Sesuai dengan keinginan Maira, dia hendak pergi mencari camilan lengkap untuk mengisi kekosongan perutnya dikala malam melanda. Mana setelah Renjuna menyuruhnya tidur, Maira tidak bisa melanjutkan lukisannya.
Dia harus mencari feel lagi untuk melanjutkan lukisan yang setengah jadi. Walaupun begitu, setidaknya Maira bukan orang yang akan cepat merajuk.
"Titin kok gak dateng-dateng, daritadi ditungguin juga," keluh Maira.
Dia sudah janjian sejak jam dua belas malam tadi. Tapi Titin tidak kunjung datang. Mana sekarang sudah jam setengah sebelas, mungkin nanti kalau mereka jalan atau pakai motor akan terasa sangat panas.
Bertepatan dengan menanti Titin di depan pintu, kebetulan sekali Renjuna pulang ke rumah sembari menggeret motornya.
"Assalamu'alaikum," ucap Renjuna ketika sampai di depan pintu dan melihat keberadaan Maira.
"Waalaikumussalam, kenapa tuh motornya?" Tanya Maira penasaran.
"Mogok, mungkin karena belum ganti oli. Nanti rencananya mau pergi ganti oli, kamu mau ikut?"
"Gak deh, males banget."
Renjuna menganggukkan kepalanya paham, kini giliran dia yang menatap keheranan ke arah Maira. Wanita itu tampak berdiri di depan pintu seakan menanti kedatangan seseorang.
"Kamu sedang menunggu siapa?" Tanya Renjuna.
"Nunggu Titin."
"Mau kemana?" Tanya Renjuna sekali lagi.
"Mau ke ... Kepo deh."
Renjuna menggeleng dengan helaan nafas, "kalau suami tanya mau kemana itu, dijawab bener-bener. Lupa kalau kamu ini istri saya?"
Maira memutar bolamatanya jengah mendengar ucapan sarkas dari Renjuna. Dia sejenak melirik Renjuna dengan senyum misterius.
"Mau pergi kencan."
"Sama Titin?"
"Enggaklah, ya kali. Kenapa sih, orang keknya sensi banget aku deket sama Titin."
Renjuna tidak membalas melainkan masuk ke dalam rumah. Maira menanti dengan ekspresi kesal, nanti kalau Titin datang sudah banyak yang akan Maira katakan.
Terutama kenapa wanita itu tidak kunjung datang padahal Maira menunggu dari jam setengah sebelas, bahkan bangun tidur dia langsung mandi dan menunggu Titin.
Tidak lama setelah itu Renjuna kembali keluar, namun kali ini dia membawa kunci mobil yang ada di tangannya.
"Mau kemana?"
"Katanya mau pergi, ayo biar saya yang antar."
"Terus Titin gimana?"
"Coba di sms aja, siapa tau dia memang sedang berhalangan untuk membantu kamu."
Maira dengan muka kesal akhirnya menurut. Dia segera mengikuti Renjuna dari belakang, walaupun Maira belum mengatakan kepada Renjuna dia hendak kemana.
Renjuna memperhatikan wajah kesal yang ditunjukkan Maira, namun sedetik setelahnya berubah menjadi biasa saja.
"Kamu mau kemana?" Tanya Renjuna.
"Ke minimarket atau supermarket, intinya yang jual jajanan. Butuh asupan, kaya kemarin malam begadang ditemenin roti tawar, mana habis lagi aku sendiri yang makan," ucap Maira.
"Oalah pantesan tadi Abah cari roti, ternyata udah habis."
"Iya, tadi malam kebangun gara-gara laper. Terus Papa juga nelpon, bilang ke aku kalau uang yang ada di debit card kenapa gak pernah kepake."
Renjuna terdiam sejenak, dia mengaku kalau dia sekarang lupa. Masalah uang dan sebagainya, belum dia berikan kepada Maira.
"Astagfirullahalazhim," ucap Renjuna.
Hal itu sontak memancing tanda tanya dari Maira. Kenapa Renjuna tiba-tiba bilang istighfar, memangnya ada yang salah dengan Maira?
"Ada apa?"
"Apa?" Tanya Renjuna lagi.
"Ih lucu banget sih, aku tanya kamu kenapa kok nanya balik."
"Memangnya saya kenapa?"
"Ngapain istighfar, habis lihat setan ya?"
Renjuna dengan segera menggeleng, "oh tadi saya baru ingat sesuatu, kalau gaji dan segala sesuatu tentang pengelolaan keuangan, belum saya serahkan ke kamu."
Renjuna kira Maira akan tersinggung, karena tatapan Maira kini terlihat sedang berpikir. Ini salah Renjuna yang baru sadar setelah sekian lama dia membina rumah tangga.
Perasaan bersalah itu menghantui Renjuna. Namun setelahnya dia melihat raut wajah Maira biasa saja.
"Yaudah, kita bawa masing-masing aja, supaya kamu gak merasa aku ngambil banyak juga."
"Astagfirullahalazhim, bukan begitu maksud saya Maira. Justru saya merasa bersalah, dan yang harus kamu tau. Tugasmu sebagai istri juga adalah bendahara suami."
"Bentar, maksud kamu aku yang akan mengelola uang kamu? Aduh, aku kelola uang sendiri aja pusing," ujar Maira yang mendadak takut.
Renjuna menggeleng pelan, "tapi saya gak mungkin membiarkan umi terus memegang gaji saya. Lagipula umi sudah pernah menegur saya saat itu, tapi saya lupa."
Maira menghela nafas, mau tidak mau dia setuju. Apalagi dia gak mau umi malah jadi jelek pandangannya ke Maira.
Maira udah seneng banget punya keluarga baru, gak mau hilang secepat itu.
"Oke, nanti kita bahas hal itu di rumah. Sekarang belanjanya pake kartu Papa aja."
"Jangan, nanti pakai kartu saya."
"Gak usah, simpen aja buat kedepannya. Mumpung Papa kemarin marah ke aku."
Renjuna mengernyitkan dahinya pelan, "marah kenapa?"
"Karena uangnya masih banyak."
Jawaban polos Maira membuat kekehan terdengar dari bibir Renjuna. Hal itu membuat Maira terkejut bukan main, mungkin karena Renjuna terlalu tampan jika tersenyum atau tertawa.
Ya Allah, degupan jantung Maira langsung terasa. Bahkan darahnya berdesir kuat, dengan cepat Maira mengalihkan pandangannya.
"Gak, gak, Maira jangan lemah," gumamnya.
Renjuna yang mendengar sekilas gumaman itu, menoleh ke arah Maira dengan tatapan bertanya.
"Ada apa?"
"Gak ada apa-apa," jawab Maira ketus, mengingat dia refleks karena salah tingkah sendiri.
Sementara itu Titin baru saja datang ke rumah. Dia merasa bersalah karena tadi tidak sempat mengabari Maira, kalau Ayahnya dibawa ke puskesmas.
"Assalamu'alaikum, Ning Maira?" Panggil Titin.
"Waalaikumussalam, Titin."
Titin mengernyitkan dahinya kebingungan, kok yang jawab malah umi. Mairanya kemana? Titin jadi semakin merasa bersalah.
"Nggih umi, ini Titin."
Tidak lama setelah itu Umi datang dan tersenyum. Tadi Renjuna sudah titip pesan, kalau Titin datang bilang saja Maira sudah pergi bersama dengan Renjuna.
"Maira sudah pergi tadi, bareng Renjuna."
"Begitu ya umi, astagfirullah. Ini salah saya, ingkar janji sama Ning Maira."
Umi yang melihat raut wajah Titin cemas, menyuruh Titin untuk duduk dengan tenang.
"Gak apa-apa, tadi kebetulan Renjuna pulang cepat, jadi dia yang menggantikan kamu untuk mengantar Maira."
"Nggih Umi, Ning Maira pasti marah."
"Gak usah khawatir, kan kamu lebih kenal Maira," ucap Umi.
Titin menganggukkan kepalanya, sebenarnya dia agak canggung sekarang. Mengingat pemberitaan tentang dia dan Maira yang begitu kejam. Menganggap mereka berdua punya hubungan spesial.
"Tadi kenapa memang tidak datang?" Tanya Umi, membuka percakapan.
"Ayah dibawa ke puskesmas, jadi saya karena panik. Lupa mengabari Ning Maira."
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, terus gimana keadaan Ayah, sehat?"
"Alhamdulillah udah baikan, cuma ya gitu maagnya kambuh lagi. Tau sendiri Ayah punya penyakit Maag akut."
Titin jadi ketar-ketir sendiri, karena
Tatapan umi begitu serius. Entah apa yang ingin Umi katakan pada Titin sekarang.
"Bagaimana sama kabar itu, masih merebak?"
Titin sudah tahan nafas saking takutnya, ternyata Umi kembali membahas tentang gosip antara Maira dan Titin.
"Nggih umi, masih. Titin sampai bingung, kenapa ada orang yang sejahat itu menyebarkan rumor. Padahal mereka tidak tau kejadian aslinya seperti apa?"
"Wallahu alam, umi sempet mikir kayanya gunjingan manusia itu cuma akan berhenti kalau sudah ada dua perkara. Pertama pembuktian, kedua ya pembantahan."
"Nggih umi. Hanya saja Titin ndak berani memberitahu Ning Maira. Apalagi Ning Maira itu keras, dia sangat emosional."
Umi mengangguk setuju, "kamu benar, Papanya Maira juga pernah cerita. Umi sebenarnya gak masalah, justru dia orangnya terlihat pemberani, umi jadi ingat cerita sayyidah Aisyah kalau melihat Maira."
"Subhanallah, umi benar."
"Titin, Umi merasa kamu tau sesuatu tentang orang yang menyebarkannya."
Titin langsung menoleh dan mengangguk pelan, membuat Umi menghela nafas.
***
"Mau yang ini."
Renjuna menggeleng pelan ketika Maira mencomot satu persatu makanan ringan yang mengandung pengawet makanan. Mau Renjuna larang, tapi sudah dicomot semua.
"Jangan ambil terlalu banyak, beli saja beberapa yang tidak mengandung banyak pengawet."
"Iya, nanti beli wafer sama cokelat. Terus juga mau beliin abah roti, selai yang kemarin tinggal sedikit aku beli yang baru ya," pinta Maira.
Maira gak tanggung-tanggung membeli yang besar dan langsung membeli lima jenis selai dengan merk mahal.
Renjuna kembali menggeleng melihat istrinya. Namun diam-diam menyembunyikan senyumnya, karena Maira banyak tertawa ketika memilih makanan yang dia suka.
"Kamu mau s**u gak?"
Renjuna hanya mengangguk, matanya terlalu fokus pada Maira. Terpaku akan kecantikannya yang baru Renjuna perhatikan, membuatnya tidak sadar kalau Maira mengambil enam kotak s**u sekaligus