Maira meminjam kunci mobil dari Renjuna lalu pergi mengambil snack untuk acara nanti. Ditemani oleh Titin dan juga satu orang lagi yang belum Maira kenal.
Di dalam mobil wanita tersebut mengatakan keluh kesahnya tentang Sopia yang menjabat menjadi bendahara dua. Kemarin juga sempat ada masalah kecil soal biaya DP.
"Lain kali aku mau kasi saran ke siapapun yang menjadi ketua panitia, untuk tidak menjadikan Sopia sebagai bendahara."
"Yowes sabar, pasti memang ada yang gak beres. Tapi sekarang kita harus fokus sama acara dulu."
Maira hanya mendengarkan mereka berdua berbicara, karena memang sedang fokus menyetir. Apalagi jalanan desa ada beberapa yang belum masuk anggaran perbaikan.
Toh juga dia tidak terlalu kenal dengan wanita yang sedang mereka bicarakan. Kalau Maira menimbrung takutnya dikatakan sok akrab.
"Kalian butuh berapa juta?"
"Juta? Kami cuma butuh tujuh ratus ribu lagi."
"Oke, kalau gitu saya ambil uang dulu ya. Soalnya uang yang saya bawa itu uangnya Renjuna."
Maira tersenyum setelah itu turun dari mobil, Titin sampai terkejut bukan main karena melihat bagaimana Maira yang terlihat berwibawa.
Berbeda dengan Maira yang sebelumnya Titin lihat. Bahkan pembawaannya begitu berkarisma. Titin sampai takjub sendiri.
"Ning Maira baik banget ya tin, kok ada yang tega menfitnah dia suka sama kamu. Padahal emang gelagatnya cuma seperti seorang sahabat yang sayang sama sahabatnya."
Wanita yang bernama Rani itu berkata dengan serius. Titin menganggukkan kepalanya setuju, "termasuk Sopia yang menyebarkan fitnah. Dia bilang dia yang melihat sendiri bagaimana Ning Maira memperlakukan aku dengan mesra. Memang gak ada bener-benernya."
Rani menganggukkan kepalanya setuju, "bener banget, aku malah kaya heran gitu kok bisa dia diangkat jadi bendahara dua? Padahal jelas-jelas kerjaannya itu gak pernah ada yang bagus."
"Sudah, jangan dilanjutkan lagi. Nanti saat rapat tiba, kamu bisa mengatakannya kepada semua orang."
Rani dengan semangat mengangguk, "itu pasti, aku udah gendeng wae lo iki sama kelakuane Sopia."
Tidak lama setelah itu Maira kembali dan memberikan uang tunai sebanyak tujuh ratus ribu rupiah, kemudian Maira bertanya dimana tempat mereka akan mengambil snacknya.
Sembari menyetir, Maira bertanya kepada mereka tentang rangkaian acara MTQ ini, karena Maira yang tinggal di kota tidak begitu tau tentang acara keagamaan seperti MTQ.
"MTQ ya musabaqoh Tilawatil Qur'an, kegiatannya cukup banyak. Tapi biasanya yang tampil di panggung utama itu yang tilawah sih, intinya emang bingung gimana mau dijelasin, tapi kalau Ning Maira amati langsung pasti nanti paham."
"Oh begitu ya, oh iya saya gak tau nama kamu siapa?"
"Nama Saya Rani, Ning."
"Halo Rani, salam kenal yah."
Kembalinya mereka membawa snack yang akan dibagikan nanti malam, membuat orang-orang bertanya-tanya kok bisa perginya malah sama Maira.
Kebetulan di sana ada Rasyid, selaku bendahara utama. Hanya saja dia gak memegang uang untuk seksi konsumsi, karena yang dia pegang untuk peralatan rumah tangga, dan juga acara yang pastinya lebih besar.
"Antunna pesan banyak sekali, uangnya cukup?" Tanya Rasyid.
"Sebenarnya gak cukup, cuma tadi Ning Maira yang tambahkan. Syid, anta kalau tau tadi ada perdebatan apa? Mungkin anta marah deh."
Titin sengaja untuk diam, karena dia tau Rani yang akan nyerocos dengan kesal. Sementara itu Maira menoleh ke arah Renjuna, seraya menaikturunkan alisnya.
Maira mau mengatakan kepada Renjuna, kalau dia bisa kok bantuin mereka.
Renjuna mendekati Maira, "tadi beneran bantu keluarin dana?"
"Iya dong, gimana? Aku bisa kan bantuin mereka."
"Iya saya tau, tapi lain kali kamu biarin aja. Soalnya dana yang diberikan sangat cukup untuk jalannya acara ini, berati kalau kurang ada sesuatu yang salah."
