Bab 25

1116 Words
"Ini dibaca tanwin." Renjuna mengajari Maira mengaji. Namun kali ini entah Maira kesambet apa sehingga dia yang berinisiatif untuk menyuruh Renjuna mengajari dirinya mengaji. Karena kata Titin, lawan Maira orang yang ahli dalam agama. Walaupun terkadang Maira misuh-misuh, kok bisa ahli agama begitu jahil. Namun kembali lagi, tergantung orangnya dan yang jelas ilmu agama mereka memang tinggi. Mungkin untuk menghapal dia hebat, tapi untuk menerapkan ilmu yang dia punya, masih butuh pembiasaan. "Qo dibaca Qo jangan Ko, tapi Qo," terang Renjuna ketika mengoreksi bacaan Maira. "Qo," ulang Maira. Renjuna menganggukkan kepalanya, sekarang Maira udah gak malu lagi kalau belajar ngaji sama Renjuna. Di awal dia memang malu. Malu karena Renjuna harus menghadapi cewek yang sedikit buta dengan ilmu agama seperti dirinya. Setelah membaca doa di akhir kegiatan mereka. Maira terdiam sejenak, merenungi dirinya sendiri yang merasa sangat awam dan tidak tau apa-apa, padahal sudah setua ini. "Kenapa?" Tegur Renjuna. "Lagi ngerasa insecure dan menyesal. Kenapa baru banget ya aku belajar agama, padahal aku udah hidup lama," ujar Maira dengan raut wajah sedih. "Padahal kalau kita pelajari ilmu agama, setidaknya kita gak b**o-b**o banget," tambahnya. Renjuna terlihat mengangguk setuju walau dia menyembunyikan senyumnya. Dengan tatapan yang begitu datar namun serius, Renjuna menatap Maira. "Tidak apa-apa, kalau memang sudah merasa ilmu agama itu penting dipelajari, maka sekarang mulai pelajari, saya akan membantu kamu sebisa saya." "Terima kasih, memang seharusnya begitu sih ya. Pak su yang udah bantu aku ngenalin agama aku, terima kasih ya." "Pak Su!" Tegur Maira. "Iya?" "Senyum dong, dipuji sama istri datar-datar bae. Mana suka ngomel lagi," sindir Maira. Renjuna tidak bisa menahan senyumnya melihat Maira yang bersungut di depan. Demi Allah, Renjuna tidak pernah punya penyesalan ketika memilih Maira bahkan sampai sekarang. "Nah gitu dong senyum, sama satu lagi ... Jangan pernah jera buat omelin aku ya." Renjuna terkekeh kecil mendengar permintaan Maira. Wanita itu juga cukup senang bisa melihat sisi hangat Renjuna. Maira kadang bingung sama pertanyaan kecil yang timbul di hatinya tentang Renjuna. Kalau saja waktu itu Maira tidak bertemu dengan Renjuna, dia akan merasa hidupnya penuh dengan kesunyian. Bolehkah Maira begitu bersyukur karena sudah dinikahi Renjuna? Walau dia masih begitu awam dengan dunia pernikahan dan tugas seorang istri. Jiwa tomboi Maira masih ada dan belum lepas sampai sekarang. Wanita itu melirik lagi ke arah suaminya. "Tau gak, kemarin aku habis ngapain sama Titin?" Renjuna yang sedang merapikan sajadah, menoleh ke belakang. Dia mengernyitkan dahinya bingung, ketika Maira berkata tentang Titin. Renjuna ingat memang, kemarin Maira pergi bersama Titin untuk menjual lukisannya. Renjuna tidak tau kalau ada cerita dibalik itu semua. "Sebelum pergi, aku ketemu sama wanita yang tukang nyebar hoax itu. Kalau gak salah dia santriwati berprestasi, tapi kenapa kelakuannya kaya orang yang gak berprestasi sama sekali?" "Sudah, jangan balas dia dengan ucapan seperti itu. Kalau kamu balas, bukankah kamu jadi sama saja dengan dia?" Maira tampak berpikir, selanjutnya mengangguk setuju mengingat ucapan yang dikatakan Renjuna memang benar adanya. Walau masih kepalang kesal ketika mengingat hal tersebut, Maira menceritakan kepada Renjuna. Bagaimana dia yang sengaja memperlakukan Titin dengan romantis, padahal sebenarnya itu cuma gimmick. "Astagfirullahalazhim, kenapa kamu memperkeruh hoaxnya?" Tegur Renjuna dengan tatapan serius. "Kan kata kamu, aku gak perlu sakit hati ketika mereka menggunjingku dengan sesuatu yang sama sekali tidak benar tentang aku. Karena pahala aku semakin besar ketika digibahkan. Jadi kenapa gak ikut permainan saja?" Jawab Maira dengan ekspresi polosnya. Renjuna hanya