Bab 19

1178 Words
"Sayang banget rambutku jadi lepek karena sering di bekep," ujar Maira yang kini tengah menatap pantulan wajahnya di cermin. Wolfcut saat itu sedang sangat tren, bahkan Maira sempat mewarnainya menjadi merah, mungkin sekarang sudah luntur dan menggelap mengingat Maira menggunakan pewarna rambut tidak permanen. Renjuna sedang pergi mengajar seperti biasa, tadi tumben dia tidak mengajak Maira untuk ikut serta pergi ke madrasah. Alasannya juga tidak Maira ketahui, yang jelas sekarang Renjuna meminta Maira untuk tidak keluar dari rumah dulu. Titin juga tumben hari ini tidak datang, membuat hati Maira sedikit gundah. Tidak tau apa yang harus dia kerjakan di sini sendiri. Maira keluar setelah memasang jilbab jadinya, mencari tau apa umi ada di rumah sekarang. Lumayan bisa sekalian mengobrol bersama. Kalau Maira tetap sendiri, apa bedanya dia dirumah yang dulu sama yang sekarang setelah dia menikah. "Umi," panggil Maira semangat dan mendekat ke arah wanita paruh baya itu. Maira merasa senang dan lega karena ada umi di rumah sekarang. Tampak umi terlihat riweh mengurus sesuatu dan hanya melirik Maira seraya tersenyum. "Kamu tidak ikut dengan Renjuna hari ini?" "Iya umi, Maira nggak boleh ikut hari ini. Mungkin ada banyak santri tampan makanya Renjuna melarang Maira ikut," gurau Maira. Umi yang mendengar ucapan Maira tersebut, terkekeh pelan karena Maira yang mempunyai selera humor bagus. Mendadak dia ingat, kalau gosip jahat tentang Maira sedang bertebaran sekarang. Mungkin itu juga salah satu alasan Renjuna tidak mengajak Maira pergi hari ini ikut ke madrasah. "Bagaimana rasanya setelah menikah dalam beberapa waktu ini?" Tanya umi tiba-tiba. Maira sempat terdiam karena bingung, namun pada akhirnya dia tetap menjawab pertanyaan umi dengan candaan. "Rasanya biasa aja mi, belum ada yang menantang. Renjuna malah mirip sama ustadz yang sedang mengajari santri barunya." "Oh ya?" "Iya, soalnya setengah dari pembahasan kita berdua pasti tentang omelan dan ceramah Renjuna untuk Maira," jawab wanita itu jujur. Umi yang mendengar hal itu sekilas terkekeh dan menganggukkan kepalanya paham. Sampai sekarang Umi saja tidak mengerti kenapa Renjuna bisa menarik Maira menjadi istrinya. "Tapi kamu senang menjalani kehidupan pernikahan dengan Renjuna?" "Masih belum merasa ada senangnya mi, karena masih mengikuti air mengalir." "Umi paham, kalian bahkan terlihat baru mengenal satu sama lain. Ini mungkin salah satu cara kalian untuk menjadi lebih dekat." Maira tersenyum dan mengangguk setuju. Kemudian tatapannya kembali terarah pada satu titik, yaitu barang yang ada di depannya. Karena penasaran Maira segera menyentuhnya tanpa bertanya lebih dulu kepada Umi. "Ini untuk apa, umi?" "Oh semua barang ini? Jadi hadiah nanti untuk MTQ. Maira tau kan sebentar lagi ada MTQ tingkat kelurahan," ujar Umi. "Iya tau, tapi dari Titin. Renjuna gak pernah memberikan info soal acara itu." "Mungkin lupa atau belum sempat, sekarang Umi yang memberitahukan Maira kan?" Maira mengangguk dan mengambil beberapa barang tersebut lalu mengamati bagaimana Umi membungkusnya dengan cantik. Maira mencoba dan pada akhirnya bisa. Dia tampak senang dan memberitahukannya kepada Umi. "Lihat umi, Maira ternyata bisa membuat ini." "Bagus dong, memangnya sebelum itu Maira gak pernah bungkus kado?" Maira menggeleng, "yang mau dibungkusin kado siapa? Maira gak punya banyak teman. Waktu SMA pernah sih, tapi yang bantu bungkus itu Titin." Ekspresi wajah Umi langsung berubah ketika nama Titin yang disebut. Sebenarnya hari ini Titin sudah datang, namun Umi merasa sangat takut berita itu semakin menjadi, dia meminta Titin untuk tidak berkunjung dulu beberapa hari. Walaupun umi percaya kalau diantara mereka tidak ada apa-apa. tapi untuk meminimalisir lagi berita yang sudah muncul. "Kamu memang sedekat itu dengan Titin?" Tanya umi penasaran. "Iya, sebenarnya orang tua Titin dulu bekerja di rumah. Lalu mereka memutuskan resign ketika sudah merasa tua, tapi Ayahnya Titin mau Titin buat kerja di rumah