Bab 17

1153 Words
Pagi-pagi Abah sudah dikagetkan dengan Maira yang saat ini berkeliaran saat subuh. Lebih tepatnya sedang ada di halaman belakang, menatap hamparan sawah yang luas, lalu menatap matahari yang hendak terbit. Abah tadinya mau ngambil minum, kemudian saat tidak sengaja melihat ke arah pintu belakang, ada sosok wanita mengenakan mukena putih berdiri membelakanginya. "Astagfirullah, Nak Maira kenapa berdiri di luar?" Tegur Abah yang sedang menutupi rasa terkejutnya. Maira otomatis berbalik ke belakang dan mendapati Abah tengah menggeleng pelan karena terkejut. Wanita itu hanya tersenyum kecil. "Renjuna mana? Sudah bangun dia kan?" "Sudah bah, dia sedang mandi sekarang." "Terus, kamu kenapa berdiri di sana pagi-pagi?" Maira menyengir kemudian mendekat, "butuh inspirasi untuk melukis. Apalagi Maira jarang lihat yang seperti ini, jarang bangun pagi sih lebih tepatnya." Abah tertawa kecil mendengar ucapan jujur dari Maira, dia sengaja ingin mengajak Maira bercanda dengan mengatakan, "kalau bangun siang dong gak salat subuh." "Iya bah, Maira jarang salat subuh. Makanya setelah menikah sama Renjuna, Maira ngerasa jadi lebih baik dan ternyata enak juga bangun pagi." Abah tertegun sejenak, Maira mengatakannya dengan sangat jujur. Seakan tidak takut kalau abah akan memberikan penilaian yang buruk kepadanya. Cukup Abah akui dia menyukai kejujuran Maira dan usaha Maira yang mau berubah. Pantas saja Renjuna begitu tertarik pada wanita dihadapannya ini. "Ya sudah kalau begitu, Abah mau pergi jalan-jalan ke pondok. Kamu mau ikut?" Dengan mata berbinar Maira mengangguk setuju. Dia belum pernah masuk ke pesantren lebih dalam lagi. Mau ngajak Renjuna, mungkin pria itu juga gak mau ngajak Maira pergi ke sana. "Sana siap-siap, Abah juga mau ganti sarung." "Siap kapten!" Ujar Maira semangat. Mendengar semangat Maira malah membuat Abah terkekeh kecil, dan segera masuk ke kamar. Begitu juga Maira yang langsung masuk dan mengganti mukenahnya. Maira mengambil sebuah midi dress polos berwarna hijau army dan juga jilbab jadi berwarna putih. Dia tidak melihat Renjuna, suara air juga masih terdengar. Maira mau izin, tapi dia tidak mungkin menunggu Renjuna selesai mandi. Apalagi dia gak enak kalau membuat Abah menunggunya begitu lama. "Jun! Aku pergi sama Abah jalan-jalan." Entah Renjuna dengar atau tidak yang jelas Maira sudah ngibrit keluar dan menemui Abah yang tengah menunggunya. Jarak pesantren tersebut sebenarnya gak jauh-jauh banget dari rumah. Cukup beberapa langkah sudah bisa masuk pager di pesantren, dan Maira bisa melihat masjid yang menjadi saksi akad dari Renjuna kepada Papanya. "Masjid ini tau kan?" "Tau bah, tapi sebatas masjid ini. Kalau masuk lebih dalam lagi, Maira benar-benar tidak tahu." "Makanya sekarang Abah ajak Maira untuk tour." "Ceilah, Abah gaul juga ya." "Oh iya dong, Abah itu pinter main Facebook." Maira terkekeh mendengar ucapan Abah. Dia sendiri sempat heran, padahal waktu pertama kali melihat abah. Yang dia pikirkan adalah sosok tegas dan galak, mirip-mirip Renjuna lah. Malah ngiranya lebih galak dari Renjuna, tapi ternyata Maira salah. Abah justru friendly, dan Maira gak bisa berbohong kalau sudah di depan Abah. Tampak beberapa santri pria sudah ada yang menyapu dan terlihat menikmati udara pagi. "Kalau santri emang bangunnya sepagi ini ya bah?" "Gak kok, mereka bangun sekitar jam tiga buat ngaji sama salat tahajud, lalu jam empat dilanjutkan dengan belajar kitab sembari menanti azan subuh." Maira sampai melongo tidak percaya, "sesibuk itu mereka? Apa gak lelah?" Tanya Maira yang masih sedikit tidak percaya. Abah menarik kedua sudut bibirnya ke atas, "tidak ada kata lelah untuk ibadah. Kalau mereka menjalaninya dengan hati yang ikhlas dan dengan niat menuntut ilmu serta mengharap keridhaannya, maka semuanya tidak akan terasa lelah," jelas Abah. Maira sampai tertegun dua kali, merasa kalau selama ini dia sudah jauh sekali dari agama. Bahkan mengajipun, Renjuna masih suka kesal sendiri mendengar tajwid Maira yang berantakan. "Berati ilmu Maira masih sangat jauh bila dibandingkan dengan para santri di sini," gumam Maira dengan lemas. Abah menepuk pelan pundak Maira, "kamu pasti bisa, semua bisa karena usaha dan lakukan dengan ikhlas," nasehat Abah pada Maira. Jujur ini baru pertama kalinya Maira merasakan sosok Ayah yang selama ini Maira cari. Walaupun sebenarnya dia tidak menyalahkan Papanya yang bekerja terlalu gila, tapi dengan menikah dan Alhamdulillah dikelilingi oleh orang-orang baik, rasanya masih sangat mimpi bagi Maira. Apalagi setiap melangkah, pasti ada yang menyalami Abah dengan ekspresi hormat. Maira rasa, dia juga akan seperti santri itu, setelah mendengar ucapan Abah. "Assalamu'alaikum Abah, wah ada kakak cantik nih bah. Gak mau kenalin ke Wahid?" Abah menggeleng, kemudian menoyor pelan kepala pemuda yang kini menatap genit dengan canda ke arah Maira. Maira cuma membalas dengan tatapan datarnya. Sementara itu Abah sudah siap menceramahi pria itu. "Kamu jangan macam-macam, dia Ning Maira, istrinya Gus Renjuna," tegur salah satu temannya. "Anak ini gak pernah berubah ya, seneng banget gangguin perempuan," tegur Abah lagi. "Astagfirullah, maaf bah. Ternyata kakak menantunya Abah." "Masya Allah, cantik ya bah." Abah terkekeh dia tau kalau Wahid hanya bercanda. Bahkan setelah mereka pergi meninggalkan Wahid dan temannya, Abah mencoba membantu klarifikasi. "Nama dia Wahid, sudah menjadi santri semenjak dia umur lima tahun. Dia salah satu jebolan tilawah yang suaranya indah." Maira mengangguk, "Maira tau kok kalau dia hanya bercanda." Maira sedari tadi sebenarnya sedang mengamati bangunan pesantren. Cukup unik, mirip seperti bangunan sekolahnya di Belanda sana. Tapi lebih bergaya islami. "Bah, ini bangunannya memang seperti ini atau ada renovasi?" "Kenapa, mirip bangunan jaman Belanda ya?" "Iya bah, mirip sama bangunan sekolah Maira dulu." "Iya sebenarnya ini memang bangunan punya Belanda, cuma ada beberapa renovasi di jaman kakek buyutnya Renjuna." Apalagi ketika mereka masuk lebih tengah, Maira bisa melihat ada taman yang begitu luas dengan pohon beringin besar dan tempat duduknya. "Maaf ya, Abah ajak pergi ke tempat santri putra. Karena biasanya Umi yang selalu menyambangi tempat santri putri." "Ini aja sudah sangat terimakasih, Maira bah." Abah tersenyum tipis, "Abah dari dulu sebenarnya pengen punya anak perempuan. Setelah ada Maira, rasanya Abah sudah punya anak perempuan." Maira ikut senang mendengarnya, "Maira kan emang anak abah. Maira malah jarang dapet waktu sebanyak ini kalau sama Papa." "Tapi mau bagaimananapun, kamu harus tetap bakti sama Papa kamu. Karena dia adalah orang tua yang sudah membesarkan dan merawat kamu." "Itu sudah pasti bah." Sepulangnya mereka berdua dari jalan-jalan sembari mengobrol dan bercanda. Salah satu santriwati yang baru selesai melapor ke rumah utama, tidak sengaja melihat. "Ini beneran? Abah perasaan gak pernah sesantai itu sama wanita. Ck, memang ada yang aneh sama Ning Maira," ujarnya setelah itu pergi membawa bahan untuk digunjingkan. Begitu di rumah Renjuna dan Umi sudah siap menyantap sarapan. Maira dengan cepat mengambil tempat duduk di samping Renjuna. "Sudah kemana? Kenapa tidak izin, kan sudah saya peringati dari kemarin. Kalau pergi itu harus---" "Assalamu'alaikum," potong Maira dengan cepat. Abah terkekeh mendengar ucapan Maira yang sengaja memotong omelan Renjuna. Sementara Umi menggeleng pelan. "Tadi pas kamu pergi, dia riweh nyariin. Tadinya mau nyusul tapi Umi suruh bantu-bantu di dapur." "Aduh maaf ya Pak Su, tadi sebenarnya udah izin. Tapi kan Pak Su lagi mandi, terus juga gak mungkin biarin Abah nungguin." Renjuna menghela nafas, "ya sudah, kalau gitu lanjut sarapan. Nanti ikut saya ke madrasah lagi." "Siap Pak Su!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD