Bab 14

1066 Words
"Kalian tau, Nabi Muhammad SAW. Merupakan keturunan dari Nabi Ibrahim AS. Melalui Nabi Ismail AS?" "Tau ustadz!" Renjuna menarik kedua sudut bibirnya tipis. Pelajaran syirah adalah yang paling mereka tunggu-tunggu, tidak tanggung-tanggung Renjun memberikan banyak kisah dengan bahasa yang disukai oleh para santri yang diajarkan. Terutama santri putri tentunya, hanya saja hari ini dia punya jadwal mengajar santri putra madrasah Tsanawiyah. Diikuti oleh Maira yang lebih tepatnya terpaksa ikut melihat langsung proses belajar mengajar oleh Renjuna. Maira jadi ingat dulu jaman-jaman dia masih sekolah SMA, dia suka kabur ke kantin tiap pelajaran SKI, alhasil dia malah penasaran dengan pelajaran yang diberikan Renjuna. Maira hanya bisa mengintip dibalik jendela, karena tau Renjuna tidak mengizinkannya untuk masuk. Beruntung tidak ada santri yang menyadari keberadaan Maira disana. "Ustadz, kenapa Nabi Ibrahim AS, meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail di gurun? Apa dia termasuk bapak yang jahat?" "Waladalah, ini bocah masa yang begitu doang gak tau?" "Iya itu bahkan pernah dijelasin waktu Madrasah Ibtidaiyah." Santri yang tadi berdecak sebal, "kan beda sekolah, dulu aku kan belajar do kota. Mana ada pelajaran begini." Gus Renjuna terkekeh pelan kemudian menggeleng, "sudah-sudah, biar saya jelaskan sekali lagi, mungkin juga sudah ada yang lupa tentang pelajaran ini." "Kalian pasti tau Nabi Ibrahim begitu taat akan perintah Allah, sampai mimpi menyembelih putranya Nabi Ismailpun dianggap perintah dan harus dilaksanakan. Begitu juga dengan perintah yang Allah berikan kepada Nabi Ibrahim, untuk membawa putranya Nabi Ismail AS, dan juga istrinya Siti Hajar di sebuah gurun yang nantinya menjadi .... Apa hayo ada yang tau?" Mereka saling menoleh satu sama lain, hingga salah satu santri mengangkat tangan dengan tinggi membuat Renjuna menatap wajah dari santri tersebut. "Dodi mau jawab apa?" "Nanti gurun itu jadi bersalju tad," balasnya dengan ekspresi percaya diri. Maira yang mendengar jawaban itu dibalik jendela menggeleng pelan, dia tertawa setelahnya terbahak-bahak, walaupun gak tau jawabannya apa tapi rasa-rasanya gak mungkin kalau jadi salju. Renjuna hanya itu tersenyum tipis, "Dodi jawabannya meleset dari gawang ya," tegur Renjuna. Yang lain menertawakan, sementara Dodi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan kembali duduk dengan tenang. "Jawabannya adalah, tempat yang ditinggali oleh Siti Hajar dan Nabi Ismail, akan menjadi sebuah kota Mahsyur yang kita tau sekarang bernama Mekkah." "Tuh Mekkah, bukan salju." Salah satu santri menyindir jawaban Dodi, yang disindir cuma bisa ketawa haha hihi, tau salah tapi gak bikin jatuh mental. Saat Renjuna hendak menjelaskan lebih lanjut, tatapan matanya tidak sengaja mengunci pergerakan Maira di balik jendela sana. Wanita yang kini mengenakan jilbab serut berwarna hijau muda itu terkekeh-kekeh melihat ke dalam. Sontak saat buku salah seorang santri jatuh, Renjuna tersadar dan kembali melanjutkan pelajaran yang dia berikan kepada para santrinya. Dalam hati Renjuna terus memanjatkan syukur dan memuji Maira tiga kali. Andai Maira tau apa yang Renjuna katakan dalam hati, mungkinkah hati Maira tergerak untuk membalasnya. Namun baik dari Renjuna maupun Maira, belum sama-sama berada dalam titik tersebut. Jam pelajaran telah usai, ketika Renjuna keluar dari kelas dia tidak melihat keberadaan Maira di sana. Sontan hal itu membuatnya penasaran, kemana Maira bisa pergi dari sini disaat Maira saja tidak tau jalan. Renjuna tidak secepat itu panik, karena masih banyak santri yang berdatangan, mencium punggung tangannya sebagai tanda hormat. Renjuna juga mendoakan di setiap salamnya, semoga