Rasa-rasanya malam ini Renjuna bersikap aneh dari pagi. Bukan aneh yang mengarah ke buruk, lebih tepatnya mengarah ke hal yang baik. Karena Maira malam ini diajak pergi keluar.
Kata Renjuna dia ingin mengajak Maira pergi berkunjung ke alun-alun, letaknya memang agak jauh dari desa mereka. Demi kenyamanan, Renjuna menggunakan mobil sebagai transportasi mereka menuju alun-alun.
Sepanjang perjalanan mata Maira tidak pernah lepas dari Renjuna, kemudian menatap dengan begitu penasaran.
Apa sih yang membuat Renjuna mau mengajak Maira pergi?
Tentu saja Renjuna sadar dengan tatapan tersebut. Ketika dia menoleh ke samping, Maira segera memalingkan wajahnya.
"Apa yang ingin kamu lihat?"
"Atau kamu memang sedang mengamati wajah saya, tampan kan?"
"Percaya diri sekali Pak Su, tapi ya memang. Aku ngerasa aneh aja, kok tiba-tiba malam ini ngajak pergi ke alun-alun."
"Memangnya salah kalau saya ajak kamu keluar?"
"Gak salah, cuma tumben aja. Untuk apa, dan karena apa?" Tanya Maira lagi lebih rinci dari sebelumnya.
"Tidak ada hal khusus, hanya ingin jalan-jalan. Mau sendiri, tapi karena sudah punya istri maka manfaatkan saja."
Maira mendengus sebal, jawaban Renjuna bukannya membuat rasa penasarannya terobati, dia malah semakin kesal.
Hingga pada akhirnya mereka sampai di alun-alun, karena memang perginya ba'da isya, Maira mengira kalau tempatnya akan sepi. Tapi ternyata tidak, justru malah ramai sekali di sini sekarang.
"Mau kacang?" Tawar Renjuna.
Dengan cepat Maira mengangguk, lalu setelah menanti Renjuna kembali membeli kacang, mereka duduk lesehan di sebuah rumput yang menjadi alas duduk mereka.
"Udah sering ke sini ya?"
"Tidak juga, saya hanya kesini beberapa kali."
"Sama?"
"Sendiri."
Maira hendak menahan tawanya, namun dia ingat kalau pria yang menjawab ini adalah Renjuna. Jadi tidak heran dia akan pergi sendiri kw tempat seperti ini.
Maira mengambil satu persatu kacang tanah yang belum dikupas, lalu ketika dia sudah mengupasnya, dia menyisihkan di sebelah kanan.
Renjuna yang lagi gabut, memperhatikan bagaimana Maira menabung untuk memakan kacang tersebut.
"Kamu kalau makan kacang memang harus ditabung dulu?"
"Iya."
"Eh uang beli kacangnya darimana, aku belum ada kasi ke kamu lho?" Tanya Maira yang menyipit curiga.
Sebenarnya waktu awal Maira menegang kendali atas uang Renjuna. Dia begitu bodo amat, bahkan masih menggunakan kartu yang diberikan sang Papa untuk membeli sesuatu.
Namun sekarang dia malah menjadi sangat teliti dengan berapa pengeluaran dan pendapatan dari Renjuna.
Tentu saja karen umi, kalau Umi tidak memberikannya saran. Mungkin saja Maira masih ngang-ngong tidak tau harus mengurus uang Renjuna bagaimana.
"Oh ini tadi ada kembalian dari beli buku, yaudah pake beli kacang."
"Kirain diem-diem kerja di tempat lain."
Renjuna menarik satu sudut bibirnya tipis, "kerja dimana? Kalaupun ada tempat kerja lain, saya pasti memberitahukan kepada kamu."
"Hmh, bohong."
"Kenapa?" Tanya Renjuna ketika Maira malah meledeknya.
"Buktinya rumor tentang aku suka sama Titin kamu gak kasi tau. Malah Titin yang duluan kasi tau," balas Maira.
Renjuna diam tak bergeming, karena mendengar ucapan dari Maira. Terlihat kalau sekarang Maira mendengus sebal karena tidak mendengar jawaban dari Renjuna.
"Kenapa diem aja?"
"Bener kan?"
Renjuna dengan mantap menggeleng, "bukan seperti itu maksud saya. Tapi memang ada beberapa hal yang membuat saya terlambat untuk memberitahukannya kepada kamu."
"Alesan."
"Itu bukan sekedar alasan, tapi memang kebenarannya."
Maira memutar bolamatanya jengah seraya memakan kacang yang sudah dia kupas dan sisihkan itu sekaligus.
"Terlepas dari saya yang terlambat memberitahu memang salah saya. Tapi kamu harus tau, kalau saya melakukan ini karena tidak ingin melihat kamu sedih."
Maira yang sebenarnya punya feel biasa aja pas mengatakan hal tadi, mendadak terkejut. Dia tertegun ketika mendengar Renjuna begitu mementingkan perasaan dirinya.
"Renjuna kamu?"
"Iya, saya hanya tidak ingin kamu bersedih dan kecewa. Padahal kamu baru saja tinggal di sini sebagai menantu Kiyai Mursyidi dan Istri Renjuna."
Maira tampak manyun, namun mengangguk setuju ketika mendengar ucapan Renjuna.
"Saya tidak ingin kamu terbebani."
Maira berdecak setelahnya, "siapa sih yang berani-beraninya nyebarin rumor. Kalau sampai ketahuan siapa orangnya, bahkan kalau kamu leraipun akan susah untuk lepas."
"Maksud kamu?"
"Astagfirullahalazhim, Maira jangan menyimpan dendam pada seseorang. Itu gak baik. Saya juga ingin kamu belajar memaafkan dan bersabar."
Maira menghela nafas ketika mendengar ucapan Renjuna. Memang sih kita harus sabar dan berusaha memaafkan, tapi hati Maira masih terlalu keras untuk itu.
Bahkan Ilmu agama Maira tidak setinggi Renjuna. Jadi masih memiliki perasaan dendam ketika tau ada yang menyebarkan rumor.
"Sebenarnya saya ajak kamu keluar supaya lebih fresh dan kamu bisa lihat keadaan di sekeliling kamu sekarang. Kalau sebenarnya hal yang menjadi bahan gosip itu tidak penting, pikirkan saja kebahagiaan kamu."
"Belum terpikirkan sama sekali," jawab Maira dengan ekspresi datar.
Renjuna malah terkekeh tanpa Maira ketahui. Kemudian dia membukakan kulit kacang dan mengambil isinya lalu diberikan kepada Maira.
"Makan, biar sekarang saya yang kupaskan. Kamu tinggal makan pemberian saya."
***
Titin akhirnya datang setelah sekian lama. Sebenarnya alasan Titin bukan untuk menghindari Maira, hanya saja dia masih sibuk dengan persiapan MTQ Tingkat kelurahan yang diadakan beberapa minggu lagi.
Mengurus pendaftaran dan beberapa sponsor. Titin menceritakan hal itu semua kepada Maira.
"Oh kirain kamu malu ketemu aku gara-gara berita s****n itu."
"Astaga, bukan begitu Ning."
"Ck, kemarin juga Renjuna juga bilang alasannya karena dia gak mau aku sedih. Kamu juga kasi alasan karena gak mau aku marah, gimana aku bisa terima?"
Titin menganggukkan kepalanya paham, sangat paham betul apa yang dimaksud oleh Maira.
"Maaf kalau Titin membuat Ning Maira sedih."
"Gak sedih, cuma sedikit kesal aja."
"Apa rumor itu masih menyebar diluar sana?" Tanya Maira penasaran.
"Masih, bingung gimana cara menghentikan rumornya."
"Gak bakalan bisa berhenti kalau dalang penyebar rumornya gak dikasi lakban."
Titin bergidik ngeri mendengar ucapan Maira. Setelah itu dia melihat lukisan yang hendak dikirim oleh Maira, meminta bantuan Titin menemaninya.
Lukisan ini berbeda dengan lukisan yang dibuat oleh Maira di gazebo belakang. Dia hanya menggores beberapa cat menjadi sebuah lukisan dengan nilai mahal, gak terlalu besar melainkan ukuran sedang.
"Gak jadi pergi sama gus Renjuna?"
"Gak."
"Kenapa?"
"Memang gak pernah bilang, sebenarnya sengaja mau ngajak kamu untuk menunjukkan kepada mereka kalau kita memang serasi, iya gak?" Tanya Maira.
Titin menggeleng pelan dan terkekeh mendengar gurauan Maira tentang rumor yang kini menyebar. Walaupun sebenarnya Titin Was-was sendiri sama tingkahnya Maira.
Mereka akhirnya pergi setelah pamit dengan umi. Namun sebelum Maira naik dia tampak sedang menanti kedatangan seseorang.
Hingga saat orang itu datang, Maira memperlakukan Titin layaknya tuan putri dengan membukakan pintu untuk Titin.
Sontak hal itu membuat Titin terkejut bukan main, apalagi sekarang mereka tengah menjadi pusat perhatian oleh dua wanita di depan gerbang.
"Sayangku Titin, nanti setelah dapet uangnya kita beli gamis baru ya," ujar Maira dengan senyum sinisnya melirik ke arah dua wanita yang tampak berbisik.
Begitu Maira menjalankan mobil, Titin dengan segera bertanya pada Maira. Kenapa dia melakukan hal tersebut.
"Sengaja aja."
"Untuk?"
"Membuat mereka makin terlihat bodoh hanya karena mempercayai apa yang mereka lihat. Gak apa-apa lah ikut main sama mereka juga, iya gak?"