juga gantiin mereka." "Kalau boleh tau, dari kapan?" "Dari Maira masih kelas satu SMP." "Kalau dipikir-pikir, Titin sudah termasuk keluarga Maira. Walaupun gak sedarah, tapi dia itu selalu ada setiap Maira membutuhkan." Mendengar penjelasan Maira, Umi sangat yakin kalau menantunya itu tidak seperti yang sedang mereka semua bicarakan. "Astagfirullahalazhim," ucap Umi Refleks. Tentu hal itu memancing tanda tanya bagi Maira. "Ada apa umi?" *** Titin pergi ke pesantren atas perintah Umi, dan dia datang untuk memanggil beberapa santriwati yang nantinya akan mengikuti seleksi MTQ tingkat kelurahan. Baru saja melangkahkan kakinya masuk, dia sudah disambut dengan beberapa tatapan penuh cibiran, walaupun memang tidak semua santriwati yang seperti itu. "Assalamu'alaikum, Mbak Titin tumben kesini?" Sapa salah satu kawanan santri yang memang sengaja mendekat ke arah Titin. "Waalaikumussalam, iya ada amanah dari Umi untuk para santriwati tentang kegiatan MTQ tingkat kelurahan." "Oh, tidak barengan dengan Ning Maira?" Tanya santriwati itu seraya menahan senyum. Titin yang tau maksud dari santriwati itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Tidak mengerti lagi kenapa masih ada orang yang berpikiran cetek seperti ini. Karena tidak mau ambil pusing, Titin memilih untuk melanjutkan perjalanan dan tetap pamit dengan sopan walaupun mereka sudah sengaja memperoloknya. "Astagfirullah, ada aja orang yang begitu. Hal yang tidak diketahui dengan pasti, sudah disebarluaskan dan dipermainkan, seolah-olah dia paling benar," batin Titin menahan kesal. Beruntung Maira belum mengetahui tentang kabar ini, bisa-bisa nanti Maira melabrak orang yang menyebarkan rumor. Semoga Maira tidak akan pernah tau kalau ada rumor seperti ini. Karena Titin hapal betul apa yang akan Maira perbuat dan orangnya akan mendendam sampai orang yang mencari masalah dengannya minta maaf. Hal ini sudah pernah terjadi sebelumnya saat Maira duduk di bangku kelas 2 SMA. Di situ ada yang memfitnahnya mengambil pacar orang, gak tanggung-tanggung apa yang diberikan Maira terhadap pelaku penyebar hoax. Apalagi Maira punya uang dan kekuasaan, menurutnya itu adalah hal mudah. Titin sampai ngeri sendiri kalau ingat kejadian itu. Sehingga dia meminta juga kepada Gus Renjuna untuk tidak memberitahu kepada Maira masalah ini. "Mbak Titin, beneran ini teh saya disuruh mewakili sebagai peserta tilawah putri?" "Eh, apa tadi?" Titin malah tidak fokus dengan permasalahan dari Maira dan juga dirinya. "Jadi perwakilan tilawah Putri," ulangnya. "Benar, hanya saja masih akan di adu di lurah nanti. Kalau pilihan Umi sih anti, tapi tidak tau siapa lagi yang mau ikutan jika bersedia." Wanita dengan hijab syar'i panjang berwarna merah maroon itu menganggukkan kepalanya dengan senyum. "Oke, tapi kalau emang dapet titah langsung dari Umi, rasanya ingin segera melaksanakan," tambahnya seraya menyengir. Titin bersyukur orang yang dia temui tidak begitu menyinggung masalah rumor yang beredar, atau mungkin sengaja tidak mau menyinggung. "Kalau begitu saya permisi ya." "Eh tunggu dulu Mbak Tin," panggil wanita itu lagi. "Ada apa?" "Ini saya mau bertanya, kenapa ya sekarang banyak yang membahas tentang Mbak Titin dan Ning Maira istri Gus Renjuna, apa yang terjadi?" Tatapan itu seakan-akan terlihat polos, dan sengaja ingin mengetahui lebih lanjut. "Kamu berani sekali bertanya, tapi tidak masalah. Karena memang tidak ada apa-apa, yang mereka gosipkan itu sepenuhnya salah." "Oh, begitu. Aku memang tipe yang biasa aja teh, hanya saja kan kesal juga mendengar mereka membahas itu terus-menerus." Titin terkekeh, "tidak masalah, berati pahala saya akan terus mengalir karena mereka membicarakan saya dan Ning Maira." "Ning Maira dekat dengan saya, karena memang dia tidak mengenal banyak orang di sini." "Iya juga sih, apalagi Ning Maira orang baru di sini." Wanita itu tersenyum kemudian pamit lebih dulu kepada Titin. Sementara Titin segera kembali ke rumah utama atas perintah Umi tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD