Bab 27

1207 Words
Tentu saja kejadian dimana Maira memeluk lengan Renjuna dengan manja, menjadi buah bibir semua orang. Dari satu mulut ke mulut yang lain, semua membicarakan hal tersebut. Pada akhirnya rumor tentang perasaan Maira yang menyukai sesama jenispun sirna. Walau masih beberapa ada yang provokasi. Sampai sekarang Maira benar-benar tidak paham kenapa hal tersebut bisa terjadi dan menimpanya. Namun umi yang memang tidak sengaja mendengar bisik-bisik hal tersebut, membuatnya tersenyum senang. Setidaknya harapannya memiliki cucu akan tiba sebentar lagi. Suasana sarapan pagi ini memang berbeda dari biasanya. Tentu saja karena Umi dan Abah memperhatikan gerak-gerik mereka berdua sedari tadi. "Abah, Umi, lanjutkan saja sarapannya. Jangan menatap kami berdua seperti itu," tegur Renjuna dengan suara yang sangat lembut. "Iya, ini makan kok." "Gak apa-apa kali jun, mungkin umi sama Abah itu memang kangen lagi kangen berat sama kita, makanya daritadi dilihatin terus." Umi diam-diam mengulum senyum, merasa kalau kali ini rumah tangga putra bungsunya lebih baik dari rumah tangga putra sulungnya. Renjuna memang pandai, tapi kesalahan di awal membuat Umi semakin yakin, tidak ada salahnya membiarkan mereka memilih. "Semoga makin langgeng ya, umi sama abah tuh udah tua. Pengen banget rasanya bisa gendong cucu, kalau dikasih cepat sih Alhamdulillah," ujar Umi setelahnya. Sontak Maira yang mendengar hal itu langsung kaget bukan main dan tersedak, beruntung Renjuna dengan cepat memberikan Maira segelas air. "Makannya pelan-pelan to, jangan dengerin kata umi. Kapan kalian siap dan Allah memberikan amanah aja." Abah menyahut karena tidak enak dengan menantunya. Dengan segera Abah melayangkan tatapan ke arah umi seraya menggeleng. Setelah sarapan itu selesai Renjuna rencananya mau mengajak Maira kembali ke tempat dimana mereka akan mempersiapkan acara pembukaan nanti malam. Namun sebelum itu Renjuna bertanya pada Maira, "kamu mau ikut atau tidak?" "Tumben nanya, biasanya langsung mengajak." "Mungkin karena kejadian kemarin." "Memangnya kemarin kenapa? Kamu kira aku malu? Gak tuh, justru harusnya emang gak malu. Karena wajar aku bermanja ria sama Pak Su kan?" Renjuna menahan untuk tidak tersenyum. Kali ini dia mengajak Maira naik ke mobil, dengan alasan ada beberapa barang yang harus dia bawa. Kalau bawa pakai motor, takutnya tidak bisa terangkut. Maira terdiam ketika merasa semua itu seperti mimpi. Apa yang terjadi padanya, apa yang sedang dia alami sekarang, semua terasa seperti mimpi. Maira yang bahkan tidak menghargai hidup karena dirundung kesepian, sekarang setidaknya punya orang-orang dengan lingkungan yang baik. Ketika Maira menoleh ke arah Renjuna, di sana dia menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Mungkin Maira akan rugi besar kalau saja waktu itu dia tidak menerima pinangan Renjuna. "Kamu memang suka ya, menatap saya diam-diam." "Iya, soalnya kelihatan lebih kalem. Kalau lihat langsung, nanti kamu kepedean, ngira kamu ganteng banget." Renjuna menggeleng pelan, "Oh iya, nanti malam ingat, pakai gamis. Sekarang saya izinkan pakai celana karena saya tau kamu belum terbiasa." Maira menyengir lebar, ya gimana ya? Maira sudah terbiasa menggunakan celana. Memang ada empat potong gamis yang Renjuna belikan untuknya, namun dari empat gamis tersebut baru satu yang Maira kenakan. "Pasti, karena nanti malam itu rencana resmi. Jadi tenang aja Pak Su, setidaknya aku gak malu-maluin." Renjuna menganggukkan kepalanya pelan, "saya percaya itu." Setelah sampai di tempat, memang sudah lebih siap dari sebelumnya. Terlihat panggung sudah dihias dan beberapa kursi di letakkan, ada juga sofa di bagian depan samping. Maira menebak itu akan menjadi tempat duduk orang-orang penting, mungkin aja juga Maira akan duduk di sana. "Gus Renjuna," sapa salah seorang perempuan. Maira yang mengetahui siapa wanita itu hanya menatap datar ketika dia mendekat dan menyapa Renjuna dengan senyum termanis. "Bisa minta tolong sebentar, ini menyangkut schedule acara." "Oh iya, anti tenang saja. Saya akan membantu sebisa mungkin, katakan apa yang bisa saya bantu," ucap Renjuna. Sejenak