mereka menjadi umat yang taat, berguna bagi nusa bangsa dan negara. Karena tak kunjung ada hilal, rasa cemas itu segera muncul. Namun ketika melihat seorang santriwati bersama Maira berjalan bersama, barulah kelegaan dirasakan Renjuna. "Terimakasih banyak ya mbak, tadi saya gak tau harus apa." "Gak apa-apa, itu namanya menstruasi pertama, wajar kok kamu gak tau. Nanti bekas merahnya kamu cuci sampai bersih," balas Maira. "Maira." Kedua perempuan itu menoleh ketika Gus Renjuna memanggil nama Maira, wanita yang dipanggil namanya menatap dengan heran. "Astagfirullah, Maaf Gus Renjuna saya gak tau ada Gus Renjuna," ungkap santriwati yang bersama dengan Maira. "Assalamu'alaikum gus," tambahnya. "Waalaikumussalam, gak apa-apa, saya juga minta maaf tadi langsung manggil nama Maira, soalnya saya kira dia pulang duluan." "Aku gak pulang duluan kok jun, tadi ini ada masalah dikit makanya aku bantu, maaf ya lupa tadi mau izin sama kamu," jawab Maira mengklarifikasi ucapannya. Renjuna menganggukkan kepalanya kemudian hendak berbalik, namun sebelum itu dia mengatakan kepada Maira, "saya tunggu di parkiran." "Siap Pak su!" Daritadi santriwati yang melihat interaksi itu kaget sendiri. Ternyata wanita yang membantunya adalah Ning Maira, wanita yang sangat santer dibahas oleh para santriwati di asrama. "Ning Maira?" "Eh?" Jujur Maira agak aneh dengernya, tapi karena Titin bilang itu adalah panggilan biasa, Maira akan berusaha untuk terbiasa. "Astagfirullah Ning, saya gak tau kalau pajenengan istrinya Gus Renjuna." Maira menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "ya kelihatannya emang begitu ya?" Ucapnya kemudian terkekeh. "Bukan begitu maksud saya Ning." Maira terkekeh, "santai aja, kalau gitu saya juga pamit ya. Pak Su udah ngode nyuruh pulang." Santriwati itu mengangguk dan tersenyum ke arah Maira. Walaupun setengah dari hatinya tengah heboh sendiri karena bisa bicara langsung sama istri Gus Renjuna. *** "Bagaimana pelajaran hari ini?" "Lumayan masuk ke otak, kalau aja guruku kaya kamu jun. Mungkin nih ya, aku udah khatam masalah sejarah kebudayaan islam." Renjuna menggeleng pelan, dengan masih membawa motornya melaju lambat, sengaja dilakukan Renjuna agar mereka menikmati suasana sore hari yang damai. Tadi sempat delay saat mau pulang, karena Renjuna mau menghadap kepala sekolah, dan lagi-lagi Maira harus menunggu. "Pake jilbab ternyata gatel juga ya," gumam Maira pelan yang daritadi menggaruk bagian kepalanya. "Kamu belum sampoan mungkin." "Ih gak mungkin, aku malah rajin kalau rawat rambut walaupun lebih suka rambut pendek." "Saya lebih suka kamu pake kerudung, aura cantiknya lebih keliatan." Maira terdiam kemudian tertawa pelan, ternyata seorang Renjuna bisa melayangkan gombalan seperti ini kepada wanita. Tapi entah kenapa kedengarannya lebih istimewa, mengingat Maira tau kalau Renjuna tidak pernah dekat dan berbicara lama dengan wanita lain selain dirinya. Apa dari awal Maira sudah sangat spesial di mata Renjuna? Sampai Renjuna malah melamarnya ketika dipertemukan untuk ketiga kalinya? Entahlah, Maira rasa dia akan menjalaninya seperti air mengalir. Apalagi dengan kebahagiaan lebih sederhana dan rumah tempatnya bernaung, dirasa memang rumah yang sebenarnya. "Nanti malam jadi mau ajarin ngaji?" "Iya, ini sudah pasti karena saya tidak ikut abah pergi bertemu dengan para dewan pengurus, saya juga gak begitu tertarik jadi lebih ingin mengajari kamu mengaji." Maira mendengus sebal, bukannya dia gak mau. Cuma sekarang Maira sedikit merasa malu, mengingat Renjuna yang akan mengajarinya ngaji. "Iqro aku udah khatam, jadi jangan ke iqro lagi ya." Maira pikir Renjuna akan setuju tapi ternyata .... "Iqra Maira."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD