"Saka kenapa daritadi Abah lihat wajahmu itu murung."
Saka menoleh ke arah pria paruh baya dengan sorban melilit di sekitar lehernya. Masih kepikiran dengan ucapan sang Umi, tentang perceraiannya beberapa waktu lalu.
"Apa Allah begitu membenci perceraian?"
"Kalau Allah membencinya, kenapa Allah membolehkannya."
Pertanyaan itu kembali muncul, membuat sang Abah hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan putra sulungnya.
"Itu sudah menjadi keputusan kalian kan? Apa ada yang membuat kamu gelisah?"
"Pertanyaan Saka tentang perceraian."
"Allah memang membenci perceraian, namun kalau memang bisa dipertahankan maka pertahankan. Jika sudah menemukan jalan buntu maka, setidaknya kalian sudah berusaha."
Abah menjelaskan dengan lembut, walau jauh dari dalam lubuk hatinya sang Abah kecewa dengan keputusan yang telah dibuat oleh Saka.
"Ini memang salah Abah, seharusnya Abah tidak memaksakan pernikahan kalian saat itu."
"Saka tidak bermaksud untuk menyalahkan siapa-siapa di sini."
"Yah memang kamu benar, mungkin belum jodohnya. Abah ingin kejadian ini menjadi pelajaran berharga untukmu."
"Pasti bah."
Saka memang berniat untuk pergi belajar lagi beberapa waktu terakhir ini. Dia merasa terlalu cepat membina hubungan rumah tangga sehingga belum bisa menjadi pemimpin yang baik untuk keluarga kecilnya.
Walaupun sebenarnya ada alasan lain yang membuat Saka belum menerima wanita lain. Apalagi setelah dia menikah dengan mantan istrinya saat itu.
Pria itu tampak menatap sendu ke arah jendela, setelah disadarkan oleh Abah barulah dia kembali sadar dan pergi ke ruang makan menemui adik dan Uminya.
"Gimana bah, masih banyak jadwal yang harus dihadiri ya?" Tanya Umi.
"Sebenarnya banyak pertemuan sama pihak majelis ulama dan beberapa kerjasama terkait pondok pesantren. Abah mana terlalu paham, untung ada Saka yang bantuin," ungkap Abah.
Renjuna tersenyum kecil seraya memasukkan beberapa sendok masakan uminya yang luar biasa enak. Tatapan Saka kini beralih menatap sang Adik, tampak kalau sekarang Saka begitu iri melihat senyum Renjuna yang terlihat bahagia.
"Kamu sendiri gimana jun, katanya mau menikah?"
Renjuna sempat tersedak dan seger mengambil minum. Umi yang mendengar sang Putra bungsu terbatuk segera mengambilkan minum untuk Renjuna.
"Alhamdulillah, semoga dilancarkan oleh Allah prosesnya," timpal Abah setelah selesai makan.
"Mas kira kamu cuma bercanda kemarin, ternyata beneran ya."
"Begitu deh, adikmu ini seenggaknya lebih dewasa sedikit. Kamu kapan mau terus-terusan lari dari masalah?" Sindir umi dengan suara lembut.
Renjuna menoleh dengan bingung, "Umi kok bicara seperti itu?" Tanya Renjuna, bahkan Abah sempat menoleh dan menggeleng pelan mendengar ucapan istrinya.
Saka hanya bisa tersenyum kecut seraya mengendikan bahunya acuh. Mencoba terlihat tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh uminya. Padahal memang sindiran itu ditujukan oleh Umi untuk Saka.
Renjuna pusing sendiri memilih untuk diam sementara waktu. Apalagi belum ada tanda-tanda dari Maira menjawab lamaran Renjuna.
Saka dan Renjuna adalah dua kakak beradik yang usianya terpaut empat tahun. Hanya saja mereka sering sekali menjadi objek perbandingan.
Sebelum Renjuna masuk ke dalam kamar, tangan Saka lebih dulu menahan tangan Renjuna.
"Bisa kita bicara sebentar."
Renjuna menganggukkan kepalanya kemudian menuruti sang Kakak, entah kemana Renjuna akan diajak berbicara.
Saka mengajak Renjuna menikmati malam di belakang rumah. Tepatnya gazebo yang berhadapan langsung dengan sawah dan disamping sawah luas tersebut ada bangunan pagar pesantren Al-Kahfi.
Renjuna dan Saka menatap hamparan sawah yang luas, ditemani suara jangkrik yang saling beradu. Dua kakak beradik yang bisa dibilang tidak terlalu akrab duduk bersama di atas gazebo.
"Kamu tau kan alasan Mas ajak kamu ke sini?"
"Kalau dari tebakan Renjuna sih, mungkin saja membahas pernikahan Renjuna bukan?"
Saka mengangguk pelan, kemudian berdehem karena ternyata Renjuna cukup peka dengan apa yang akan disampaikan oleh sang Kakak.
"Ekhem."
"Sebelumnya Mas minta maaf karena ingin ikut campur. Tapi Mas ingin memberikan saran sama kamu. Kalau menikah adalah sebuah ibadah yang sulit dilakukan jika kamu belum siap atau matang melakukannya."
Renjuna terdiam sejenak kemudian mengangguk paham. Saka sempat menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya.
"Jangan sampai kesalahan yang ada pada Mas, terulang kembali kepadamu."
"Mas ... Ya, bisa dibilang gagal membina rumah tangga. Mas cuma gak mau, kamu cepat masuk ke dalam lika-liku pernikahan kalau memang kamu tidak siap."
Renjuna kembali hanya diam, dia mengetahui kalau belum lama setelah Kakaknya menikah, Saka malah dikabarkan bercerai disaat Renjuna belum sempat melihat kakak iparnya.
Renjuna sempat kecewa mengetahui sang Kakak bercerai, namun mau bagaimana lagi. Terlepas dari alasan Saka bercerai, dan perceraian adalah sesuatu yang dibenci Allah SWT. Renjuna tidak bisa apa-apa selain mendoakan sang Kakak.
"Apalagi mas belum pernah lihat calon istri kamu. Maksudnya, Mas bahkan gak tau kamu dekat dengan wanita?"
Renjuna terkekeh, "Renjuna dan dia bertemu sekitar seminggu yang lalu. Setelah Renjuna melamar dia dihadapan Umi."
Saka yang mendengar ucapan adiknya sampai geleng-geleng kepala. Jadi kemungkinan besar, Renjuna menikah dengan orang yang baru dia kenal?
"Renjuna serius?"
"Renjuna siap?"
"Insya Allah siap Mas."
"Sekali Renjuna sudah memantapkan diri dengan wanita tersebut atas petunjuk Allah, Renjuna siap."
Saka tersenyum miris mendengar ucapan sang adik. Saka tidak bisa mengatakan apapun lagi selain ikut mendoakan kebahagiaan Renjuna.
"Kalau begitu semoga pernikahan kalian yang terjadi antara kalian langgeng dan mendapat ridho Allah SWT."
"Aamiin, Terimakasih banyak Mas."
"Sepertinya setelah ini Mas mau pamit sekolah lagi."
"Mau lanjut S3 kalau bisa."
"Mas serius?"
Saka memberikan anggukan sebagai jawabannya.
***
Titin merasa tidak enak hati mau membicarakan masalah lamaran Gus Renjuna kepada Nona Maira. Cuma posisi Titin disini juga serba salah.
Gak enak terlalu lama gantungin Gus Renjuna, gak enak juga kalau terus bahas masalah lamaran Gus Renjuna.
Titin tiba-tiba aja dapet telepon tapi ini bukan dari Gus Renjuna, melainkan dari Kakak pertama Nona Maira.
"Non," ujar Titin menyerahkan telepon rumah ketika Maira mendekat.
"Tumben nelpon, akhirnya inget punya adek?"
Sepanjang saling berbicara melalui telepon rumah. Tidak pernah sedikitpun ada raut wajah bahagia dari wajah Maira. Yang dia tampilkan hanya kesal dan raut wajah kecewa.
Setelah panggilan itu selesai Maira melempar sembarangan dengan decak sebal.
"Halah alasan aja, dia gak mau ketemu adeknya!" Kesal Maira.
"Gini nih, padahal aku udah aneh-aneh loh. Masa mereka gak ada yang peduli?" Keluh Maira lagi.
Bahkan tanpa sadar bibirnya mengerucut dan kini dia melempar tubuhnya di sofa dengan keras. Titin sampai bergidik ngeri mendengar suara sofa berdecit saking kerasnya.
"Ck, gini aja terus. Nanyain hal yang gak penting masalah rumah?"
"Masa setelah sebulan gak ngehubungin adeknya, hal yang dia tanyain pertama kali malah kondisi rumah?"
Maira menggeleng seraya memijat kepalanya yang pening. Udah gak ngerti lagi dengan jalan pikiran kakaknya.
"Mungkin karena beliau tau Nona jarang di rumah."
"Gak bisa jadi alasan," timpal Maira.
"Semenjak Ibu pergi, semuanya kaya udah punya jalan masing-masing. Ninggalin aku sendirian yang gak tau arah."
"Aku berubah gini juga karena mereka."
Titin hanya diam mendengarkan curahan hati majikannya yang sudah sering dia dengar, bahkan jauh sebelum kejadian ini.
"Terus sekarang, apa rencana Nona ke depannya?"
"Aku mau pergi dugem."
"Astagfirullah, Non jangan non. Itu tempatnya banyak orang maksiat."
"Gak peduli! Yang penting mau seneng-seneng."
Maira baru saja hendak beranjak, namun mendadak dia mengurungkan niat setelah mengingat tentang lamaran Gus Renjuna.
"Kayanya emang aku sama Gus Renjuna itu gak bisa bersatu. Jadi kamu jawab aja kalau aku gak terima lamarannya."