Part 30 POV Isna Tidak ada harga diri yang tersisa tentang aku di hadapan Restu. Hari itu, pertahananku jebol sudah. Aku berteriak setelah mendapat perlakuan kasar darinya. Kepalaku sakit ketika membuka mata. Yang kulihat pertama kali atap yang berputar. “Kamu sudah bangun? Syukurlah ….” Suara Restu pula yang pertama kali kudengar di telinga ini. Kini sadar kalau tadi aku tidak sadarkan diri. Dengan tangan masih memegang kepala, aku berusaha bangun. “Kamu mau minum?” Restu sepertinya memberikan perhatian. Namun, aku tidak peduli. Mencoba turun dari ranjang dengan niat keluar dari kamar. “Aku antar. Kamu mau kemana?” Ada sebuah tangan yang memegang pundak. Dan aku tahu, jika Restu berada di samping. “Singkirkan tanganmu, atau aku berteriak!” ancamku tanpa melihatnya. Setelahnya tera

