"Renjuna, Umi banyak dengar dari beberapa santri. Katanya kamu mau menikah sebentar lagi, itu benar?" Tanya Umi, sengaja menahan Renjuna yang hendak masuk ke dalam kamar.
Pria dengan baju jubah koko berwarna cokelat tua, tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan sopan.
Terlihat bahwa wanita paruh baya itu tersenyum dengan menyebut syukur terhadap kuasaNya. Dia kira putra bungsunya ini tidak berminat pada pernikahan, mengingat Renjuna menolak ditaarufkan dengan anak-anak kiyai lainnya.
"Siapa calonnya, yang kemarin kan?"
"Nggih umi."
Setelah mendengar ucapan putranya, ada rasa keraguan di hati Umi. Apalagi sepertinya wanita yang kemarin datang, terlihat bukan seperti wanita baik-baik.
"Kamu yakin mau sama dia?"
"Nggih umi, Renjuna sangat yakin."
"Tapi dia ... Umi tidak bermaksud mau menolak, tapi kamu benar-benar yakin dia adalah orang yang kamu pilih?"
"Kenapa umi, apa karena tampangnya memang membuat umi ragu?"
Renjuna mengangguk paham setelah melihat respon dari uminya. Dia sangat tau, kalau sang Umi menginginkan yang terbaik untuknya.
"Umi, kita tidak harus bersama dengan orang yang punya ilmu sama. Bukankah tugas imam menuntun makmumnya? Umi jangan ragu lagi, karena sebelumnya Renjuna sudah berdiskusi dengan yang diatas."
Umi tampak lega mendengar ucapan Putranya. Begitu bersyukur diberikan seorang Putra yang cerdas dan taat beragama.
Setelah mengatakan hal itu Renjuna pamit undur diri masuk ke dalam kamar. Tepat setelah Renjuna masuk ke dalam kamar, Saka, sang Kakak mendekat ke arah uminya.
"Umi."
"Apa?"
"Renjuna benar-benar mau menikah?"
"Iya, Umi yakin dia pasti akan menjadi imam yang baik untuk keluarganya," balas Umi setengah menyindir sang Putra pertama.
Memang tidak ada yang salah dari perceraian, namun Allah sangat membenci hal tersebut. Terlebih lagi Saka tampak tidak bersalah setelah melakukannya.
"Umi kenapa sih, kita sudah pernah bahas masalah ini."
"Apa sih?" Umi tampak menyipit.
"Umi gak ada nyinggung sesuatu kayanya, tapi kalau kamu tersinggung ya Alhamdulillah, akhirnya bisa sadar juga sama Apa yang kamu perbuat."
"Umi kenapa nyinggung masalah itu lagi sih? Kami sudah sepakat satu sama lain, jadi gak ada yang tersakiti di sini."
"Iya gak ada, karena kamu gak tau. Udah Saka, umi gak mau perpanjang perdebatan, kamu bantuin aja Abah buat acaranya. Umi sejujurnya lelah sama kelakuan kamu."
Saka menahan untuk tidak membalas ucapan Uminya, kemudian pamit. Beginilah hal yang tidak dia inginkan ketika Renjuna kembali.
Seharusnya Renjuna diam saja di Mesir sana, jangan balik-balik kalau perlu. Apalagi mendengar kabar dia akan menikah, akan membuat Umi semakin membahas masa lalunya.
"Memangnya kenapa kalau bercerai? Bukankah kalau kita bertahan satu sama lain tanpa perasaan, akan lebih sakit lagi?"
Sekarang Saka merasa kalau dia hanya akan menjadi objek perbandingan dari Umi dan juga Abahnya dengan sang Adik.
Saka beristighfar dalam hati setelah merasa suudzon dengan hatinya. Dengan cepat Saka masuk ke dalam kamar untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal.
"Gus sudah yakin akan menikah?"
"Insya Allah, yakin."
"Kalau insya Allah berati masih ragu dong?"
"Siapa bilang?"
Baru pulang memberikan beberapa ilmu, Renjuna sudah dibondong banyak pertanyaan. Terutama tentang pernikahan yang sudah dia gembar-gemborkan.
"Iya kan, kalau Insya Allah itu belum tentu pasti."
Renjuna menarik kedua sudut bibirnya ke atas, "bukan seperti itu maksud saya, hanya saja. Ketika saya memang sudah meyakini dan pasti, namun semua tergantung kehendak Allah SWT yang mengaturnya untuk saya."
"Masha Allah, Gus Renjun memang top."
"Biasa saja pak," balas Renjuna merendah.
"Lalu sekarang dimana calon istrinya gus."
Ketika mendapat pertanyaan seperti itu, sejenak senyum Renjuna sedikit meluntur, namun kembali timbul setelah menjawab, "saya sedang menantinya juga."
***
"Non, ini udah sore."
Titin mengetuk pintu kamar milik Maira. Karena Daritadi tidak ada jawaban dari wanita itu, bahkan keluarpun tidak.
"Nona lagi puasa ya?"
"Puasa ganti, karena sebentar lagi masuk bulan Ramadhan."
"Non?"
Tok...
Suara ketukan pintu tiga kali itu tampaknya belum juga membuat Maira keluar dari kamar. Namun karena Titin agak lemot dan khawatir dengan keadaan Maira, dia segera mencari Pak Cecep sang penjaga rumah untuk membantu membuka pintu kamar Nonanya.
"Gak wajar banget ini pak dia gak keluar kamar dari pagi."
"Memangnya ada apa sih?"
"Saya juga gak tau pak," balas Titin khawatir.
Setelah dibantu buka dengan kunci cadangan yang dimiliki oleh Pak Cecep, barulah Titin tau ternyata Maira sedang melukis di balkon kamarnya.
"ASTAGFIRULLAH!"
"Ada apa kalian ini tiba-tiba masuk?" Omel Maira setelah membuka earphone yang menutup telinganya.
"Saya khawatir Nona gak keluar kamar daritadi," balas Titin.
Maira menggeleng pelan, "ganggu aja kamu, aku lagi ngelukis ini."
"Pak Cecep balik aja, aku udah biasa ngadepin Titin yang lemotnya minta ampun."
Pak Cecep pamit undur diri setelah merasa tidak ada yang perlu dia takutkan. Setelah meninggalkan kedua wanita itu, tampaknya keadaan malah menjadi sepi.
"Non, gak turun makan?"
"Gak."
"Non, kok daritadi gak keluar kamar?"
"Mau nenangin diri."
"Dari?"
"Aduh Titin, kamu bisa gak sih jangan bikin saya pusing."
Titin menunduk sedikit takut, karena kalau udah ada respon seperti ini maka bisa dipastikan kalau Maira sedang dalam mood yang buruk.
Padahal Titin mau menanyakan tentang jawaban lamaran dari Maira. Mengingat beberapa pesan dikirim dari Gus Renjuna menanyakan dimana keberadaan Maira.
Nonanya yang tomboi ini, mungkin akan sulit untuk menikah. Sekalinya mendapat calon, ternyata bukan orang yang sederhana.
"Kenapa kamu diem aja? Cepet balik sana ke dapur!"
"Aduh Non, maaf ya saya gak mau ikut campur tapi Gus Renjuna menyampaikan pesan kalau memang sudah memberikan jawaban anda bisa memberitahu saya."
Mendengar ucapan Titin tentang pertanyaan dari Gus Renjuna. Mood Maira malah semakin buruk, bukannya membaik. Mengingat dia memilih untuk menganggap itu semua angin lalu, namun tidak bisa.
"Memangnya menurutmu aku bisa bersatu sama dia? Jelas kita aja beda, aku ini korban marketing neraka dia adalah ahli surga."
Titin menggeleng dengan ekspresi wajah syok, "Astagfirullah Non, jangan berkata seperti itu, semua sudah ada jalannya masing-masing. Manusia punya pilihan ditangannya, memang takdir ditentukan yang maha kuasa, namun manusia juga punya hak untuk bisa memilih takdir mana yang akan dia ambil."
Mendengar jawaban Titin, Maira terdiam sejenak. Dia sempat insecure mengetahui seseorang yang melamarnya adalah orang asing yang sangat mengenal agama.
Bagaimana jika dia setuju? Namun alasannya hanya ingin membuat keluarganya datang.
Maira masih pusing dengan hidupnya yang serabutan, jangan ditambah beban sebagai istri dari ustadz. Maira bingung dan mungkin akan memilih untuk tidak menerimanya.
Walau hatinya sudah sedikit goyah karena ucapan Titin.