Tatapan Renjuna langsung serius, dan mendengar hal tersebut Rasyid, Rani serta Titin menoleh ke arah Renjuna. Sejatinya orang yang berani bertindak terang-terangan curang di depan Renjuna, sama saja menantang Renjuna.
"Gak apa-apa, kasihan juga mereka kalau terus debat dan acara tinggal beberapa jam lagi. Kan kamu bisa nanti sampaikan di rapat, udah ya gak usah marah-marah," ucapan Maira kali ini terdengar cukup lembut.
Membuat Renjuna bisa sedikit menurunkan emosinya. Karena dia tidak bisa mendengar hal-hal yang curang seperti ini.
***
Benar saja permasalahan ini dibawa ke forum rapat. Tepat dua jam sebelum acara terlaksana, mereka melakukan rapat untuk menanyakan tanggung jawab serta tugas yang sudah mereka kerjakan.
Maira tentu saja tidak ikut, dia tidak punya kewajiban tersebut. Toh juga Renjuna memintanya untuk pulang dan bersiap-siap di malam hari nanti ketika acara tiba.
Walaupun sebenarnya Maira penasaran mereka akan membahas seperti apa nanti? Lalu perdebatan apa yang akan terjadi, tentu saja sangat seru dan tidak enak jika dilewatkan.
Setelah rapat dibuka baru mereka mulai saling memberikan argumen dan juga bukti beberapa orang yang tidak mengerjakan tugas dengan baik.
Salah satunya ada yang sering bolos pas panitia lain pada sibuk, terus ada yang menghilang, intinya masalah-masalah yang berkaitan tentang lari dari masalah.
"Seksi acara bagaimana, anta ada kendala juga?" Ambar bertanya kepada Renjuna dengan lembut.
"Dari acara sendiri, tidak ada kendala. Kami mengerjakan dengan baik, mungkin dari Seksi konsumsi ada yang ingin disampaikan."
Mendengar ucapan Renjuna raut muka langsung berubah pucat, sangat takut kalau memang dia ketahuan oleh yang lain.
Dia ragu Rani berani mengatakan semua di depan orang, karena dia tau Rani hanya berani dibelakang saja.
"Sopia, anti bermasalah sama anak konsumsi. Karena tadi kami para anak konsumsi, saat meminta dana untuk pembayaran snack, Sopia mengatakan kalau dana sudah habis terpakai? Kami bingung, soalnya dari awal kami katakan kalau uang untuk snack tolong disisihkan tinggal satu juta rupiah."
Ternyata Sopia salah besar, karena sekarang hal tersebut benar-benar terjadi dan dikatakan dengan lantang. Ning Ambar bahkan langsung menatapnya dengan tajam.
"Kami butuh dana untuk melunasi pembayaran snack, tapi malah bilang kalau dana sudah habis terpakai? Padahal kita semua tau, dana yang diberikan cukup besar," ujar Rani.
"Astagfirullah, Rani aku gak pernah bilang seperti itu ya, aku cuma bilang tolong tunggu sebentar," sahut Sopia dengan cepat.
Titin, Andin sama Rani kaget bukan main, karena jelas-jelas mereka mendengar dengan langsung apa yang dikatakan oleh Sopia.
"Berkelit! Astagfirullah, kok jadi playing victim situ? Jelas-jelas kami bertiga lho, yang mendengar kamu mengatakan kalau dana sudah habis dipakai?"
Rasyid angkat bicara, "bahkan dana dari acara masih tersisa cukup banyak, Sopia anti jujur saja, kok bisa dana sebanyak itu habis? Mereka bahkan minta satu juta, setau saya delapan juta itu cukup untuk menghandle semuanya."
Sopia menatap ke arah Ning Ambar, seakan ingin meminta pembelaan. Ning Ambar terlihat berdecak kemudian memasang senyum palsunya.
"Tenang dulu, ayo kita bicarakan ini dengan kepala dingin. Tidak enak kalau kita saling adu emosi, apalagi acara akan di adakan sebentar lagi."
"Bukan begitu bu ketua, justru di sini saya ingin menyampaikan apa yang menurut saya tidak benar, tolong ibu ketua pikirkan lagi kenapa bisa mengangkat orang yang curang seperti dia," ujar Rani dengan nada bicara tinggi.
Renjuna berdehem, "sudah, yang penting kita tau jelas letak masalahnya dimana, kita bisa bicarakan lagi setelah acara selesai. Evaluasi perlu diadakan, saya harap Bu ketua bisa menghandle dengan baik," ucap Renjuna yang membuat Ambar tidak bisa berkelit lagi ketika Renjuna turun tangan.