wanita yang tidak lain adalah Ambar itu menoleh ke arah Maira, seakan mengisyaratkan kalau Maira tidak boleh tau apa yang Ambar akan katakan pada Renjuna. "Tidak apa-apa, katakan saja dia juga istri saya." Maira tersenyum penuh kemenangan ketika mendengar ucapan Renjuna. Seakan tengah membalas tatapan dari Ambar untuknya. Maira menggeleng pelan seraya terkekeh, kemudian ketika tatapan Ambar dan Maira bertemu, Maira langsung melengos begitu saja. "Ini mengenai sajian acara pembukaan setelah penyambutan," ucap Ambar. "Begini, anti tenang saja sudah saya koordinasikan dengan rekan yang lain. Nanti rapat sebelum acara saya beritahukan kepada anti." Maira kembali tersenyum kali ini ucapan Renjuna jauh lebih formal dari yang kemarin. Tapi Maira masih tidak paham dengan kata anti. Setelah pembicaraan itu usai, Ambar pamit kepada Renjuna dan juga Maira tentunya. "Jun, anti itu artinya apa?" "Kamu, cuma lebih sopan dan formal." "Kok anti gak pernah begitu kalau manggil aku?" Sontak Renjuna tidak bisa menahan tawanya ketika mendengar Maira langsung mempraktekkan ucapan yang dia ketahui. "Kalau perempuan ke laki-laki bukan anti." "Oh salah ya?" Tanya Maira kaget. Renjuna menganggukkan kepalanya, "nanti saya ajari, tapi untuk sekarang fokus sama kegiatan MTQ dulu." "Oke!" "Kalau gitu aku pamit cari Titin dulu ya, atau mau cari sesuatu untuk dibantu. Gak enak kalau cuma jalan-jalan sekitar sini saja." Renjuna memberikan izin, kemudian melihat Maira yang tampak menjauh dari pandangannya. Renjuna kembali tersenyum, sungguh berbeda rasanya ketika Renjuna pertama kali bertemu dengan Maira dengan Maira disaat yang sekarang. Rasanya mungkin sedikit lebih akrab, karena mereka sudah mulai mengenal diri masing-masing. *** "Sop gimana sih? Dananya kok bisa kurang padahal apa yang diberikan sudah lebih dari cukup saat rapat kemarin." Maira mendekat ke arah Titin yang kini sedang berbicara dengan serius dengan tiga orang lainnya. Salah satu diantaranya Maira kenal. "Kalian ngapain salahin aku? Ya jelas aku sudah berusaha buat ngatur dana sebaik mungkin, lagi pula kalau kurang kita bisa minta sumbangan ke warga kan?" Sopia terus berkelit, masalah keuangan yang kurang. Seksi konsumsi sudah memberikan DP untuk jajan kotak dan air sedus. Namun mereka belum mengambilnya karena belum dilunasi. Sekarang ketika para koordinator konsumsi meminta dana melunasi pembayaran, sopia selaku bendahara dua malah mengatakan kalau anggaran tidak cukup. "Ada apa ini?" Tanya Maira. Sontak ketika Sopia melihat kedatangan Maira, wanita itu memutar bolamatanya jengah. "Maaf ukh, tapi masalah ini tidak ada kaitannya dengan ukh," ujar Sopia. "Ya saya kan tanya, masalahnya apa? Kalau memang saya bantu, saya bisa bantu." Maira langsung disambut dengan tidak hangat ketika berhadapan dengan wanita yang bernama sopia ini. "Ning Maira tidak usah khawatir, ini hanya masalah dana." "Oh dana doang, emang butuh berapa?" Tanya Maira. "Ning Maira, saya kan sudah katakan. Anti tidak ada urusan di sini, adapun jika memang bermasalah, maka biar kami yang selesaikan." Salah satu diantaranya menyahut, "terus gimana? Anti kepikiran gak sama penyelesaiannya? Bukannya main lempar masalah kaya gini. Bersyukur kalau memang Ning Maira mau bantu, hal ini bisa aku ajukan sebagai salah satu evaluasi serius saat rapat lho," ujarnya. Tatapan mata Sopia menajam seketika, "berani sekali? Padahal aku itu sudah berusaha semampuku untuk menjaga dana supaya sesuai dengan pengeluaran, aku kan juga udah saranin ambil snack di tempet yang aku rekomendasi karena murah dan enak, tapi kalian gak mau," balas Sopia. Kali ini melempar masalah dengan terlihat seperti korban, Maira menggeleng pelan. "Sudah, kalau gitu gak usah dikhawatirkan memang berapa yang dibutuhkan, mau pergi angkut sekarang? Mumpung suami saya bawa mobil, nanti saya yang antar kalian mengambilnya," ucap Maira menengahi. "Terima kasih banyak Ning, terima kasih," ucap mereka termasuk Titin. "Tapi Ning Maira kan bukan bagian dari---" "Bersyukur dia mau bantu, kalau gak ada Ning Maira, anti bisa masuk perkara yang lebih besar lagi."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD