Bab 26

1071 Words
"Tin, kamu harus tau kemarin aku pergi ke tempat asramanya santri putri, perginya sama umi." Titin yang tengah melipat beberapa pakaian, tampak menganggukkan kepalanya ketika Maira tengah mengajaknya berbicara. "Terus ada apa?" "Tadi aku ketemu sama Ning Ambar, itu loh cewek yang katanya temen masa kecil Renjuna. Kamu pernah gak sih mikir, kayanya dari semua permasalahan dia ini impostornya." Titin menggeleng dengan raut wajah polosnya. Maira mendengus sebal kemudian mengatakan apa yang menjadi opininya. "Dia kan temen lamanya Renjuna, yang namanya temen mungkin aja nyimpan perasaan, dan kita gak tau kan? Perasaannya seperti apa ke Renjuna." "Maksud Ning Maira, Ning Ambar menyukai Gus Renjuna?" "Nah! Itu yang aku maksud, kamu akhirnya paham juga." Titin menganggukkan kepalanya setuju. Karena dia pernah mendengar kalau rencananya Gus Renjuna akan dijodohkan dengan Ning Ambar, hanya saja setelah perceraian dari anak pertama umi sama Abah kiyai, mereka memutuskan untuk memberikan hak bagi anak mereka memilih pasangan sendiri. Entah sudah Titin katakan atau tidak kepada Maira tentang hal ini. Dia mengarahkan pandangannya kepada Maira. "Ning, tapi kayanya memang benar dugaan Ning Maira. Mungkin saja Ning Ambar menyukai Gus Renjuna, karena dulu ada rumor tentang perjodohan di antara keduanya." "Wah kalau itu beneran, mungkin aja sih Ambar itu kesal sama aku." Maira tampak berpikir keras, kalau begitu Renjuna sudah berhasil jadi miliknya. Berati Ambar mau mencoba merebut Renjuna darinya? Ck, kekanakan sekali! "Ning Maira juga jangan terlalu berpikir negatif. Bisa jadi itu hanya karena memang Ning Maira belum mengetahui sifat dari Ning Ambar. Jangan suudzon yuk." "Gak negatif thinking, cuma ya memang apa alasannya sampai sengaja gitu lho, nampakin wajah dia yang sinis ke aku?" "Kalau bukan gak suka?" Tambah Maira. Titin menggeleng pelan dengan raut wajah bingung, kemudian menggeser beberapa pakaian dari Gus Renjuna untuk dilipat oleh Maira. "Nah, lebih baik sekarang Ning Maira melipat pakaian Gus Renjuna. Karena rasanya kurang pantas jika Titin yang melakukan. Nanti pakaian Ning Maira biar Titin yang urus." Maira mendengus sebal seraya menatap tajam ke arah Titin, "bisa-bisanya nyari kesempatan dalam kesempitan." Pada akhirnya Maira menuruti ucapan Titin. Kebanyakan pakaian Renjuna adalah baju Koko, sehingga lebih mudah untuk dilipat. "Oh ya Ning, dua hari lagi ada kegiatan MTQ tingkat kelurahan, mau hadir atau tidak?" "Hmm, gimana ya?" "Sebenarnya males sih, cuma kalau kamu maksa boleh juga." Titin menggeleng pelan, "tapi kalaupun Titin gak ajak, Ning Maira memang harus datang ke sana." "Kenapa?" "Udah jadi tamu penting." "Nanti sore mau ikut melihat bagaimana persiapannya?" "Gak deh." Maira menolak memang siang itu, namun ternyata dia tetap datang karena Renjuna memaksanya untuk ikut. Renjuna bilang Maira juga harus ya bantu-bantu, atau atau gak ngawasin Renjuna yang terpaksa kerja sama sama wanita lain. Padahal Maira udah pernah bilang, kalau dia gak masalah. Tapi Renjuna malah marah dan mengomel. "Justru kalau kamu bilang gak apa-apa, itu tandanya kamu gak cemburu lihat saya sama wanita lain." "Padahal saya mungkin saja di dekati wanita lain." "Ck, iya, iya, aku bolehin malah ngomel." "Bukannya ngomel, tapi itu tandanya kamu tidak sayang suami." "Ya memang gak sayang, kita kan baru kenal?" Renjuna merasa tertohok sendiri dan memilih untuk tidak membalas ucapan Maira. Walau sebenarnya Maira itu ngerasa memang jawaban dia benar, dan gak ngerasa bersalah sama Renjuna. Sesampainya di tempat, para pengurus terlihat sibuk menyiapkan panggung. Lalu