bisa menggeleng dengan raut wajah pasrah ketika istrinya berkata demikian. "Memang benar, tapi jangan dipanas-panasi karena mereka akan semakin salah paham." "Ya itu salah mereka, kenapa mempercayai apa yang dia lihat dengan mudah, kemudian membuat asumsi sendiri karena posisinya aku sama Titin ada di sana lho, lagian mereka masa gak bisa bedain mana yang serius dan mana yang bercanda?" Tukas Maira. "Iya saya tau, tapi kalau kamu turut memancing mereka juga. Berati apa bedanya dengan kenyataan yang mereka terima tentang kamu?" Maira mendengus sebal ketika memikirkan maksud ucapan Renjuna. Pada akhirnya Renjuna menang melawannya debat. "Memang ya, ada dua kemungkinan yang bisa bikin rumor itu reda." "Apa itu?" Tanya Renjuna penasaran. "Menyangkal atau membuktikan." "Menyangkal dengan?" "Ya menyangkal kalau ditanya, pembuktiannya bisa aja terjadi kalau aku hamil anak kamu, hamil adalah bukti paling konkret aku ini beneran belok atau nggak?" Renjuna berdehem pelan, telinganya memerah. Dia tidak pernah memikirkan masalah ini sebelumnya. Melihat raut wajah Maira yang sungguh-sungguh, Renjuna merasa agak malu sendiri. Berbeda dengan Renjuna, Maira malah keheranan ketika melihat Renjuna yang salah tingkah saat Maira mengatakannya. *** Maira sengaja ikut dengan umi untuk mengunjungi asrama santriwati. Mengingat rumor tentang dirinya menyebar di sana. Dengan mengenakan dress polos berwarna hijau tua dan juga jilbab jadi berwarna abu, Maira mengekor dari belakang. Mungkin ini pertama kalinya Maira pergi ke asrama putri, karena kemarin-kemarin Abah mengajaknya pergi ke asrama putra. Kalau dilihat-lihat memang tampak lebih luas daripada asrama putra. Karena populasi wanita lebih banyak sekarang. Gak heran banyak sekali pelakor yang siap mengintai para laki orang. Maira bergidik ngeri membayangkan hal itu, semoga tidak terjadi padanya. "Coba di lihat-lihat dulu, bagaimana dengan bangunannya?" "Hampir sama kaya bangunan santri putra, mungkin bedanya kalau santri putri lebih banyak gedung baru gak umi?" Balas Maira dengan ramah. Umi menganggukkan kepalanya setuju, "iya kamu benar, memang lebih banyak gedung baru di tempat santri putri." Tidak lama setelah itu ada yang menyapa mereka berdua dengan ramah. Yang jelas Maira merasa asing dengan wajah itu, karena Maira juga jarang ikut dengan umi untuk mengunjungi santri putri. "Wah umi bawa Ning Maira ya?" "Iya, dia mau ikutan melihat kegiatan santri putri," jelas Umi. Maira menoleh dan tersenyum seraya menyapa kedua santri tersebut. Mereka juga menyapa balik dengan sopan. Hal itu membuat Maira punya kesan yang baik terhadap mereka. Tidak lama setelah itu Maira dipertemukan dengan Ning Ambar, kalau gak salah dia yang waktu itu sering datang ke rumah utama. "Assalamu'alaikum, wah ada Umi sama ... Ning Maira ya?" Sapa Ning Ambar dengan sangat ramah, senyumnya bahkan membuat siapapun pasti terpesona jika melihatnya. Namun entah mengapa kesan Maira langsung buruk begitu saja ketika wanita ini, seolah-seolah Ambar tidak bisa mengingat nama Maira yang mudah untuk diucapkan. "Waalaikumussalam," balas Umi. "Waalaikumussalam, dia siapa umi? Kayanya Maira sering lihat dia datang ke rumah?" Ujar Maira pura-pura tidak tau. "Masa sih, bukannya waktu itu sudah kenalan?" Tanya Umi, namun Maira pura-pura terlihat lupa dan menatap Ambar dengan seksama. "Oh iya, umi lupa mengenalkan dia Ning Ambar, salah satu teman Renjuna dulu waktu masih MI." "Oalah temennya Renjuna, Maira kayanya pertama kali dengar Renjuna punya teman wanita." "Hahaha betul Ning Maira, saya teman Gus Renjuna sampai sekarang masih berteman baik, Ning Maira jangan sungkan sama saya." Maira bisa melihat sendiri bagaimana raut wajah Ambar seketika berubah dan ketika Umi menatapnya, raut wajah ramah dia perlihatkan kembali. "Jangan-jangan dia lagi impostornya,"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD