Maira menatap pantulan wajahnya di cermin. Dengan rambut model wolfcut, benar-benar membuatnya terlihat keren. Biasanya Maira akan memfoto dirinya sendiri ketika merasa sedang estetik, tapi karena Renjuna sedang berada di kamar juga, Maira mengurungkan niatnya.
Apalagi Renjuna tidak pernah memberikan komentar apapun terhadap tampilan Maira ketika tidak mengenakan hijab.
"Padahal kalau aku begini, cantiknya masih kelihatan. Tapi kenapa waktu itu kamu malah ngira aku cowok?" Tanya Maira pada Renjuna.
Pria yang tengah membaca buku di jam sepuluh malam itu menoleh tanpa minat. Mengingat kembali pertemuan pertama mereka saat itu.
"Oh waktu itu, kamu memakai topi sehingga saya salah mengira tentang kamu."
"Aku ganteng ya kalau pake topi?"
Maira dengan cepat bangkit, dan dengan iseng pula mengambil topi yang pernah Renjuna singgung tentang tampangnya yang seperti laki-laki.
"Saya tidak suka kamu memakai itu."
"Tapi aku suka," balas Maira dengan santainya.
Renjuna menggeleng, "haram bagi perempuan jika menyerupai laki-laki. Saya hanya ingin memperingatkan sebagai seorang suami dan sebagai manusia yang peduli."
Maira berdecak sebal kemudian melepaskan topi yang dia gunakan. Tidak ada gunanya juga mengajak Renjuna bercanda, dia hanya akan serius dan serius.
Tidak ada gurauan di dalam hidup Renjuna, Maira rasa. Karena merasa sedikit lapar, Maira hendak keluar dari kamar, namun dengan cepat Renjuna menghentikan langkahnya.
"Mau kemana?"
"Nyari camilan di kulkas, kalau gak salah tadi ada lihat kripik kentang."
"Kerudung?" Tanya Renjuna.
Maira mendengus, "ini sudah malam, abah sama umi juga pasti udah tidur. Males banget ngambil kerudung di lemari," jawab Maira.
"Diem di sini, biar saya yang mengambilkannya."
Maira menarik kedua sudut bibirnya dengan lebar, kemudian menaik turunkan alisnya. Renjuna yang melihat tingkah Maira menggeleng sendiri.
"Ada apa dengan matamu?"
"Gak ada apa-apa, cuma ya ... Ini loh yang aku tunggu daritadi."
"Apa?" Tanya Renjuna lagi setelah menutup bukunya dan meletakkannya di atas nakas.
"Gak ada, kamu cepet ambilin deh ini lambung aku kasian gak dikasi jatah."
Renjuna tidak menjawab, selain keluar dari kamar dan memastikan pintu tertutup rapat. Begitu Renjuna keluar, Maira dengan senyum mengembang merebahkan dirinya di atas ranjang.
Rasa-rasanya masih gak mungkin Maira udah menikah sekarang? Ditambah lagi semua yang terjadi seolah seperti mimpi.
Bukannya apa? Tapi Maira hanya merasa sedikit ... Tidak mungkin dengan Renjuna yang mau menikahi wanita aneh sepertinya.
Tidak lama setelah itu Renjuna kembali membawakan satu kaleng wafer dan juga s**u kotak rasa pisang sebanyak dua kotak.
"Wah! Peka banget sih suami aku," ujar Maira yang geli sendiri setelah mengatakannya.
"Saya heran sama kamu, tiap malam suka lapar. Tapi kata Papa kamu, kamu orangnya malas makan."
Maira mengendikan bahunya acuh, "gak tau juga, mungkin karena ngerasa happy berada di tengah-tengah keluarga beneran."
Renjuna terdiam setelah mendengar ucapan Maira. Wanita itu mengatakannya seolah-olah tanpa beban. Namun karena Renjuna yakin suatu saat Maira dan dia sama-sama saling mengenal maka tidak ada lagi rahasia diantara mereka.
"Gak baik minum s**u dua kotak, kamu mau?" Tawar Maira pada Renjuna.
"Tidak, makasi. Kalau kamu tidak bisa minum letakkan saja di sana."
"Oke!"
Renjuna memperhatikan bagaimana Maira duduk sembari menikmati makanannya. Belum lagi jendela terbuka dengan lebar, menampakkan pemandangan sawah, bukit dan langit malam terang dengan bulan purnama.
Kaki kiri di tekuk sila sebelah, lalu kaki kanan terangkat. Maira bahkan makan dengan dua tangan. Renjuna yang melihat pemandangan itu menghela nafas, lalu mendekat ke arah Maira.
"Saya tidak melarang kamu bergaya seperti ini, tapi jika kamu membuka jendela maka turunkan kaki kananmu yang terangkat, dan makan dengan tangan kanan."
Maira mengernyitkan dahinya, "memangnya kenapa, kan gak ada orang yang bakal ngelihat malam-malam begini?"
"Memang tidak ada orang, tapi para makhluk hidup yang sedang berdzikir kepada Allah, mungkin tengah melihat kamu sekarang."
Maira segera memperbaiki posisi duduknya, bukannya sadar dia malah takut, jatuhnya Renjuna mengatakan sesuatu yang horor.
***
"Tin, kayanya aku gak pernah tuh masuk ke pondok."
"Masa sih ning, bukannya pernah ya waktu akad?"
"Ish itu kan waktu akad, selanjutnya mana ada."
Titin cuma manggut-manggut dengerin ucapan dari Maira. Apalagi sekarang mereka berdua tengah berkecimpung di dunia kuliner, lebih tepatnya Maira yang nafsu makannya melonjak setelah tinggal di rumah keluarga barunya.
Umi sama Abah ada pergi ke sebuah acara di pesantren lain, lalu Renjuna tadi pamit pergi entah kemana. Beruntung Titin datang mengusir kegundahan Maira.
"Alat lukisku belum dibawa ke sini kan? Terus Mas Hilman sama Mbak Ara udah balik belum?"
"Sudah kemarin, terus alat lukis ning sudah tak mintakan Pak Cecep untuk bawa kemari."
Maira mengangguk paham, "terus gimana sama rumah? Papa pasti udah balik lagi ke dubai, terus yang jaga rumah siapa?"
"Kata tuan besar, Rumah tetep dirawat dan ... Sebenarnya." Titin agak ragu untuk mengatakannya, takut Maira malah misuh-misuh karena perintah Papanya.
"Ning disuruh tinggal setiap dua minggu sekali di sana."
"Hah?"
Maira yang mendengar itu terkejut bukan main. Dia harus bolak-balik gitu dari rumah ke sini, yang ada b****g Maira pegel bukan main.
"Papa gak pernah bener emang, udah ninggalin lama banget terus dateng pas nikah doang, sekarang malah ngasi pekerjaan," omelnya.
"Ning yang sabar, namanya juga tuan besar."
Maira dan Titin memutuskan untuk pergi ke sawah yang letaknya tepat di belakang rumah. Gak tau kenapa Maira lagi nyaman aja menatap pemandangan.
"Kalau dipikir-pikir disini memang asri banget. Udah polusinya gak banyak, terus tiap tidur bangunnya wajib banget seger."
"Iya ning bener, makanya Titin pengen pulang terus."
"Halah itu cuma alasan aja kan, padahal emang males ngehadapi aku yang begini?"
"Astagfirullah ning, gak gitu."
Mereka berdua mengobrol bersama. Gak sadar kalau ada seorang wanita yang kini masuk dengan bingung dan mencari seseorang di rumah tersebut namun tidak menemukan satu orangpun.
Ketika dia mulai melangkah ke belakang, dia melihat ada dua orang wanita. Dua wanita yang dia tau, tapi tidak kenal.
Tepat saat orang itu melihat, Maira tampak tersenyum sembari memperbaiki jilbab dari Titin. Pandangannya entah kenapa terlihat mesra dan membuat orang tersebut terkejut bukan main.
"Jadi rumor dia yang suka sesama jenis itu benar?"
"Astagfirullahalazhim, dunia sudah tua. Bahkan istri seorang gus pun bisa keluar dari jalur yang diberi batas, saya harus melaporkan hal ini kepada Umi nanti."
Memang saat Maira menikah dengan Renjuna. Dia tidak tau kalau banyak rumor bertebaran tentang Maira yang tomboy dan berpenampilan seperti laki-laki.
Hal itu menimbulkan banyak spekulasi, terlebih lagi Maira begitu dekat dengan Titin.
Namun rumor tersebut hanya di dengar oleh Titin, dan tidak berniat meneruskannya kepada Maira. Karena mengetahui apa yang akan terjadi kalau sampai Maira tau tentang rumor tersebut.