karena penasaran, sebelum Renjuna pergi, Maira menahan lengannya. "Jadi apa di sini?" "Seksi acara." "Jadi Pembawa acara?" "Ya bisa dibilang yang mengatur acara, kenapa? Mau nyumbang ngaji?" Maira dengan cepat menggeleng, "kamu mau lihat aku diejek satu kampung karena belum bisa bedain mana dommah sama dommahtain?" Renjuna menahan untuk tidak tertawa, kemudian dia meminta Maira untuk duduk di sana, Renjuna juga bilang ada Titin yang tengah pergi dan akan kembali sebentar lagi. Maira mendengus sebal mendengar Renjuna mengatakan nama Titin, niat hati supaya gak ketahuan dia dateng eh malah ketahuan. "Nah lo! Katanya tadi gak mau ikut." Maira menoleh dengan tatapan kesal ke arah Titin, "iya, memang rencananya gak mau ikut. Tapi apa daya dipaksa Pak Su buat ikut." "Gus Renjuna mana?" "Tuh lagi siap-siapin sound di belakang panggung." Melihat Maira dan Titin sedang mengobrol, salah seorang wanita mendekat ke arah mereka, dan menarik Titin untuk menjauh. "Astagfirullah! Kalian ngapain berdua-duaan seperti ini?" "Hah?" Maira melongo tidak percaya. "Andin, kamu ngapin narik tangan saya? Saya kan perempuan, gak apa-apa dong perempuan sama perempuan berdekatan?" Wanita yang bernama Andin itu segera menggeleng, "Titin kamu lupa ya? Kan Ning Maira itu belok, iya gak Ning?" Entah karena memang kelewat polos atau lemot, wanita itu malah melemparkan pertanyaan tanpa rasa bersalah sama sekali. Titin dengan cepat menegurnya, hal itu lantas membuat Maira mendengus sebal, karena memang sudah lelah dengan drama tentang menyukai sejenis ini, Maira menarik tangan wanita tadi. "Eh, ini kenapa atuh tangan saya ditarik. Ning Maira gak suka sama saya kan?" Ujar wanita bernama Andin itu ketakutan, disusul Titin yang merasa kebingungan. "Ning Maira mau kemana?" Maira mengajak mereka ke belakang panggung, kebetulan sekali di sana ada Renjuna dan dua pemuda lain yang tengah bekerja. "Gini ya, supaya kalian gak salah paham lagi." "Pak Su!" Panggil Maira kepada Renjuna. Pria itu menoleh dengan tatapan bingung, "sini," tambahnya. Renjuna mendekat, dengan cepat Maira melepaskan tangannya dari Andin lalu berlari kecil memeluk lengan Renjuna dengan manja. "Kalau saya belok, gak mungkin saya nerima lamarannya pak suami, iya gak sayang?" Tanya Maira lembut. Sontak hal itu membuat sekitar lima orang yang berada di sana menutup mulutnya terkejut. Begitu juga Renjuna yang tampak syok lalu mematung di tempat. Bertepatan dengan itu Ning Ambar beserta pengikutnya datang untuk meninjau, dia melihat Maira yang sedang bergelayut manja di lengan Renjuna. Tatapannya berubah datar dan sinis, dia berdehem membuat semua orang kembali berbalik ke arah lain, mengubah titik perhatian mereka ke arah Ambar. "Mohon maaf mengganggu, tapi setidaknya tau tempat ya. Karena kita harus kembali bekerja mengingat persiapan untuk acara MTQ." Teguran itu seakan sengaja dilayangkan untuk memisahkan Maira dan juga Renjuna. Namun ternyata Renjuna tidak menggubris, malah membiarkan Maira semakin erat memeluk lengannya. "Gimana, udah percaya belum kalau saya gak belok. Tapi terserah sih apa kata orang, toh juga yang berumah tangga pasti merasakan feelnya sendiri bagaimana, iya gak yang?" Tanya Maira pada Renjuna. Pria itu hanya mengangguk dengan ekspresi datar, Titin berhasil menarik kedua sudut bibirnya ke atas dan mengacungkan jempol ke arah Maira karena begitu hebat bisa langsung menyikat rumornya dengan bukti yang konkret. "Semoga setelah ini sih gak ada lagi rumor aneh." "Ih iya! Maaf banget atuh, saya udah salah sangka. Kemakan sama gosip, astagfirullah," sahut Andin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD