Maira menatap lukisan yang sudah jadi itu dengan sebuah senyum mengembang. Dia bahkan menaik turunkan alisnya saking senangnya, karena lukisan yang dinanti-nanti akhirnya jadi juga.
Maira masih memikirkan apa lukisan ini nanti dia jual kepada pembeli setianya, atau dibiarkan saja di rumah. Apalagi lukisan ini menggambarkan suasana malam rumah ini.
Maira menyelesaikannya dengan waktu yang cukup lama, sekitar lima hari, ketika memutuskan untuk mulai menggores cat di atas kanvas, maka Maira akan susah untuk sekedar mengetahui tentang aktivitas orang-orang disekitarnya.
Renjuna mungkin juga belum pulang, karena ini baru jam tiga sore. Perut Maira mendadak meronta minta makan, dengan cepat Maira masuk ke dalam setelah berhasil menutup lukisannya.
Begitu Maira masuk, dia mendengar ada suara perempuan yang tengah berbicara dengan umi, namun karena terlalu lapar dia kurang begitu peduli.
Maira mengambil nasi dan juga ayam goreng kecap yang sudah dibuatkan oleh umi tadi pagi. Beserta beberapa camilan yang masih tersisa.
Saat sedang asyik menikmati makanan, seorang perempuan masuk ke wilayah dapur dan terkejut melihat Maira yang tengah duduk makan.
"Astagfirullahalazhim, saya terkejut saya kira---"
"Setan?"
"Mana ada setan ganteng kaya saya," balas Maira dengan cepat.
"Ada apa ini?"
Umi menghampiri setelah tadi sempat mendengar ada keributan di dapur. Wanita paruh baya itu tersenyum lega ketika mengetahui tidak ada sesuatu yang serius.
"Kalian ini, Umi kira ada apa?"
"Gak tau mi, dia aja yang lebay. Maira sedang makan dia tiba-tiba dateng terus kaget heboh."
Lempar Maira dengan tatapan biasa saja. Berbeda dengan Maira, wanita berkerudung merah muda itu tampak merasa bersalah.
"Aduh maaf ya, saya memang agak kagetan orangnya. Maafkan saya Ning Maira," ucap wanita tersebut.
"Santai aja," balas Maira lanjut makan.
"Maira kalau ada tamu, terus Maira lagi makan adabnya bagaimana?" Tegur Umi.
Maira menoleh dan mengangguk karena baru ingat. Dia segera menyodorkan piring berisi setengah nasi yang sudah hampir habis.
"Mau makan gak? Nanti saya ambilkan, kebetulan ayam kecap buatan umi tiada tandingan," ujar Maira dengan ekspresi santai lagi.
Wanita tadi menolak dengan halus dan menundukkan pandangan seolah-olah orang yang dia temui ini adalah pria bukan wanita.
Umi yang melihat hal itu tampak terkejut, dia segera duduk di depan Maira berharap Maira tidak sadar akan sikap wanita berkerudung merah muda ini.
"Umi, sudah Maira tawari tapi dia tidak mau. Jadi bukan salah Maira."
"Oh iya, santai aja gak usah pake acara nunduk-nunduk gak enak. Malah saya gak enak lihatnya, nanti kalau kepala kamu kepentok sesuatu itu bukan salah saya atau umi," tambah Maira dengan ekspresi judesnya.
Sebenarnya kalau dipikir-pikir Maira ini hampir sebelas dua belas sama Gus Renjuna. Kadang julid, kadang judes, kadang galak. Cuma memang sama orang yang pantas digalakkan.
"Saya hanya sedang menjaga pandangan."
"Lah, umi memangnya Maira laki-laki?"
Umi segera menggeleng, "sudah Sopia kamu bisa kembali kalau gak ada yang ingin ditanyakan lagi."
"Baik umi."
Saat hendak pergi, nampaknya tangan Maira segera mencekal pergelangan tangan wanita tersebut. Karena tadi dia sempat tersinggung dengan ucapan wanita bernama Sopia itu.
"Tunggu dulu, maksud kamu tadi apa? Jangan mentang-mentang gaya saya maskulin terus kamu ngira saya laki-laki," ucap Maira.
Umi segera melerai tangan Maira, "sudah-sudah, Maira jangan seperti itu."
