Bab 20

1232 Words
Kemarin tiba-tiba saja Maira mendapat pesan lewat video dari Papanya. Pria paruh baya itu setengah mengomeli putrinya karena sang Putri yang tidak pernah membelanjakan uang yang selama ini dia berikan. Papa mengatakan pada Maira kalau kemarin dia sempat memeriksa keuangan perusahaan dan pribadi, tapi baik kredit dan debit card yang diberikan Papa, tidak ada satupun yang Maira gunakan. Terus selama ini Maira dapat uang darimana? Sementara itu Maira malah berdalih sudah menggunakan sebagian uang Papanya untuk membeli alat lukis mahal. Uang ini terlepas dari kebutuhan rumah, karena yang mengurus Rumah adalah Titin, jadi uangnya ada di Titin. Wanita itu cukup bisa dipercayai ketika mengurus rumah dan dititipkan uang belanja bulanan. Karena kemarin Maira sibuk membantu umi, dia jadi tidak terlalu mempedulikan telepon dari Papanya. Dan menganggap Papanya berlebihan tentang uang belanja. Tapi sekarang, saat Maira hendak menutup kedua kelopak matanya, bahkan Renjuna sudah terlelap dari tadi, dengan bantal guling berada di tengah-tengah mereka. Drrrt... Gawai Maira berbunyi dan bergetar di atas nakas. Mau tidak mau Maira mengambil gawainya dengan satu tangan, dan memfokuskan penerangannya terhadap nama yang tengah menghubungi dirinya. "Ya Allah, Papa ngapain malam-malam telpon?" Maira berdecak dengan suara pelan, dia sempat melirik Renjuna yang sudah terlelap. Sebenarnya Maira tidak peduli mau ribut atau gak, hanya saja Maira tau kalau Renjuna tadi pulang telat. Bahkan dia terlihat tidak b*******h ketika melihat Maira keluar kamar tanpa mengenakan jilbab, seperti sedang lelah dan hanya menghela nafas, menyuruh dengan sekali perkataan. Ketika Maira mengangkat telepon tersebut, terdengar suara Papanya yang mulai mengomelinya. "Astaga Pa, itu cuma uang yang gak pernah dipake. Nanti juga kepake, cuma gak sekarang. Tunggu aja, nanti kalau habis Papa kirimin yang banyak," balas Maira dengan nada bicara kesal. Maira mendengarkan apa yang Papanya katakan dengan seksama. Walau kepalang kesal, tapi mendadak Papanya punya berita yang serius. "Papa serius mau tinggal di Indonesia lagi?" Tanya Maira tidak percaya. "Ya siapa tau cuma akal-akalan Papa aja, kaya waktu lebaran sebelum-sebelumnya. Katanya mau berhenti tapi masih aja di sana gak balik-balik." Maira berbincang dengan Papanya cukup lama. Setelah itu dia mematikan sambungan dan hendak tidur. Kruyuk Sayangnya Maira malah di dera rasa lapar. Sehingga dia harus bangkit dan mengambil jilbab kemudian mencari makanan jam dua belas malam di dapur. Niat hati gak mau pake jilbab, tapi inget kalau Renjuna bisa ngamuk. Sejenak dia melirik Renjuna yang masih terlelap di atas ranjang, Maira menggeleng kecil sebelum akhirnya keluar kamar. Maira suka sekali terserang rasa lapar ketika malam. Entah ini sudah yang keberapa kalinya sejak keluar dari rumah. Ketika Maira membuka kulkas, dia hanya menemukan beberapa lembar roti tawar dan selai strawberry. Sisanya hanya air putih dan s**u beruang. "Seriusan cuma ini yang ada?" Kayanya besok Maira harus pergi ke minimarket atau supermarket terdekat ngajak Titin borong makanan. Kebetulan Papanya tadi nyuruh belanja di website resmi barang branded, mending dipake buat beli makan. Alhasil s**u beruangnya dihangatkan Maira, kemudian rotinya di panggang menggunakan wajan setelah diolesi margarin. Rumah bener-bener sepi dan sunyi kalau udah malam tiba. Sama banget sama rumah yang di kota, bedanya cuma kalau rumah di kota sepinya itu dari pagi sampai pagi lagi, kalau di sini hanya malam aja. Mendadak Maira kepikiran sama alasannya Gus Renjuna mau dia jadi istrinya. Yang dia tau juga biasanya anak kiyai pasti dijodohin sama anak kiyai. Tapi kok Gus Renjuna itu beda ya? Mana pertemuan pertama mereka berlangsung buruk, karena Renjuna yang mengira Maira itu laki-laki. Karena Maira gabut, sambil makan Maira bikin status di w******p. Gak nunggu beberapa lama ada balasan dari Titin. "Lah belum tidur tu anak." Ketika makanannya sudah habis, Maira bangkit dan segera meletakkan piringnya di wastafel lalu di cuci bersih. Pas mau buang sampah, Maira membuka pintu belakang. Dia terkejut melihat pemandangan yang begitu indah dihadapannya. "Sayang banget untuk dilewatkan." Maira segera masuk lagi ke dalam kamar mengambil kanvas berukuran besar, dan juga peralatan lukis lainnya, lalu menyiapkannya dengan duduk di gazebo menghadap hamparan sawah dan juga bulan purnama yang kini memancarkan sinarnya dengan sangat berani. Maira gak ada rasa takut sama sekali ketika mulai menggoreskan kuas berisi cat, dimalam hari tepatnya pukul dua belas malam. Memang ya kalau pelukis itu gak masalah waktu dan tempatnya dimana, asal ada inspirasi ya akan jalan. Bahkan Maira sempat melihat beberapa santri yang sedang meronda lewat, namun sepertinya mereka tidak melihat Maira, atau mungkin sengaja tidak menyapa? *** Renjuna agak terkejut tidak melihat adanya Maira di samping. Ini sudah jam empat pagi, dan dia sedikit kesiangan karena rasa lelah yang tidak bisa ditahan. Renjuna bangkit dari tempatnya, lalu keluar bahkan masih mengenakan kaos pendek berwarna abu dan sarung berwarna cokelat motif garis. "Maira," panggil Renjuna. Dia melihat pintu belakang terbuka, dengan cepat Renjuna mendekat. Takut kalau ada maling atau Maira dalam bahaya. Ketika Renjuna keluar dia terkejut bukan main melihat Maira yang tengah duduk ditemani angin pagi, tengah melukis. "Dia gak tidur?" Gumam Renjuna. Hawanya begitu dingin, namun Renjuna melihat Maira sudah menggunakan jaket yang cukup tebal. "Maira," panggil Renjuna. Mendengar ada yang memanggilnya, Maira menoleh dan tersenyum ke arah Renjuna. Hal itu membuat Renjuna bertanya-tanya, karena Maira jarang banget tersenyum ke arah Renjuna. "Kamu ngapain pagi-pagi di sini, tadi malam tidur gak?" "Enggak, eh ini pake sweaternya. Nanti kamu kedinginan, terus sakit, terus aku yang salah," ujar Maira seraya memberikan sweater berwarna cream miliknya. Renjuna segera mengambil sweater tersebut dan memasangnya. Udara di luar cukup dingin, Renjuna akui dia menggigil tadi. "Kamu kenapa gak tidur?" "Tiba-tiba dapet inspirasi, gimana lukisannya bagus gak?" Renjuna baru sadar setelah Maira mengarahkan untuk melihat lukisannya. Renjuna tersenyum, merasa takjub dengan buatan tangan Maira. "Saya baru tau kamu pintar melukis." Maira tersenyum sombong, "lukisan ini kalau dijual pasti lakunya dua digitlah." "Seriusan?" "Iya, lagipula karena sering gabut di rumah. Jadi ya, iseng aja gitu les lukis eh gak taunya bermanfaat." Renjuna menganggukkan kepalanya paham, "kamu gak takut apa dari tadi diluar? Sekarang masuk, nanti kamu yang sakit." "Belum selesai ini, kamu aja duluan." "Masuk Maira!" Tegas Renjuna. Maira mendengus sebal, dia akhirnya mengikuti Renjuna untuk masuk ke dalam rumah. Walaupun sebenarnya Maira kurang rela, karena lukisannya belum jadi. "Sudah azan subuh, ayo kita salat dulu." "Tapi habis salat aku lanjut lagi ya, soalnya itu lukisan belum jadi. Nanti inspirasinya hilang," ujar Maira. "Istirahat, kamu belum tidur daritadi malam lho." "Udah biasa," jawab Maira. Renjuna meliriknya dengan sorot mata tajam. Maira mendengus dan akhirnya menyerah sendiri, mengikuti apa kemauan Renjuna. "Oke, aku tidur habis salat." "Matanya bisa santai gak? Hampir mau keluar tuh," sindir Maira. Orang yang disindir malah tidak menggubris sama sekali ucapan dari Maira. Memangnya kapan sih Renjuna pernah sadar kalau dia tengah di sindir? Benar saja selesai salat Maira malah ketiduran. Ternyata raganya merespon kalau dia tengah lelah sekarang. Renjuna menarik selimut ke atas, membiarkan Maira terlelap lalu dia keluar ketika fajar sudah siap menyinari bumi. "Maira mana?" Tanya Umi ketika Melihat putra bungsunya keluar sendiri. "Dia sarapannya nanti umi, tadi malam dia tidak tidur." "Lho kok bisa?" Tanya Umi kaget. Begitu juga Abah yang menatap heran ketika mendengar ucapan Renjuna. Bahkan sekarang Abah menepuk pelan punggung putranya. "Astagfirullah dek, kamu mbok ya kalau lagi sunnahan jangan terlalu maksain." Giliran Renjuna yang bingung, "sunahan apa sih bah?" Tanya Renjuna lagi. "Abah ih, jangan diganggu. Cukup tau cucu kita coming soon hadir." "Cucu?" Semenit kemudian baru Renjuna paham maksud dari kedua orangtuanya. Renjuna menggeleng pelan dan terkekeh. "Tadi malam Maira begadang ngelukis, terus baru tidur setelah salat subuh. Umi sama Abah sabar dulu ya, masih dalam proses."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD