Bab 22

1227 Words
Malamnya Renjuna benar-benar mengajak Maira berbicara masalah keuangan. Dia mengatakan pada Maira tentang gaji, pekerjaan, dan uang tambahannya. Maira tampak menyimak dengan serius. Hingga saat azan isya berkumandang. Renjuna pamit untuk pergi ke masjid, dia sempat pulang karena ingin membahas masalah ini dengan Maira. Setelah Renjuna pamit Maira melaksanakan salat sendiri. Selesai salat Maira langsung mengambil jaket, dia teringat lukisannya yang belum sepenuhnya jadi. Maira harus segera menyelesaikannya, sebelum inspirasinya hilang. Kebetulan pas lewat dapur Maira ingat lagi dia belum menata makanan yang sudah dibeli. "Astaga kok aku bisa lupa sih?" Maira segera mendekati beberapa barang belanjaannya, kemudian menyusunnya satu persatu di dalam kulkas. Tidak lama setelah itu Umi datang menghampiri Maira, bertanya tentang apa yang sedang Maira lakukan sekarang. "Lagi ngapain?" "Eh ada umi, ini mi Maira lagi beresin beberapa makanan yang baru di beli tadi." "Subhanallah, kok banyak sekali." Umi baru sadar kalau barang yang dibeli oleh menantunya cukup banyak. Yang ditegur malah menyengir lebar. "Ya Maaf umi, habisnya buat stok abah sama umi juga." "Soalnya kemarin Maira kelaperan, eh malah ngabisin jajannya Abah." Umi terkekeh mendengar ucapan dari Maira. Dia segera menggeleng pelan dan membantu menantunya untuk membereskan makanan tersebut. Maira yang dapat bantuan, malah merasa tidak enak hati, "aduh umi, biarin aja Maira yang melakukan ini sendiri." "Gak apa-apa, memangnya salah ya kalau umi bantuin Maira?" Maira menggeleng dengan cepat, takut kalau Umi tersinggung. Maira segera mengambil enam kotak s**u tadi lalu memasukkannya kedalam kulkas satu-persatu. Tidak lupa juga dengan beberapa makanan ringan, dia taruh di kabinet atas. Beberapa diantaranya makanan ringan yang mengandung pengawet makanan. "Renjuna gak marah, Maira beli jajanan sebanyak ini?" "Marah sih, cuma ya udah kebeli gimana dong?" Balas Maira dengan cengirannya. Umi terkekeh, "memang benar ya, Maira kece banget. Bisa bikin Renjuna patuh." "Aduh, gak gitu umi. Cuma kayanya Renjuna malas berdebat makanya ngeiyain aja." Setelah selesai menyusun beberapa makanan ringan. Umi bertanya pada Maira hendak pergi kemana, lalu Maira menjawab dia akan melanjutkan pekerjannya di belakang. Umi menganggukkan kepalanya, setelah itu mengikuti Maira dari belakang, Mairanya gak sadar karena setelah dia duduk di gazebo barulah dia sadar kalau Umi juga ikut. "Umi kok ikut, gak kedinginan?" "Ndak kok, Umi penasaran Maira mau ngapain." "Maira mau ngerjain lukisan ini umi, kemarin belum sempat jadi." Ketika Maira menyingkap kain hitam yang menutup lukisannya, Umi terlihat begitu takjub melihat lukisan Maira yang begitu nyata. "Masya Allah, indah sekali." "Wah Alhamdulillah kalau umi suka." Umi menganggukkan kepalanya pelan, kemudian melihat bagaimana Maira yang begitu telaten menggores kuas dengan cat diatas kanvas. Angin malam tidak menghalangi Umi untuk menyaksikan langsung bagaimana menantunya membuat lukisan yang indah. "Memang suka lukis begini ya ra?" Tanya Umi penasaran. "Iya, sebenarnya karena kesepian. Maira gak tau harus apa? Setelah wisuda Maira gak kerja, karena Maira kesal sama Papa." "Lho kesal kenapa? Papanya Maira kelihatan sayang banget malah sama Maira." "Ya gitu deh Umi, kan Maira anak bungsu dari tiga bersaudara. Kemarin aja waktu nikah, kakak pertama gak bisa datang dengan alasan yang sudah biasa Maira dengar." Umi tampak terkejut namun menyembunyikan keterkejutannya, takut membuat Maira semakin sedih jika Umi menunjukkan hal itu. Umi mengira Maira itu dua bersaudara, jadi ternyata tiga bersaudara. Pantas Papanya Maira sebelum pergi menitipkan banyak pesan. "Makanya Maira sebenarnya bisa dibilang senang juga punya keluarga baru, walaupun harus menghadapi cerewetnya Renjuna." Umi terkekeh pelan, "maklumin ya, dia itu emang agak galak. Suka nyindir, apalagi kalau berurusan sama masnya." Kini giliran Maira yang terkejut keheranan. Ternyata Renjuna bukan anak tunggal? Dia kira Renjuna anak satu-satunya. Makanya Maira sempat merasa bersalah menikahi pria yang ilmu agamanya tinggi, bahkan santun. Beda dengan dia yang acak-acakan. "Maira belum tau Renjuna punya kakak?" "Iya umi, baru tau pas Umi bilang. Tapi