"Maaf umi, Maira agak keras kalau masalah ini. Cukup sabar Maira dengar bisik-bisik mereka yang menganggap Maira gak normal secara s*****l, punya mata tolong lihat sekarang saya pake jilbab atau peci?"
Umi terkejut bukan main, jadi selama ini diam-diam Maira mengetahui rumor tentang dirinya? Tentu saja Maira tau, kalau waktu itu dia gak maksa Titin buat cerita, mungkin dia gak bakalan tau.
Lalu sebenarnya dia gak masalah sama wanita yang dia cekal, hanya saja ketika umi mengatakan namanya adalah Sopia, inilah yang Maira cari.
"Kita tidak tau luar dalamnya seseorang Ning, hanya Allah yang tau," balas wanita itu dengan kepala yang masih menunduk.
Maira yang denger itu langsung panas sendiri, dia segera melepas cekalan tangannya bahkan setelah umi mencoba untuk melerai.
"Kamu sudah salat zuhur belum?" Mendadak Maira menanyakan hal tersebut kepada Sopia.
"Belum, saya mau segera menunaikan salat tapi Ning Maira menahan saya."
Setelah itu wanita tersebut langsung pamit pergi kepada Umi, sejenak Umi juga menatap tidak suka ketika wanita itu pergi.
Maira duduk dan terkekeh pelan, dia mendadak ingat pelajaran dari Renjuna tentang orang munafik.
"Maira ndak apa-apa?" Tanya Umi khawatir.
"Ndak apa-apa umi, cuma ya ngerasa seneng aja."
Umi tampak tidak paham dengan maksud dari ucapan Maira, dengan cepat Maira berkata.
"Ciri-ciri orang munafik itu, suka salat di akhir waktu. Nah pas sekali sama wanita yang tadi. Bukti Nyata sudah di depan mata, Subhanallah."
Umi terkekeh setelah mendengar ucapan Maira. Dia kira tadi Maira akan sedih dan sakit hati, ternyata dia terlihat biasa saja.
"Maira tidak sedih?"
"Sedih kenapa?" Tanya Maira bingung.
"Sopia tadi sudah menyinggung Maira."
"Marah sih iya, tapi kalau sedih? Kayanya sih nggak mi. Karena memang apa yang mereka sebarkan buruk tentang Maira itu gak bener sama sekali."
Maira terkekeh setelahnya, "Gak keren kalau baperan mi."
***
Setelah makan malam tiba, Maira terlihat santai-santai saja dan izin sebentar keluar mengambil lukisannya yang sudah jadi.
Umi sempat mengatakan kepada Renjuna apa yang terjadi pada Maira hari ini. Namun umi memang sengaja menambahkan sedikit bumbu dapur supaya Renjuna lebih perhatian lagi kepada Maira.
"Astagfirullah, bagaimana terus umi? Maira tidak emosi?"
"Dia lebih ke tegas dek, coba deh nanti di hibur istri kamu. Umi juga mau mendisiplinkan santriwati yang malah fokus bergosip."
Renjuna menganggukkan kepalanya paham, berati kalau Maira sudah tau. Renjuna tidak akan menutup-nutupinya lagi.
Malah Renjuna merasa bersalah karena tidak memberitahu Maira lebih dulu. Dia menatap wanita yang baru saja datang membawa lukisan tersebut dengan senyumnya.
"Umi, Abah, bagaimana lukisan Maira?" Tanya Maira begitu hectic memperlihatkan lukisan yang sudah jadi.
"Umi sama Abah aja nih, Renjuna gak?"
"Pak Su udah lihat duluan kemarin, ya cuma kalau mau lihat lagi gak apa-apa."
Renjuna hanya menggeleng dan mendekat. Berulang kali dia mengungkapkan Masya Allah dalam hati ketika melihat lukisan milik Maira.
"Gimana Pak Su?"
"Bagus, tidak sia-sia kamu begadang."
"Oh iya dong."
Maira tertawa pelan, begitu juga Abah yang mengangguk setuju. Bahkan tadi meminta Maira meletakkan lukisan ini di ruang tengah. Apalagi ini lukisan tidak ada terlihat gambar manusia.
"Iya rencananya mau taruh di ruang tengah. Tapi baru Maira posting di komunitas media sosial, eh udah ada sekitar dua puluh orang yang siap beli."
Umi sempat melirik Renjuna, "istri kamu hebat juga ya dek."