira, mengajaknya untuk salat zuhur bersama.
Pada awalnya Maira enggan, karena dia mikir pasti Renjuna kalau baca ayat, akan mengambil ayat yang panjang. Ampunilah Maira yang salat saja masih bolong-bolong, dengan adanya Renjuna, entahlah dia bisa berubah atau tidak.
Maira menggelar sajadah tepat di samping Renjuna. Hal itu membuat Renjuna sedikit bingung, sepersekian detik dia baru paham dan menegur Maira.
"Maira, kita salat berjamaah bukan bersampingan."
"Kan berjamaah itu bersama?"
"Maira saya tau kamu pura-pura tidak tau ya," tegur Renjuna lagi.
Maira menyengir lebar kemudian menarik sajadahnya untuk digelar di belakang Renjuna. Menanti Renjuna mulai mengimaminya.
Selesai melaksanakan salat zuhur bersama. Maira lebih dulu keluar, namun saat hendak keluar Renjuna yang tadi tengah berdzikir, memanggil Maira.
"Kerudungnya mana?"
Maira menyentuh rambutnya, kemudian menyengir kembali. Dia lupa kalau Renjuna baru membelikannya kerudung di pasar tadi.
"Maira, Masya Allah cantik sekali pakai kerudung," sapa Umi yang kini giliran memasak.
"Terima kasih umi, ada yang bisa Maira bantu?"
"Ada, tolong kamu kukus sawi sama kacang panjangnya."
"Mau buat pecel ya mi?"
"Iya nih, Abah tadi pesen pulang mau makan pecel."
Maira menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Sepertinya dia baru kali ini punya waktu sesering itu untuk berkumpul dengan keluarga, walaupun ini sebenarnya keluarga barunya.
"Maira suka pecel?"
"Suka umi, makanan apa aja yang penting enak Maira makan kok."
Umi terkekeh pelan, "Alhamdulillah kalau begitu. Andai aja, menantu umi yang lagi satu masih bertahan. Mungkin rumah akan lebih ramai lagi."
Maira tidak menggubris ucapan Umi, karena sibuk memasukkan kacang panjang serta sawi yang sudah dicuci kedalam panci kukus.
***
"Jun, izin pergi jalan-jalan sama Titin ya," ujar Maira santai.
Kedua pemuda yang sedang menunggu di luar rumah, terkejut mendengar panggilan Maira kepada Renjuna.
Sementara itu Renjuna malah keheranan dan bertanya kembali kepada Maira.
"Mau kemana, dan ngapain?"
"Mau main-main aja gitu, bosen di rumah. Umi lagi pergi entah kemana, boleh ya?" Pinta Maira.
"Boleh, tapi harus pulang sebelum zuhur."
"Oke."
"Aku pergi ya, Assalamualaikum."
Maira langsung pergi dan lagi-lagi tanpa mengecup punggung tangan suaminya. Titin yang melihat kelakuan mantan majikannya menggeleng sendiri, ada sedikit rasa malu dan mewajarkan.
"Ayo tin."
"Waalaikumussalam."
Begitu Maira pergi, Renjuna langsung di hadang oleh kedua sahabatnya. Sama-sama belajar di Mesir juga, hanya saja keduanya memutuskan selesai sampai beberapa tahun, tidak selama Renjuna.
"Gus itu beneran ning Maira yang jadi istrimu tiga hari yang lalu?"
Renjuna menganggukkan kepalanya tanpa ada rasa ragu sedikitpun. Kedua pemuda yang bernama Rasyid dan Karim, memberikan respon yang begitu heboh.
"Orang kota?"
"Iya."
"Pantesan, orang kota suka bebas."
Renjuna tersenyum tipis, "sudah jangan kalian pikirkan, seiring berjalannya waktu pasti dia akan mengerti."
"Salut aku sama kamu gus, udah banyak yang ngejer jaman kita kuliah. Inget dan orang Albania yang suka sama Gus Renjuna, itu pake niqab aja Subhanallah cantiknya, tapi ditolak."
"Jangankan yang itu, Ning Ambar kayanya nyimpen perasaan. Tapi Gus Renjuna gak peka-peka," timpal Rasyid.
"Sudah jangan bahas itu lagi, mending sekarang kita pergi ke pesantren."
Berbeda dengan percakapan antara Renjuna dan kawan-kawan, maka perbincangan Maira serta Titin seputar pernikahan.
"Gimana rasanya setelah menikah?"
"Ternyata enak juga tin, tidur ada yang nemenin, Khilaf ada yang tegurin, terus juga setiap makan gak ada lagi kata sepi dan sendiri."
"Alhamdulillah, berati Nona senang dengan pernikahan ini?"
Maira terkekeh kecil, "dibilang senang boleh sih, tapi kadang kesel juga sama Renjuna. Dia itu kelihatan sok cool diluar tapi aslinya cerewet banget."
"Tau gak non, banyak sekali anak kiyai diluar sana patah hati setelah mengetahui Gus Renjuna ternyata menikah."
"Oh iya? Bagus dong."
"Makanya Non, sebisa mungkin non harus mensyukuri apa yang nona miliki sekarang."
"Alhamdulillah, rasanya kadang masih belum terbiasa. Tapi aku bakal berusaha untuk membiasakan diri."
"Seperti berjilbab ini contohnya."
Titin tersenyum ikut senang dengan perubahan yang terlihat, walaupun memang akan sulit jika Istiqomah. Karena pada dasarnya Istiqomah tidak segampang itu.
"Oh iya lupa, panggilan Nona harusnya jadi ning ya hehehe. Maaf ya Ning."