Renjuna gak ada tuh bahas kakaknya." Umi menghela nafas, Renjuna memang agak kebiasaan. Kalau gak ditanya duluan ya gak akan jawab. "Renjuna itu anak bungsu dari dua bersaudara. Kakaknya namanya Saka. Nanti atau besok juga kamu ketemu sama dia, karena kemarin juga dia gak bisa hadir." "Tepat waktu lamaran kalau gak salah. Dia pergi ke Mesir saat itu juga." "Mas Saka sudah menikah?" Tanya Maira pemasaran. "Sudah, tapi mungkin memang gak jodoh. Karena Saka dan istrinya bercerai." "Astagfirullah, Maaf umi kalau tidak sopan." Maira jadi gak enak hati sendiri, walaupun sekarang kakinya diangkat satu, tanpa Maira sadari. Umi segera memperbaiki posisi kaki Maira. Hal tersebut membuat Maira terkejut dan baru sadar, kemudian dia menyengir ke arah Umi, "maaf ya umi." "Maaf terus, udah biasa aja. Umi mau masuk dulu, dingin sekali di sini." "Silahkan umi," ucap Maira. Enakan juga Maira ngerjainnya santai-santai. Sayangnya sekarang gak secerah kemarin, mungkin karena tadi sore hujan kali. Sisa-sisa awannya masih terlihat jelas. "Sayang banget sih malem ini harus sedikit mendung," gumam Maira. *** Renjuna menjadi salah satu panitia pelaksana MTQ tingkat kelurahan yang ditunjuk langsung oleh Pak Lurah. Dengan segala hormat, Renjuna tidak mungkin menolak. Walau sebenarnya dia masih ragu, apa bisa membagi waktu. Karena sekarang dia ingin fokus untuk mengajari Maira dan anak didiknya di madrasah. Sekarang ada rapat di kantor lurah. Dengan Pak Lurah selaku penanggung jawab acara, Ning Ambar menjadi ketua panitia, dan Renjuna diangkat menjadi seksi acara. Mengingat pengalaman Renjuna ketika di mesir dan juga saat tiba melaksanakan dakwah. Salah satu sahabat dekat Renjuna yaitu Rasyid turut ikut menjadi salah satu bagian panitia dan menjadi seksi keamanan. Titin juga diikutkan menjadi panitia atas rekomendasi Umi, walau sekarang pandangan mereka kepada Titin sedikit meremehkan. Titin berusaha untuk tidak peduli, karena pada dasarnya dia tidak salah apa-apa, hanya pola pikir mereka saja yang aneh. "Saya harap acara ini bisa berlangsung dengan sukses dan lancar. Mohon bantuannya sekali lagi, kalau masalah dana, saudara-saudara semua jangan khawatir. Karena pemerintah memberikan anggaran yang cukup besar." Renjuna mengamati dengan serius, walau dia tidak menyadari ada tatapan seorang wanita yang begitu memuja, menatap ke arahnya tanpa henti. "Untuk arahan selanjutnya, mungkin bisa dilanjutkan dengan ketua panitia kita. Tahun ini begitu istimewa, karena ketua panitia kita adalah seorang wanita." Mereka semua menoleh ke arah Ning Ambar, wanita itu sadar ketika Renjuna berbalik dia dengan segera tersenyum. "Baik, terima kasih atas sambutannya Pak Lurah. Saya akan mengkoordinir para panitia dengan sebaik mungkin." Mereka membahas tentang acara MTQ, dengan batas yang sudah ditetapkan. Agar para wanita dan pria tidak berdekatan. Kebetulan sekretaris nya adalah seorang santri, dia yang meneruskan arahan dari Ning Ambar kepada para pria. Karena merasa sudah tidak ada yang dibahas lagi oleh pihak pria, maka mereka semua pamit tanpa terkecuali. "Ning, tatapanmu itu lho eh, sadar Gus Renjuna sudah punya istri." Ning Ambar hanya tersenyum tipis. Merasa malu-malu karena teguran salah satu kawannya. "Gak perlu khawatir, kan istrinya Gus Renjuna suka sama Titin," ucap salah satu dari mereka yang tidak salah bernama Sopia. "Benar, jadi masih ada kesempatan." Hal itu lantas membuat Titin yang mendengarnya jadi merasa panas, "lebih baik kita bahas yang penting saja. Kalau memang kalian mau membahas sesuatu yang tidak penting, aku pamit pergi." "Cuma bercanda doang Tin, merajuk konon." "Aku gak ngerasa itu candaan, kalian kayanya memang sengaja mau menyebarkan fitnah. Kalian tau, Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan kan?" Sopia tampak tersenyum remeh, "halah karena sudah merasa terpojok begini makanya kamu begitu kan, tin? Memangnya enak jadi pendosa. Kamu ingat kisah nabi luth alaihi salam kan?" "Jangan sampai kamu termasuk kaumnya." "Astagfirullahalazhim, Sopia kamu ya, aku sama sekali gak seperti yang kalian fitnahkan, hanya Allah yang mengetahui kebenarannya, terserah kalian." "Sudah Sopia," tegur Ning Ambar. "Aku permisi, Assalamualaikum."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD