Bab 18

1258 Words
Hari pembukaan seleksi MTQ tingkat kelurahan akan dimulai. Meski Maira tidak pernah tau apa itu kegiatan MTQ, setidaknya dia harus hadir menemani keluarga pesantren yang datang memberikan sambutan. Sejatinya Maira tidak pernah betah jika dia berada di tempat ramai yang panas. Apalagi posisinya Maira mengenakan pakaian serba tertutup, berbeda dengan dulu. Ini dia baru tau dari Titin, tentang rencana di acara pembukaan. Itupun Titin gak sengaja memberitahu karena keceplosan. Tapi karena Titin berkata bagaimana meriah dan serunya acara MTQ, Maira jadi penasaran, apalagi dia gak pernah terlibat sama acara seperti itu. "Besok ikut aja ning, pas pergi sama Abah, Umi, sama Gus Renjuna juga. Jangan mager," peringat Titin. "Belum ada pemberitahuan dari Renjunanya. Kalau gak diajak, ya ngapain aku pergi?" Titin menggeleng pelan, "itu acaranya seru. Dua tahun sekali, mendengar banyak qori, dan banyak peserta hebat lainnya adu mekanik." Maira terkekeh pelan seraya menggeleng. Ada-ada aja si Titin, terlalu hiperbola dalam menjelaskan suasana perlombaan tersebut. "Denger-denger juga yang jadi ketua panitianya, Ning Ambar." "Oh cewek yang pernah bicara sama umi itu?" "Iya, rasa-rasanya sih Ning Ambar masih suka sama Gus Renjuna. Makanya dia mau dilibatkan, padahal beda kelurahan." Maira mengernyitkan dahinya kebingungan, "kok bisa beda kelurahan jadi panitia?" "Biasa orang dalem." Tok ... Suara ketukan pintu tiga kali membuat kedua wanita itu menoleh. Titin dengan cepat bangkit dan membuka setengah pintu kamarnya. Mengingat sekarang Maira tidak mengenakan jilbab. Maira membiarkan rambutnya tergerai bebas dan membuka cardigan rajutnya, sembari duduk di depan kipas angin kamar Titin. Tak lama setelahnya Titin kembali lagi membawa sebuah amanah yang baru dia dapatkan. "Ning, Gus Renjuna sudah jemput diluar." "Ck, cepet banget sih baru beberapa jam." "Ini sudah mau maghrib Ning," tegur Titin sembari menggeleng. "Ya gimana ya tin, aku kan cuma akrab sama kamu doang di sini. Terus Umi jarang di rumah sekarang, mau ikut ke pesantren, kaya males gitu rasanya." Titin menganggukkan kepalanya paham, namun sekarang Maira harus segera menemui Gus Renjuna. Karena Azan Maghrib segera berkumandang. Titin tidak mau nanti ada cekcok rumah tangga hanya karena Titin membiarkan Maira lebih lama di sini. Walaupun dia tau, dia juga ingin bersama Maira, agak khawatir kadang kalau membiarkan Maira sendirian. Apalagi Titin sudah menganggap Maira sebagai saudaranya, walau masih merasa sedikit sungkan. "Ya udah tin, aku pamit dulu ya. Nanti kalau Pak Su ngomel, aku gak bisa tidur tenang." Setelah pamit dari rumah Titin, Renjuna mengajak Maira untuk pergi ke Madrasah sebentar, karena ada barang yang tertinggal. Maira misuh-misuh karena udah buru-buru keluar rumah Titin, ternyata nunggu Renjuna lagi buat ngambil berkas entah apa nama berkasnya. Sembari menunggu Renjuna keluar dari ruangan, Maira duduk di atas motor dengan ekspresi bosan ditambah lagi kakinya dinaikkan ditekuk yang kanan. Beruntung gamis yang digunakan Maira cukup besar sehingga tidak terlihat berlubang, juga keadaan sekitar yang sudah sepi. "Ayo." Maira segera bangkit dari tempatnya, dan naik ke atas motor kesayangan Renjuna. Mereka tiba di rumah saat Maghrib. Sebelum Renjuna pergi salat berjamaah di masjid, dia sempat menatap Maira lamat-lamat, hal itu membuat Maira mengernyitkan dahinya bingung. "Ada apa?" Renjuna tersenyum kecil seraya menggeleng, "tidak ada." "Duduk kamu seperti tadi sebenarnya tidak ada masalah, tapi bermasalah ketika kamu melakukannya di tempat umum." "Apalagi sekarang?" Gumam Maira pasrah. "Duduknya yang cantik, gitu aja gak paham," ujar Renjuna. "Dih malah sinis." "Gak sinis Maira, kamu terus-terusan suudzon sama saya." Nada Renjuna sedikit tinggi. "Nah itu," ucap Maira. "Begini memang cara bicara saya." "Ya sudah, saya pamit pergi ke masjid. Ingat salat!" "Iya ..." Renjuna sengaja memperingati, karena tidak ingin mendengar rumor buruk lagi tentang Maira. Sudah cukup rumor Maira yang menyukai sesama jenis. Astagfirullah, siapa yang tega menyebar rumor seperti itu. Renjuna masih tetap menyelidikinya. Setelah selesai berdzikir usai salat Maghrib berjamaah. Niatnya Renjuna mau pulang untuk salat isya di rumah, ingin mengimami Maira. Tiba-tiba seseorang mendekat ke arahnya seraya menepuk pundak Renjuna. Ketika Renjuna berbalik dia menemukan Karim tengah menatapnya dengan serius. "Gus, ada yang ingin saya tanyakan." "Silahkan," ujar Renjuna. "Apa benar rumor tentang Ning Maira?" Renjuna yang mendengar ucapan sahabatnya itu menghela nafas, kenapa masih banyak yang menyuruh Renjuna klarifikasi masalah ini? Padahal jawabannya sudah jelas. "Astagfirullahalazhim, tolong kamu fokus saja pada hapalanmu, jangan sampai gosip membuat hapalanmu buyar," peringat Renjuna. "Astagfirullahalazhim." "Tapi gus, saya cuma mau membantu menyebarkan jika memang berita tersebut tidak benar. Takutnya semakin melebar dan citra Ning Maira menjadi jelek." Renjuna masih tidak habis pikir, bagaimana bisa rumor tentang Maira menyebar seperti itu? Apalagi rumornya Maira suka sama Titin. Padahal mereka sudah seperti saudara. "Tentu saja jawabannya tidak, kenapa juga kamu meragu?" Skak! "Maaf gus, saya bukannya ragu. Hanya ingin klarifikasi saja," ucap Karim yang mendadak tidak enak hati karena sudah menyinggung soal Maira. Renjuna tidak jadi pulang ba'da Maghrib, melainkan pulang saat ba'da isya. Dia membuka pintu kamar dan mengucapkan salam, begitu dia membuka pintu kamar dia tidak sengaja menemukan ada jilbab Maira tergeletak depan pintu. "Tunggu!" "Jangan masuk dulu," peringat Maira. "Ada apa?" "Lagi berantakan hehehe," balasnya seraya menyengir. Saat Maira hendak mendekat ke arah Renjuna, tidak sengaja dia menginjak jilbab licin yang tercecer alhasil bukannya jatuh dia malah menarik tangan Renjuna yang hendak menolongnya. Dugh! "Aduh!" Maira meringis ketika kening Renjuna dan kening Maira bertabrakan. Belum lagi tangan Renjuna yang satunya menjadi bantal kepala Maira agar tidak membentur lantai. Waktu terasa berhenti sejenak, tatapan mereka berdua sama-sama bertemu. Deru nafas mereka tanpa sadar saling menghangatkan wajah mereka. Maira mendadak gugup, apalagi sekarang tatapan Renjuna semakin dalam. Maira tidak sengaja bergerak sedikit, menggerakkan kakinya ke arah kanan, membuatnya tidak sengaja menggeser kaki kanan Renjuna sehingga pria itu kehilangan keseimbangan. Damn! Itu menjadi Boomerang bagi Maira karena Renjuna berhasil mencuri ciuman pertamanya. Maira mendorong pelan tubuh Renjuna karena panik, Renjuna segera bangkit dari posisinya dengan telinga memerah. Begitu juga Maira yang tampak masih syok, karena kecupan tidak sengaja itu berhasil mendarat di bibirnya. Namun sedetik kemudian dia baru sadar, "lah gak apa-apa dong, kan dia suamiku?" Pikirnya lalu kembali ke aktivitas tadi. Sementara Renjuna masih diam mematung di tempat, dalam hati terus beristighfar, merasa sudah m*****i Maira. Padahal mereka adalah suami istri. *** Wanita itu celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang yang dia tunggu. Ketika melihat orang yang dia cari sudah keluar dengan segera dia berubah tingkah menjadi lebih santun. "Renjuna, kamu mau kemana?" Tanya Umi menahan Renjuna pergi. "Mau ke pesantren." "Maira mana?" "Di dapur sama Titin, mereka mau buat kue katanya," jawab Renjuna sedikit malu, karena masih mengingat malam tadi. Umi mengangguk dan membiarkan Renjuna pergi. Setelah itu beralih untuk berbicara dengan Wanita lain yang datang ke sini. "Ada apa Ning Ambar?" "Begini mi, persiapan untuk pembukaan MTQ sudah lengkap. Mulai dari segi dana dan lainnya, hanya saja kami belum menemukan yang akan tilawah." "Kan anak pesantren banyak, coba ditanya Ning." "Nggih umi, tapi Ambar punya saran. Kenapa tidak Ning Maira saja yang menjadi---" "Tidak bisa," potong umi dengan cepat. Ning Ambar menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Sudah dia duga, pasti Maira tidak bisa melakukannya. Karena dia tau dari awal ada yang salah dengan pernikahan antara Renjuna dan juga Maira. Tidak lama setelah itu Maira datang bersama dengan Titin, membawakan potongan kue tape yang baru saja mereka buat. Maira gak bisa masak, dan gak mau masak, cuma dia pengen makan kue tape sekarang tapi gak tau mau beli dimana. Dengan sangat terpaksa dia masak, dan ikut bantuin Tirini supaya cepet jadi. Mana Renjuna bilang tolong sisakan lebih banyak untuknya. "Umi, ayo dicoba tadi Ning Maira membantu Titin masak." "Pantas saja, daritadi baunya begitu harum," jawab Umi dengan lembut. "Ning Ambar, sekalian dicoba," ujar Titin Ramah. Ning Ambar menganggukkan kepalanya, sementara Titin terus mengawasi karena gelagat Ning Ambar menjadi lebih aneh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD