Part 31 “Bu, Isna sudah pulang?” Aku mendengar suara Restu bertanya pada Ibu. Saat ini, aku tengah berbaring di kasur kamar yang kosong. Sudah kuputuskan jika Restu yang tetap tinggal di kamar itu. Akan kulihat seberapa lama dia bertahan di rumah ini. “Mau kamu aniaya lagi, kamu tanya seperti itu? tanya Ibu ketus. Dasar ibu-ibu. Tidak bisa diajak kerjasama. Padahal, sebelumnya sudah terjadi kesepakatan agar jangan marah pada Restu. Kami akan membalas sikapnya dengan cara elegan. Namun sepertinya, Ibu tidak tahan juga. “Bu, maafkan aku. Aku kalap kemarin ada kejadian yang sangat tidak mengenakkan di kantor. Jadi terbawa sampai rumah ….” Restu memberikan alasan. “Kejadian, atau sisa cinta kamu di masa lalu?” Aku menepuk jidat mendengar Ibu sudah mulai melakukan sebuah perlawanan. Bena

